Dua Cinta Untuk Satu Hati

Dua Cinta Untuk Satu Hati
BAB 32.


__ADS_3

Saat Dira pergi keluar, Gaby pun mengejarnya.


Gaby pun memanggilnya karena Dira berjalan begitu cepat.


"Kak tunggu!."Ucap Gaby.


Dira yang mendengar Gaby memanggilnya langsung menghentikan langkah kakinya lalu berbalik.


"Ada apa Gaby?."Tanya Dira saat Gaby sudah berada di dekatnya.


"Kak ada apa?."Tanya Gaby.


"Maksud kamu apa?."Tanya Dira yang tidak maksud dengan pertanyaan Gaby.


"Kenapa Kakak melihat wajah Raw seperti itu tadi? sangat datar."Ucap Gaby.


"Tidak papa, hanya saja aku melupakan sesuatu.


Oh iya Gaby saat kamu sudah pulang dan keadaan Raw membaik, jangan berhubungan suami istri dulu ya."Ucap Dira.


"Kenapa Kak?."Tanya Gaby yang merasa heran kenapa Dira melarang melakukan hal itu.


"Kandungan kamu sudah besar Gaby, pokoknya kamu turuti saja apa kata Kakak, mengerti."Ucap Dira dan Gaby pun mengangguk.


Setelah itu Dira pun berpamitan pada Gaby untuk pergi karena ada yang harus dia urus. Dan nanti Ziko akan datang untuk menjemput mereka pulang.


Setelah satu jam Ziko pun datang menjemput Raw dan Gaby. Setelah semuanya beres mereka pun langsung pulang.


Di dalam perjalanan tidak ada yang berbicara.


Raw pun hanya diam sambil terus menggenggam tangan Gaby, Ziko hanya melihat semua itu dari pantulan kaca.


"Kenapa kamu terus menatap ku dari kaca?


Apa ada masalah?."Tanya Raw pada Ziko.


"Tidak ada."Jawab Ziko.


"Kalau begitu tetap lah fokus menyetir, jangan sampai kami celaka gara gara kecerobohan kamu."Ucap Raw.


Ziko hanya diam tidak menanggapi ucapan Raw. Sedangkan Gaby merasa heran kenapa Raw membentuk Ziko.


"Sayang kenapa kamu membentak Ziko?."Tanya Gaby.


"Aku tidak membentak sayang, aku hanya memperingati dia saja. Aku tidak mau kalau kita celaka gara gara kecerobohan dia."Jelas Raw yang kemudian mencium kening Gaby.


"Lagi pula bukan hal yang aneh kan kalau aku membentaknya, dia hanya seorang bawahan."Sambung Raw.


"Bawahan?."Tanya Gaby memastikan dan Raw mengangguk.


"Ziko berhenti!."


Ziko pun menghentikan mobilnya.


"Maaf sayang sepertinya aku harus pindah ke depan karena tiba tiba saja aku merasa pusing."Ucap Gaby.

__ADS_1


"Pusing kenapa?."Tanya Raw.


"Kamu lupa ya, semenjak hamil kan aku suka pusing kalau duduk di belakang."Jawab Gaby.


"Oh iya, ya sudah pindahlah ke depan."Saut Raw.


Gaby pun pindah duduk di depan, di samping Ziko. Gaby terlihat gelisah meskipun terus tersenyum. Kemudian Ziko memberikan minum pada Gaby.


Gaby pun meminumnya agar bisa lebih tenang.


Setelah sampai di rumah, Gaby mengantar Raw ke kamar untuk beristirahat. Setelah itu Gaby meninggalkan Raw keluar.


Gaby menemui Raw yang saat ini berada di ruang tengah, entah apa yang sedang di lakukannya saat ini.


"Apa yang sedang kamu lakukan?."Tanya Gaby.


"Aku sedang melakukan apa yang di perintahkan oleh nona Dira."Jawab Ziko.


"Ziko, kenapa merasa ada yang aneh dengan Raw. Dan aku tahu kamu menyadari itu kan."Ucap Gaby.


"Iya."Jawab Ziko.


"Makanya iya?."Tanya Gaby ingin memperjelas jawaban Ziko, karena jawaban Ziko seperti ada yang aneh.


"Nona Gaby sebaiknya Nona tidak perlu banyak bertanya untuk saat ini. Lakukan seperti hari hari biasanya, dan turuti perintah Nona Dira jika Nona tidak mau menyesal, tugas saya sudah selesai saya permisi."Ucap Ziko.


