
Hufff..
Gumpalan asap di hembuskan oleh wanita cantik dari bibir seksinya memenuhi ruangan kamar hotel mewah itu. Pandangannya jatuh pada pemandangan kota pagi ini yang tampak macet seperti hari hari biasanya.
“ sayang, melihatmu dengan pakaian seperti ini membuatku menjadi tidak ingin pergi bekerja” ucap sosok pria dewasa dari belakangnya yang tampak memeluk posesif pinggang ramping wanita cantik itu
“ pergilah bram, aku sedang ingin sendiri” husir sosok cantik itu dengan membuka tangan yang melingkar di pinggang rampingnya dan sedikit menggeser posisinya agar memberi jarak pada pria itu
“ ohh baiklah, tapi setidaknya berikan aku satu kecupan bukan” tawar pria itu
“ bramm.” Geram wanita cantik itu tak suka “ aku sedang tak ingin bercanda” lanjutnya
“ okay baiklah, jangan marah Gisel ku sayang” ucap Bram mengambil salah satu tangan Gisel dan menggenggamnya. Ya wanita itu merupakan Gisel Anindita mommy queen.
“ pergilah bram, jangan membuatku kesal” husir Gisel untuk kedua kalinya dengan melepas tautan tangan mereka
“ baiklah kalau begitu, aku pergi kerja dulu. Lain kali kita bermain lagi ya baby” ucap Bram lalu melangkah pergi setelah mendapatkan jawaban melalui anggukan kepala dari Gisel
Huff
Gisel kembali menghembuskan asap rokoknya lalu berjalan menuju salah satu kursi dan menariknya mendekati jendela besar itu kemudian mendudukinya sembari menatap pemandangan di luar jendela besar itu.
“ 2 tahun tak bertemu. Kau semakin tampan dan seksi, Ansel. Berita yang beredar mengatakan kau belum menikah sampai sekarang, apakah kau masih mencintaiku?” lirih Gisel percaya diri sembari menatap foto terbaru Ansel yang tampak menggoda dengan otot otot kekarnya saat pulang bekerja
“ kau membuatku menyesal telah melepaskan mu hanya karena si bodoh Bram” ucap Gisel mengelus gambar Ansel
“ dia tidak ada apa apanya dibandingkan dirimu. Ch, aku keliru dulu. Bodohnya diriku lebih memilih kerikil di jalanan dari pada permata yang dulu sudah ada di tanganku. Tapi tak apa, aku akan kembali mengambil permata indah ku yang memang sejak awal adalah milikku.” Ucap Gisel dengan yakin
“ tunggu aku sayang, aku akan kembali dan kita akan kembali merajut kasih yang indah yang sempat terputus” lirih Gisel seakan lupa bila perasaan bisa berubah kapan saja, di saat Ansel juga dulunya hanya memiliki sedikit perasaan saja terhadapnya di masa lalu. Ia juga tampaknya melupakan sosok anak kecil yang pernah ia lahir kan ke muka bumi ini, dan tampaknya ia juga melupakan besok merupakan hari ulangtahun sosok mungil yang ia lahir kan 7 tahun lalu yang tak lain merupakan Queen.
***
“ David, keruangan saya sebentar” ucap Ansel melalui panggilan telepon kantor
“ baik tuan” balas David dan langsung bergegas ke ruangan Ansel
Tok..tok
__ADS_1
“ masuk” seru Ansel
“ saya ingin keluar, kamu gantikan saya untuk meeting selanjutnya” ucap Ansel to the point saat David sudah berdiri di hadapannya
“ tapi tuan nona Chelsea berpesan agar meeting ini tidak di wakilkan”
“ berikan alasan terbaik untuk membungkamnya” ucap Ansel dingin
“ baik tuan” jawab David sopan dengan menundukkan sedikit kepalanya
“ jika tak ada hal lain saya pamit undur diri tuan” ucap david lalu keluar setelah di persilahkan oleh sang junjungannya
Ansel pun langsung berdiri dan bergegas keluar ruangan, lalu pergi menjemput Nara sesuai dengan janji mereka, sekarang jam juga sudah menunjukkan angka setengah 3 sore waktunya untuk Nara pulang. Semalam ia sudah berjanji akan menyemput sang calon istri di tempatnya bekerja dan akan langsung pergi untuk berbelanja.
