
Malam kini telah berganti pagi. Lusi yang sempat tidak sadarkan diri akhirnya kini sudah kembali sadar. Saat Lusi tersadar Lusi terkejut karena dia berada di kamar yang sama sekali tidak dikenalinya.
Lusi kemudian langsung bangkit dari atas
tempat tidur lalu pergi ke luar dari kamar itu.
"Rumah siapa ini?."Tanya Lusi pada dirinya sendiri.
"Kamu sudah sadar?."
Lusi yang mendengar suara seseorang dari arah belakangnya langsung menengok ke arah sumber suara.
"Siapa kamu?."Tanya Lusi.
"Apa kamu sudah tidak ingat padaku?."
"Baiklah aku akan memperkenalkan diri ku kembali. Namu Ilona dan aku adalah orang yang sudah membawa ke mari."Sambung Ilona.
"Kenapa kamu bisa membawa ku kemari? Dan rumah siapa ini?."Tanya Lusi.
"Kemarin malam kita bertemu dan mengobrol di bar. Kamu bercerita begitu banyak hal, tapi setelah itu kamu tidak sadarkan diri. Karena aku tidak tahu tempat tinggal kamu, makanya aku membawa pulang ke rumah ku."Jelas Ilona.
"Iya, aku ingat sekarang."Ucap Lusi setelah mengingat kejadian semalam. "Terimakasih karena kamu sudah mau membawaku pulang ke rumah mu."Sambung Lusi.
"Tidak perlu sungkan. Ayo sini duduk di samping ku."Ucap Ilona sambil tersenyum dan menepuk kursi di sebelahnya.
Lusi pun berjalan mendekat pada Ilona lalu Lusi pun duduk di samping Ilona. Lusi kemudian melihat sekeliling rumah Ilona yang nampak sepi.
"Sepertinya sepi sekali di sini."Ucap Lusi.
"Iya di sini memang sepi. Aku hanya tinggal dengan tiga orang pelayan saja."Saut Ilona.
"Orang tua kamu di mana?."Tanya Lusi.
"Orang tuaku sudah meninggal."Jawab Ilona sambil tersenyum namun wajahnya menggambarkan sebuah kesedihan.
"Ah, maafkan aku."Ucap Lusi.
__ADS_1
"Tidak masalah."Jawab Ilona.
"Bagaimana dengan dirimu. Semalaman kamu tidak pulang pasti orang tua kami sangat khawatir."Sambung Ilona.
"Aku sama seperti dirimu. Aku sebatang kara dari sejak kecil."Ucap Lusi. "Semenjak orang tua ku meninggal, aku hidup di jalanan seorang diri. Tapi aku masih beruntung karena bertemu dengan orang baik yang mau membawaku dan mendidik aku sampai akhirnya aku seperti sekarang ini."Sambung Lusi.
"Oh iya lalu bagaimana dengan pria yang kamu sukai? Bukankah kamu dan dia sudah bersama sangat lama, kenapa kamu tidak coba mengatakan pada dia kalau kamu menyukai dia. Siapa tahu saja selama ini dia pun menyukai kamu."Ucap Ilona.
"Tidak mungkin."Saut Lusi.
"Kenapa tidak mungkin? Kan belum di coba."Ucap Ilona.
"Sekarang dia sudah menikah dengan seorang wanita yang mempunyai banyak kelebihan di banding aku."Jawab Lusi dengan wajah ya g sendu.
"Denger Lusi, seharusnya kamu jangan mau menyerah begitu saja dengan cinta mu itu. Kamu harus memperjuangkannya dan berusaha untuk mendapatkan dia bagaimana pun caranya."Ucap Ilona.
Saat mendengar penuturan Ilona, Lusi sangat merasa heran karena Lusi tidak menyangka kalau Ilona akan berkata seperti itu.
"Aku tahu, mungkin menurut sebagian orang apa yang aku katakan tadi itu benar. Karena secara tidak langsung kita memisahkan pasangan suami istri."Ucap Ilona.
"Tapi Lusi, kita juga berhak bahagia. Bukan hanya orang lain saja. Dan bukankah kita juga harus mencari kebahagiaan yang kita inginkan? Tapi kenyataannya kebahagiaan yang kita inginkan di milik orang lain. Tapi Lusi bukankah manusia bisa saling berbagi."Sambung Ilona.
