
“ astaga, ada apa kok pada berjejer. Ada antiran sambako kah?” tanya Naya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan wajah bingungnya
“ astaga sayang, kamu melupakan hari spesial sahabatmu kah” heboh mama Anita yang baru saja datang sebenarnya dia sudah sedari tadi di sana ia bahkan ikut mengetok pintu kamar Naya dan Nara karena tak kunjung di buka akhirnya ia berinisiatif ingin meminta kunci cadangan kepada repsesionis
“ hari spesial? Emang Nara mau ngapain ma. Ulangta...,aaa Nara”
“ Nara lo bangun kampret, kawin anjir kawin” ucap Naya heboh dengan menggoncang goncang tubuh Nara yang masih terlelap sedangkan mama Anita dan yang lain langsung menutup kuping mereka karena suara menggelora milik Naya
“ astaga, anak gadis gue suaranya kayak toa” ucap mama Anita mengelus dadanya lalu masuk di ikuti para perias
“ Nara bangun gak lo, gue siram nih” kesal Naya mengguncang tubuh Nara
“ apa sih ay?” lirih Nara menggeliat bak ulat
“ apa apa, bangun jir lo kawin hari ini sialan” ucap Naya menggebu gebu perlu di ketahui kesabaran Naya hanya setipis tisu di bagi 2.
“ kawin? Aaa anjir gue lupa” ucap Nara yang langsung melompat
“ astaga sayang, kenapa kalian berdua hobi bangat teriak teriak” ucap mama Anita mengelus kembali dadanya
“ mama? Sorry ma, Nara kelupaan” ucap Nara tak enak hati “ mama Nara butuh lobang semut, maluuuu” batin Nara menangis pipinya bahkan memerah karena malu, bagaimana tak malu bila semua orang saat ini sedang menatapnya dengan intens, yang hanya mengenakan pakaian tidur dengan celana hanya menutupi setengah pahanya jangan lupakan rambut singanya, dan astaga apakah ada ngences di sekitar bibirnya tapi tanpaknya itu tidak ada terjadi karena saat ia meraba sekitar bibirnya ia tak mendapati air air surga miliknya.
“ sekarang kamu siap siap gih sayang baru di rias” ucap mama Anita
Nara langsung saja masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka sekalian mandi. Setelahnya Nara langsung saja di rias oleh para MUA yang sudah mama Anita siapkan, MUA pilihan mama Anita bukanlah MUA biasa melainkan MUA yang biasa untuk memakeuppi para artis.
“ kau sangat cantik sayang” puji mama Anita menatap takjub hasil tangan para MUA di wajah Nara
“ makasih ma” balas Nara tersenyum malu
“ gue sampai pangling ar, benar benar cantik” puji Naya dengan mata berkaca kaca
“ lo kenapa?” tanya Nara memegang tangan Naya
“ no, gue... sorry” ucap Naya memutar tubuhnya untuk mengelap air mata yang lancang keluar
“ ay?” panggil Nara lirih
__ADS_1
“ emm, nggak papa kok. Gue bahagia akhirnya setelah sekian lama lo akhirnya bisa sampai di titik ini, gue harap ini merupakan jalan yang akan membawa kebahagiaan buat lo. Sorry, airmata gue suka lancang memang, tapi ini air mata bahagia, gue bahagia.” Ucap Naya memegang bahu Nara
“ makasih ay, gue malah mau ikut nangis emm” ucap Nara mengipas ngipas matanya yang tanpak sudah mengembun
“ jangan nangis jir, make up lo mahal” canda Naya tapi ia sama dengan Nara matanya berkaca kaca
“ kampret lo” jawab Nara lalu memeluk Naya dengan erat dan di balas tidak kalah eratnya oleh Naya, orang orang yang menyaksikan momen sweet mereka juga pada ikut terbawa suasana
“ makasih Naya, lo sudah bagaikan kakak buat gue. Gue harap kebahagian yang saat ini gue rasakan dapat secepatnya lo rasakan” batin Nara memeluk Naya
“ gue bahagia di saat lo bahagia Nara, lo adalah adek manis gue. Bahagia selalu walau suatu saat nanti gue sudah tak ada di samping lo lagi” batin Naya mempererat pelukan mereka
“ ohh anak anak mama, kalian berdua sangat cantik” ucap mama Anita memeluk kedua gadis itu
“ sekarang kita keluar, sebentar lagi acara pemberkatan akan segera di laksanakan” ucap mama Anita menggenggam tangan Nara dan Naya
Mereka pun turun menuju lantai di mana acara pemberkatan dan acara resepsi Nara dan Ansel akan di lakukan. Nara di suruh masuk ke dalam ruangan yang sudah di siapkan sebelum akan keluar nantinya setelah di panggil oleh pembawa acara, Naya selalu ada di samping Nara sedangkan mama Anita sudah pergi ke tempat di mana Ansel berada.
