
Brumm..
Tin tin
“ lama lu, nggak usah pake seklon kali dah dirumah juga, ribut entar pak rw marah lagi” omel Nara pada Naya yang sedang memperbaiki posisi sepeda motornya
“ ia sorry bebebku” kata Naya melempar tasnya dan langsung memeluk sang sahabat
“ apaan nih, lepesin astaga. Lo mau bunuh gue ya” marah Nara memukul mukul tangan Naya sebab pelukan Naya sangatlah erat membuatnya sulit bernafas
“ ia ia ini dilepesin.” Ucap Naya lalu melepas Nara yang tanpak langsung meraup banyak udara “ gue lapar ar, lo udah masak belum?” tanya Naya lagi memasang wajah memelasnya
“ udah, yuk kita makan. Udah gue dugong lo belum makan dari rumah” ucap Nara berjalan menuju meja makan
“ astaga astaga, memang bebebku the best deh pokoknya makin sayang deh” ucap Naya yang ingin memeluk kembali Nara tapi dengan sikap Nara menghindar
“ lo kenapa deh, masih pagi loh udah aneh aja” tanya Nara menatap sang sahabat yang kelakuannya sangat aneh dan mencurigakan
“ lo Naya sehabat gue kan, bukan setan yang nginap di tubuh sahabat gue jangan bilang ia” ucap Nara menatap was was pada Naya
“ ya kali ar, ini gue Naya sahabat lo. Lo tenang aja” gerutu Naya tak terima
“ ohh syukurlah. Tapi serius ay lo aneh bangat tau. Nggak jelas pokoknya” ucap Nara serius sembari menarik kursinya berdepanan dengan Naya
“ aneh gimana, orang gue normal normal aja. Gue hanya lagi pengen aja meluk meluk lo manja manja gitu lo kan ceritanya bentar lagi nikah nih kedepannya kita pasti tidak akan terlaru sering ketemuan gini” ucap Naya menyendokkan nasi kepiringnya dan Nara
“ kenapa nggak bisa, orang gue nggak akan berubah.” Kata nara mengambil lauknya
“ ya pastilah, orang status lo udah berubah juga. Lo pasti akan punya kesibukan sendiri setelahnya, mengurus anak dan suami lo, temenin suami lo ngantor, bulan madu, jajan jalan sama keluarga kecil lo ya pastinya kita tidak akan seperti saat kita sama sama singel seperti sekarang walau status sahabattan kita masih sama” terang Naya melihat Nara
__ADS_1
“ lo ahhhah lo malah buat gue sedih tau. Gue mau kita tetap kayak yang sekarang tau jangan berubah atau lebih parahnya menjadi asing, gue gak tau akan jalani hidup gue tanpa lo” ucap Nara menggenggam tangan Naya yang ada di atas meja
“ haha, ya gue nggak akan berubah kok. Gue akan selalu ada buat lo walau status lo dah beda sekali pun. Lo bisa kapan pun datang ke gue, gue akan selalu menjadi pendengar terbaik buat lo. Tenang aja” ucap Naya tersenyum “ udah lo jangan pasang wajah cemberut lo entar si om duda dingin lo itu pelototin gue karna buat calon istrinya ini mau nangis” tambah Naya terkekeh
“ lo mah, kurang asem deh. Gue mau nangis tau” ucap Nara memukul tangan Naya yang tadi ia genggam
“ entarran aja nangisnya sekarang makan, keburu om ansel datang jemput kita” ucap Naya menunjuk makanan
“ ia, lo cepetin” ucap Nara
“ sialan lo, gue dah makan nih lo belum loh nona” kesal Naya
“ hahaha, santai bosku”
***
“ selamat pagi daddy, opa, oma” ucap Queen riang sembari berjalan menuju kursi biasanya ia makan
“ pagi cucuku sayang” ucap para orang dewasa itu dengan serempak
“ ya udah, kita langsung sarapan aja yah” ucap oma yang langsung dengan sikap menyendokki nasi kepiring papa Juno, Ansel, Queen dan terakhir baru dirinya
“ sayang mau apa lauknya?” tanya Ansel menatap Queen lembut
“ ikan aja dad” jawab Queen lesu
“ kok nggak semangat gitu, kenapa sayang?” tanya Ansel mengelus kepala Queen
“ daddy, apa daddy tau ini hari apa?” tanya Queen menatap Ansel
__ADS_1
“ rabu kan.” Jawab Ansel cepat sembari menaikkan salah satu alisnya
“ bukan itu ya loh dad, maksud Queen itu, hari ini kita memperingati apa?” ucap Queen sedikit kesal
“ emang harusnya kita memperingati apa, kelender nggak ada yang merah kok hari ini sayang” jawab Ansel
“ ia benar, kelender nggak merah hari ini tandanya nggak ada hari besar” ucap oma Anita di angguki oleh papa Juno
“ bukan itu ihhh, nggak tau deh Queen kesal.” Ucap Queen akhirnya sembari memakan makanannya dengan cepat tanpa menatap ketiga orang yang ia sayangi itu. Sedangkan ketiga orang dewasa itu hanya saling pandang lalu tersenyum penuh arti tanpa ketahuan oleh Queen
“ Queen dah selesai, Queen deluan dad, opa, oma” ucap Queen pamit sembari menyalim tangan daddy Ansel, opa Juno, dan oma Anita
“ maaf ngak bisa antarin ya sayang. Pulang nanti daddy janji akan jemput” ucap Ansel mengecup kening Queen
“ its okay dad” jawab Queen menganggukkan kepala
“ hati hati di jalan sayang, belajar yang rajinnya” ucap mama Anita
“ ia oma” jawab Queen lalu berlalu dari meja makan dengan menyandang tas ranselnya. Walaupun Queen sedang kesal tapi Queen tetap berpamitan dengan cara yang sopan, karena ia sudah di ajarkan sejak ia kecil akan tata krama.
“ ma, pa Ansel udah siap. Ansel mau jemput Nara dan sahabatnya dulu kalau begitu” ucap Ansel berpamitan
“ ohh Naya ya?” tanya mama Anita memastikan
“ ehh kok mama bisa tau?” tanya Ansel bingung sebab Ansel belum pernah bercerita tentang Naya pada orangtuanya
“ kami sudah pernah bertemu. Kami berbincang bincang dan disanalah kami juga bertemu dengan Nara pertama kalinya, mereka berdua sangatlah menyenangkan saat diajak berkomunikasi.” Jawab mama Anita
“ ohh, ya udah ma kalau begitu Ansel pamit” ucap Ansel lalu berlalu dari sana meninggalkan papa Juno dan mama Anita
__ADS_1
“ papa gak ngantorkan?” tanya mama Anita. Ya walaupun perusahaan keluarga mereka sudah di serahkan pada Ansel tapi papa Juno kerap kali mengunjungi perusahaan untuk memeriksa kenerja semuanya termasuk kenerja Ansel. Papa Juno juga mengurus salah satu cabang perusahaannya yang ada di kota itu juga.
“ nggaklah ma, kan kita mau buat kejutan sama cucu kita. Udah sekarang kita dekorasi taman aja sembari menunggu ansel dan yang lain. kita memmompa balon balon aja yuk ma” ucap papa Juno menarik tangan mama Anita sedangkan ruangan makan akan di bersihkan oleh para maid.