
Setelah acara perpisahan, rombongan paman Naya pun berjalan menuju pesawat, Naya melambaikan tangannya hingga yang lainnya tak terlihat. Naya berjalan keluar dari bandara tanpa sadar setitik air mata jatuh membasahi pipi nya.
“ come on Naya, jangan menangis” ucap Naya menyemangati dirinya sendiri sembari menghapus air mata yang lancang tadi. Ia memasuki mobilnya lalu menjalankannya menuju rumahnya.
Naya memang memiliki mobil tapi mobil itu sangatlah jarang Naya pakai karena Naya lebih menyukai mengendarai sepeda motornya dari pada mobilnya itu. Mobil Naya itu di beli Naya saat ia masih duduk di bangku SMA kelas tiga, ia membelinya kerena ia sudah memiliki SIM. Mobil itu Naya beli menggunakan uang yang selalu di kirim oleh kedua orangtuanya, berbeda dengan sepeda motonya yang di beli Naya dengan uang tabungan dari kerja kerasnya hingga membuat ada kepuasan tersendiri saat menggunakan sepeda motornya itu.
Sesampainya dirumah Naya langsung memasukkan mobilnya ke dalam garasi yang mana hanya muat mobilnya saja hingga karena itulah motornya ia simpan di dalam rumah.
Ceklek..
Hening..
Beberapa saat Naya hanya berdiri di pintu rumahnya saja, menatap ke dalam rumahnya yang di selimuti keheningan hingga membuat Naya menghela nafasnya. Bila dulu jika nenek dan ani pulang ke rumah pamannya Naya akan memilih menginap ke rumah Nara berbeda dengan sekarang ia tak mungkin lagi melakukannya sebab sahabat baiknya itu sudah menikah sangat tidak elok bila ia menginap di sana dan hanya akan mengganggu sang sahabat yang masih hangat hangatnya dengan pasangannya.
Naya memasuki rumahnya dengan lesu melemparkan tasnya lalu langsung menuju kamarnya. Sesampainya di kamar Naya melemparkan tubuhnya ke kasur empuk king sive miliknya, sengaja menenggelamkan wajahnya ke dalam bantalnya hingga suara hpnya yang berbunyi mengaihkan atensinya.
__ADS_1
“ sayang, papi sudah trasfer uang bulanan kamu ya. Jika kurang jangan ragu memintanya kepada papi. Papi menyayangimu sweety heart” chat dari papinya
Naya pun membuka mbangkingnya melihat nilai saldo di nomor rekening pemberian orangtuanya sudah bertambah 200 juta. Naya hanya menatap datar deretan jumlah rekeningnya, tak ada kebahagiaan yang dirasanya akan jumlah kiriman yang begitu banyak dari papinya hanya ada kehampaan sebab Naya bukan membutuhkan banyaknya materi melainkan ia hanya butuh orangtuanya ada untuknya, memberikannya kasih sayang seperti orangtua pada umumnya.
Papi Naya merupakan seorang owner yang memiliki pabrik pakaian, dan juga memiliki usaha usaha di bidang makanan. Sedangkan mami Naya merupakan seorang disainer yang cukup terkenal di kota mereka ini.
Naya mengguling gulingkan tubuhnya di kasur lalu bangkit untuk keluar. Ia mengambil tasnya lalu mengeluarkan mobilnya. Ia akan melakukan kebiasaannya bila di kirim uang oleh kedua orangtuanya. Sebelum ketempat tujuannya Naya terlebih dahulu mampir ke sebuah mall, ia membeli banyak pakaian anak anak dengan ukuran yang berbeda beda Naya juga membelikan pakaian untuk remaja beberapa . setelah membeli baju Naya juga membeli mainan anak anak baik untuk laki laki maupun untuk perempuan. Setelahnya Naya juga pergi ke supermarket, belanja bahan bahan makanan, susu untuk anak umur 1 sampai 5 tahun dan susu kotak yang semua usia bisa komsumsi. Ia juga tak lupa membelikan banyak jajanan dan coklat dan tak lupa buah juga. Setelah semua dia rasa lengkap barulah Naya menjalankan mobilnya menuju tempat yang merupakan hal yang dituju Naya bila mendapat uang bulanan dari orangtuanya.
Panti asuhan bunda kasih, merupakan tempat yang sering Naya dan Nara kunjungi terlebih Naya karena ia sudah menjadi donator tetap di sana dari usia 12 tahun hingga sekarang. Ia akan kesana bila keadaannya tidak baik baik saja atau saat ia mendapatkan uang dari orangtuanya. Ia kerap kali mengajak sahabatnya bila berkunjung saat akan bagi bagi seperti ini, berbeda kali ini sebab Naya tak ingin mengganggu sahabatnya itu dulu karena sahabatnya itu masih pengantin baru, biarlah dahulu pengantin baru itu menikmati momen berdua dengan pasangannya.
“ kakak Naya, kakak Naya...” panggil anak anak itu dengan begitu gembira
“ adek adek kakak Naya begitu bersemangat” ucap Naya terkekeh
Setelahnya ia melepaskan pelukan anak anak itu lalu membuka bagasi mobilnya lalu mengambil satu kantong besar berisi jajanan dan memberikannya kepada salah satu anak yang lebih besar disana.
__ADS_1
“ bagikan dengan rata sama adek adeknya yang lain sana” kata Naya menyerahkan kantongan itu anak anak pun langsung bersorak senang dan tak lupa berterima kasih
“ makasih kak Naya” ucap mereka serempak lalu langsung mengikuti kakak mereka yang akan membagikan mereka jajanan sedangkan Naya memanggil remaja yang lebih tua dari anak anak itu untuk membantunya mengangkat belanjaannya menuju ruangan ibu panti mereka.
“ ehh nak Naya” ucap bunda Sindi tersenyum dan Naya langsung menyalim wanita berusia 50 tahun lebih itu
“ bun..” ucap Naya menyalim bunda Sindi dengan sopan
“ Naya bawa sedikit keperluan untuk panti bun, di terima yah” ucap Naya menunjuk segala pemberiannya yang sudah di letakkan anak anak remaja panti itu
“ makasih banyak nak Naya” ucap bunda Sindi sangat bersyukur
“ ehh gama, ambilkan satu kantong jajanan itu lalu bagi pada teman teman remaja yang lain” ucap Naya pada anak remaja yang dia suruh tadi
“ makasih kak” ucap gama lalu mengambil yang diperintahkan Naya lalu pamit keluar untuk berbagi dengan yang lain. panti asuhan itu bukan hanya berisi anak anak saja tapi sampai remaja pun ada di panti yang masih duduk di bangku sekolah.
__ADS_1