
Tidak ada yang memperdulikan Naga Angin, mereka semua asik dengan dunianya masing-masing. Sampai akhirnya Liem menyuruhnya untuk mendekat.
"Hei kadal, apa kau bisa memotong kubis ini dengan cepat?" tanya Liem yang sadar bahwa naga angin bisa menggunakan sihir angin.
"Kurang ajar, beraninya kau merendahkan martabatku!" teriak Naga Angin dengan suara keras hingga burung-burung di sekitar beterbangan.
"Ya sudahlah," ucap Liem dengan suara lesu. Ia melempar dua kubis ke udara dan menggunakan sihir angin untuk memotongnya dengan tingkat ketebalan sempurna.
"Liem berikan sayurannya!" seru Blue yang sedang menggoyang wajan di sebelah.
"Baik!" Liem segera memasukkan semua sayuran yang telah di potong.
Semua orang sudah siap dengan piringnya, termasuk Rafaela dan Yami. Blue segera mengangkat wajan dan memberikan semua orang masakan.
Bee menggelengkan kepala. "Hei mana kepiting gorengku!"
"Kepitingnya habis, kita harus mencarinya atau pergi ke pasar sendiri."
"Tenang," ungkap Bee sambil melirik Kitty.
Karena mendapat lirikan dari Bee, Kitty segera mengeluarkan dua kotak berisi kepiting segar. Blue memandang Kitty dengan tatapan aneh.
"Jangan menatapku seperti itu, Bee memberikan imbalan yang sepadan dengan kepitingnya."
Bee sudah tidak diam saja, ia mengajarkan beberapa trik pengendalian mana pada Kitty supaya lebih baik. Pengetahuan Kitty memang luas, tetapi Bee bukan orang bodoh yang tidak mempunyai ilmu.
Keduanya saling belajar, bedanya Bee sama sekali tidak memiliki moral kemanusiaan. Ia lebih memilih keuntungan dibandingkan teman, kecuali Blue seorang diri.
Namun entah apa yang membuatnya ingin mengajari Kitty, sepertinya Bee mencoba untuk mengambil jalan yang berbeda. Layaknya Blue yang mengambil jalan yang berbeda dari kehidupan sebelumnya.
Perlu di ingat, Blue selalu menjadi sorotan dan memikul semua beban Shadow pada waktu itu. Hasilnya sangat tidak memuaskan, makanya ia membutuhkan rekan yang bisa menjaga punggungnya.
Blue segera memasak kepiting goreng dan memberikannya pada Bee. Perang akan segera pecah, No Name tidak main-main kali ini.
Naga Angin hanya bisa tersenyum kecut melihat semua orang memperhatikan perang dengan serius sambil makan. Mereka tampak seperti nonton bioskop layar asli.
Kamal muncul di atas benteng pertahanan desa miliknya. Ia menatap ke arah pasukan musuh serta wajahnya yang tampak serius.
Perang pecah, semua pasukan No Name mencoba menerobos masuk desa. Mereka seperti orang bodoh yang hanya mengandalkan tubuhnya untuk menyerang.
Hal itu dimanfaatkan Kamal untuk menembakkan senjata sihir dengan intensitas sedang. Sebelum pasukan musuh menyentuh dinding pertahanannya, Kamal memberikan perintah untuk menyerang.
Pasukan pribumi dan pemain keluar dari benteng pertahanan dan memenggal pemain yang sudah sekarat karena serangan senjata sihir, utamanya karena Menara Sihir yang berjumlah 8 buah.
"Sebenarnya seberapa kaya Kamal itu?" gumam Blue pelan.
__ADS_1
Blue melihat serangan meriam dan Menara Sihir pertahanan desa tidak efisien. Banyak waktu dan energi yang terbuang sia-sia. Salah satu contohnya Menara Sihir menyerang satu target yang sama, padahal bisa diselesaikan dengan satu saja.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Bee yang belum menghabiskan kaki kepiting di mulutnya.
"Aneh, jika Kamal hanya sebatas ini, mengapa No Name sangat berhati-hati?" ungkap Blue sambil menyentuh dagunya.
Naga Angin membuka suara. "Itu karena semua orang yang masuk ke dalam desa akan terperangkap dan kekuatannya turun drastis. Simbol buatan Aeolus dimanfaatkan dengan baik dan benar, sayangnya dunia ini sudah kehabisan energi untuk menopangnya."
Seperti yang dikatakan Naga Angin, Kamal terlihat panik dengan gelombang pertama. Blue bisa mengatakannya karena ia pernah di posisi ini sebelumnya.
Sebagi seorang pemimpin ia tidak boleh menunjukkan ekspresi khawatir atau panik. Hal itu akan mempengaruhi mental penduduk pribumi atau mungkin pemain.
Kamal memberikan instruksi untuk mundur beberapa meter, hal itu dilakukan supaya Menara Sihir menjangkau musuh.
"Ternyata teknologinya tidak lebih maju dari Fairy Dance." Blue mencoba membandingkan besar Menara Sihir dengan desa Koral, tentu saja milik Kamal jauh lebih besar dan kokoh dengan struktur bangunan tanah liat dicampur besi.
Meskipun menara sihir milik Kamal lebih besar, dalam hal lainnya jauh di belakang Desa Koral. Kecepatan serang, efisiensi energi, bahkan sampai jangkauan serangnya terpaut 20%.
"Jangan membandingkan karya orang lain dengan orang lain." Bee menyela karena ia tahu Zaha adalah otak dari semua pembangunan di seluruh desa Fairy Dance.
"Aku yang mengajarinya dari 0, tentu saja rasa bangga terus merasuki jiwaku, haha." Blue tertawa ringan mendengar pernyataan Bee.
