
Semakin di ingat semakin membuat Lusi kesal. Kisah cinta yang Lusi bayangkan semuanya kandas karena kedatangan Gaby di antara dirinya dan Raw.
"*Kenapa harus Gaby yang kamu pilih Raw. Bukankah kamu sendiri bisa melihat siapa yang jauh lebih baik antara aku dan Gaby. Dan apakah waktu yang kita habiskan bersama selama bertahun-tahun tidak menumbuhkan benih benih cinta untuk ku?."
"Tidak Raw, semakin lama aku semakin tidak dapat menahan perasaan ini. Semakin lama aku juga tidak bisa menerima kenyataan ini*."
Kemudian Lusi mengambil handphone nya, lalu Lusi pun menghubungi seseorang yang menurut dia bisa membantu permasalahannya.
"Aku butuh bantuan kamu."Ucap Lusi.
"Bantuan aku? Memangnya apa yang bisa aku bantu?."
"Bantu aku mendapatkan pria yang aku cintai."
Jawab Lusi.
"Baiklah, aku akan membatu kamu."
Setelah itu sambungan telepon pun terputus. Kemudian Lusi pun pergi ke ruangannya. Sesampainya di ruangan dia, Lusi memanggil seorang Suster yang biasa bekerja bersama dengannya. Lalu Lusi pun memberikan kotak makan yang tadi Raw berikan padanya.
"Makanlah makanan itu, nanti setelah selesai taruh saja kotak makan itu di atas meja kerjaku."Ucap Lusi.
"Terimakasih Dokter Lusi."Ucap Suster itu yang kemudian langsung memakan makan yang di berikan Lusi.
______
Waktu pun terus berjalan, hingga akhirnya jam kerja Lusi dan Raw usai. Lusi yang melihat Raw baru saja keluar dari ruangannya, langsung berlari menghampiri Raw.
"Raw."Panggil Lusi.
Raw pun menengok ke arah Lusi yang kini sedang tersenyum manis ke arahnya.
"Ada apa?."Tanya Raw.
"Tidak ada papa, aku hanya ingin mengembalikan kotak makan yang tadi siang kamu berikan padaku."Jawab Lusi sambil memberikan kotak makan pada Raw.
"Oh..."Ucap Raw yang langsung mengambil kotak makan yang ada di tangan Lusi. Kemudian pergi meninggalkan Lusi.
"Raw tunggu."Ucap Lusi.
"Ada apa?."Tanya Raw.
__ADS_1
"Boleh tidak kalau aku ikut kamu pulang?."Tanya Lusi. Raw yang mendengar ucapan Lusi merasa heran dan juga bingung.
"Maksudku begini. Bukankah tadi siang kamu bilang padaku kalau aku sedang ada masalah, aku boleh bercerita padamu atau pun pada Nona Gaby."Ucap Lusi. "Dan sekarang aku butuh teman cerita."Sambung Lusi.
"Kamu ingin bercerita pada Gaby?."Tanya Raw.
"Sebenarnya aku tidak yakin. Bagaimana kalau kamu saja yang menjadi teman ceritaku. Kita sudah saling mengenal sangat lama dan aku akan lebih leluasa jika bercerita padamu Raw."Ucap Gaby.
"Baiklah tidak masalah kalau memang begitu. Tapi ini sudah malam, aku tidak ingin ada yang mengganggu waktu ku saat bersama dengan Gaby. Jadi sebaiknya besok saja kamu cerita padaku."Ucap Raw.
"Baiklah."Ucap Lusi.
Kemudian Raw berlalu pergi meninggalkan Lusi. Lusi sangat kecewa dengan jawaban yang di berikan Raw. Setelah itu Lusi pun pergi menuju mobilnya.
Lusi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan sudah beberapa kali Lusi hampir saja menabrak pengendara lain. Walau begitu Lusi tidak menurunkan kecepatannya. Hingga akhirnya Lusi menabrak sebuah pohon karena Lusi membanting setir saat akan bertabrakan dengan sebuah mobil truk.
Lusi terluka cukup parah karena kecelakaan itu. Kemudian seseorang memanggil ambulance agar Lusi segera di bawa ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Lusi langsung mendapat penanganan dari Dokter.
Dan seorang perawat menghubungi salah satu nomor yang ada di handphone Lusi. Perawat itu pun menghubungi nomor yang di jadikan nomor darurat oleh Lusi.