Dengan mengendarai mobil mewahnya dengan kecepatan yang diatas rata rata membuat Ansel hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai di restoran tempat Nara dan Naya bekerja. Di sana sudah bisa Ansel lihat Nara dan Naya sudah menunggunya sembari bercerita dengan Naya yang duduk di motor miliknya dan Nara yang berdiri bersandar pada Naya.
“ sorry nunggu lamanya” tanya Ansel lembut keluar dari mobil
“ baru bangat kok, orang baru pulang juga” jawab Nara dan di angguki oleh Naya
“ emm. Terima kasih telah menemai Nara” jawab Ansel ramah pada Naya
“ ist okay, sudah seharusnya memang seperti itu. Gue pamet nya. Bye bye” ucap Naya lalu menjalankan motornya, Nara melambaikan tangannya pada sang sahabat yang mulai tak terlihat
“ ayok” ajak Ansel lembut menarik tangan nara menuntunnya kekursi samping kemudi dan membukakan pintu untuk Nara
“ silahkan masuk sayang” ucap Ansel
“ apaan sih om, udah tua juga sok romantis” ucap Nara menggerutu tapi pipinya sudah semerah tomat
“ tua tua gini juga calon suami kamu tuh” jawab Ansel mencubit gemas pipi sang kekasih
Mereka pun mulai meninggalkan pekarangan restoran dan menuju mall tempat mereka ingin berbelanja. Sepanjang jalan ansel tidak henti hentinya menjahili Nara sehingga gadis cantik itu menjadi cemberut sebal pada Ansel. Sedangkan sang pelaku yang sudah membuat sang gadis cemberut hanya tertawa saja tanpa niatan meminta maaf.
“ gemes, pipi mama nara merah bangat sih” usil Ansel
“ omm” ucap Nara cemberut mencubit perut ansel yang malah terasa keras
__ADS_1
“ haha geli sayang” tawa Ansel yang malah merasa geli bukannya sakit
“ nyebelin deh. Dasar duda dingin, beruang kutup” dengkus Nara membuang mukanya ke samping malas menatap wajah tampan sang kekasih
“ ia sekarang sih masih duda, bentar lagi nggak kok. Kan kamu yang nantinya jadi jaminannya sama TUHAN biar aku tak duda lagi” ucap Ansel lempeng tak tersinggung pada perkataan Nara
“ ihh, nyebelin” ucap Nara kesal karena sudah bingung ingin membalas perkataan Ansel dengan apa
“ nyebelin gimana sayang” tanya Ansel mencubit perut berlemak Nara
“ gemoy ya calon istriku. Badannya aja yang kecil ehh perutnya gemoy” ucap Ansel tertawa
“ oooom.” Ucap Nara mengerang frustasi
“ hihihi” ansel malah cikikikan “ lucu” ucap Ansel menambahi
“ astaga, tambahkan stok kesabaranku TUHAN” ucap Nara pasrah
“ pasrah bangat sayang” tanya Ansel
“ masa bodoh deh om, serius” jawab Nara ketus
“ kenapa berhenti? Mau nurunin aku disini ia” tanya Nara marah marah saat mobil mereka sudah berhenti dan Ansel hanya menatap lekat dirinya tanpa sepatah kata pun
“ kok marah marah sih sayang, kita kan dah sampai” ucap Ansel sabar
“ ohh dah sampai, bilang dong. Malam liatin aku aja” gerutu Nara mengurangi malunya
“ untung sayang” ucap Ansel bernada
“ ayok, om. Lama bangat sih, ngram atau ngapain di dalam mobil masih” tanya Nara lagi dengan nada bicara tak bersahabat
“ ini mau turun sayang.” Jawab Ansel cepat “ kayaknya dia lagi pms” batin Ansel menatap ngeri pada Nara yang sedang mode senggol bacok di tambah tadi ia menjahili sang calon istri membuat nya sangat sensitif seperti sekarang saat Ansel ingin menggenggam tangannya yang malah di tepis oleh Nara dan pada saat mereka sudah masuk Nara dengan tiba tiba menautkan tangan mereka saat banyak gadis menatap memuja pada Ansel.
“ kenapa suka di tengok tengok” tanya Nara memicingkan matanya pada Ansel
“ enggak sayang, enggak” jawab Ansel sembari menggeleng
__ADS_1