Dinikahi Suami Kembaranku

Dinikahi Suami Kembaranku
Bab 13 : Beruntung


__ADS_3

Bab 13 : Beruntung


Tira menundukan kepalanya saat Bu Sani bertanya. Ia juga masih memegang dengan erat tas yang ada di tangannya. Keringat dingin mulai keluar dari sekujur tubuhnya.


'Apa yang harus aku katakan pada Ibu? Dasar ceroboh!' Katanya dalam hati menyesali apa yang baru saja Ia lakukan.


Sementara itu, Bu Sani terus maju ke arah dimana Tira berada. Ia berdiri di hadapan Tira kemudian mendongakan wajah Tira dengan hati-hati. Tiba-tiba saja Bu Sani merangkul Tira dengan sangat erat.


Sementara, Tira masih bingung dengan apa yang terjadi pada Bu Sani. 'Ini ada apa sih sebenarnya?' Batinnya bertanya-tanya.


"Kau sempurna, Nak. Ibu tak usah khawatir lagi jika bepergian. Ibu baru tahu kalau kamu itu pandai bela diri. Dimana kamu belajar semua itu?" Tanya Bu Sani yang langsung mengambil tas yang ada pada tangan Tira.


"Soal itu, aku tidak sehebat yang ibu pikirkan." Ucapnya terbata-bata. Ia tak menyangka jika Bu Sani tak mencurigainya. Tira bisa bernapas lega.


"Ah. Kau ini selalu saja merendah. Ayo kita masuk dan kamu adalah menantu keluarga Andra." Ucapnya membusungkan dada. Berbangga diri jika mempunyai menantu seperti Tira.


Bu Sani menarik tangan Tira dan membawanya masuk ke dalam caffe dengan bangga. Sementara itu, Tira mengekornya dari belakang. Ia merasa tak enak dengan aksinya tadi.


'Selamat. Gue pikir bakal ketahuan. Huft.' Batinnya Tira lega.


Lambaian tangan dari sebuah meja yang di sana terdapat banyak ibu-ibu sosialita kekinian terlihat jelas saat Tira mengikuti kemana Bu Sani pergi. Mereka berdua berjalan ke arah meja berukuran besar dan saat sampai, Bu Sani langsung menyalami sahabatnya satu persatu dengan salaman persahabatan ala mereka.


Sementara itu, Tira hanya berdiri dan membungkukan setengah badannya tanda menyalami semuanya. Tira pun menggeserkan kursi, namun Bu Sani menari pergelangan tangan Tira hingga Ia berdiri di samping Bu Sani.


"Hai hai, kenalin nih. Ini menantu saya, namanya Tira. Dia canti kan?"


"Iya, jeng. Kayak peranakan gitu. Modelan belasteran korea gitu. Matanya sipit, kulitnya putih. Jeng dapet dari mana?" Celetuk salah seorang dari mereka yang membicarakan Tira bak barang saja.


"Dia ini adalah pilihan khusus dari Tuhan buat Alex. Anakku itu kan spesial, makanya dapat yang sepesial juga," katanya dengan sombong pada teman-,temannya.

__ADS_1


"Uuuuu ....!" Seru semua temannya itu.


"Sudah! Kalian duduk dulu saja! Gampang, ceritanya nanti saja setelah duduk" ucap salah seorang dari mereka lagi yang memperhatikan Tira juga Bu Sani.


Bu Sani pun kembali menggeser kursi kemudian duduk. Tak lupa, Ia meletakan tas mahalnya di atas meja dekat demgan dirinya duduk. Sementara itu, tira duduk di sebelah dimana bu Sani duduk.


"Dengèr ya jeng. Menantu saya ini, bisa bela diri." Kata Bu Sani dengan antusias.


"Masa sih? Dia cantik loh. Masa iya, bisa adu jotos? Jeng, jangan bohong." Ucap salah seorang teman Bu Sani.


"Siapa yang bohong?! Tadi, waktu mau kemari, dia tinju dulu beberapa orang preman yang mau jambret tas saya. Untung aja ada Tira, makanya semuanya aman terkendali. Iya kan Tira?" Tanya Bu Sani pada Tiram


Tira menundukan kepalanya, malu dengan apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya itu.