"Tuan, apa kita akan membiarkan orang-orang itu mati?" tanya Liem dengan ekspresi khawatir.
Liem hanya diam, entah mengapa sekarang jiwa malaikatnya kembali tumbuh. Sedangkan sisi iblis miliknya mulai terkikis.
"Mm..." Liem hanya bergumam setuju.
Semua rekan Blue tidak ada yang memperhatikan kehidupan yang bukan rakyatnya. Mereka tanpa sangat acuh dan membiarkan perang terus berkecamuk.
Rafaela yang notabennya adalah wanita yang akan menjadi malaikat tidak memperhatikannya karena hal khusus. Menurutnya kehidupan seseorang bukan tugas malaikat melainkan tugas masing-masing individu untuk menjaganya. Jika mereka ingin berperang dan mati tanpa ada penyesalan, itu mungkin hadiah terbaik untuk hidupnya.
"Oke, oke. Aku akan membantunya. Kalian tunggu disini sebelum aku memberikan aba-aba." Blue mengambil topeng setan dari ruang penyimpanan dan langsung memakainya.
Tubuhnya terbelah menjadi tiga, kemudian semuanya langsung berpencar ke menjalankan tugasnya masing-masing.
Tubuh alsi Blue akan mendekati Kamal dan memberikan penawaran. "Ais, ini sangat merepotkan."
Blue mengeluh karena seharusnya ia muncul di akhir dan menjadi pahlawan. Namun sisi malaikat Liem mulai tubuh dan mendominasi, ia tidak bisa membiarkan kejadian langka itu hilang begitu saja.
Karena menggunakan skill penyembunyian, Blue sampai di sebelah Kamal dengan begitu mudah. "Hei, apa kau masih mengingatku?"
Kamal dan 3 penjaganya langsung berbalik dan menghunuskan senjatanya. Kamal terkejut bisa ada pemain masuk tanpa ia ketahui.
"Blue, apa yang membuatmu datang kesini?"
__ADS_1
"Bagaimana tawaranku sebelumnya, sepertinya desa ini berada di ujung tanduk." Blue tersenyum manis sambil mengangkat kedua tangannya.
"Aku tidak akan menjualnya. Ini semua adalah hasil kerja keras seluruh keluargaku." Kamal memberikan informasi yang sangat penting bagi Blue untuk melanjutkan pembicaraan.
"Baiklah, aku ingin mengajukan proposal lain. Bergabunglah dengan Fairy Dance dan jalankan desa ini sesuai keinginanmu. Berikan pajak sesuai kemampuanmu setiap tahunnya dan kau akan menerima 5 Ruby sebagai investasi kami?"
Tawaran Blue membuat tiga penjaga Kamal terperangah. 5 Ruby atau setara dengan 5 juta emas, perbedaan pendapatan di Benua Tengah dan Selatan sangat mencolok. Makanya Fairy Dance dengan uangnya bisa mendongkrak pertumbuhan guild dengan cepat.
"Apa kau yakin?" tanya Kamal mulai tertarik dengan tawaran yang begitu menggiurkan.
"Tentu saja, kami mau menjalankan operasi di wilayah utara Benua Selatan. Tempat ini sangat penting bagi Fairy Dance." Blue memberikan sedikit bumbu untuk meningkatkan minat lawan bicaranya.
Kamal menoleh ketiga pengawalnya, ketiganya mengangguk setuju karena desa ini akan runtuh tanpa bantuan Fairy Dance.
"Apa kau tidak takut dengan No Name?" tanya Kamal.
"Kamus Fairy Dance tidak mengenal kata takut, kami menggunakan segala cara untuk meraih kemenangan tanpa mengorbankan jiwa seseorang seperti yang kau lakukan."
Blue sedikit menyindir karena ia ingin membawa emosi simpatik pada pembicaraan kali ini. Sesungguhnya orang yang sudah terjerumus emosi itu tidak akan bisa berpikir jernih.
"Aku setuju bergabung dengan Fairy Dance." Tiga orang di belakang Kamal mengangkat tangan dan menyetujui proposal Blue.
"Baiklah, apa yang selanjutkan harus kami lakukan. Situasinya sudah tak terkendali."
Blue tersenyum dan melempar petasan ke langit. Sehingga kelompok Yami menyadarinya, mereka langsung mengeluarkan Topeng berwarna biru untuk menutupi wajahnya.
Bee menyodorkan topeng biru pada Naga Angin. "Jangan keras kepala dan pakailah. Kami disini bukan pahlawan yang ingin namanya di sanjung semua orang."
Naga Angin mengambil topengnya dan tersenyum. "Meskipun ini bukan gayaku, aku sangat suka cara kalian."
"Huh, sebaiknya jangan menyimpulkan terlalu cepat." Bee memberikan nasihat supaya Naga Angin tidak menganggap Blue sebagai orang baik.
Yami dan Rafaela menghilang dari pandangan semua orang. Yami bisa berlari sangat cepat, sedangkan Rafaela bisa berpindah tempat dengan sihirnya.
Liem dan Kitty mengikuti dari belakang, mereka tidak secepat Yami tapi masih membuat Naga Angin terkejut.
"Jangan bengong, pergi sana!" seru Bee sambil menendang bokong Naga Angin.
"Terus kenapa kau masih disini?"
"Ais, tak tahu diri." Bee menghilang dan masuk ke ruang penyimpanan milik tuannya. Dalam sekejap mata ia sudah sampai di sisi Blue dan membuat Naga Angin terperangah hingga matanya melotot.
"Tidak mungkin."
Anehnya Bee memandang Naga Angin dan menutup setengah matanya. Hal itu memberikan ejekan pada Naga Angin yang sangat lambat.
__ADS_1