Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Pertemuan


__ADS_3

Blue meninggalkan keduanya, ia masuk kedalam gedung penempaan yang cukup ramai. Tanpa mengenakan jubah Raja Api, Blue tersenyum tipis melihat kanan dan kiri.


Beberapa orang meliriknya kemudian mengabaikannya, Blue terus berjalan menuju resepsionis untuk bertanya.


"Nona, apa disini ada ruang tempa yang bisa disewa?" tanya Blue dengan nada sopan.


Nona resepsionis membalas dengan senyuman. "Tentu saja, Tuan. Kami punya 7210 kamar kosong, silahkan pilih sesuai kebutuhan anda."


Gedung penempaan ini hanya 21 lantai, tapi ada lebih dari 7 ribu ruangan. Blue tanpa sadar melepaskan energi jiwa untuk menyelidikinya.


Ternyata ruangan yang dimaksud bukan tempat fisik, melainkan dunia buatan kecil seperti milik Medusa dan Ras Manusia Serigala.


Pemicunya adalah batu yang disusun rapi di sebuah ruangan khusus. Untuk masuk mereka membutuhkan kunci yang terbuat dari Batu Mana berwarna Kuning. Namun batu itu tidak dapat menyerap aura dewa.


"Aku pilih ruangan 20 batu putih." Blue ingin merendah supaya tidak menarik perhatian orang lain.


Namun Tanah Dewa penuh dengan orang sombong, sosok pria dengan paras tampan mendekatinya. "Orang miskin tetap saja miskin, jangan memaksakan dirimu manusia."


...[Ragna...


...Ras : Iblis...


...Gelar : Penguasa Danau Darah.]...


Blue tidak menanggapi, ia mengambil kunci yang diberikan resepsionis dan menuju lantai atas secepatnya. Namun Ragna tidak mau melepaskannya, ia memanggil 4 orang temannya dan mengikuti Blue.


Sampai akhirnya mereka menghadang Blue dan menatapnya dengan tatapan menghina. "Bocah, kau mengabaikan pangeran ini!"


"Memangnya kenapa kalau aku miskin," ucap Blue mencoba menghindari masalah dan melanjutkan perjalanannya.


Sayangnya itu bukan pilihan terbaik, Ragna dan teman-temannya malah tersinggung. Tanpa memberi aba-aba, Ragna menggunakan tinjunya untuk melukai Blue.


Untuk memaksimalkan aktingnya, Blue menerima pukulan lawan dan menerbangkan dirinya. Tidak ada kerusakan yang diterima karena pukulan Ragna sama sekali tidak menyentuh kulitnya.


Kalau saja Ragna mengenai Blue, Armor Raja Petir pasti akan memantulkan kerusakannya. Disisi lain Blue merasa senang karena ia mendapatkan audien yang mengasihaninya.


Berbanding terbalik dengan Ragna yang gemetar marah, ia sama sekali tidak merasakan kulitnya menghantam lawan. Jadi terbangnya Blue hanya dibuat-buat untuk memprovokasinya.


"Ayo pergi!"


Melihat Ragna pergi, Blue segera bangkit dan membersihkan pakaiannya. Seorang pria muda mendekatinya dan membantu Blue membersihkan bajunya.


Pria itu tampak lusuh dan bajunya berwarna coklat tua karena kotor. Meskipun wajahnya tampan, rambutnya seperti orang gila di pinggir jalan.


"Apa kamu tidak apa-apa, teman?"


"Ya, terima kasih." Blue menjawab dengan suara pelan. Ia memperhatikan nama sosok pria di sebelahnya.


...[Shira...


...Ras : Manusia...


...Gelar : Penguasa Kerajaan Damaskus...


...Tingkat : Dewa Tinggi.]...


Shira adalah nama yang berarti keadilan dalam bahasa ibrani, tapi Blue lebih fokus pada gelar yang disandangnya.


"Kemana kamu akan pergi?" tanya Shira dengan suara pelan.


"Aku ingin menempa sesuatu, mungkin anda mau membantuku?" Blue menawarkan pekerjaan untuk membantunya, walaupun dia tahu bahwa Shira tidak mungkin kekurangan uang.


"Tentu saja, aku yakin keluargaku senang nantinya."

__ADS_1


Blue dan Shira berjalan menuju ruang penempaan biasa. Di sepanjang perjalanan mereka mengobrol tentang kehidupan masing-masing.


"Memangnya dimana keluargamu?" tanya Blue.


"Mereka hidup disebuah gubuk pinggiran kerajaan. Aku harus mencari pekerjaan dengan pakaian seperti ini supaya Ragna dan teman-temannya tidak memeras hasil kerjaku."


