Dinikahi Suami Kembaranku

Dinikahi Suami Kembaranku
Bab 12 : kecurigaan Ibu


__ADS_3

Bab 12 : Kecurigaan Ibu


Tisa masih terbelalak saat menerima pesan itu. Bibirnya dengan otomatis merekah saat menatap layar ponselnya. Sesekali manik matanya membayangkan sesuatu. Namun akhirnya Ia buru-buru mematikan ponselnya dan memasukannya ke dalam tas yang rencananya akan Ia bawa. Kemudian, Tisa berjalan ke arah luar rumah. Tisa menuruni anak tangga dengan tergesa, dan tak sengaja kakinya terpeleset dikarenakan terlalu terburu-buru saat turun.


Tira terpelintir hendak jatuh ke lantai bagian bawah anak tangga. Namun, dengan sigap Alex menangkap tubuh mungilnya. Menyentuh pinggang Tisa hingga sesuatu terasa saat itu.


Debaran jantung yang sangat kencang juga manikmata diantara Tisa dan Alex membuat mereka saling melihat wajah masing-masing dengan begitu dekat.


'Ah. Dia adik iparku!' Tegas Alex yang langsung melepaskan tangannya yang tadi menyelamatkan Tisa.


"Aduh!" Pekik Tisa karena jatuh ke atas lantai.


'Tega sekali dia menjatuhkanku! Padahal jelas-jelas dia menyelamatkanku, tadi. Kenapa nggak sekalian aja jatuhin gue?!' Batinnya semabari menatap kesal pada Alex.


Alex menyimpan kedua tangannya di dalam saku celana, Ia buang wajahnya ke arah Dapur dan berlalu pergi meninggalkan Tisa yang masih terjatuh.


'Dasar so cakep! Lagian siapa juga yang butuh batuan lo?! Belag*!' Batinnya kesal.


Tira berusaha bangkit tanpa bantuan dengan memegangi pembatas tangga. Ia pun berhasil berdiri dengan bantuan pembatas tangga dan melangkah menuju ke meja makan.


Saat tiba di meja makan, Bu Sani dan Pak Joni terpesona pada Tisa. Mereka tersenyum saat Tisa ada di hadapan mereka.


"Duduklah, Nak." Ucap Bu Sani pada Tisa.


Tisa menggeser kursi, namun Bu Sani menegurnya.


"Oh, No! Alex! Geserkan kusi untuk istrimu! Cepat! Gimana sih?" tanya Bu Sani pada Alex yang malah terlihat acuh pada Tira.


Alex langsung mrlihat pada Bu Sani, lalu Ia bergegas menggeserkan kursi untuk Tira.


Setelah itu, Tira langsung duduk di kursi yang sudah Alex geserkan.


Diam-diam, Tira memperhatikan Alex yang tampak begitu tampan dengan setelan jas yang Ia gunakan pagi ini. Namun, sengaja Ia tak menyapa Alex karena takut Alex tak membalas apa yang Tira tanyakan.


Makan pagi itu, berjalan dengan begitu menegangkan bagi Tira. Ini adalah kali pertama Alex tak akan melindunginya jika Ia melaukan kesalahan. Tira pun memutuskan untuk tidak banyak bicara.


"Pah, aku ke kantor hari ini. Oh ya, Papah mau aku kerja dimana?" tanya Alex pada Pak Joni.


Pak Joni terlihat berpikir dan sedikit mempertimbangkan perkaan Alex. Hingga Ia pun berkata,"Apa krahlianmu?"


"Ak-aku?" Tunjuk Alex dengan telunjuknya mengarah ke batang hidung.


Pak Joni langsung menganggukan kepalanya sembari menikmati suapan sarapan pagi.

__ADS_1


"Aku bisa apapun. Jangan remehkan aku, Pah! Aku bukan Alex yang dulu," tegasnya dengan tekanan penuh keyakinan.


"Benarkah? Kebetulan sekali di kantor sedang membutuhkan sales marketing untuk produk baru. Kau bisa mencobanya juga?" tanya Pak Joni yang wajahnya tampak serius?


"What? Aku?" Alex terbelalak. Ia mengerutkan keningnya.


"Ya." Angguk pak Joni lagi.


"Jadi sales marketing?"


"Kau ini laki-laki. Jadi harus membuktikan kata-katamu itu. Cepatlah makan. Dan pergi ke kantor sekarang juga!" Titah Pak Joni.


Pak Joni langsung menc*um punggung tangan Bu Sani. Ia tersenyum pada Tira dan langsung pergi dengan membawa tas kotak bersamanya.


Setelah Pak Joni pergi, Alex langsung menatap Ibunya menunjukan jika dirinya membutuhkan pertolongan.


"Bu. Ibu dengar kan apa yang tadi Papah katakan?" tanya Alex sedikit gengsi karena dihadapan Tira.


"Iya. Turuti saja papahmu. Lagian, kau harus banyak belajar di sana! Ibu yakin kau bisa,"


"Aish! Percuma saja bicara denganmu, Bu! Aku pergi saja dari sini! Bye!" Alex pun langsung pergi.


