Dinikahi Suami Kembaranku

Dinikahi Suami Kembaranku
Bab 16 : Aksi Tisa


__ADS_3

Bab 16 : Aksi Tisa


Tira membuka pintu mobil yang Ia naiki kemudian langsung membuka pintu mobil yang Ia curigai. Tira dengan berani mengepalkan tangan dan menggedor beberapa kali kaca mobil itu. Namun, bukannya dibuka malah mobil itu melaju menerobos lampu merah.


"Sialan!" Ucapnya berusaha mengejar namun lampu hijau sudah menyala dan mobil di belakangnya memijit klakson hingga semuanya seakan memarahi aksi Tira.


Ia langsung masuk kembali ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju ke arah rumah. Tira lupa, jika dirinya tengah berada dengan Bu Sani yang sedari tadi Ia abaikan.


Bu Sani masih menatapnya dengan penuh tanya, dan Tira yang kaku hanya terdiam takut. Takut jika Bu Sani memarahaninya, lebih jauh lagi tau penyamarannya.


'Mati gue kalo sampe Ibu tau identitas gue sebenarnya!' Katanya dalam hati.


"Ada apa? Kamu kenal mereka?" Tanya Bu Sani pada Tira bernada khawatir. Beruntung Bu Sani tak curiga.


"Mereka itu, orang jahat. Ibu tidak lihat? Dia yang tadi aku hajar sebelum kita ke mall. Apa ibu tak melihatnya?" tanya Tira berpura-pura karena sudah pasti Bu Sani tak tau apa yang Ia lihat.


"Tidak. Sudahlah, jangan diperpanjang lagi, ibu takut terjadi sesuatu hal yang buruk padamu. Ibu nggak mau hal itu sampai terjadi," ucapnya pada Tira dengan penuh kekhawatiran.


"Nggak usah khawatir, Bu. Aku hanya tak ingin mereka mengganggu ibu lagi."


"Makasih ya, Nak. Ibu tak pernah dikhawatirkan seperti ini. Bahkan oleh Alex sekalipun," ucapnya pada Tira.


"Sama-sama, Bu." Jawabnya singkat dengan senyum terpaksa diperlihatkan oleh Tira.


Tira dan Bu Sani pun tiba di rumah. Setelah mereka masuk ke dalam rumah, Tira pamit untuk ke kamarnya yang ada di lantai atas. Ia ingin segera naik ke kamar karena akan menghubungi Meta.


Sementara Bu Sani, tak sedikitpun mencurigai tingkah Tira yang sedikit anarki. Ia menganggap jika Tira hanya mengkhawatirkannya saja.


Bu Sani mengeluarkan semua barang-barang belanjaannya dan tanpak bahagia hingga Ia langsung masuk ke kamarnya sore itu.


Di kamar Tira, Ia mondar mandir dengan ponsel masih ada di tangannya. Sesekali mengetik dan menempelkan ponsel pada telinganya. Namun, ia malah menggerutu karena Meta tak bisa Ia hubungi.


"Akh! Aku harus bisa keluar dari sini dan cari tau apa yang terjadi. Tira, lo dimana? Lo kenapa sih Tira?!" Katanya.


'Gue harus minta bantuan Alex. Dia akan merasa diuntungkan dalam hal mencari Tira. Dia akan temukan wanitanya tanpa harus berpura-pura seperti sekarang. Gue harus cari tau alamat dimana Alex ngantor.' Batinnya.

__ADS_1


Ia membuka note book dan mencari informasi dimana kantor milik keluarga Andra.


Tira mengganti pakaiannya. Jelana jeans dengan jaket kulit hitam, memakai topi juga masker hitam sepatu cats juga yang sengaja Ia beli diam-diam sewaktu pergi ke mall tadi.


Tira membuka perlahan pintu kamarnya, kemudian melihat ke lantai bawah mencari keberadaan Ibu Sani.


'Gue nggak boleh sampe ketahuan. Gue lewat balkon aja.' Gumamnya.


Ia lemparkan tali ukuran besar dan menuruninya dengan perlahan. Tira juga berlari ke belakang rumah dan di sana ada gerbang kecil yang langsung terhubung dengan jalan kecil.


"Ukh!" Nafasnya terengah-engah. Kemudian Ia keluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang.


"Lo dimana? Buruan gue di belakang rumah!" Titah Tisa dengan tegas.


Dua orang dengan motor gede berwarna merah terlihat mendatangi Tira dan berdiri tepat di hadapannya. Salah satu dari mereka memberikan helem untuk Tira pakai.


