
Kelima rekannya itu tidak menurunkan kekuatannya sama sekali. Jadi satu serangan saja sudah cukup membunuh 5 Ketua Pengadilan Surgawi.
Blue tersenyum ke satu ketua yang tidak berpihak padanya. "Apa anda masih ingin menghalangi kami masuk?" tanyanya sambil mendekatkan wajahnya.
Intimidasi yang diberikan tidak main-main, Blue melepaskan aura membunuh yang sangat kuat. Ketua Surgawi yang tersisa tidak punya nyali besar, ia terjatuh dan menatap Blue dengan pupil bergetar.
Ketua Agung menggelengkan kepala dan menebas ketua Surgawi yang sudah kehilangan akal.
Tampak pelan dan lembut, tetapi kerusakan yang dihasilkan sangat tinggi. Hal itu hampir sama dengan salah satu kenalannya yaitu Oberon dan Moris. Meskipun tampak sama, ada sesuatu yang membuatnya menjadi sedikit berbeda.
Setelah diperhatikan sedikit lebih lama, Ketua Agung menggunakan energi alam yang tidak murni. Walaupun belum murni, kekuatan yang dilepaskan tidaklah normal.
"Mari kita perjelas, apa kau ingin menghentikanku?" tanya Blue dengan suara santai.
Ketua Agung menggelengkan kepala. "Hanya orang bodoh yang ingin melawanmu. Masuklah, aku akan memimpin jalannya."
6 Ketua Pengadilan Surgawi tewas di depan pintunya sendiri. Hal ini akan menjadi berita besar jika diketahui publik.
Tepat setelah semua orang masuk, sosok pria berpakaian serba hitam muncul. "Apa ini perebutan kekuasaan? Aku harus segera bergerak!"
Pria itu dari dunia bawah yang mencari informasi tentang Tanah Dewa. Mereka terkenal karena setiap anggotanya adalah pembunuh handal.
Wajahnya yang berkeringat dingin membuat persembunyiannya diketahui orang. Emma langsung bergerak dan menebas kepalanya.
Bukannya tewas pembunuh dari dunia bawah berubah menjadi abu hitam dan terus berlari menyelamatkan diri.
Karena tidak mau nyawanya melayang, pembunuh dari dunia bawah dengan kecepatan penuh berlari dari sergapan Emma.
"Syukur!"
Dua sosok pria dan wanita muncul dari belakang. Keduanya langsung menikam pembunuh dari dunia bawah, ekspresinya tampak datar ketika melakukannya.
Mereka adalah Bima dan Mahira yang telah berhasil menyelesaikan pelatihannya sebagai seorang Saint Sword Magic. Meskipun tidak sekuat Saint Martha, keduanya masih memiliki beberapa waktu untuk berkembang.
Bima dengan suara pelan membisikkan, "Sejak kapan pembunuh bersyukur?"
Mata pembunuh dari dunia bawah melirik tajam ke arah Bima. Ia mengeratkan giginya dan segera menghilang.
Tubuhnya yang tertusuk dua pedang misterius mulai berubah transparan. Namun sebelum akhir hayatnya, ia sempat menggunakan keterampilan penyelamat diri.
Pedang Bima dan Mahira langsung menembus tubuh musuh. Namun jasat musuhnya tidak tampak, ia berhasil melarikan diri.
"Ugh, terbanglah!" kata pembunuh yang berlumuran darah. Ia tidak bisa selamat dari insiden ini dan siap untuk mati.
Namun sebelum dia kehilangan nyawanya, seorang pria dengan pakaian serba hitam muncul dan menunjukkan burung merpati.
"Usahamu sia-sia," katanya sambil tersenyum manis. Pria serba hitam itu adalah pemimpin Assassin Fairy Dance, Reaper.
__ADS_1
"Sial!" umpatnya.
Sayangnya pasukan Fairy Dance tidak boleh terlalu terkenal, banyak musuh yang sudah siap menikam wilayah mereka.
