Dinikahi Suami Kembaranku

Dinikahi Suami Kembaranku
Bab 32 : Ada Dia


__ADS_3

Bab 32 : Ada Dia.


"Soal itu ..." Meta langsung menghentikan apa yang akan ia katakan. Ia takut jika Tisa lambat laun akan tahu hubungan dirinya dan juga Aris.


"Kenapa? kenapa kau diam? Aku yakin ada sesuatu yang sedang kalian berdua sembunyikan dariku! Tapi, apa itu? " kata Tisa yang benar-benar curiga dengan apa yang dilakukan oleh Aris dan juga Meta.


Aris melepaskan pandangannya dari Meta, kemudian melangkah menuju ke arah Tisa, lebih tepatnya Aris berada di antara Meta dan Tisa. Dia berdiri di tengah-tengah keduanya.


"Baik. Gue akan katakan yang sejujurnya sekarang juga. Gua nggak mau membohongi siapa-siapa di sini. Gue hanya ingin bersikap jujur kepada diri gue sendiri. Bukan egois, tapi yang bakal gue katakan ini adalah kenyataannya. "


" Aris, kau?" Kata Meta seolah melarang Aris mengatakan apa yang terjadi diantara keduanya.


Sementara itu Tisa, semakin yakin jika Aris dan Meta menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Tisa pun hanya terdiam dan sesekali melihat kearah Meta yang menundukan pandangannya kala Tisa melihat ke arahnya.


"Tisa, mungkin ini berat untukmu. Ak aku tahu, jika kau teramat sangat menyukaiku. Maaf sebelumnya karena aku selalu memberi harapan palsu kepadamu. Karena pada kenyataannya, aku hanya mencintai satu orang wanita saja di dunia ini selain ibuku. Dan karena wanita inilah, aku selalu berpura-pura menyukaimu, " ucapnya kepada Tisa di hadapan Meta.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Aris, Tisa langsung menatap sengit kepada Meta. Ia seolah-olah membocorkan apa yang ada di dalam hatinya kepada Aris. bahkan Tisa sangat sakit hati dengan kata-kata yang diucapkan oleh Aris.


"Oh, mungkin aku yang salah karena memilih teman seperti kalian berdua. Mulai saat ini aku tidak akan menampakan diri di hadapan kalian lagi! " ucap Tisa dengan tegas.


Tisa berusaha bangun dari bad Hospital yang ia berada saat ini. Kemudian, ia merogoh beberapa lembar uang di saku celana bagian belakang yang ia kenakan. Kemudian ia meletakkan beberapa lembar uang di atas bed Hospital itu dan pergi dari hadapan Aris juga Meta.


"Tisa! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!" Ucap Meta kepada Tisa yang saat itu tak menoleh ke belakang sedikitpun.

__ADS_1


Tisa berjalan mempercepat langkahnya, walaupun masih sakit dengan beberapa luka di bagian tubuhnya. Ia tidak memperdulikan hal itu. Yang ia perdulikan saat ini adalah rasa sakit hati karena penghianatan yang dilakukan oleh Meta dan juga Aris.


Setelah kepergian Tisa, tentu saja Meta sangat kesal dengan Aris. Ia menatap benci kepada Aris. Saat Aris mendekat padanya Mesa membuang wajahnya ke arah lain.


" kau marah padaku? "Tanya Aris kepada Meta yang masih saja membuang wajahnya enggan melihat ke arah Aris.


" seharusnya, kau tidak mengatakan hal seperti itu! Dia tidak punya tempat tinggal sekarang! Dia benar-benar keluar dari rumah karena masalah yang sedang ia hadapi. Dan sekarang, dia pergi entah akan ke mana.Apakah kau tidak memikirkan hal itu? " ucap Meta kepada Aris. Berharap Aris akan mengejar Tisa dan meminta maaf atas apa yang sudah ia katakan kepada Tisa.


"Bukan! Ini sudah yang terbaik. Sampai kapan kita harus menyembunyikan perasaan kita masing-masing dan menyakiti hati kita? Karena dalam kenyataannya, Aku tidak mempunyai rasa sedikitpun kepada Tisa. Kasihan dia jika terus dibohongi seperti apa yang kau inginkan, " jelas Aris kepada Meta bersikeras, agar Meta tak menyalahkannya atas apa yang sudah ia lakukan kepada Tisa.