Ia menggeserkan kursi hingga terdengar bunyi berisik. Kemudian berdiri dan pergi dengan menghentakan kakinya meninggalkan meja makan.


Bu Sani tergelak mendengar dan melihat kelakuan Alex hingga dirinya menggelengkan kepalanya..


Tiba-tiba saja, Bu Sani menegur Tira yang terlihat melamun setelah Alex pergi.


" Tira. Kamu pasti bingung," celetuknya pada Tira dengan nada masih terkekeh.


Namun, Tira hanya tersenyum kecil dan mengarahkan tatapannya pada makanan yang ada di hadapannya saja.


"Sengaja kita lakukan itu padanya. Kau pasti tak tega. Tapi, dia juga harus merasakan posisi sulit. Kamu tau nggak? Kalo Alex itu baru mau kerja setelah menikahimu." Ucap Bu Sani.


Tira tersenyum menunduk. Padahal dalam hati, Ia tertawa terpingkal-pingkal dan ingin sekali Ia tertawa sepuasnya. Namun, Ia tetap menahannya karena harus menjaga image Tira yang kalem.


Setelag itu, Bu Sani terlihat sudah menghabisakan sarapannya. Ia pun memanggil Bibi untuk membereskan semuanya.


"Tira, ayo kita pergi," ajak Bu Sani.


Tira mengangguk dan langsung beranjak dari tempat duduknya kemudian mengekor Bu Sani dari belakang.


Bu Sani langsung masuk ke dalam mobil dan Ia hendak mengemudikan monilnya.

__ADS_1


"Bu, bias aku saja yang menyetir," ucap Tira pada Bu Sani.


Tanpa pikir panjang, Bu Sani pun berpindah ke kursi sebelah kiri.


Tira masuk ke dalam mobil dan langsung menarik sabuk pengaman. Ia memutar kunci dan langsung menjalankan mobilnya menuju jalan raya.


Tiba-tiba saja, Bu Sani menoleh pada Tira dan memperhatikannya dengan seksama.


"Stop!" Pekiknya pada Tira.


Sontak Tira tiba-tiba menginjak rem atas perintah Bu Sani padanya. Tira juga langsung menatap pada Bu Sani.


"Apa kau bisa menyetir? Bukannya kamu ada trauma jika menyetir? Tapi kenapa ini?" Tanya Bu Sani dengan nada menyelidik.


'Ya ampun! Kenapa gue bisa lupa kalo Tira nggak bisa pake mobil setelah kecelakaan itu? Ya ampun, mati gue! Harus ngeles apa lagi nih? Tisa! Mikir dong!' Batinnya.


Tisa berusaha tenang dan melempar senyumnya pada Bu Sani. Ia menunjukan jika dirinya baik-baik saja.


"Aku udah bisa kok, Bu. Traumaku sembuh dengan bantuan psikiater. Lihat kan? Aku baik-baik saja?" Jelasnya terbata-bata.


Bu Sani menatap Tira seperti mengingat-ingat sesuatu hingga Ia pun memegang tangan Tira.


"Apa kita bisa jalan sekarang?" tanya Tira pada Bu Sani.


"Ya. Silahkan, hati-hati ya," ucap Bu Sani.


Tira bernapas lega saat Bu Sani terlihat memperhatikan dirinya dengan senyum annya.


'Sampai kapan aku harus berbohong? Bersembunyi dalam ketakutan. B*r*ngs*k! Siapa sebenarnya yang berani menculik Kakakku?!' Batinnya.


Beberapa saat setelah melewati perjalanan, Tira memarkirkan mobilnya dengan sempurna. Ia langsung keluar dari mobil dengan membawa Tas di tangan kanannya.


Bu Sani hendak membawanya masuk ke Caffe. Saat masuk ke Caffe, tiba-tiba saja tas yang Bu Sani pegang dijambret tiba-tiba oleh pria yang tak dikenal.


"Tolong ...!" Teriak Bu Sani saat si pencopet itu merampas paksa tas dari tangannya.


Tira langsung memberikan tas miliknya pada Bu Sani dan mengejar pencopet itu hingga Tira melemparkan batu kecil pada pencopet. Seketika pencopet berhenti dan perkelahian pun terjadi.


Bu Sani memperhatikan kelakuan Tira. Ia maju beberapa langkah pada Tira yang tengah menghajat pencopet itu dengan tangan kosong.


Bu Sani terbelalak kaget hingga akhirnya pencopet itu lari. Tira pun langsung mengambil tas milik Bu Sani dan memberikannya pada Bu Sani.


"Ini, Bu. Coba Ibu periksa lagi. Apa semuanya masih lengkap?" Tanya Tira dengan nafas tersenggal karena perkelahiannya dengan pencopet itu.

__ADS_1


"Tasnya tidaklah penting sekarang. Siapa kau sebenarnya?" tanya Bu Sani dengan tatapan tajam pada Tira.


***


__ADS_2