
Kecurigaan Blue semakin bertambah karena ada Hakim Agung di belakangnya. Alfaro memberikan gimik ketakutan di depan orang tua di depannya.
"Bukan urusanku kalau dia berkhianat!" gumam Blue dari kejauhan, ia mencoba memperhatikan Dewa Ebisu yang mencoba menyelamatkan jejak jiwa milik Yuji.
Sayangnya jiwa itu telah terkena kelas Pemakan Jiwa, sehingga targetnya perlahan akan mati tanpa menyisakan apapun. Bahkan dewa kehidupan tidak akan bisa menyelamatkan Yuji, apalagi Dewa Keberuntungan yang masih ada di tingkat atas.
Tingkatan dewa dibagi menjadi 5 yaitu Dewa Sangat Rendah, Rendah, Menengah, Atas, Puncak. Setelah lima tingkatan itu akan muncul Dewa Maha Kuasa, contohnya Zeus, Hades, dan Dewa Kehidupan Osiris.
Sebagai Dewa Kehidupan, Osiris tidak memihak siapapun. Dia tidak punya dendam maupun rasa iba pada kehidupan orang lain.
Berbanding terbalik dengan Zeus yang gila akan kekuasaan dan Hades yang gila akan keadilan. Keduanya akan terus bertarung sampai dunia runtuh.
Blue sebagai manusia tidak bisa memihak salah satu dari mereka. Karena ketiganya bukan sosok yang mencerminkan hakekat manusia yang sebenarnya.
Ebisu mulai menggigil, ia mengerahkan semua kekuatannya untuk menyelamatkan Yuji. Namun energi jejak jiwanya terus melemah, ini juga menjadi sorotan Hakim Agung di depan Alfaro.
"Sudah cukup, kau tidak akan bisa menyelamatkannya." Hakim Agung itu punya persepsi atau penglihatan yang bagus. Jadi ia bisa melihat kekuatan jiwa seseorang.
Alfaro tidak menduga Blue bisa membuat Yuji menjadi seperti ini, tanpa sadar ia tersenyum dan dipergoki Dewa Ebisu yang tak sengaja menoleh.
Senyumnya langsung hilang, sedangkan Dewa Ebisu langsung melepaskan kekuatannya. Tangannya tanpa pandang bulu langsung meraih leher Alfaro dan mencekiknya.
Sayangnya tindakan pembunuhan itu langsung dihentikan Hakin Agung. "Jangan berlebihan, aku tidak mungkin membiarkan hakim di bawahku dibunuh begitu saja."
Keduanya saling melepaskan kekuatan, Dewa Ebisu dan Hakim Agung mengadu kekuatan. Beberapa orang yang ada disekitar langsung berlarian menjauh, mereka tidak mau terkena dampak peperangan antar dewa atas.
Blue mendapatkan dua fakta menarik, ternyata Hakim Agung di depan Alfaro bukan musuh yang harus diwaspadai. Kedua ia menyadari bahwa Dewa Ebisu ternyata Dewa Tingkat Atas, berbeda dengan informasi yang menyatakan dia hanya dewa rendah.
Sampai akhirnya Alfaro dilepaskan dengan wajah yang sudah biru tua kehabisan napas. Hanya dengan usapan tangan Hakim Agung, Alfaro kembali sadar dan sehat.
Dewa Ebisu mengambil jejak jiwa Yuji dan langsung meninggalkan tempat kejadian. Sedangkan Alfaro mendapat tatapan tajam dari Hakim Agung.
"Siapa sebenarnya yang membunuh Yuji, aku tidak akan bertanya kedua kalinya."
"Tuan, tolong maafkan saya. Ini adalah perjanjian kami."
Blue tiba-tiba muncul tanpa suara. "Aku orangnya, meskipun aku tidak membunuhnya langsung kemampuanku bisa membuatnya kesulitan!"
Kitty dan Liem yang berwujud manusia juga muncul di belakang Blue. Mereka menggunakan langkah hantu untuk menyembunyikan keberadaannya.
Hakim Agung yang merupakan seorang dewa merasa kaget dengan apa yang dilihatnya. Keberadaan Blue dan rekan-rekannya sangat misterius, meskipun tidak ada aura dewa instingnya mengatakan mereka kuat.
"Bolehkan aku tahu nama anda?" tanya Hakim Agung, ia menyadari tingkat Alfaro sedikit aneh. Dengan kecerdasannya, Hakim Agung bisa mengetahui pria berbaju biru didepannya ada hubungannya dengan penyerangan Alfaro tempo hari.
"Blue, aku biasa disebut dengan nama itu. Bolehkan saya tahu nama terhormat anda tuan?" tanya Blue dengan senyum santai. Meskipun aura dewa pria di depannya sangat kuat, Blue bisa melihat orang didepannya sedang terkena kutukan mematikan.
"Aku Hakim Agung Pengadilan Surgawi, Leaf."
Leaf dalam pengertian kasar adalah daun, sepertinya orang tuanya ingin pria tua itu menjadi daun yang melindungi seluruh manusia.
__ADS_1
"Sebuah kehormatan bisa bertemu Hakim Agung. Bagaimana kalau kita makan bersama di restoran terdekat?"
Leaf melirik ke Alfaro, kemudian ia menanggapi tawaran Blue. "Sepertinya ada sesuatu yang mendesak, kami harus segera kembali."
Kedua orang dari pengadilan surgawi menghilang, mereka menggunakan teknik langkah kaki yang cukup mengesankan.
Blue kehilangan senyumnya katena pria tua itu cukup cerdas. Dengan menerima permintaan Blue, publik akan mengira dirinya didukung oleh pengadilan surgawi.