"Iya halo."Saut orang yang ada di sebrang telpon. "Dan siapa ini? Kenapa handphone Lusi ada pada anda?."Sambung orang itu.
"Mohon maaf sebelumnya, saya dari Rumah sakit X ingin memberitahu bahwa pemilik handphone ini mengalami kecelakaan dan saat ini dia sedang berada di UGD."Jelas perawat itu.
"Baiklah saya akan ke sana."Ucap orang itu yang kemudian langsung memutuskan sambungan telepon.
"Siapa yang menelepon malam malam begini?."Tanya Gaby pada Raw yang saat ini sedang duduk di sebelah Raw.
"Dari pihak rumah sakit X."Jawab Raw.
"Rumah sakit X?."
"Iya, mereka memberi kabar kalau Lusi mengalami kecelakaan dan saat ini ada di UGD."Jelas Raw.
"Apa? Kenapa bisa kecelakaan?."Tanya Gaby.
"Aku juga tidak tahu. Tapi tadi sebelum aku pulang kami sempat bertemu dan dia meminta untuk ikut pulang kesini, dia juga bilang ingin bercerita tentang masalahnya padaku. Dan aku katakan padanya kalau malam ini aku tidak bisa, karena aku tidak ingin ada yang mengganggu waktu kita saat berdua."Jelas Raw.
"Kenapa kamu menolaknya sayang, bagaimana kalau Lusi mempunyai masalah yang besar. Yang akhirnya membuat Lusi frustasi."Ucap Gaby.
__ADS_1
"Sayang kamu tahu betul aku seperti apa. Dan selama aku kenal dengan Lusi, dia tidak pernah frustasi karena suatu masalah yang menimpanya."Ucap Raw.
"Lalu bagaimana sekarang? Apa kita akan pergi ke rumah sakit sekarang?."Tanya Gaby.
"Ini sudah malam sebaiknya besok saja perginya."Jawab Raw.
"Apa tidak masalah jika kita tidak pergi sekarang?."Tanya Gaby.
"Tidak papa, mau sekarang atau pun besok sama saja. Tapi kalau kamu khawatir aku akan meminta Lexsi pergi ke Rumah sakit sekarang untuk melihat keadaan Lusi."Ucap Raw.
"Iya, kamu hubungi Lexsi saja. Aku khawatir pada Lusi."Ucap Gaby.
Kemudian Raw pun menghubungi Lexsi dan memintanya untuk pergi ke Rumah sakit X untuk melihat keadaan Lusi di sana.
Setelah itu Raw dan Gaby pergi ke kamar mereka untuk beristirahat.
_____________
Keesokan harinya Raw dan Gaby pergi ke Rumah sakit untuk melihat keadaan Lusi. Raw dan Gaby langsung pergi ke ruang inap Lusi, karena tadi pagi Lexsi memberitahu Raw kalau Lusi sudah keluar dari UGD dan di pindahkan ke ruang inap. Hanya saja Lusi masih belum sadarkan diri.
"Lexsi."Panggil Gaby saat sudah sampai di depan ruang inap Lusi.
"Nona Gaby."Ucap Lexsi saat melihat Gaby dan juga Raw.
"Bagaimana keadaan Lusi?."Tanya Gaby.
"Keadaannya sudah cukup membaik, hanya saja sampai saat ini Lusi masih belum sadar."Jawab Lexsi.
"Lalu apa yang Dokter katakan mengenai Lusi?."Tanya Raw.
"Dokter bilang Lusi mengalami benturan yang cukup keras di kepalanya dan kemungkinan karena benturan itu Lusi akan mengalami amnesia."Jawab Lexsi.
"Apakah kita boleh masuk?."Tanya Gaby.
"Boleh."Jawab Lexsi.
Raw dan Gaby pun langsung masuk ke dalam untuk melihat keadaan Lusi.
Gaby yang melihat Lusi penuh luka terutama kepalanya yang di balut oleh perban membuatnya terlihat begitu kasihan.
Setelah melihat keadaan Lusi Raw mengajak Gaby untuk bertemu dengan Dokter yang menangani Lusi untuk menanyakan keadaan Lusi. Dan ternyata apa yang di katakan Lexsi tadi memang benar.
__ADS_1