
Bab 26 : Siapa yang jadi korban?
Alex dan Tisa saling bertatapan, keduanya terkejut saat melihat wajah Tira. Bahkan keduanya mundur satu langkah bersamaan saat melihat wajah Tira.
Tentu saja Tira terkejut juga, bukan karena melihat wajahnya, melainkan melihat ekspresi dari Alex dan juga Tisa.
Dengan terburu-buru Tisa meminta dokter untuk membawakan cermin agar dirinya bisa melihat wajahnya.
"Dok, bisa tolong ambilkan cermin?" Tanya Tira dengan khawatir.
Dokter pun langsung melangkah ke meja kerjanya, kemudian mengambil cermin yang berbentuk bulat dengan bingkai kayu kemudian dokter menyerahkannya kepada Tira.
Saat Tira meraih cermin itu dari dokter, ia langsung mengarahkan cermin itu kepada wajahnya kemudian ia melihat pantulan wajahnya di cermin.
"A ...!" Jeritnya sembari melemparkan cermin dan memegangi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Apa yang terjadi dengan wajahku, Dokter? Ah, aku sangat menyukainya. Aku terlihat semakin cantik. Aku suka hidung dan juga bibirnya. Pipiku juga lebih tirus," katanya kegirangan.
Namun Alex dan Tisa malah melihatnya dengan aneh. Tisa mendekat kepada Tira dan memegangi keningnya.
"Kau gila? Bukan itu poin pentingnya sekarang!" Tegasnya pada Tisa.
"Lalu apa? Aku harus berterima kasih, karena wajahku baik-baik saja. Iya kan, Dokter?"
Tisa dan Alex hanya bisa saling berpandangan karena Tira tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Namun, Tira terlihat sangat senang dengan wajah barunya dan Tisa tidak bisa mengungkapkan kejadian yang sebenarnya, sekarang.
Dokter mengambil alih, mengerai Tisa dan Alex dari hadapan Tira. Kemudian dokter memeriksa setiap bagian wajah Tira. Namun sebelum dokter melakukan tindakan, dokter menyuruh Alex dan Tisa untuk pergi meninggalkan ruangan itu.
Alex dan Tisa pun langsung keluar dari ruangan itu. Kemudian mereka duduk kembali di ruang tunggu, tepat di depan ruangan tempat Tira mendapatkan perawatan.
"Sekarang apa?" Tanya Tisa pada Alex.
"Kau mau bilang sama Tira? Ini bukan waktu yang tepat! Aku senang dengan perubahan wajahnya. Tapi, aku nggak bisa bawa dia ke rumah. Apa yang akan dikatakan ibu dan ayah soal semua ini?" Tanya Alex pada Tisa dengan ekspresi bingung.
__ADS_1
"Mau tidak mau, kau harus mengatakannya kepada Tira jika tidak aku yang akan mengatakan semuanya kepada Tira. Dia harus tahu apa yang terjadi sebenarnya. Agar semua permasalahan terselesaikan," jelas Tisa pada Alex.
" jangan sekarang, please."
"Kenapa?"
"Aku takut saja dia down dan melakukan hal gila lainnya." Jelas Alex.
Lagi-lagi Tisa terdiam menundukkan kepalanya, lelah rasanya menjadi orang lain. Tak bisa menjadi dirinya sendiri saat menghadapi keluarga Alex. Ia pun sudah lama meninggalkan kebebasannya, kehidupan pribadi, cintanya dan hobi yang ia cintai ia tinggalkan beberapa hari ini hanya demi menggantikan sosok Tira.
Beberapa saat kemudian, dokter kembali memanggil Tisa dan juga Alex ke dalam untuk membicarakan tindakan yang akan dilakukan kepada Tira.
"Apa yang terjadi, dok?" Tanya Tisa pada Dokter.
"Dia berhasil menjalankan oprasi ini dengan lancar. Bahkan, kadar anastesi yang tinggi juga ditempuh untuk melakukan oprasi wajahnya. Dan semua itu tentu saja beresiko."
"Apa resikonya? Apa berbahaya?" Tanya Alex dengan serius.
"Iya, dia akan menjadi sering pingsan tiba-tiba. Bahkan berhayal menjadi diri orang lain. Ya, seperti sedang ada di dalam mimpi saja." Jelas dokter.
"Tapi, saya bersyukur karena dia masih kembali dengan selamat. Makasih ya, dokter." Ucap Tisa lagi pada Dokter.