"Sory ya, gue minjem motor lo dulu. Makasih, lo tenang aja gue sewa motor ini untuk beberapa hari." Katanya sembari mengambil alih salah satu dari motor gede itu.


Tisa langsung bersalaman dengan kedua pria itu kemudian Ia pergi menggunakan motor gede untuk menuju alamat kantor, tempat dimana Alex bekerja.


Beberapa menit kemudian, Tira tiba di sebuah kantor besar di pusat kota. Tak jauh dari rumahnya tinggal saat ini. Hanya perlu waktu lima belas menit saja untuk sampai. Tira menghentikan motornya di tepi jalan dan mengamati sekeliling.


'Apa ini belum waktunya pulang ya?' Pikirnya dalam hati. Ia beberapa kali melihat ke pintu utama dan mang belum ada yang keluar. Ia juga melihat ke arah tempat parkir dan Ia juga masih melihat banyak kendaraan di sana. Ia pun menyadari jika Alex pasti belum pulang. Ia pun menunggu dekat semak seolah bersembunyi namun tetap mengamati.


Setelah satu jam menunggu, tepatnya pukul tujuh malam Alex keluar dari kantor dan Ia menuju ke parkiran. Ia masuk mobil dan pergi meninggalakan area kantor.


Melihat itu, Tisa langsung mengikuti kemana arah mobil Alex. Beberapa saat menunggu jalan sepi, Tisa langsung menyalip mobil Alex hingga Alex terkejut dan menginjak rem dengan mendadak.


"Sialan! Lo apa-apan sih?!" Pekik Alex dari dalam mobil. Kesal dengan apa yang dilakukan oleh Tisa. Alex tak tau jika yang mngendarai sepeda motor itu adalah Tisa.


Alex keluar dari mobilnya dan langsung mendatangi Tisa. Dengan kasar Ia menendang velg motor yang Tisa kemudiakan. Namun, Tisa malah menendangnya kembali kaki Alex dengan kakinya alhasil Alex memekik kesakitan.


"S*alan lo! Mau lo apa? Buka helem lo!" Ucap Alex yang kini masih jatuh di atas aspal.


Tisa langsung turun dari motornya. Kedua tangannya memegangi helem dan membukanya di hadapan Alex.

__ADS_1


Alex terbelalak sampai Ia langsung berdiri saat Ia melihat penampakan yang Ia kira Tira dalam versi tomboy.


"Tira," panggil Alex lembut.


"Tisa! Gue Tisa! Adik ipar lo!" Ucap Tisa menegaskan. Padahal, yang melakukan ijab kobul adalah Tisa namun dengan nama Tira.


"Alah! Gue juga tau. Ngapain lo disini?!" Bentak Alex marah besar.


"Gue punya penawaran bagus. Lo mau ikut gue nggak?" Tanya Tisa.


"Kemana?"


"Ke caffe. Kita ngopi,"


"Okay." Ucap Alex langsung kembali ke mobilnya dan langsung mengikuti kemana Tisa membawanya.


Sepanjang perjalanan, Ia terus menatap Tisa dan beberapa kali tak percaya dengan apa yang Ia lihat.


'Ini beneran Tira punya adik? Tapi kenapa bisa gue nggak tau? Lalu, kamu dimana sayang?' Batinnya.


"Baik Tira maupun Tisa, kenapa semuanya sama. Melihat Tisa, seperti aku melihat sosok Tira." Gumamnya.


Akhirnya mereka tiba di sebiah caffe. Mereka berdua masuk dan memesan langsung pada barista. Tira suka mocachino sementara Alex suka kopi dengan sedikit gula juga cream tiramisu.


'Aneh! Cewek tapi suka kopi!' Batinnya saat Tisa membawa secangkir kopi mengahampiri Alex.


Tisa langsung duduk di kursi dengan meja kecil. Ia pun menyesap kopinya namun masih menggunakan masker. Alhasil, Alex terkekeh melihat tingkah konyol Tisa.


"Ha ha ha!" Alex terus tertawa saat Tisa kesulitan membuka maskernya.


"Diam kau! Atau aku siram kau dengan kopi panas ini!" Bentak Tisa kesal karena Alex menertawakannya.


Tangan kanan Alex langsung meraih masker yang dipakai oleh Tisa. Jarak keduanya sekarang kurang dari dua puluh senti hingga detak jantung Alex terdengar jelas oleh Tisa. Bukan hanya itu, bau badan Alex pun tercium lembut oleh Tisa.


Hingga Tisa akhirnya ....

__ADS_1


***


__ADS_2