
“ ahhh..”
Brak..
Prak..
Prak...
Suara teriakan dan pecahan kaca silih berganti terdengar di dalam kamar apartemen pribadi Gisel. Ia kesal, marah dan tak terima melihat vidio pernikahan Ansel yang tersebar di internet dan di tayangkan di tv, dan yang lebih membuat Gisel marah juga karena vidio pernikahan itu disebarkan sehari setelah pernikahan Ansel selesai yang mana berarti semalam lah acara resepsi pernikahan Ansel berlangsung yang mana hal itu membuat Gisel tidak dapat menghancurkan pesta itu.
“ nggak an, nggak. Kamu hanya dapat aku miliki tidak dengan yang lain. dasar perempuan ****** berani beraninya kau merebut milikku” marah Gisel lalu merobek kasar foto Nara yang ia dapatkan, matanya mengkilat penuh emosi menatap tajam lembaran foto yang sudah tak berbentuk lagi.
Prak..
Prak..
“ hahaha, jika aku tak dapat memilikimu maka tidak ada seorang pun yang dapat memilikimu juga termasuk manusia udik ini. Hhahaa” ucap Gisel sembari tertawa dengan keras. Ia sudah persis seperti orang gangguan kejiwaan yang terkadang tertawa dan sedetik lagi akan menangis tersedu sedu.
Tidak berbeda jauh dengan Gisel keluarga paman Nara juga tanpak kesal melihat vidio pernikahan Nara dan Ansel. Mereka mengutuk Nara yang tak mengundang mereka.
“ kita harus menemui Nara bagaimana pun caranya tapi tanpa sepengetahuan Ansel. Kita harus menggertak anak itu agar ia mau mengenalkan kita pada suaminya itu, karna pastinya kita akan kecipratan kekayaan mereka karena kita adalah keluarga satu satunya yang di miliki Nara saat ini. Enak saja anak itu hanya ingin senang sendiri” kata Keenan dengan seenak jidatnya
“ benar bangat pa, kita nggak boleh berdiam diri saja dan membiarkan anak itu tidur dengan nyaman bahkan jauh lebih nyaman dari tempat ini” ucap Vira yang juga kesal
“ tapi ma, pa bagaimana bila Nara sudah menceritakan semua perilaku kita pada suaminya itu?” tanya Lea yang khawatir semua yang sudah di rampas orangtuanya akan di ambil kembali oleh Nara di saat Nara sekarang sudah memiliki seseorang yang jauh lebih berpengaruh dari pada mereka
“ nggak mungkin. Dia hanyalah gadis lugu dan pendiam, papa tau dia tak terbuka pada orang lain dan lebih memilih memendam perasaannya. Dan dapat di pastikan kelakuan kita padanya belum di ketahui siapapun dan jika nanti kita sudah bertemu dengannya kita bisa lebih menekannya agar semua itu tidak bocor” terang Keenan tenang
“ ku harap papa benar” jawab Lea yang kurang yakin sebab melihat sikap Nara beberapa waktu lalu yang sudah sangat berbeda. Keluarga paman Nara tidak mengetahui bahwa Nara memiliki seorang sahabat sebab sebelumnya mereka tinggal di luar kota yang tak bisa memantau orang orang yang berada di sekitar keluarga Nara.
“ tak perlu mengkhwatirkan apapun sayang. Papa yakin dengan pengamatan papa” ucap Keenan percaya diri dan hanya dibalas anggukan kepala dari Vira dan Lea.
*
*
__ADS_1
Cup..
Cup..
