
Bab 37 : Keritis
Tisa tak bisa mengatakan apapun lagi saat ditanya oleh Bu Sani soal kebenarannya. Ia sungguh akan kehilangan sosok Bu Sani yang penyayang dan mulai Ia sayangi dan hormati. Ia juga akan kehilangan Alex jika sampai Ia mengakui semuanya. Ia belum siap kehilangan orang-orang yang saat ini mulai Ia sayangi.
"Tira, siapa kau sebenarnya? Jawab!" Kata Bu Sani ingin segera mendengar jawaban dari Tisa.
Namun, Tisa masih bungkam. Dan Ia hanya diam membisu kala ditanya soal kebenaran yang dikatakan Tira.
Sementara itu, Tira tersenyum puas dan tak sabar karena Ia pikir sebentar lagi Tisa akan keluar dari rumah Alex dan dirinya akan diterima di rumah ini.
"Dia, Tisa." Ucap Alex tiba-tiba dari arah belakang.
Alex datang dan langsung berdiri di samping Tisa. Seolah, Ia juga siap dengan semuanya.
"Alex? Kamu sudah tau?" Tanya Bu Sani yang mulai memegangi kepalanya dan sedikit memberikan pijatan.
"Bu, apa yang dikatakan oleh dia adalah benar." Ucap Alex sembari menunjuk ke arah Tira. Tira sangat senang, saat Alex membelanya.
"Apa maksud semua ini? Kau tau dan tak memberi tahu Ibu dan Ayah? Kau pikir pernikahan itu apa? Permainan?!" Kata Bu Sani.
"Tidak, bu. Alex juga awalnya tidak tau. Setelah beberapa hari menikah, Alex baru tau kalau Tira punya kembaran dan namanya adalah Tisa. Alex nggak bisa kasih tau Ibu, karena takut Ibu nggak terima dan jantung Ibu akan kambuh. Tapi kali ini, Alex harus katakan yang sejujurnya jika Dia adalah Tisa, bukanlah Tira. Dan dia adalah Tira," Alex menjelaskan sembari menunjuk ke arah Tisa dan Tira.
Bu Sani memegangi dadanya sebelah Kiri dan mulai ingin tau lebih banyak lagi. "Kenapa? Kenapa Tira wajahnya seperti itu? Dia tampak lain," kata Bu Sani dengan lemas.
"Apa Ibu baik-baik saja?" Tanya Alex.
"Itu tidak penting! Jawab saja pertanyaanku!" Pekik Bu Sani dengan lantang karena kesal.
"Dia diculik dan aku sama Tisa yang menemukannya di Bali. Dia sudah ditemukan dalam keadaan wajahnya yang seperti itu. Makanya, aku juga bingung harus bagaimana karena awalnya juga aku dan Tisa hanya ingin menutupi semuanya dari Ibu dan saat kembali dari bali, semuanya akan selesai. Namun, gara-gara wajah Tira berubah, Aku bingung dan memutuskan melanjutkan pernikahanku dengan Tisa. Aku sungguh minta maaf, Bu."
Tubuh Bu Sani lemas dan langsung tergeletak pinsan di atas tanah hingga Alex berniat langsung membawanya ke rumah sakit.
Alex langsung pergi ke belakang ke garasi untuk mengeluarkan mobil.Sementara itu, Tira langsung mrnatap pada Tisa.
__ADS_1
"Puas kau? Kau diam dan jangan ikut ke rumah sakit!" Pekik Tira pada Tisa.
Tisa hanya diam tak ingin berdebat. Ia hanya menahan bobot tubuh Bu Sani sampai akhirnya Alex datang dengan membawa mobil.
Dengan kekuatannya, Tisa langsung membuka pintu dan mendudukan Bu Sani di jok belakang. Tiba-tiba saja Tira duduk di samping Alex di bangku depan.
"Kau mau apa? Kau jangan ikut! Tisa, kau masuk dan jaga Ibu di kursi belakang." Titah Alex pada Tisa.
Tisa hanya menurut tanpa protes saat Alex memerintah.
"Awas! Cepat kau keluar! Kau mau memperkeruh suasana? Kau yang sudah membuat Ibuku pingsan! Pergi!" Usir Alex pada Tira dengan kasar.