Meta pun terdiam membisu. Ia tidak akan pernah menang jika berdebat dengan Aris. Walaupun benar jika dirinya mencintai Aris, namun Ia memutuskan tidak akan pernah menerima cintanya Aris karena ia akan terus merasa bersalah sudah membuat Tisa sakit hati dan menjauh dari kehidupannya.


***


Sementara itu, Tisa sedang berada di trotoar jalan. Ia menikmati lulu lalang kepadatan kota sembari mengingat kembali setiap kata-kata yang diucapkan Aris kepadanya. Sungguh, menyakitkan hatinya. Tisa menundukkan kepala dan hanya melihat sepatu di atas tanah yang ia kenakan.


Namun tiba-tiba saja, ada suara yang memanggilnya dengan tiba-tiba.


"Tisa, akhirnya aku menemukanmu,"


Tisa langsung mendongakkan wajahnya dan melihat ke arah depan. Ia melihat seorang pria yang ia kenal beberapa hari yang lalu. Ya, dia adalah calon suami dari saudara kembarnya. Tisa tak menyangka jika Alex muncul di hadapannya.


Tisa masih menetap Alex yang saat itu mengatakan sesuatu kepadanya namun lewat sorot matanya.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa kau berdiri di hadapanku seperti ini?" Ucap Tisa Ketus kepada Alex. Tisa malah berpikir walaupun baru sebentar ia pergi meninggalkan rumah, Alex sudah mencarinya.


" malam-malam seperti ini, kamu lagi ngapain di jalanan? "Tanya Alex yang langsung menarik pergelangan tangan Tisa dan membawanya pergi menuju ke mobil yang ia parkir dekat dengan di mana Tisa berada.


Alex membuka pintu mobil kemudian mendudukan Tisa di bangku tempat biasa Tisa duduk. Setelah itu, Alex langsung menjalankan mobilnya dan tak lupa mengunci dari dalam agar Tisa tidak kabur.


Alex berniat akan membawa Tisa pulang ke rumahnya karena ia tak mau jika kedua orang tuanya tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah tangganya. Namun sebelum itu, Alex membawa Tisa terlebih dahulu ke butik karena penampilan Tisa tidak seperti apa yang kedua orang tuanya lihat sebelumnya.


Sepanjang perjalanan, Alex tak melihat keceriaan di wajah Tisa. Bahkan Alex hanya melihat kesedihan di wajahnya hingga Alex pun bertanya kepada Tisa.


" kau kenapa? Apa yang terjadi kepadamu? Apa ada yang menyakitimu selain ayahmu dan aku? " tanya Alex kepada Tisa.


" bukan urusanmu!" Jawab Tisa singkat saja.


'Mengapa Tuhan mengirimkan Alex di saat yang tidak tepat seperti ini? Aku sudah kehilangan aris dan aku sangat sedih karena kehilangan Meta juga. Tapi kenapa juga aku mau, saat dibawa oleh Alex? Tidak ada pilihan lain? ' ucap Tisa dalam hatinya penuh pertanyaan.


Alex pun membelokan mobilnya ke sebuah butik dan keluar dari mobil. kemudian membukakan pintu mobil untuk Tisa dan menarik pergelangan Tisa untuk masuk ke butik itu. sontak saja Tisa menghempaskan tangan Alex. Ia tak mau dibawa ke dalam butik itu. Ia berdiri di hadapan mobil dan melipat tangannya di dada, kemudian diam tak berkata apapun.


"Aku tahu, kau tidak suka tempat seperti ini. Tapi tolong aku kali ini saja. Apa yang akan dipikirkan kedua orang tuaku jika melihat Penampilanmu yang seperti ini?" Ucapan Alex kepada Tisa yang langsung menggendong tubuh Tisa dengan posisi bak membawa karung beras saja.


Tentu saja ia menjerit-jerit dan sesekali memukul punggung Alex. Hingga saat di dalam semua pasang mata melihat pada Alex dan juga Tisa. Alex langsung menurunkan tubuh Tisa tepat di ruang ganti, kemudian ia memilihkan beberapa baju yang harus Tisa pakai.


Semua orang ...

__ADS_1


***


Jangan lupa like


__ADS_2