Semua anggota Fairy Dance sudah cukup kuat untuk membunuh setiap penyusup. Tidak terkecuali pasukan Assassin yang dipimpin Reaper.
Setelah tubuh pembunuh dari dunia bawah itu menghilang, Reaper melirik ke arah Bima dan Mahira. "Jangan mengulanginya lagi!"
Meskipun Reaper sebenarnya tidak lebih tua dibanding Bima dan Mahira, dia punya kedudukan yang cukup tinggi. Perlu diingat Reaper adalah salah satu pendiri guild Fairy Dance itu sendiri.
Belum lagi Reaper adalah murid yang dilatih Blue untuk menjadi pembunuh terbaik di Fairy Dance.
Bima dan Mahira yang mendengarnya langsung mengangguk. Keduanya memang gagal mengalahkan mangsa yang lolos dari Emma, tetapi tatapan Reaper sungguh mengerikan.
Dibelakang ada Emma yang memperhatikan Reaper. Dia tidak bisa menentukan Reaper sebenarnya lawan atau kawan, karena niat membunuhnya berhasil disembunyikan tepat setelah dirasakan targetnya.
Emma bukan pemain, jadi ia tidak tahu apa yang terjadi di luar Domain Dewa. Jadi sudah wajar jika ia curiga dengan Reaper Sang Assassin King milik Fairy Dance.
Raul dan rekan-rekannya masuk ke ruang penyimpanan. Blue menyuruh mereka masuk bukan tanpa tujuan, itu dilakukan supaya Ketua Agung tidak terlalu waspada.
Meskipun keduanya sudah pernah bertemu, tidak mungkin Blue mempercayainya setelah bertemu satu kali.
Sampailah mereka di sebuah gerbang yang tingginya 5 meter. Setelah diperhatikan lebih cermat, ternyata ruangan ini sangat besar dibandingkan dengan bangunan Pengadilan Surgawi.
"Ini gerbang menuju Tartarus, membutuhkan 7 Ketua Pengadilan Surgawi untuk membukanya."
Ketua Agung tersenyum manis ia sedang memprovokasi lawannya supaya memohon bantuannya.
Seketika gerbang yang awalnya tertutup rapat terbuka perlahan. Tidak ada yang tahu apa yang dilakukan Blue, tetapi caranya sangat efektif.
Gerbang yang harusnya dibuka oleh 7 Ketua Pengadilan Surgawi terbuka dengan sendirinya. Tentu saja kejadian itu mengejutkan Ketua Agung.
Blue tidak menghiraukan Ketua Agung, ia langsung masuk tanpa mengetahui peraturan di Tartarus.
Ketua Agung ingin menghentikannya tetapi sudah terlambat, hanya takdir yang bisa menyelamatkan mereka.
Blue merasa tertarik ke dasar neraka, tetapi suhunya tidak sepanas neraka itu sendiri.
"Apa sudah sampai?" gumam Blue pelan. Ia tidak menyangka Tartarus begitu mudah dimasuki.
Monster berkepala sapi mendekatinya, ia menundukkan kepala dan mengucap salam. "Selamat datang tuan Blue, ada yang bisa kami bantu?"
Kesopanan itu sedikit membingungkan, tetapi Blue segera sadar karena dia adalah seorang Baron di Neraka.
Walaupun Baron adalah bangsawan paling rendah, semua iblis neraka menghormatinya. Ditambah lagi Blue memancarkan aura membunuh yang mengerikan.
"Dimana Raphael ditahan?"
__ADS_1
Monster berkepala sapi itu langsung tersentak, ia tampak terkejut mendengar Blue mencari Raphael.
"Sebaiknya anda tidak mencarinya, Tuan. Dibawah pengawasan Typhon, Raphael tidak bisa dikunjungi."
Typhon dikenal sebagai ayah dari segala monster. Semua monster takut padanya karena ia sangat kuat, bahkan Zeus pada masa puncaknya hampir tidak bisa melawan Typhon.
