Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Oskar


__ADS_3

Blue melirik Bee dengan tenang. "Kita butuh istirahat, Agni bangunlah tidak ada sesuatu yang perlu ditakutkan lagi."


Agni langsung membuka matanya dan berlari ke arah ayahnya. Kaditula sedang terluka karena satu serangan dari pedang Bee, jadi dia tidak memancarkan cahaya kuning.


Kedua tangan Agni langsung merangkul ayahnya. Pelukan hangat diberikan oleh putri kecilnya, Moria tidak bisa menahan air matanya.


Bee mengambil Kaditula, ia mengangkatnya tinggi-tinggi dan cahayanya kembali terpancar. "Jangan diam saja, katakan sesuatu sialan!" ucapnya.


"Jangan sentuh aku, sialan. Tanganmu terasa sangat busuk!"


Keduanya saling mengejek dan entah kapan akan berakhir. Disisi lain Blue sibuk dengan fenomena aneh sebelumnya, ruang waktu tadi bukanlah sebuah kebetulan. Artinya ada teknik tertentu yang dapat digunakan untuk masuk kedalamnya.


Tanpa terasa Blue sudah membedah semua petunjuk yang dia dapatkan, tapi tidak satupun yang bisa digunakan untuk menerobos masuk ke dalam ruang waktu.


"Ini belum cukup, aku harus mencarinya lagi!"


Kunci kemenangan melawan Zeus dan pengguna waktu lainnya adalah memecahkan trik di balik ruang waktu.


Moris tidak beranjak dari tempatnya, Agni menemani ratapan penyesalan ayahnya. Keduanya berlutut menghadap Blue untuk menyatakan ketulusan hatinya.


Bee dan pedangnya melakukan investigasi pada Kaditula yang berwujud manusia. Keduanya menanyakan dimana keberadaan saudara-saudaranya dan beberapa petunjuknya.


"Sudahlah kalian bangun, kita akan melakukan perjalanan lainnya!"


Blue melangkah keluar ruang rahasia, mayat 13 orang masih tergeletak di dalam. Drakula dengan sangat cepat menghisap semua darahnya. Seketika semua mayat menjadi kering, kejadian ini tampak biasa saja, tapi Moris dan Agni merasakan kengerian yang tanpa ujung.


Tidak hanya bisa menyerap jiwa seseorang, Blue juga bisa menghisap manusia. Binatang buas lainnya keluar darinya, dia adalah Roger yang dikeluarkan dari Dunia Buatan.


Tulang dan kulit memang tidak membantunya menjadi kuat, tetapi semu ras manusia serigala sudah masuk ke Dunia Buatan dan butuh asupan nutrisi. Dengan bantuan para mayat dewa, ras serigala akan menjadi lebih sehat.


"Tunggu, kalian tidak bisa keluar dengan wajah ini." Blue memberi peringatan pada Moris dan Agni.


Keduanya langsung menggunakan teknik penyamaran. Wajah Moris menjadi lebih mudah sedangkan Agni menjadi lebih dewasa.


Blue mengerutkan kening, ia lupa bahwa Mata Dewa masih digunakan. "Apa kalian menyebut ini sebagai penyamaran?"


"Tuan, kami sudah menggunakan teknik penyamaran terbaik." Moris menjawab dengan nada hormat.


"Jangan terlalu formal, aku tidak terbiasa dengannya." Blue membuat lingkaran di bawah tanah. Ia menggambar dengan pedangnya, matanya tampak tenang dan tangannya bergerak dengan langkah kaki ringan.


Setelah beberapa saat, sebuah simbol yang rumit dan penuh dengan tipuan goresan tampak memancarkan cahaya.


"Masuklah kedalam, itu akan menyamakan energi kalian."


Moris dan Agni saling memandang, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya digambar tuannya. Tanpa rasa curiga mereka berdua masuk kedalam lingkaran simbol.


Hanya butuh waktu 2 menit untuk menyamarkan energi dan wajahnya. Blue mengangguk dan melangkah menjauh dari ruang rahasia.


Moris tidak percaya dia terlihat begitu muda dan energinya begitu tenang. Agni yang sudah hidup ratusan tahun juga tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


Agni sudah hidup ratusan tahun tapi wajahnya masih muda karena dia adalah keturunan Naga Api. Jadi keturunan ras Naga Api bisa berumur panjang, 300 tahun masih dianggap remaja di ras naga.

__ADS_1


Tidak hanya energi naga miliknya tersamarkan, bahkan wajah dan postur tubuhnya bisa sangat berbeda. Sekarang Agni tampak seperti remaja biasa berumur 18 tahun.


Keduanya tersenyum dan mengikuti Blue dari belakang. Kunci penting melawan Zeus telah didapatkan, Blue akan memulai perang gerilya melawan pasukan musuh.


Alfaro menghubunginya melalui pesan sistem, ia mengatakan bahwa Hakim Agung ingin bertemu dengannya.


Tidak lama setelahnya Blue duduk bersama dengan Alfaro dan Hakim Agung.


"Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Hakim Agung di tempat yang begitu nyaman."


Blue memuji lawan bicaranya untuk meningkatkan kepercayaannya. Perlu diingat, Blue dan Hakim Agung mempunyai visi yang hampir sama.


"Sebagai anak muda mulutmu sungguh manis. Aku bertemu denganmu bukan untuk itu, katakan saja apa tujuanmu mendekati Alfaro?"


"Tidak ada yang spesial, aku hanya ingin membebaskan Raphael dari penjara bawah tanah." Blue tidak menyembunyikan tujuannya.


Hakim Agung mengerutkan alisnya. "Apa kau tidak tahu siapa yang sedang kau hadapi?"


"Penguasa Tanah Dewa, Zeus!" Blue menjawab dengan begitu santai.


