
Setelah selesai semua acara, Ansel dan Nara pun masuk menuu kamar pengantin mereka yang sudah di siapkan spesial oleh mama Anita. Saat pertama membuka pintu kemewahan kamar membuat Nara takjuk dan tersipu saat menatap kasur berukuran besar yang di taburi kelopak bunga mawar yang membentuk hati yang begitu indah.
“ sayang kamu mandi deluan atau aku?” Tanya Ansel lembut merangkul istrinya memasuki kamar mereka
“ aku aja by, udah gerah bangat soalnya” ucap Nara
“ ya udah kamu mandi gih” suruh Ansel sembari membuka jasnya dan dua kancing teratas kemejanya yang mana membuat Nara menunduk malu.
Setelah mendengar ucapan Ansel Nara pun bergegas ke kamar mandi. Nara yang berada di kamar mandi berusaha untuk membuka gaun pengantinnya, karena tangan Nara yang tak sampai membuat reksleting gaun Nara menjadi macet tak dapat lagi bergerak, Nara yang sudah kesal karena gaun tak kunjung terbuka akhirnya memberanikan diri keluar kembali dari kamar mandi untuk meminta bala bantuan dari suaminya.
“ ehh kok belum mandi juga sayang. Kenapa gaunnya yang bisa kebuka?” Tanya Ansel berdiri mendekati Nara
“ emmem, reksletingnya macet by” ucap Nara malu
“ kok nggak dari tadi di bilang ke aku sih sayang, sini aku bukain nggak usah malu kan sudah suami istri. Jangan sungkan minta bantuan padaku sayang” kata Ansel memutar tubuh Nara agar membelakanginya lalu mulai membukakan gaun pengantin Nara dengan pelan pelan. Reksleting itu tampak macet mungkin karena terlalu di paksakan saat membukanya. Setelah Ansel berhasil membukakan reksleting itu dengan sempurna gaun yang di kenakan Nara terbuka yang mempertontonkan punggung putih mulusnya yang mana membuat Ansel menelan ludahnya susah payah.
“ by, udah?” Tanya Nara yang tidak merasakan lagi pergerakan dari Ansel
“ eh, udah udah sayang” ucap Ansel gelagapan
Setelah mendengarkan jawaban dari Ansel Nara pun berlalu ke kamar mandi meninggalkan Ansel yang sudah berga(i)rah. Nara langsung masuk ke dalam kamar mandi lalu segera melakukan kegiatan mandi malamnya tanpa menunda nundanya lagi.
“ oh ****, kau sangat menggoda sayang” ucap Ansel berbalik untuk rebahan di kasur mereka sembari memijit pangkal hidungnya
__ADS_1
“ tahan Ansel, setidaknya sampai selesai makan malam” gumam Ansel menasehati dirinya sendiri
Setelah selesai mandi Nara pun segera keluar dari kamar mandi hanya menggunakan selembar handuk karena tadi ia kelupaan mengambil pakaiannya, saat keluar Nara langsung menyuruh Ansel agar segera mandi, dan penampilan Nara yang seperti itu mampu kembali membangkitkan ad(i)k kecil Ansel yang di bawah sana dan kembali Ansel harus menahan diri agar tidak menyerang Nara. Lalu cepat cepat bergegas untuk masuk ke kamar mandi sebelum ia tidak dapat menguasai dirinya lagi.
Sedangkan Nara ia pun sebenarnya malu keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk, tapi ia menguatkan diri sembari bergumam bahwa Ansel sudah menjadi suaminya dan hal seperti ini akan terjadi juga kedepannya jadi tidak perlu merasa malu seperti yang di katakan Ansel tadi.
Saat setelah Nara mengeringkan rambutnya menggunakan hair driayer pintu di kamar mereka di ketuk, dan saat Nara buka ternyata karyawan hotel datang mengantar makanan mereka. Nara pun mengambil troli makanan itu lalu membawanya masuk tak lupa ia menyusun makanan makanan itu di meja yang tersedia di kamar mereka dengan rapi.
Setelah Nara selesai menyusun makanan, Ansel juga tanpak sudah siap mandi dan sudah mengenakan pakaiannya. Melihat Ansel yang sudah selesai mandi dan sudah tampan mereka pun segera makan untuk mengisi perut mereka dan mengisi stamina mereka untuk bertempur nanti malam. Mereka tanpak sesekali saling menyuapi bergantian hingga makan malam mereka ini terlihat sangat romantis. Selesai makan Nara langsung menyusun piring pring bekas mereka ke dalam troli tadi lalu memencet bel yang ada di nakas yang merupakan alat untuk memanggil karyawan hotel. Setelah karyawan hotel datang dan membawa kembali troli makanan itu Ansel dan Nara pun duduk di sofa dengan Ansel yang memangku Nara dan Nara yang menyandarkan kepadanya di dada bidang sang suami.