Dikala pertarungan Zeus dan Typhon, semua tanah bergetar. Tidak ada yang mau kalah satu sama lain, tetapi dengan bantuan senjata suci miliknya, Zeus berhasil menyegel kekuatan Typhon.
Karena kekuatannya tidak bisa bangkit sepenuhnya, Typhon akhirnya dilempar ke Tartarus. Selama bertahun-tahun akhirnya Typhon menerima nasib dan menjaga para tahanan di Tartarus paling bawah.
Blue tidak punya waktu untuk berpikir aneh-aneh, ia harus segera menyelamatkan Raphael untuk membantunya melawan Azazel dan Zeus itu sendiri.
"Aku hargai peringatanmu, tapi aku harus bertemu dengan Raphael." Blue bertekad akan mengunjungi Tartarus paling dalam.
Monster kepala sapi menutup mata dan menunjukkan jalannya. "Baiklah biarkan saya memimpin jalannya."
Setelah berjalan cukup lama, Monster kepala sapi berhenti dan tiba-tiba menyerang dengan kepala tinjunya. Tanpa sebab yang jelas, monster kepala sapi menghujani Blue dengan tinjunya.
Namun serangan lemah seperti itu tidak akan bisa menggores Armor Raja Petir. Ditambah lagi serangan balik yang diterima Monster Kepala Sapi lebih besar dari yang diperkirakan.
Untuk menguji kekuatan Armor Raja Petir yang sudah ditingkatkan, Blue membiarkan dirinya dipukuli.
Monster kepala sapi mulai merasakan sakit di kepalan tangannya. Tanpa sadar HPnya sudah berwarna merah dan dua pedang menusuk punggungnya.
"Sepertinya ini akan semakin sulit," gumam Blue melirik ke sekitarnya, ia melihat semua monster kepala sapi mengepungnya.
Tanpa alasan yang jelas, gerombolan monster kepala sapi menyerangnya. Bukannya takut, Blue malah senang karena tubuhnya sudah lama tidak bergerak.
Kakinya menekan tanah hingga retak, Blue melesat ke sisi kanan dan mengayunkan pedang besar dengan kedua tangannya.
"Gaya Red Devil, Pedang Tunggal!"
Ayunan pedang besar miliknya terasa sangat berat, untuk memaksimalkan gerakannya, Blue menggunakan dua pedang diimbangi dengan gerakan tubuh.
Kepalan tinju monster berbenturan dengan pedang besar, gelombang energi tercipta hingga menggetarkan tanah Tartarus.
"Hora!" teriak Blue mengayunkan pedangnya terus menerus, meskipun tidak menggunakan gaya pedang ganda, kerusakannya tidak berkurang.
Satu persatu monster sapi tumbang, matanya tampak ketakutan karena bangsawan iblis yang datang kali ini tidak seperti biasanya.
Blue menancapkan pedang besar ketanah, dua tangannya menopang di atas gagang pedang. "Hoho, sekarang kalian sudah sadar. Kalau tidak maju, biarkan pria muda ini memulainya lagi!"
Berbeda dari sebelumnya, Blue kali ini menggunakan serangan lembut tapi mematikan. Ia menarik pedang sepanjang 1,5 meter dari ruang penyimpanan, dalam sekejap mata pedangnya sudah berayun 12 kali.
"Gaya Pedang Tunggal!" ucapnya pelan. Teknik ini hampir seperti milik Leon, tetapi sudah dimodifikasi sehingga mirip dengan Teknik Pedang Kaku milik gurunya Toma.
Aliran pedangnya seperti air, setiap tebasan dan ayunannya sangat mulus. Monster kepala sapi yang terkena serangan tanpa sadar sudah terurai darah.
__ADS_1
Meskipun tidak bisa membunuh musuhnya secara langsung seperti tadi, Blue cukup senang karena tekniknya belum berkarat sama sekali.
"Ini terasa menyenangkan!" katanya dengan senyum lebar dan mata kegirangan.