Ragna adalah pembuat onar yang paling hebat, ibunya bernama Yuri atau tangan kiri Dewa Ebisu. Makanya tidak ada yang berani memprovokasinya.


Meskipun kelakuannya terlalu buruk, pemilik gedung penempaan tidak bisa menghentikannya. Tidak hanya kuat, Ragna juga punya pendukung yang mempuni. Bahkan Kerajaan Damaskus bisa terancam hancur.


"Ras iblis memang kejam ya..."


Blue mencoba mengungkapkan pemikirannya, tapi ia lupa bahwa tidak ada orang yang tahu Ragna adalah ras iblis.


"Darimana kau tahu?"


Untuk menutupi kebohongannya, ia menggosok hidungnya dan menyombongkan diri. "Hidungku bisa membedakan manusia dan iblis. Sayangnya aku kurang paham tentang manusia hewan."


Shira menghela napa pelan. "Jangan pernah menyebutkan ras iblis di depan Ragna karena itu akan melukai harga dirinya."


Yuri atau tangan kiri Dewa Ebisu menikah dengan sosok pria tampan tanpa asal usul yang jelas. Setelah mereka menikah dan mempunyai anak, suami Yuri baru mengungkapkan kalau dia adalah seorang iblis neraka.


Yuri yang kecewa langsung bertarung dengan suaminya. Pertarungan jelas dimenangkan suami Yuri, tetapi ketika serangan terkahir ada panah aneh menggangu pertarungannya.


Tidak ada yang tahu siapa dia, tetapi Yuri masih mencari orang yang membunuh suaminya. Begitu pula dengan Ragna yang selalu mengganggu orang tanpa senjata dan pemanah.


Tanah dewa penuh dengan kejutan, ada banyak orang bisa menciptakan senjata menggunakan aura dewa. Jadi Ragna akan menggangu mereka semua.


"Panah ya?" ucap Blue pelan. Ia mengingat Dewa Ebisu adalah seorang pemanah hebat, salah satu ketrampilannya adalah memanah bahkan panahnya bisa menembus dunia manusia.


Blue sudah mengetahui siapa pembunuh ayah Ragna, tapi ia tidak bisa menyelamatkan bocah sombong sepertinya.


Sesampainya di pintu masuk ruang biasa, Blue memberikan kunci pada penjaga. Segera setelahnya sebuah portal kecil muncul, Blue dan Shira masuk ke dalam ruang penempaan.


Bahan Baja memang sangat kuat, tapi mempunyai kelemahan yang mencolok yaitu beratnya tidak dapat dikontrol. Oleh karena itu, Blue mencoba mengembangkan teknik penempaan yang sudah ia latih selama ini.


...[Profesi :...


...1. Pandai Besi (Terlupakan) (Maha Guru)...


...2. Arsitek (Terlupakan) (Maha Guru)...


...3. Koki (Terlupakan) (Maha Guru)...


...4. Pembuat Simbol (Terlupakan) (Dewa)...


...5. Tamer (Terlupakan) (Maha Guru).]...


Profesinya hanya 5 tapi semuanya sudah menjadi Maha Guru dan diatasnya. Segera setelah Blue mengambil tumpukan baja, ia menyalakan api di tungku pembakaran.


Merasa apinya kurang panas, Blue mengubah simbol pada tungku pembakaran. Ia meningkatkan resistensi panas pada tungku, sehingga bisa menampung panas api yang lebih besar.


Jubah Raja Api digunakan, Blue tampak seperti seperti seorang maestro yang memimpin musik dalam suatu pagelaran. Jubahnya berkibar karena panasnya api, Shira melihatnya dari belakang, ia mengikuti semua perintah yang dikatakan.


Tidak hanya menempa pedang, Blue membuat sebuah formasi yang bisa meningkatkan efisiensi penempaan. Ditambah lagi ia menyusun simbol pada pedang, tidak hanya satu tapi ada puluhan yang ditempatkannya.


Sebuah pedang dengan bilah melengkung berhasil diciptakan, Blue mencoba meniru salah satu pedang legendaris milik kerajaan Damaskus. Tujuannya tidak lain untuk diberikan pada penguasa supaya mereka bisa bekerja sama.


Karena penguasa Kerajaan Damaskus ada di sebelahnya, Blue menunjukkan kebolehannya dalam menempa pedang.


Meskipun hasilnya adalah senjata Legenda, Blue membuangnya dan menghela napas panjang. "Ini tidak bisa disebut karya seni."


Shira yang melihatnya membuang pedang Legenda tidak dapat menahan rasa ingin memukulnya.

__ADS_1


"Tuan, bukankah pedang ini punya tingkat legen..."


Sebelum menyelesaikan perkataannya, Shira berhenti. Ia lupa melihat adanya simbol yang dapat memalsukan tingkatan pedang dan levelnya cukup tinggi untuk dilihat dewa biasa.