***
“ kami persilahkan untuk pengantin wAnita untuk memasuki ruangan” ucap lantang pembawa acara
“ gue nervers ay” lirih Nara menatap Naya
“ ada gue percaya sama gue. Lo pasti bisa” ucap Naya menyakinkan Nara
Mereka pun jalan keluar dan menuju altar yang sudah terdapat Ansel dengan jas yang menambah kewibawaannya. Pandangan Ansel tidak pernah putus dari Nara yang berjalan mendekat kearahnya. Ansel di buat tidak bisa berkata kata melihat penampilan memukau Nara hari ini, gaun indah dan seksi yang melekat pada Nara benar benar indah hingga membuat kecantikan Nara semakin terpancar.
“ om, saya titip saudari saya pada anda. Cintai ia, sayangi ia jangan pernah melukainya atau pun menyia nyiakan nya. Jika kelak om sudah bosan terhadap saudari saya pulangkan ia pada saya. Berikan ia kebahagiaan yang nyata bukan kebahagiaan yang semu” ucap Naya menyerahkan tangan Nara pada genggaman tangan Ansel
“ ya saya akan berjanji akan mencintai dan menyayangi saudarimu” ucap Ansel menyakinkan
Setelahnya Naya berlalu dari sana menuju kursi miliknya di samping nenek dan keluarga pamannya. Sedangkan Ansel dan Naya berjalan menuju pastor yang sudah berdiri di sana untuk memberkati mereka.
“ dapat kita mulai” ucap pastor itu
“ ya” jawab Nara dan Ansel serempak
__ADS_1
Setelah mendengarkan jawaban kedua mempelai, pastor itu pun memulai acara pemberkataan untuk Nara dan Ansel hingga pada saat momen momen pastor yang akan mengajukan pertanyaan pertanyaan kepada kedua pengantin.
“ apakah saudara bersedia meresmikan perkawinan ini sungguh dengan ikhlas hati?” Tanya sang pastor ke pada Ansel
“ ya, saya bersedia” jawab Ansel tegas dan mantap tanpa kegugupan
“ bersediakah saudara mengasihi dan menghormati istri saudara sepanjang hidup?”
“ ya, saya bersedia”
“ bersediakah saudara menjadi bapa yang baik bagi anak anak yang akan di percayakan Tuhan kepada saudara, dan mendidik mereka menjadi umat kristiani yang setia?”
“ ya, saya bersedia” Ansel menjawab semua pertanyaan sang pastor dengan bersungguh sungguh, dia menggenggam erat tangan Nara dan tersenyum tulus pada wAnitanya itu
Setelah Ansel selesai sekarang gantian Nara yang akan di Tanya oleh sang pastor, tangan Nara yang semula sudah dingin bertambah dingin saja. Tetapi Ansel selalu menggenggam erat tangan Nara membuat kegugupan Nara sedikit berkurang, ia melempar senyum indahnya pada pria pemilik hatinya.
“ apakah saudari bersedia meresmikan perkawinan ini sungguh dengan ikhlas hati?”
“ ya, saya bersedia” ucap Nara dengan lantang sembari terus menatap mata Ansel yang selalu tersenyum di depannya
“ bersediakah saudari mengasihi dan menghormati suami saudari sepanjang hidup?”
“ ya, saya bersedia”
“ bersediakah saudari menjadi ibu yang baik bagi anak anak yang akan di percayakan Tuhan kepada saudari, dan mendidik mereka menjadi orang kristiani yang setia?”
“ya, saya bersedia”
Semua orang Nampak lega dan mengucap syukur akan kelancaran pernikahan Ansel dan Nara, bahkan mama Anita dan papa Juno saling berpelukan tidak lupa si gadis mungil mereka yang memeluk oma dan opa nya, Queen sangat senang akhirnya ia bisa memiliki keluarga yang lengkap seperti impiannya selama ini.
“ apa yang di persatukan oleh TUHAN, tidak bisa dipisahkan oleh manusia” pastor berucap menutup kata katanya.
Nara tersenyum menatap Ansel, pria yang sudah membuat hatinya bergetar bahkan dengan lancangnya mengisi ruang hatinya sampai tak bersisah. Nara menangis bahagia di saat Ansel sudah memasukkan sebuah cincin ke jari manisnya.
Setelahnya gentian Nara yang memasangkan sebuah cincin ke jari manis Ansel lalu mencium telapak tangan suaminya itu dan di balas Ansel dengan mengecup keningnya cukup lama. Setelah Ansel menarik bibirnya dari kening Nara, Ansel menatap dalam dan penuh cinta istrinya tersebut, memegang wajah cantik itu lalu menautkan bibir mereka, Ansel mencium Nara dengan sangat lembut penuh dengan cinta, Nara juga tampak membalas ciuman suaminya itu, ia lega suaminyalah yang mengambil ciuman pertamanya.
Ansel melepaskan ciumannya ia masih mengingat banyak orang yang sedang melihat mereka bukan sedang berduakan dan dapat melakukan apapun. Wajah Nara memerah bak tomat matang, ia tersenyum malu pada suaminya dan kembali terdiam saat sang suami membisikkan sesuatu ketelinganya.
__ADS_1
“ kau adalah milikku selamanya sayang, tersenyumlah jangan pernah menangis lagi. Aku ada untukmu sampai kapan pun” bisik Ansel mesra