
Setelah kopi yang di buat oleh pembantunya siap, Raw pun membawa kopi itu pada Rangga.
Raw meletakkan kopinya di depan Rangga.
"Silahkan Kak."Ucap Raw.
Rangga pun meminum kopi itu, dan buurrr
Rangga menyemburkan kopi itu ke arah Raw.
"Kenapa manis sekali si?
Kamu lupa atau tidak tahu kalau aku tidak suka minum kopi yang terlalu manis seperti ini."Ucap Rangga.
"Oh maaf, sepertinya aku terlalu banyak menuangkan gula tadi."Ucap Raw.
"Cepat ganti!."Perintah Rangga.
Raw pun mengambil kopi itu dan kembali ke dapur.
"Heh kamu, sengaja ya membuat kopi ini terlalu manis dan membuat Kak Rangga marah padaku, dengan begitu kamu akan merasa senang Bukan."Ucap Raw pada pembantunya.
"Maaf Tuan, saya tidak tahu kalau kopi itu untuk Taun Rangga. Saya juga tidak tahu kopi seperti apa yang di sukai Tuan Rangga, lagi pula Tuan Rangga jarang kesini, sekalinya kesini pun hanya sebentar."Jelas pembantu itu.
"Tidak perlu banyak bicara, sekarang cepat buatkan kopi yang baru dan ingat jangan terlalu banyak gula."Ucap Raw.
"Baik Tuan."
Tak lama kopi pun sudah siap, Raw kembali membawa kopi itu pada Rangga. Rangga pun meminumnya.
"Lumayan, tapi sepertinya kopi ini sangat berbeda tidak seperti biasanya ya Raw."Ucap Rangga.
"Maksudnya?."Tanya Raw yang tidak mengerti apa yang di maksud Rangga.
"Dulu aku pernah minum kopi buatan kamu dan itu rasanya enak dan berbeda dari kopi biasanya. Tapi sekarang berbeda tidak seperti dulu."Jelas Rangga.
"Oh, tapi aku membuatnya seperti biasa kok Kak, mungkin waktu itu aku membuatnya dengan merek kopi yang berbeda."Ucap Raw.
"Mungkin?."
"Iya, aku tidak terlalu ingat karena itu sudah sangat lama."Ucap Raw.
Rangga pun hanya mengangguk. Gaby melihat Raw sangat gelisah saat menjawab ucapan Rangga yang membuatnya heran.
"Oh iya Gaby, untuk beberapa saat Kakak tinggal di sini ya."Ucap Rangga.
__ADS_1
"Memangnya ada apa Kak? kok tumben?."Tanya Gaby.
"Rumah Kakak sedang di perbaiki jadi Kakak memutuskan untuk tidak bersama kamu, nggak papa kan?."Jawab Rangga.
"Iya Kak nggak papa kok, aku malah senang Kakak tinggal di sini."Ucap Gaby sambil tersenyum.
Sedangkan Raw yang mendengar Rangga akan tinggal di sini semakin kesal saja. Karena kalau Rangga terus berada di sini waktu berduaan dengan Gaby hanya sebentar atau mungkin tidak ada.
Malam pun semakin larut, kini Gaby dan Raw berada di dalam kamar untuk istirahat. Raw memeluk Gaby dengan sangat erat, kemudian Raw pun mencium tengkuk leher Gaby yang membuat Gaby merasa geli.
"Raw hentikan, jangan lakukan itu."Ucap Gaby.
"Kenapa? Memangnya ada yang salah suami mencumbu istrinya sendiri?."Saut Raw.
"Iya tapi nantinya kamu mau berhubungan intim dengan ku."Ucap Gaby.
"Kalau memang iya kenapa?."Tanya Raw sambil merangkul Gaby.
"Stop Raw, kita tidak boleh berhubungan intim sampai aku melahirkan nanti."Ucap Gaby sambil bangkit dari atas tempat tidur.
"Apa? Kamu gila Gaby mana mungkin aku bisa tahan kalau sampai harus menunggu selama itu."Ucap Raw.
"Kamu bilang apa tadi? Aku gila?
Dan kamu Tuhan bisa menahannya? kamu ingat membahayakan aku dan anak kita?