Blue menyempitkan mata dan melirik ke arah Shira. Setelah beberapa saat memandangnya, Blue tersenyum tipis.


"Kau memang punya pandangan yang bagus, tapi pedang ini belum bisa menyamai pedang suci Damaskus."


"Tuan, pedang itu tingkat dewa. Mana mungkin anda bisa menempanya dengan baja biasa!"


Shira menghela napas pelan, ia lolos dari situasi canggung karena tuan di depannya memaklumi orang sepertinya.


"Ya aku tahu. Siapa bilang aku membuat pedang yang setara dengannya, aku hanya perlu membuatnya setara."


"Apa tujuanmu sebenarnya, Tuan?"


"Sejujurnya aku ingin mendekati penguasa Kerajaan Damaskus untuk membuat kesepakatan. Meskipun aku ceritakan padamu, pasti kau tidak akan percaya bahwa salah satu tangan Dewa Ebisu sedang mengincar Pedang Suci Damaskus."


"Darimana kau mengetahuinya, Tuan?"


Shira tampak bertanya serius, ia juga mendapatkan informasi yang sama. Namun ada beberapa informasi palsu yang dibuat untuk membingungkan.


"Jangan mengatakannya pada siapa-siapa atau nyawamu akan melayang. Sebenarnya aku datang kesini bersama 4 temanku, mereka sedang mengumpulkan informasi tentang penguasa Kerajaan Damaskus dan membantunya."


"Apa anda juga memusuhi Dewa Ebisu?"


"Sejujurnya aku punya sedikit urusan dengan Dewa Keberuntungan itu. Dia pernah menyegel keberuntunganku di dunia manusia, itu benar-benar membuatku harus bekerja keras."


Blue menjawabnya dengan wajah bercanda, itu membuat Shira tidak percaya dengan alasan lawan bicaranya. Namun satu hal yang perlu diperhitungkan, Blue adalah musuh Dewa Ebisu.


"Haha, anda memang lucu. Mana mungkin dewa keberuntungan bisa mempengaruhi keberuntungan anda di dunia manusia."


"Ebisu punya akses ke dunia manusia, sayangnya akses itu telah terputus karena ulahku. Makanya Yuji tangan kanan Dewa Ebisu mendatangiku beberapa hari yang lalu."


Pernyataan Blue langsung mengkonfirmasi bahwa Dewa Ebisu memang bermusuhan dengannya. Shira tidak dapat mengungkapkan identitasnya, ia hanya tersenyum dan berpura-pura tidak percaya.


"Terus apa yang terjadi dengannya?"


Shira mengikuti alur pembicaraan dengan santainya, ia tidak dapat mempercayai informasi yang katakan lawan bicaranya. Namun informasi tentang salah satu tangan Dewa Ebisu menginginkan Pedang Suci Damaskus telah dikonfirmasi.


Blue mengeluarkan salah satu cincin Yuji yang dapat membuatnya berubah menjadi monster. "Tentu saja aku membunuhnya, meskipun merepotkan, Yuji memberi informasi yang cukup bagus."


Melihat salah satu cincin tingkat dewa milik Yuji ada ditangan sosok pria didepannya. Shira tidak dapat menahan keterkejutannya, ia melangkah kebelakang.


"Tuan... anda benar-benar membunuhnya?"


"Sudah aku katakan sebelumnya. Apa kau ingin cincin ini?"


Blue menyodorkannya pada Shira yang melangkah kebelakang. Memberikan barang tingkat Dewa Rendah dengan sangat mudah, Blue dapat dipastikan bukan orang biasa. Shira harus berhati-hati dalam menghadapinya.


"Tuan, sepertinya istriku sudah menunggu di rumah. Bolehkah aku meminta bayarannya?"


"Tentu, katakan jika kurang." Blue memberikan 2 Batu Putih untuk jasa membantunya.


Melihat Shira berlari seperti orang ketakutan, Blue hanya tersenyum kecil. Meskipun ini bukan keinginannya berpura-pura tidak tahu, Blue ingin menghindari peperangan tanpa kepastian.


Yuri, tangan kiri Dewa Ebisu sedang melihat semua pergerakan orang di Kerajaan Damaskus. Dia memperhatikan Moris, Agni, Liem, dan Kitty.


Blue tidak bisa membiarkannya bertindak sesuka hati dan segera mendekatinya dengan Gate yang telah disempurnakan.


"Hei, wanita cantik." Blue muncul di atas pohon dan menatap Yuri di bawahnya.


Yuri yang tidak menyadari keberadaannya langsung menoleh kebelakang. "Bajingan gila!" ucapnya sambil melempar pukulan dengan aura dewa.

__ADS_1


__ADS_2