
Suster itu berjalan dengan sangat cepat dan dia mulai panik karena aksinya sudah di sadari. Hingga dia bertabrakan dengan seseorang sampai jatuh.
"Maaf, apa ada yang sakit?."
"Tidak ada, maaf saya buru buru."
Suster itu pun langsung pergi sambil membawa bayi itu kembali, hingga akhirnya dia pun sudah sampai di parkiran.
"Tuan."
"Di mana bayinya?."
"Ini tuan."
Pllaaakk.
"Dasar bodoh, aku perintahkan kamu untuk membawa bayi bukan sebuah boneka,"teriak Jeriko sambil membanting boneka ke tanah.
"Apa?
Tapi Tuan, tadi saya benar benar membawa bayi itu, bahkan saya sendiri yang membantu persalinannya dan menaruh bayi itu di sana dengan tangan saya sendiri."
"Lalu, di mana bayi itu?."
Wanita itu pun terdiam dan berpikir sejenak, hingga dia teringat saat dia bertabrakan dengan seseorang hingga dia terjatuh.
"Tapi saya sempat bertabrakan dengan seseorang dan saya terjatuh, tapi kejadian itu sangat cepat."
"Apa kamu lihat wajah orang itu?."
"Tidak, karena pada itu pakai masker."
Jeriko masuk ke dalam mobil, dan duduk di samping Julio.
"Bagaimana, apa semuanya berjalan dengan lancar?."
__ADS_1
"Gagal, ada orang yang mengambil bayi itu dan menukarnya dengan boneka,"jawab Jeriko.
"Apa?
Kenapa bisa seperti itu?."
"Saya juga tidak tahu kenapa, dan untuk apa dia merebut bayi itu dari kita? Apa tujuannya?
Tapi saya merasa ada sesuatu yang aneh, rasanya saat ini ada seseorang yang sedang mengawasi gerak gerik kita, dan berusaha untuk menggagalkan rencana kita,"jelas Jeriko.
"Siapa?."
"Itu yang harus kita cari tahu."
Setelah itu mereka pun langsung pergi dari rumah sakit sebelum ada yang melihat mereka. Yang tidak mereka ketahui kalau dari awal kedatangan mereka di rumah sakit itu sudah di awasi oleh seseorang di sebuah ruangan yang ada di rumah sakit itu.
Bahkan bayi yang di ambil oleh Jeriko dan Julio kini sudah berada di ruangan itu.
Bayi itu kini sudah berada di dalam inkubator.
"Aku tahu, saat ini kamu begitu lemah dan berusaha untuk tetap bertahan.
Dan aku pastikan kamu akan hidup, aku akan menjadikan kamu seorang anak yang pemberani dan juga tangguh, hingga suatu saat nanti kamu bisa melindungi orang orang yang kamu sayangi."
Sedangkan kini Deon dan Dira sedang mencari orang itu. Hingga mereka memutuskan untuk melihat rekaman cctv di rumah sakit itu.
Bagaimana pun Dira punya kuasa di sana.
Saat mereka sedang melihat cctv, Dira sangat memperhatikan gerak gerik seseorang yang menabrak suster itu.
Dira langsung bangun dari duduknya, kemudian keluar dari ruangan itu dan Dion mengikuti Dira dari belakang.
Sebenarnya Dion tidak tahu sebenarnya Dira mau pergi kemana. Namun Deon sudah menebak sepertinya Dira tahu sesuatu.
Hingga akhirnya mereka sudah sampai di lantai paling atas di rumah sakit itu. Dira dan Deon berjalan menuju sebuah pintu.
__ADS_1
Dira membuka pintu itu dan tidak di kunci, setelah Dira dan Deon masuk ke dalam, mereka melihat beberapa orang di sana.
"Ternya dugaan ku benar."ucap Dira.
"Dugaan apa? Dan apa kamu tahu siapa mereka?."
"Iya, mereka adalah orang orangnya Rendra.
Orang yang sangat setia pada pada Rendra."
"Bukankah Rendra adalah tangan kanan orang tua mu? berarti mereka pun sama."ucap Deon.
"Rendra memang tangan kanan Ayah.
Tapi tidak dengan mereka.
Mereka adalah orang terpilih dan di jadikan satu team oleh Rendra, dan mereka hanya patuh pada Rendra.
Karena itu saat Rendra pergi mereka pun menghilang begitu saja, tidak ada yang tahu kemana mereka pergi."
"Iya aku mengerti sekarang."
Dira pun mengajak Deon untuk masuk ke dalam ruangan yang di jaga oleh beberapa orang.
"Maaf tidak ada yang boleh masuk ke dalam ruangan ini."ucap seorang pria.
"Kamu tidak tahu siapa aku?
Berani sekali kamu melarang ku untuk masuk ke dalam ruangan itu?."
"Jangan salah paham Nona, tentu saja saya tahu siapa anda. Bagaimana pun dulu kami sering melihat anda, tapi seperti yang anda tahu kamu hanya mendengarkan perintah dari Tuan Rendra."
"Tapi yang ada di dalam sana bukan lah Rendra."teriak Dira.
Mereka pun saling melihat saat mendengarkan ucapan Dira.
__ADS_1