
“ mama mengapa begitu lama sampainya?” tanya Queen setelah mereka duduk di sofa dengan Queen yang duduk dengan nyaman di pangkuan sang mama
“ tadi macet sayang” ucap Nara tapi matanya menyorot tajam Ansel yang sekarang hanya tersenyum tanpa dosa. Sebenarnya mereka bukanlah terjebak macet saat pulang melainkan karena Ansel yang kembali mengulang kegiatan panas mereka semalam setelah Nara selesai menyantap makan siangnya.
“ ohh, Queen mengira mama sudah melupakan Queen dan hanya ingat daddy saja” ucap Queen manja
“ astaga manjanya putri mama, bagaimana mama bisa melupakan putri mama yang cantik ini sedangkan mama selalu berdoa akan kebahagiaan Queen” ucap Nara tulus mengelus pucuk kepala Queen
“ benarkah, Queen juga tak akan pernah melupakan mama dan akan berdoa untuk kebahagiaan mama dan agar TUHAN juga segera memberikan Queen adek bayi” kata Queen mengecup pipi Nara
“ makasih sayang. Apakah Queen ingin punya adek?” tanya Nara dengan tangan yang tak henti mengelus rambut lebat Queen yang tergerai
“ emmm, Queen mau punya adek yang banyak agar Queen memiliki teman” ucap Queen riang dengan tangan yang ia rentangkan menggambarkan sebanyak apa ia ingin memiliki adek
“ hahaha, Queen inginnya adek perempuan atau laki laki?” Nara kembali bertanya
“ Queen ingin memiliki adek laki laki ma 2, seperti upin dan ipin. Dan Queen akan menjadi kak ros buat mereka hahaha” ucap Queen lalu tertawa saat ia membayangkan ia akan segarang kak ros dalam kartun upin ipin.
“ astaga bagaimana bisa haha” tawa Ansel tak habis pikir pada putrinya itu belum punya adek saja sang kakak bahkan sudah berniat menjadi kakak yang galak untuk adek adeknya
“ hihihi nggak papa loh. Kak ros juga galak gitu itu kan untuk kebaikan adek adeknya. Queen juga akan galak untuk kebaikan adek adek Queen nanti baru mereka bisa menjadi anak anak baik seperti Queen” ucap Queen sungguh sungguh
“ baiklah nanti mama dan daddy akan berikan Queen adek, tapi kakak Queen harus menyayangi mereka oke. Queen harus sayang pada adek adek seperti mama dan daddy sayang pada Queen” ucap Nara tersenyum dan Queen dengan semangat menganggukkan kepalanya
“ benarkah mama, thank you so much. Tapi ma, apakah kalau nanti ada adek bayi mama akan tetap sesayang ini pada Queen?” tanya Queen menatap mamanya yang menatap teduh dirinya
__ADS_1
“ tentu saja sayang, karena kalian adalah anak anak mama. Kalian nantinya tak memiliki perbedaan satu sama lain karena semuanya adalah anak mama Nara” ucap Nara lembut
“ tapi kan nanti adek adalah darah daging mama sendiri berbeda dengan Queen” ucap Queen lirih sembari tertunduk
“ benar nanti adek adek akan lahir dari rahim mama berbeda dengan Queen” Nara sengaja menggantung kalimatnya dan melihat Queen saat ini sudah menunduk sedih
“ tapi putri cantik mama ini terlahir dari hati mama. Karena itulah kalian tak memiliki bedanya di hati mama” ucap Nara melanjutkan ucapannya yang mana membuat Queen langsung menatap sang mama
“ tak peduli apa yang akan di katakan orang lain kelak tapi putri mama berharga untuk mama dan semuanya. Jadi Queen hanya perlu percaya pada mama dan yang lain mengerti” ucap Nara mengelus kepala Queen dan Queen pun mengangguk
“ Queen sayang mama” ucap Queen langsung menghambur kepelukan Nara
“ mama juga sayang” balas Nara membalas pelukan Queen
“ sayang daddy gak banyak” ucap Queen berlari kepelukan Ansel sembari tertawa, sedangkan Ansel hanya melongo mendengarkan ucapan putri kecilnya itu yang tanpak sudah menunjuk tanda tanda tidak adil
“ masa gitu” ucap Ansel tak terima sedangkan Queen hanya tertawa saja lalu menghadiahkan sebuah kecupan di pipi daddynya
Cup..