Setelah menjelaskan panjang lebar, dokter pun berpamitan keluar ruangan itu. Setelah itu, tinggalah Tira, Tisa dan juga Alex di ruangan itu. Tisa mengambil kursi dan mendekatkannya dekat dengan bed hospital yang dimana ada Tira di sana.
'Gue harus ngomong sekarang! Kapan lagi gue ungkapin semuanya? Gue nggak perduli lagi. Gue lelah!' Batinnya.
"Ada apa?" Tanya Tira yang heran melihat ekspresi Tisa dan juga Alex yang berdiri di samping kanan Tira.
" Sebenarnya ada hal yang lo harus tahu, tentang sebuah kebenaran ketika lo pergi di malam sebelum pernikahan," ucap Tisa dengan tegas namun sedikit takut.
Alex menatap Tisa dengan manik mata membulat sempurna. Ia berharap Tisa tidak mengatakan semuanya kepada Tira. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika Tira sampai mengetahui jika Tisa menggantikan dirinya menjadi pengantin di hari itu.
"Apa? Apa penting? Katakan saja," ucap Tira santai.
__ADS_1
"Sebenarnya, dengan wajah lo berubah kayak gini, lo udah nggak bisa lagi ketemu sama kedua orang tuanya Alex, Tira." Kata Tisa mulai bicara.
"Loh? Kenapa?" Tanya Tira yang tentu saja heran.
"Soalnya, di hari pernikahan lo sama Alex, Bapak menyuruh gue buat gantiin lo di acara itu. Bapak bilang bakal kasih apa yang gue mau dan gue mau aja saat itu. Lo tahu kan kalau gue pikirannya spontan? nggak mikirin apapun saat itu. Yang jelas, Bapak mau ngasih apa yang gue mau makanya gue mau. Bapak janji, bakalan secepatnya nemuin lo tapi nyatanya apa? wajah lo malah berubah gini. Dan gue bingung apa yang harus gue lakuin? Lo tahu kan, Bapak gila akan kehormatan? apa dia bakal terima semuanya? Jika Bapak bakal terima semuanya, tapi gimana dengan kedua orang tua Alex? Apa mereka bakal terima jika mereka tahu kalau Alex harus menikah ulang dengan orang yang wajahnya udah beda?" Ucap Tisa panjang lebar.
"Stop! Ini pasti salah kan? Jadi kalian berdua suami istri gitu?" Tira marah dan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa lo mau gantiin gue?" Lanjut Tira dengan nada membentak Tisa. Ia juga mendorong tubuh Tisa sampai dia jatuh ke atas lantai.
Alex melihat Tisa diperlukan tidak adil. Ia langsung memberikan pertolongan kepada Tisa dengan meraih tangannya kemudian bermaksud untuk membangunkannya. Namun Tisa menghempaskan tangan Alex hingga Alex pun terjatuh.
Melihat itu, Tira tersenyum kecil dan kesal dengan sikap Alex. Tepatnya ia cemburu karena Alex perhatian kepada Tisa.
"Tira, gue juga korban di sini. Lagian kalo bukan karena bapak yang maksa, gue nggak bakal mau nikah sama pacar lo. Gue juga punya kehidupan sendiri dan berantakan gara-gara satu hal. Lo, ngilang di hari itu." Bentak Tisa pada Tira.
Tisa yang kesal, langsung keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu sekeras mungkin kemudian menghilang dari sana entah ke mana.
Sementara itu, setelah Tisa pergi Alex langsung berdiri dan Ia duduk di kursi bekas Tisa duduk. Tak ada yang ingin Ia bicarakan dengan Tira.
"Apa kau tau semua ini dari awal?" Tanya Tira pada Alex.
Alex menggelengkan kepalanya. Tak bicara pada Tira satu parah katapun.
"Kau suka padanya?" Tanya Tira pada Alex dengan ekspresi kesal.
"Apa yang kamu tanyakan? Aku juga nggak tau, Tira. Yang jelas, ini bukanlah salah Tisa. Dia juga sama sepertimu. Korban," jelas Alex.
Mendengar kata-kata Alex, Tira menyadari satu hal dan Ia langsung menatap lekat Alex.
"Kau mulai menyukainya!" Tegas Tira.
***
__ADS_1
Jangan lupa like, biar up nya semangat!