"Jika pria yang kamu suka sudah menikah bukankah laki laki bisa menikahi lebih dari satu wanita. Kalau kamu bersedia jadi yang kedua maka kamu bisa memiliki dia juga, ya meskipun tidak seutuhnya."Jelas Ilona.
"Itu tidak mungkin. Aku memang bersedia kalau pun harus menjadi yang kedua. Tapi aku tahu betul seperti apa istrinya, dan aku sangat yakin kalau dia tidak akan bersedia jika suaminya menikah dengan wanita lain."Ucap Lusi.
"Bagus kalau begitu. Itu artinya hanya kamu yang akan memiliki dia. Tanpa harus berbagi dengan wanita lain."Ucap Ilona.
"Tetap saja tidak akan."Saut Lusi.
"Bisa saja kalau kamu mengandung anaknya."Ucap Ilona.
Mendengar ucapan Ilona, Lusi langsung menengok ke arah Ilona dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana Ilona bisa berbicara sejauh itu.
Walau pun apa yang di katakan oleh Ilona ada benarnya, tapi bukankah itu sama saja merendahkan diri sendiri.
Karena hari semakin siang, Lusi pun pamit karena dia harus bekerja.
__ADS_1
Sebelum Lusi benar benar pergi, Ilona memberikan kartu namanya pada Lusi.
"Ini kartu nama, kalau kamu membutuhkan bantuan ku sewaktu waktu kamu bisa langsung menghubungiku."Ucap Ilona.
"Baiklah terimakasih."Ucap Lusi yang kemudian pergi setelah mengambil kartu nama yang Ilona berikan padanya.
Di sepanjang perjalanan Lusi selalu saja memikirkan setiap ucapan yang di katakan oleh Ilona tadi. Bahkan sampai saat Lusi sedang bekerja Lusi banyak melamun dan tidak konsentrasi saat bekerja.
Bahkan beberapa kali Lusi sampai di tegur oleh suster yang bekerja dengannya.
Lusi terus saja teringat dengan perkataan Ilona padanya. Dan itu benar benar mengganggu konsentrasinya.
"Kenapa aku terus saja teringat dengan perkataan Ilona? Apa mungkin karena di lubuk hati yang paling dalam aku membenarkan ucapan Ilona."Ucap Lusi.
"Lusi..."
Lusi menengok ke arah sumber suara. Pada saat itu Lusi melihat Raw yang tengah berdiri sambil membawa sesuatu di tangannya.
"Ini untukmu."Ucap Raw saat sudah berada tepat di hadapan Lusi.
"Apa ini?."Tanya Lusi.
"Makan siang untukmu. Gaby memasak terlalu banyak, jadi dia membawakan ini untuk mu juga."Ucap Raw.
"Terimakasih."Ucap Lusi sambil mengambil kotak makan yang di berikan oleh Raw.
"Kalau aku perhatikan sepertinya kamu sedang memiliki masalah beberapa hari ini."Ucap Raw.
"Tidak, aku baik baik saja."Ucap Lusi sambil tersenyum.
"Kalau kamu memiliki masalah kamu bisa cerita pada ku atau pun pada Gaby."Ucap Raw.
"Iya."Ucap Lusi.
"Kalau begitu aku pergi."Ucap Raw yang kemudian langsung pergi meninggalkan Lusi.
Lusi terus menatap Raw yang berlalu pergi meninggalkan dia. Kemudian Lusi pun teringat kenangan saat saat bersama dengan Raw dulu. Di mana mereka belajar dan berlatih bersama. Saat itu adalah masa masa terindah yang pernah Lusi lalu bersama dengan Raw.
__ADS_1
Hingga semuanya berubah saat kedatangan Gaby. Raw lebih sering memperhatikan Gaby dan menemani Gaby. Pada saat itu Lusi tidak suka dengan kehadiran Gaby. Tapi mau bagaimana pun juga Gaby adalah adik Dira, hingga mau tidak mau Lusi harus ikut menjaga Gaby saat di kampung halaman Raw.
Terlebih lagi saat melihat Raw dan Gaby tidur bersama, meskipun di antara mereka ada Pangeran tetap saja membuat Lusi cemburu.