“ emm..., by ihh” ucap Nara menggaliat mendorong wajah Ansel yang terus menciuminya
“ bangun sayang, sudah siang” kata Ansel menatap geli sang istri yang masih menggelut dalam selimut bahkan saat ini Nara makin menenggelamkan tubuhnya ke dalam balutan selimut tebal mereka
“ sayang bangun” ucap Ansel lagi sembari terkikik menurunkan selimut yang menutupi kepala Nara, ia geli sendiri menatap posisi tidur Nara yang seperti ulat
“ lima menit lagi by, ngantukkkk” kata Nara merengek di akhir
“ ini sudah jam setengah 12 sayang. Nggak pagi lagi. Ayo bangun kamu harus makan” kata Ansel mendudukkan Nara dengan mengangkat Nara dan selimutnya agar tubuh bagian atas istrinya itu tak terekspor
“ ihhhh, by” rengek Nara menggosok gosok matanya
“ jangan di gosok begitu entar merah” ucap Ansel menurunkan tangan Nara dengan begitu perhatian
“ aku masih ngantuk by. Ini juga karna kamu tau, kamu janjinya sekali sekali tau taunya sampai 3 subuh baru siap” ucap Nara kesal memukul tangan Ansel yang melingkar di pinggangnya
“ kelepasan kelepasan” tiru Nara dengan di menye menyekan
“ emm” ucap Ansel mencium tengkuk leher Nara yang cerewet
“ ihh jangan di ciumi by. Geli tau, tadi banguninnya karena agar aku makan kan bukan kamu yang mau makan aku” marah Nara cemberut
“ ahh, ia ia sayang. Ya sudah kamu mandi yuk” ucap Ansel lalu tanpa meminta persetujuan Nara, ia menggendong Nara dengan membuang selimut tebal yang sebelumnya menutup tubuh indah Nara yang mana membuat tubuh Nara saat ini menjadi terekspor. Nara yang malu hanya bisa memeluk Ansel yang mana membuat Ansel menjadi panas dingin, tapi Ansel berusaha membersihkan pikiran pikiran buruk dan sesatnya dengan hal hal positif yang masih tersimpan di otaknya.
Ia menurunkan Nara dengan lembut ke dalam bath room yang sudah ia isi dengan air hangat sebelumnya. Ansel memandikan Nara dengan begitu lembut tanpa ada drama drama kegiatan mereka tadi malam. Setelah selesai memandikan Nara Ansel menggendong Nara dalam balutan handuk menuju walk in closet memilihkan gaun simple untuk Nara gunakan setelahnya Ansel pun tak lupa untuk mengeringkan rambut panjang Nara.
“ emm, istriku sudah cantik” ucap Ansel menatap puas pekerjaannya
“ makasih suamiku” jawab Nara menghadiahkan Ansel sebuah kecupan sayang di pipinya
Cup..
__ADS_1
“ ini belum, ini juga, sama ini juga” ucap Ansel yang malah ngelunjak sembari menunjuk pipi sebelah kanannya, kening dan tak lupa bibir.
“ ihh malah ngelunjak nih mas suami” gerutu Nara tapi Ansel hanya cuek bebek saja.
Cup..
Cup..
Cup..
“ udah puas kan” kata Nara setelah menuruti ucapan Ansel
“ sebenarnya sih belum yang, tapi nggak apalah nanti lagi kita lanjut, sekarang kita harus makan” ucap Ansel
Mereka pun keluar dari kamar mereka menuju restoran yang tersedia di hotel itu, memesan makanan lalu makan dengan lahap apalagi Nara yang sudah benar benar lapar karena melewatkan sarapannya. Dan Ansel dengan perhatiannya mengusap sekitar bibir Nara bila terdapat noda saus atau nasi yang tertinggal dan karena perhatian Ansel membuat Nara menjadi salting dengan pipi merona.
*
*
“ oma, daddy dan mama kok lama sih pulangnya. Ini bahkan sudah hampir sore” ucap Queen cemberut ia sudah sedari sebelum makan siang menunggu ayah dan ibunya pulang dari hotel tapi hingga sore batang hidung kedua orangtuanya itu bahkan belum terlihat mataya bahkan sudah berkaca kaca karena berfikir sang daddy kembali berbohong, ia sudah tak kepalang kesalnya pada sang daddy.
“ mungkin sebentar lagi sayang. Daddy dan mama mungkin sedang di jalan” terang mama anita mengelus kepala sang cucu dengan sayang
“ apa sedari tadi mereka masih berada di jalan oma? Aku sudah menunggu daddy dan mama sedari tadi loh” ucap Queen kesal
“ daddy pasti berbohong” ucap Queen kesal
“ siapa bilang daddy berbohong, orang daddy dan mama sudah berada di sini” suara Ansel terdengar memasuki rumah bersama dengan Nara yang memegang sebuah kotak donat.
“ mama..” panggil Queen langsung melompat berlari menuju sang mama
Hap...
“ begitu senangnya putri mama ini” ucap Nara mengecup pipi Queen kiri kanan
__ADS_1