" Yadudah, jeng. Kau memang hebat, bisa mendapatkan menantu seperti dia. Menantuku malah ada yang masih manja gara-gara kebiasaan dimanja sama orang tuanya,"


"Kalo menantuku, bangunnya siang. Percuma saja aku punya menantu. Toh yang ngerjain semua kerjaan rumah tetep pembantu."


"Kamu beruntung, Jeng."


"Ha ha! Tentu saja! Alex sangat sayang padaku. Dia selalu tanyakan semua hal yang aku suka. Makanya dia cari seseorang yang bisa menemaniku seperti Tira ini," ucap Bu Tira memegang tangan Tira.


'Gue nggak nyangka bisa duduk di tengah-tengah obrolan yang membosankan dan nyaris tak penting! Malang nasib gue gehara bisa ada di sini.' Batinnya lagi penuh kesal.


Beberapa saat kemudian, pelayan tiba dengan membawa baki saji dan menyajikan makanan di atas meja. Tak disangka jika pelayan itu tampaknya sangat mengenal Tisa. Hingga tatapannya terus mengarah pada Tisa.


Tisa mulai menyadari jika dirinya diamati oleh seseorang hingga dirinya pun langsung bangkit dan meminta izin.


"Bu, aku ke toilet sebentar ya," ucapnya meminta izin.

__ADS_1


"Ya, pergilah," jawab Bu Sani. Ia mengabaikan apa yang dikatakan Tira dan fokus dengan pujian teman-temannya.


Sementara itu, Tira langsung ke bagian dapur dan menyeret seorang pelayan. Dengan genggaman tangannya yang kuat, Ia mampu sedikit menyeret orang itu hingga ke luar dari dapur dengan menggunakan pintu belakang.


"Lepaskan!" Pekinya kesakitan dengan genggaman tangan Tira.


"Jangan beritahukan siapa-siapa!" Ucap Tisa membungkam mulut pelayan itu dengan tangan kanannya.


"Kenapa kau berpenampilan seperti ini? Kau tenang saja, walaupun aku membencimu, aku tidak akan beri tahu Aris soal ini." Katanya setelah Tira meleaskan tangannya.


"Terlepas dengan pertanyaanmu itu, kau tak perlu tahu apa yang sedang terjadi padaku. Yang perlu kau lakukan, hanya diam dan jangan beri tahu siapapun dari gengku! Jika tidak, kau akan tamat!" Ancamnya pada pelayan itu.


"Baiklah, baik. Lagian, apa untungnya aku beritahukan mereka? Yanga ada, Aris akan semakin jatuh hati padamu dengan penampilanmu sekarang ini," ucapnya lagi pada Tira.


"Diam kau! Jika kau menyukainya, ambil saja. Tapi kau jangan sebarkan penampilanku sekarang ini," ancamnya lagi.


"Baiklah. Aku mau bekerja. Minggir! Jangan menghalangi jalanku," katanya pada Tira.


Tira melepaskannya dan membiarkannya pergi. Tira melihat ke daun pintu dapur. Ada kursi kayu dan Ia putuskan untuk duduk sejenak di sana. Menghilangkan kejenuhan bersama para Ibu mertua yang tengah menggibah menantunya.


Tisa mulai bingung dengan apa yang harus Ia lakukan. Ia takut teman satu gengnya tak mempercayai jika dirinya pergi ke luar kota akibat kecomelan pelayan yang dia adalah salah seorang dari musuh besarnya.


"Biar bagaimanapun, Dia bukanlah teman. Bisa gawat jika dia sampai sebarkan semuanya dan sampai ke telinga satu gengku. Bagaimana aku jelaskan semuanya? Tak ada jalan lain sekarang, selain menghubungi Meta."


Tira merogoh ponselnya dan seketika Ia menepuk jidatnya. Ia tak membawa ponsel karena ia tak memakai celana jeans. Ia baru ingat jika ponselnya tertinggal di meja makan.


Akhirnya, Tira pun bermaksud untuk kembali mengambil tas dan membuat pesan singkat untuk Meta. Ia langsung berjalan menuju ke Dapur dan Ia terkejut mendengar seseorang menegurnya.


"Tisa ...!"

__ADS_1


Tisa berdiri membelakangi sumber suara yang memanggilnya. Ia juga mendengar dengan seksama siapa yang memangilnya. Hingga Tisa membalikan badan dan Ia melihat ada ....


***


__ADS_2