Tentu saja Tira merasa terhina dan langsung turun dari mobil dan langsung membanting pintu mobil dengan kasar. Setelah itu, Alex melajukan mobilnya menuju ke arah rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, Alex melihat Tisa dari kaca sepion. Tisa tampak khawatir namun tak pandai menunjukan rasa kekhawatirannya. Ia hanya diam dan memegangi tangan Bu Sani sepanjang perjalanan.
Setibanya di rumah sakit, para perawat membawa bed hospital kemudian membawa Bu Sani untuk mendapatkan perawatan intensip.
Kemudian, Alex duduk di kusi tunggu yang sedari tadi sudah ada Tisa di sana. Tisa duduk dengan tenang. Ia memang kaku dan tak bisa mengekspresikan kekhawatirannya pada Bu Sani seperti wanita kebanyakan.
"Maaf," ucap Tisa pada Alex.
"Kenapa? Kenapa kau meminta maaf atas apa yang sama sekali tidak kau lakukan?" Kata Alex.
"..." Tisa diam lagi. Hari ini, Tisa banyak diam ketimbang bicara.
"Ini bukan salahmu. Lagian, cepat atau lambat Ibu akan tau soal ini. Tapi, yang sedang aku khawatirkan adalah Ayah. Bagaimana aku bisa mengatakan semuanya pada Ayah? Dia pasti merasa dipermainkan."
"Semua salahpihak keluargaku yang tak mau berterus terang sedari awal. Jika saja dari awal aku tak menyetujui semua ini, semuanya tak akan serumit ini. Jadi maaf," kata Tisa.
'Baru kali ini aku liat sisi lain dari Tisa. Dibalik sikap kasar dan tomboy, Ia juga punya sifat yang begitu dewasa. Sungguh, aku sangat melihat niat dari setiap apa yang Ia ucapkan,' batinnya sesekali melihat Tisa.
"Kamu hubungi Ayah dulu. Dan katakan saja semuanya. Mungkin, ini adalah hari terakhirku di rumah sakit. Aku akan segera pergi dan menghilang saat Ibu sadar atau saat Ayah tiba dan menndengarkan semua kekacauan ini."
__ADS_1
Belum Alex menjawab, dokter keluar dari ruangam dan tentu saja Alex langsung mendekat pada dokter.
"Bagaimana Ibu saya, Dok?" Tanya Alex.
"Dia sedang berjuang melewati masa keritisnya. Semoga saja, secepatnya Ia akan sadar."
"Maksud dokter, saat ini Ibu belum sadar? Apa yang terjadi?" Tanya Alex.
"Ibu koma. Kita nggak tai sampai kapan Ia akan pulih. Lebih baik, Anda berdoa agar Tuhan memberikan yang terbaik." Kata Dokter.
Dokter meninggalkan Alex dan juga Tisa di daun pintu. Sementara itu, Tisa terlebih dulu masuk karena ingin melihat kondisi terkini Bu Sani.
Saat tiba, Tisa langsung mendekat dan Ia sangat sedih saat melihat Bu Sani dipasngi alat bantu pernapasan. Sungguh, Tisa sangat merasa bersalah saat melihat Bu Sani.
Sementara Alex hanya diam dan berdiri, Ia enggan mendekat pada Bu Sani. Ia masih tak percaya jika Ibunya mengalami serangan jantung.
"Lex, aku titip Ibu. Aku nggak bisa di sini. Apalagi, mungkin ayah sedang menuju ke mari. Apa yang harus aku katakan ada ayah? Bahkan, aku nggak bisa bertmu dengan Ayah karena dosaku padanya,"
"Nggak! Kau korban! Kau tidak bersalah. Tidak kah kau ingin temani Ibu?"
"Aku mau, tapi gimana jika Ibu sadar dan tau aku masih di sini, apa yang akan terjadi pada Ibu? Aku takut kondisinya akan semakin memburuk.
Tiba-tiba saja, mereka berdua dikejutkan dngan kedatangan Tira di sana. Tentu saja membuat Alex melihat ke arahnya dan ingin sekali mengusirnya.
"Gimna Ibu?" Tanya Tira khawatir.
"Kenapa? Belum puas? Kau yang memulai semua ini! Apa kau akan menambah masalah lagi dengan datang kemari? Tira kau ini kenapa?" Tanya Alex sedikit kesal.
"Apa?! Kau bilang aku kenapa? Kau yang kenapa?! Kenapa kau begitu membelanya?! Apa kau sudah mencintainya dan melupakanku?!" Tanya Tira dengan amarah di dadanya.
***
Jangan lupa like.
__ADS_1