Hakim Agung tertawa lepas, ia membuka mulutnya hingga terlihat lidahnya menjulur keluar. "Menarik bocah, kau ingin melawan dewa terkuat dengan kekuatanmu sekarang?"


"Memangnya kenapa? Aku juga bisa membunuhmu jika ingin!" ungkap Blue dengan nada rendah.


Meskipun suaranya pelan, Hakim Agung dan Alfaro mendengarnya. Keduanya langsung melepaskan aura Dewa untuk menguji lawannya.


Namun Agni dan Moris langsung bergerak, keduanya memblokir tekanan yang diberikan Hakim Agung dan Alfaro.


Moris dan Agni menarik aura dewa miliknya, mereka mundur satu langkah dan memperhatikan Blue menarik sebuah roti dari ruang penyimpanan.


Sembari makan roti, ia mengatakan, "Apa hanya ini yang bisa kalian lakukan?"


Merasa terprovokasi, Hakim Agung dan Alfaro meningkatkan tekanan aura dewa hingga maksimal. Meja dan tanah di bawah mereka retak hingga menyebabkan pemilik restoran mendatanginya.


"Tuan, apa yang terjadi?"


Blue menggelengkan kepala. "Mereka marah karena makanannya datang sangat lama, lihatlah aku makan roti untuk menunggu kalian!"


" Maafkan kelalaian kami, Tuan. Makanan akan segera datang, tapi..."


Blue melempar 2 Batu Mana Kuning. "Anggap saja itu bayaran untukmu, jangan hiraukan mereka berdua dan sajikan makanan secepatnya."


Meskipun berada di bawah tenaganya Dewa Tinggi yang hampir menjadi Puncak, Blue masih bisa bercanda dan menyuruh pemilik restoran menyajikan makanan.


Melihat Blue bergerak bebas, Hakim Agung dan Alfaro tampak sangat kebingungan. Tekanan keduanya setara dengan Dewa Puncak, tapi manusia di depannya bisa santai makan roti.


Hakim Agung menarik aura dewa dan melihat Blue dengan Mata Dewa miliknya, kemudian ia melihat Moris dan Agni juga. Namun mata dewa miliknya mengatakan bahwa semuanya hanya Dewa Sangat Rendah.


"Siapa sebenarnya kalian?" tanya Hakim Agung.


Alfaro masih memaksakan aura dewa miliknya hingga pingsan. Anehnya tidak ada satupun orang yang berinisiatif membantu Alfaro yang jatuh dari kursinya.

__ADS_1


"Aku Blue, manusia biasa yang ingin melawan kekuasaan Zeus."


"Apa kau yakin bisa menang melawannya?"


"Tidak mungkin aku bisa menang melawannya sendiri, beda cerita jika rekan-rekanku sangat banyak."


"Bagaimana dengan Hades?"


Hakim Agung cukup cerdas, ia memang belum memihak siapapun. Namun kekuasaannya mulai goyah karena Hades menjadi ketua Pengadilan Surgawi.


"Aku tidak memihak dia, jika Hades membuatku marah dengan Ebisu, maka jangan salahkan aku akan membunuhnya!"


Blue mengatakannya dengan ekspresi serius, suasana menjadi hening. Tidak ada yang berani menyangkal pernyataan Blue yang sangat mengejutkan.


Sampai akhirnya beberapa pelayan datang dengan langkah yang terburu-buru. "Maafkan kami, Tuan."


Para pelayan langsung menaruh makanan di meja dan segera pergi. Mereka dapat laporan bahwa salah satu dari mereka adalah Dewa Puncak.


Pelayan yang sudah menaruh makanannya langsung keluar dengan langkah yang terburu-buru. Blue hanya tersenyum tipis melihatnya.


"Apa kau serius ingin bermusuhan dengan keduanya, mereka berdua adalah Maha Kuasa!" ucap Hakim Agung.


"Aku akan menciptakan pihak sendiri, bahkan Osiris tidak bisa mempengaruhiku!"


Hakim Agung tidak bisa lagi berkata-kata, ia hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. "Bagaimana caraku masuk ke pihakmu?"


"Ho... Kau sangat cerdas Hakim. Tapi sebelum itu katakan namamu sebenarnya dan lakukan sumpah darah padaku!"


Hakim Agung mengerutkan alisnya, dia tidak dapat melihat candaan di raut wajah Blue. "Apa harus sampai mengucap sumpah darah?"


"Iya, aku butuh teman yang tidak mungkin saling mengkhianati!"


Hakim Agung masih belum mau mengungkapkan namanya. Ia langsung berdiri dan menggendong Alfaro di pundaknya.


"Berikan aku waktu."


"Tentu, Tuan Hakim, Oskar!"


Blue menyebutkan nama yang seharusnya tidak ia ketahui. Hakim Agung didepannya adalah Oskar salah satu dari manusia yang berhasil naik ke tanah dewa ribuan tahun yang lalu.


Meskipun tidak punya pihak yang mendukungnya, Moris selalu membantunya dan menjadikannya Hakim Agung di umurnya yang sekarang.


Disisi lain Moris yang semakin lemah malah menyembunyikan dirinya, jadi Oskar hanya menunggu untuk memihak kubu Moris.


"Oskar, kau tidak perlu ragu lagi." Moris membuka mulutnya.


Hakim Agung menoleh ke belakang dan menatap Moria dengan Mata Dewa, tetapi tidak ada kejanggalan sama sekali. Mata Dewa mengatakan bahwa Moris hanya manusia biasa.


"Siapa kau?"


"Seorang murid yang melupakan gurunya tidak lebih dari seorang sampah!"

__ADS_1


Kata-kata yang hanya dikatakan Moris dikala ia melatih Oskar hingga sekuat sekarang.


__ADS_2