Apa yang di maksud Ziko, kenapa semuanya terdengar sangat ambigu. Pasti ada sesuatu yang di sembunyikan dari dirinya.


_______


"Tuan muda, Nona saya sudah melakukan sesuai dengan apa yang kalian minta."Ucap Ziko.


"Bagus.


Terus cari tahu apa yang terjadi malam itu dan cari di mana Raw saat ini berada."Ucap Dira.


"Satu lagi hubungi Rio dan tanyakan apa yang sedang di lakukan Ardian sekarang!."Sambung Dira.


"Baik Nona."Saut Ziko.


"Sekarang kamu boleh pergi sekarang."Ucap Deon.


"Deon..."Panggil seorang pria.


Pria itu langsung berdiri di hadapan Deon dengan nafas yang terengah engah.


"Apa maksud dari perkataan kamu?."Tanya pria itu yang tak lain adalah Rangga.


"Ada seseorang yang mengubah dirinya menjadi Raw, dan saat ini dia berada di rumah Gaby dan Raw."Jawab Deon.


"Apa?."


"Duduk dulu Rangga."Ucap Dira, Rangga pun duduk.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?."Tanya Rangga.

__ADS_1


"Tidak ada."Jawab Deon.


"Tidak ada? Kau gila, Gaby dalam bahaya saat ini, bagaimana mungkin kita tidak melakukan apa pun."Ucap Rangga.


"Lalu apa yang ingin kamu lakukan hah?


Memberitahu Gaby kalau dia bukan Raw?


Atau langsung bertanya pada dia, tentang siapa dia sebenarnya yang nantinya bisa saja dia melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan karena kita belum tahu dia siapa dan apa tujuannya.


Kami bisa saja langsung menghabisi dia, tapi kami berpikir berulang kali apa yang akan terjadi kalau sampai kami melakukan hal itu.


Karena bisa saja Raw masih ada di tangannya."Ucap Deon.


"Kamu tenang saja, karena aku sangat yakin dia tidak ada tujuan untuk menyakiti Gaby. Tapi untuk sementara waktu sebaiknya kamu tinggal di rumah Gaby untuk menjaga Gaby."Sambung Dira.


Rangga terdiam dan memikirkan apa yang di katakan Deon dan juga Dira. Dan setelah cukup lama berpikir, Rangga pun setuju untuk tinggal bersama Gaby.


____


Malam harinya Rangga datang ke rumah Gaby membawa koper yang cukup besar.


Rangga menekal bel dan tak lama pintu terbuka.


Rangga tersenyum pada orang yang membukakan pintu untuk nya yang tak lain adalah Raw. Rangga pun masuk ke dalam rumah dan meminta Raw membawakan barang bawaannya.


"Gaby...."Panggil Rangga.


Gaby yang ada di dalam kamar pun keluar saat mendengar teriakkan Rangga.


"Kak Rangga."Ucap Gaby.


Rangga melihat Gaby langsung berjalan mendekat, kemudian Rangga pun menuntun Gaby untuk duduk. Rangga mengelus perut Hanya yang sudah sangat besar.


"Perut kamu sekarang sudah sangat besar ya."Ucap Rangga.


"Iya Kak."Jawab Gaby sambil tersenyum.


"Wah dia menendang."Ucap Rangga saat merasakan pergerakan bayi di dalam kandungan Gaby.


Rangga pun bertanya banyak hal pada bayi yang ada di kandungan Gaby, sedangkan Gaby tertawa karena ocehan Kakaknya itu.


Sedangkan Raw malas ke arah Rangga.


Rangga yang menyadari kalau sedari tadi Raw menatapnya langsung melihat kearah Raw.


"Apa kamu sudah menyimpan barang ku?."Tanya Rangga.


"Sudah Kak, aku sudah menaruh barang Kakak di kamar tamu."Jawab Raw.


"Bagus."Ucap Rangga. "Oh iya, buatkan aku kopi, kamu jago bikin kopi kan?."Sambung Rangga sambil tersenyum.


"Iya, aku akan buatkan untuk Kakak."Ucap Raw yang kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan kopi.


Di dapur Raw meminta pembantunya membuat kopi untuk Rangga. Terlihat jelas Raw tidak suka kehadiran Rangga di sini, tapi apalah daya Rangga adalah Kakak dari Gaby.

__ADS_1


__ADS_2