Namun triknya tidak berhasil, sehingga Blue harus mencari cara lain. Meskipun Dewa Ebisu terlihat lemah dibandingkan dewa lainnya, Blue tidak punya pasukan di tanah dewa.
"Liem, dimana tempat Dewa Ebisu?" tanya Blue.
Diam-diam Liem telah menempelkan sihir pelacak pada Dewa Ebisu. Meskipun dia kuat, dewa itu tidak pandai dalam sihir, jadi Liem bisa menempelkan sihir pelacak.
"Cukup jauh dari sini." Liem mengirimkan titik lacakan melalui pesan sistem.
Blue yang menerimanya langsung mengusapkan tangannya dan melihat titik merah di peta tanah dewa. Karena lupa akan sesuatu, Blue menepuk jidatnya.
"Aku lupa, peta tanah dewa belum terbuka." Blue hanya melihat hitam dan merah di peta sistem. Hal itu karena pemain belum pernah menjelajahi tanah dewa.
Untuk membuat ini semakin mudah, Blue mengeluarkan Raul. Ketiganya berjalan menuju kota terdekat, mereka ingin mengumpulkan informasi.
Sesampainya di kota, Blue melihat pemandangan mewah degan gedung pencakar langit. Minimal gedung di daerah ini setinggi 25 meter atau 8 lantai.
Pengunjung dan berbagai orang tampak sedang menawar barang di pasar. Blue mendengar semua percakapan meraka, tidak dapat dipungkiri hal ini sama persis dengan dunia nyata.
Langkah kaki Blue berhenti di depan sebuah gedung setinggi 21 lantai. Nama gedung itu terpampang megah "Liga Langit."
Tempat yang diperuntukkan untuk para petarung mengukur nilainya. Semakin sering mereka menang, maka bayaran atau kelas mereka akan naik.
Blue mengeluarkan topeng berwarna biru dan mengenakannya, disusul dengan Liem dan Kitty. Sedangkan Raul kembali ke ruang penyimpanan.
Kakinya melangkah, tepat setelah memasuki ruangan energi dewa disekitarnya langsung merosot hingga tak tersisa. Inilah mengapa tempat ini dinamakan liga langit.
Setiap orang di dalam gedung ini akan merasakan keputusasaan tanpa energi dewa. Hampir semua orang di tanah dewa menggunakan energi dewa, jadi pertarungan mereka akan sangat mengesankan.
Blue duduk di kursi penonton melihat petarung yang akan bertanding. Lantai 1 punya 64 arena pertandingan, setiap arena diisi oleh 2 orang saja, sedangkan wasit memandu pertandingan di luar arena.
Karena hal tersebut banyak nyawa melayang di Liga Langit, tapi tidak ada yang menuntut lebih karena semua sadar bahwa ini adalah resiko yang harus dihadapi para petarung.
Sistem merah memandu Blue melihat potensi dan bakat para peserta. Karena tidak ada yang spesial, Blue hanya menggelengkan kepala dan mendecakkan lidahnya.
Tindakannya tersebut mendapat respon kurang baik dari pria tampan di belakangnya. "Hei, Bung. Apa kau baru disini?"
Blue menoleh kebelakang, ia masih mengaktifkan mata dewa yang ditingkatkan sistem merah. Betapa terkejutnya ia melihat status pria tampan di belakangnya.
...[Lucas...
...Level : 980...
__ADS_1
...Tingkatan : Dewa Menengah....
...Gelar : Pangeran Api....
...Kekuatan : 32 ribu...
...Kelincahan : 27 ribu...
...Pertahanan : 3 ribu...
...Daya Tahan : 39 ribu...
...Kepintaran : 16 ribu...
...Darah : 700 juta...
...MP : 210 juta...
...Bakat :...
...1. Raja Pedang Api (Tersegel). ...
...2. Sword Saint (Tersegel). ...
...3. Pangeran Api (50% terbuka).]...
Meskipun levelnya jauh di bawah Raphael, Blue fokus pada bakat Lucas tang tersegel. Tidak ada informasi detail terkait segel bakat, Blue harus berhati-hati di depannya.
"Ya, aku baru saja naik dari tanah manusia."
Blue tidak ingin menyembunyikan identitasnya, ia mencoba mencuri perhatian Lucas supaya keduanya terikat takdir.
"Sudah lama aku tidak mendengar manusia naik ke tanah dewa. Pantas saja kau tidak punya aura dewa."
"Sejak pertama kali aku datang kesini semua orang mempertanyakan aura dewa. Apa sebenarnya aura dewa itu?" tanya Blue pelan.
"Aura dewa adalah perubahan mana poin dari dunia manusia ke tanah dewa. Kualitasnya jauh lebih tinggi daripada aura disana."
"Bisakah anda menunjukkan aura dewa?"
Lucas tersenyum dan membuat sebuah bola berwarna kuning dengan aura dewa di telapak tangannya. "Meskipun aku tidak terlalu berbakat, setidaknya ini sudah cukup untuk gambaran orang baru sepertimu."
Blue terdiam sejenak, ia akhirnya mengerti mengapa energi jiwa sangat fleksibel. Ternyata energi yang dia miliki di dunia nyata maupun Domain Dewa bisa dirubah sesuka hatinya.
"Terima kasih sudah menunjukkannya padaku." Blue menutup matanya dan merubah energi jiwa menjadi aura dewa. Meskipun tidak mirip sepenuhnya, setidaknya itu bisa menipu beberapa dewa yang tidak teliti.
"Bagaimana kau..."
Blue tersenyum tipis, ia menyela perkataan Lucas dan segera berkata pelan. "Aku berharap kamu menyembunyikan fakta tidak masuk akal ini, pangeran Lucas."
__ADS_1