“ Queen sayang daddy, sebanyak Queen menyayangi mama” ucap Queen memeluk Ansel yang tersenyum mendengarkan ucapannya. Mereka pun tertawa lalu kembali mengobrol banyak hal dengan mama Anita dan papa Juno yang sudah ikut bergabung karena tadi papa Juno sedang memberikan ikan hias mereka makan karena itulah tadi mama Anita meninggalkan Queen setelah kedatangan Ansel dan Nara untuk memanggil suami tercintanya.
*
*
__ADS_1
“ om, bibi apakah nenek tidak dapat tinggal bersamaku lagi?” tanya Naya untuk kesekian kalinya kepada paman dan bibinya yang sebentar lagi akan berangkat
“ maaf sayang. Tapi om ingin nenek untuk tinggal dengan kami, karena bagaimana pun om adalah anak nenek selain papimu dan karena papimu tak mau nenek tinggal dirumahnya maka om ingin nenek tinggal di rumah paman. om tak enak padamu, sudah bertahun tahun nenek dan Ani tinggal denganmu dan sekarang biarkan Ani dan nenek tinggal bersama om. Kamu memiliki hidup sendiri Naya, bahagialah, carilah pria terbaik untukmu, om ingin kau hidup bahagia dengan keluarga kecilmu jika nenek dan Ani terus bersamamu kamu hanya akan fokus terhadap mereka saja. Jangan membuat om semakin berutang budi padamu keponakanku” ucap om Naya panjang lebar, mendengar penuturan omnya yang begitu panjang Naya hanya bisa menghela nafas
“ baiklah kalau begitu Naya titip nenek dan Ani om.” Lirih Naya begitu berat, rumahnya pasti akan begitu sepi setelah kepulangan keluarga pamannya
“ sudah sekarang kita harus kebandara karna kalau tidak om dan yang lain akan ketinggalan pesawat” ucap om Naya. Mereka semua pun naik kedalam mobil Naya lalu langsung meluncur ke arah bandara.
“ sayang jaga kesehatan ya, om dan bibi pamit dulu” ucap bibi Naya mengecup kening Naya lalu memeluk Naya dengan erat dan Naya membalas pelukan bibinya tak kalah erat
“ bibi dan yang lain juga jaga kesehatan, Naya titip nenek dan Ani” ucap Naya lirih ia ingin menangis tapi ia menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak terjatuh karena tak ingin membuat yang lain khawatir
“ emm” balas bibinya melepas pelukannya
“ sayang nenek berangkatnya, jangan sering sering begadang nya ingat makan” ucap sang nenek menasehati
“ ia nek, nenek juga ingat jaga kesehatan. Naya sayang bangat sama nenek” ucap Naya memeluk neneknya dan di balas oleh sang nenek
“ tata..” ucap Ani mendekati Naya
“ Ani baik baik yah di sana, sering sering telepon kakak. Kakak akan kesepian tanpa Ani” ucap Naya mengelus pipi Ani
“ tata..” ucap Ani meneteskan air matanya dan Naya langsung menarik Ani kedalam pelukannya
“ jangan nangis. Jika di sana ada yang ganggu Ani katakan pada kak Naya, agar kakak datang menghajarnya” ucap Naya memeluk Ani, Ani sudah seperti adek bagi Naya ia sudah bertahun tahun tinggal dengan Ani, dan kehadiran Ani sudah biasa bagi Naya sehingga berat untuk Naya melepaskan Ani.
__ADS_1