"Aneh gimana sih, aku seperti biasanya kok."Ucap Raw.
"Aneh gimana?Kamu bentak Ziko, kamu gelisah saat berbicara dengan Kak Rangga tadi, bahkan kamu membentak pembantu karena kamu di marahi Kak Rangga yang jelas jelas salah kamu sendiri kenapa tidak membuat kopi itu sendiri."Ucap Gaby.
"Kamu bilang itu aneh?
Gini ya sayang, aku bentak atau menegur dia itu wajar karena dia ceroboh, begitu pun dengan pembantu, memang dia yang salah kok.
Lagi pula untuk apa punya pembantu kalau segala sesuatunya di lakukan sendiri?."Ucap Raw.
Gaby benar benar tidak percaya dengan ucapan Raw, bisa bisanya dia masih membela diri dan bahkan berbicara seperti itu.
Karena kesal Gaby pun langsung keluar dari dalam kamar.
Raw terus memanggil Gaby, dan Gaby yang tahu kalau Raw akan mengejar langsung pergi ke kamar tamu di mana Rangga berada.
Rangga terkejut saat melihat Gaby masuk ke dalam kamarnya bahkan mengunci pintu kamar. Tak selang lama pintu di ketuk dari luar seraya suara Raw memanggil Gaby.
"Gaby buka pintunya!
__ADS_1
Gaby.....
Gaby masa kamu marah hanya gara gara hal itu.
Gaby keluar dari kamar, Kak Rangga sedang istirahat sebaiknya kita jangan mengganggunya."Ucap Raw di luar kamar.
"Kalau kamu tidak mau mengganggu istirahat ku maka diam dan kembali ke kamar kamu, masalah Gaby biarkan dia beristirahat di sini bersama ku."Saut Rangga dari dalam kamar.
"Tapi Kak---"
"Tidak ada tapi tapian Raw." Potong Rangga.
Dengan rasa kesal Raw pun pergi dan kembali ke dalam kamarnya.
Raw pun mengunci pintu kamar, kemudian Raw mengambil Sebungkus rokok yang dia sembunyikan.
Raw menyesap rokok itu secara perlahan, setelah itu Raw melepas suatu alat yang tak terlihat karena warnanya sama seperti kulitnya.
"Sialan, ternyata bukan hal yang mudah.
Banyak sekali hal yang belum aku ketahui tentang pria brengsek ini."Ucapnya dengan suara yang berbeda.
Setelah menghabiskan beberapa batang rokok dia pun membersihkan semuanya agar tidak di ketahui Gaby jika sewaktu waktu Gaby kembali ke kamar.
Sedangkan kini Gaby sedang menceritakan semua kekesalannya pada Raw ke Rangga, Gaby pun memberitahukan tentang perasaannya yang merasa aneh pada Raw setelah malam itu.
"Aku merasa kalau Raw yang sekarang bukan lah Raw yang aku kenal Kak, semua tampak berbeda."Ucap Gaby.
"Semuanya?."Tanya Rangga.
"Iya, jadi menjadi kasar dan pemarah.
Sedangkan Raw yang aku kenal tidak pernah berbicara kasar padaku, dia juga adalah orang yang tenang dan suka melakukan sesuatu sendiri meskipun ada pembantu.
Apa mungkin malam itu terjadi sesuatu padanya sehingga membuat dia berubah ya Kak?."Ucap Gaby.
"Kakak tidak tahu Gaby, tapi ya sudahlah jangan terlalu di pikirkan.
Kamu jangan banyak pikiran tidak boleh kelelahan karena kalau semua itu bisa berpengaruh pada kandungan kamu, ok."Ucap Rangga.
"Iya Kak."Ucap Gaby sambil mengelus perutnya.
"Ya sudah sebaiknya kamu tidur di sini saja, nanti Kakak akan tidur di sofa."Ucap Rangga dan Gaby pun setuju.
Malam itu Gaby pun tidur di kamar tamu bersama dengan Rangga. Setelah Gaby tidur, Rangga pun pergi ke luar untuk menghubungi Deon dan memberitahukan Deon apa yang tadi Gaby katakan padanya.
__ADS_1
Dan hal itu membuat Deon dan Dira semakin yakin kalau dia bukanlah Raw.