Mereka bercerita tentang pernikahaan mereka tadi, kebahagiaan bahkan terpancar dari kedua wajah pengantin baru itu. Tapi ada yang lain seiring berjalan menit demi menit, tangan Ansel yang semula hanya bertengger manis di pinggang Nara kini mulai mendaki merayap menuju gunung tersembunyi milik Nara.
“ aah, by..” De(s)ah Nara tanpa sadar saat Ansel mer(e)mas gu(nu)ng ke(m)barnya lalu Nara memukul tangan jahil suaminya itu
“ jahil ihh” kesal Nara dengan wajah memerah
Karena ruang gerak Ansel yang terbatas membuat Ansel kurang puas hingga ia membopong Nara menuju kasur mereka. Ia merebahkan Nara dengan hati hati dan penuh kelembutan. Wajah Nara tanpak memerah antara malu bercampur dengan gairah yang mulai bangkit.
“ sayang bolehkan?” Tanya Ansel memastikan
“ lakukanlah by, tapi pelan pelan ini adalah yang pertama untukku” ucap Nara pasti
“ terima kasih sayang, i love you so much” ucap Ansel bahagia dan Nara yang ingin menjawab ucapan Ansel harus tertahan sebab Ansel sudah terlebih dahulu menciumnya.
__ADS_1
Ciuman Ansel awal awal sangatlah lembut tapi semakin lama ciuman itu berubah menjadi ciuman yang menuntut, mereka saling mem(b)elit, me(l)umat, dan men(y)esap satu sama lain. Nara yang masih amatir sekali pun sekarang sudah mulai tampak menyeimbangi kemampuan ciuman Ansel.
Suara dec(a)pan de(c)apan mereka memenuhi ruang kamar mereka. Ansel dengan berlahan menyudahi ci(u)man memabukkan itu lalu mulai turun menjilati tulang leher Nara yang mana membuat de(s)a(h)an Nara akhirnya keluar. Saat sedang asik melakukan kegiatannya, Ansel dengan cepat membukai pakaian yang dikenakan oleh Nara.
Nara yang terlalu menikmati permainan Nara bahkan tidak menyadari bahwa ia saat ini sudah tak mengenakan apapun lagi, hingga saat mulut Ansel menempel pada pa(yu)daranya membuat Nara tersentak dan langsung mel(e)ngguh saat Ansel menyesapnya seperti seorang bayi yang sedang menyusu pada ibunya.
“ aaah, ahh, by, ah...” de(s)ah Nara meremas rambut Ansel
“ aah, ahh.., emmm” suara Nara memenuhi ruangan itu yang mana membuat ga(i)rah Ansel semakin membara
Ansel semakin bersemangat men(cu)mbuki tubuh seksi Nara, hingga pada saat ia sudah tak tahan lagi membuat Ansel langsung memulai permainan inti mereka.
Ansel melebarkan dengan lembut kedua paha Nara, memposisikan adik kecilnya ke gua tersembunyi yang belum pernah terjama sama sekali. Dan mulai mendorong kecil adik kecilnya untuk bisa memiliki Nara seutuhnya.
“ ahh sakit by” ucap Nara menahan tubuh Ansel. Matanya bahkan sampai berkaca kaca karena itu benar benar menyakitkan
“ tahan bentar lagi ya sayang, aku akan melakukannya dengan lembut” ucap Ansel menyakinkan Nara dengan menyingkirkan rambut Nara yang sedikit menutupi wajah cantik istrinya itu
Ia kembali menci(u)m Nara, mengalihkan perhatian Nara agar tidak terus kepada rasa sakit di bawah sana. Saat Nara sudah kembali menikmati permainan Ansel, Ansel menggunakan kesempatan itu mendorong dengan sedikit kuat adik kecilnya hingga berhasil terbenam sempurna.
Jleb...
“ aaaaahhhhhh...” teriak Nara nyaring dengan membusungkan dadanya, sakit di bawah sana membuat Nara menangis. Tubuhnya seperti terbelah dua, sesak, pedih, dan penuh di rasakan oleh Nara bercampur menjadi satu di kewa(n)itaannya saat Ansel sudah berhasil menerobos sela(p)ut darahnya
__ADS_1
“ maaf sayang” lirih Ansel lalu mencium bibir Nara mengajak Nara untuk saling mem(b)elit hingga tak lama Nara pun kembali membalas lu(m)atannya.
Ansel terlebih dahulu mendiamkan adik kecilnya di gua hangat milik Nara membuasakan milik Nara akan miliknya yang memang memiliki ukuran yang jumbo. Dan setelah merasa Nara sudah tenang dan sudah terbiasa Ansel pun mulai mengerahkan pinggulnya memompa Nara. Awal awal Ansel melakukannya dengan pelan tapi seiring waktu goyangan goyangan Ansel semakin cepat yang mana membuat Nara meleng(g)uh, men(d)e(s)ah dan menge(r)ang yang menambah panasnya permainan mereka.