
Setelah acara ulang tahun Queen selesai, Nara dan Naya membantu para maid membereskan taman. Sedangkan Queen sudah tertidur sebab kecapekan karena bermain dengan anak anak panti. Setelah selesai membereskan, mereka pun mandi sebab mama Anita meminta mereka berdua untuk menginap malam ini agar mereka bisa membahas mengenai persiapan pernikahan Nara dan Ansel.
Selesai mandi dan berpakaian Nara dan Naya keluar dari kamar mereka dan berjalan menuju lift untuk turun kelantai bawah. Mereka berjalan bergandengan menuju ruang tamu, dan duduk sembari bermain hp menunggu yang lain siap membersihkan diri.
“ ehh ar, lo kan mau nikah nih. Keluarga paman lo bakal lo undang gak?” tanya Naya memandang Nara sembari bersandar, ia tiba tiba mengingat keluarga paman Nara yang tak tau malu itu ia penasaran apakah sahabatnya ini akan mengundang mereka.
“ enggak. Terserah orang mau bilang apa ya ke gue, gue gak akan ngundang orang itu ya karena mereka juga nggak pernah anggap gue sebagai keluarga mereka. Mereka nggak pernah berbuat baik sama gue dan kedua orangtua gue selama hidup beliau, mereka juga nggak punya sedikit pun empati untuk kami. Perbuatan baik mereka ke kami tuh nggak ada tapi kalau perbuatan buruk banyak bangat. semua kejulitan mereka, kata kata menyakitkan mereka, bahkan hinaan hinaan mereka masih gue ingat saat kami sekeluarga datang bertamu kerumah mereka saat gue masih usia 9 tahun. Saat gue kehilangan orangtua gue mereka bukannya menenangkan gue atau menguatkan gue bukan ay, bukan mereka dengan teganya ngusir gue dari rumah yang susah payah di bangun bokap dan nyokap gue bahkan di saat tanah kuburan kedua orangtua gue belum kering ay.” Ucap Nara dengan mata berkaca kaca
“ mereka terlalu jahat untuk dikatakan sebagai keluarga” tambah Nara
“ hei tenang, sekarang ada aku di sampingmu sayang. Jangan menangis kau membuat hatiku sakit” kata Ansel memeluk Nara dari belakang entah dari kapan Ansel dan kedua orangtuanya di tambah David sudah berada di ruang tamu itu
“ emm, aku nggak nangis kok. Hanya terlalu sakit saat mengingat momen itu” ucap Nara menenangkan sembari mengelus Ansel dan Naya sebab Naya menggenggam salah satu tangannya dan Ansel yang memeluknya dari belakang
“ sorry membuatmu menjadi sedih” ucap Naya menyesal
“ its okay ay, itu bukanlah masalah” ucap Nara mengangguk
“ sekarang kami juga orangtua kamu Nara, kamu bisa datang kapan pun ke mama dan papa saat kamu digangguin atau ingin menangis, datanglah ke mama. Tak ada orangtua yang senang melihat putrinya menangis termasuk kami” ucap mama Anita menarik Nara masuk ke dalam pelukannya
__ADS_1
“ makasih mama” jawab Nara memeluk erat mama Anita, ia ingin menangis saat kembali bisa merasakan pelukan hangat seorang ibu setelah sekian lama tapi ia menahannya sebab saat ia menangis orang orang yang menyayanginya akan merasa terluka.
“ Naya juga, jangan sungkan pada mama. Karena sekarang kami juga akan menjadi orangtua kamu yah” ucap mama Anita mengelus kepala Naya dan menarik Naya untuk bergabung pada ia dan nara untuk berpelukan bersama
“ makasih mama” lirih Naya
“ makasih ara telah menjadikanku sahabatmu, karenamu aku dapat merasakan hangatnya pelukan seorang ibu. Sekarang aku lega, karena kau telah menemukan keluarga yang benar benar menyayangimu. Jika kelak aku pergi setidaknya aku tak perlu lagi khawatir siapa yang akan menjagamu” batin Naya menatap Nara dan mempererat pelukannya
“ udah sekarang kita bahas mengenai keperluan keperluan pernikahan kalian” ucap papa Juno mengeluarkan suaranya
“ ihh papa ini ganggu orang lagi pelukan bak teletabis aja kerjaannya” omel mama Anita melepaskan pelukannya pada Nara dan Naya, sedangkan kedua gaids manis itu hanya tersenyum saja
“ naya setujuh ma asal itu membuat Nara bahagia. Aku hanya meminta kepada om Ansel untuk selalu menyayangi dan setia pada sahabat saya. Jangan pernah menyakitinya atau membentaknya, jika sahabat saya ada salah maka nasehatilah ia dengan pelan, hatinya terlampau lembut untuk sebuah kekerasan.” Ucap Naya
“ kamu tenanglah, saya berjanji akan menjaga, menyayangi, dan setia hanya pada sahabatmu” janji Ansel bersungguh sungguh
“ terima kasih om. Mendengarkan penuturan om membuatku merasa lega menyerahkan sahabatku pada om. Dia selama ini sudah bekerja keras maka bahagiakanlah ia setelah menjadi istri om jangan lagi membuatnya bekerja keras seperti selama ini” tambah naya menatap serius Ansel
“ pasti” ucap Ansel yakin
__ADS_1
“ jadi sekarang kita perlu menetapkan tanggal pernikahan kalian. Kalian ingin pernikahan kalian di seleggarahan pada tanggal apa?” tanya papa Juno
“ aku belum menetapkannya pa, tapi aku ingin pernikahan ini dapat di langsanakan pada waktu dekat saja, bukankah lebih cepat lebih baik” kata Ansel
“ bener bener. Bagaimana kalau 2 minggu lagi, apa tak masalah?” tanya papa Juno setelah menghitung hitung perkiraan mereka untuk mempersiapkan pernikahan Ansel agar sempurna
“ Ansel setuju pa, bagaimana denganmu sayang. Apa tak masalah bila pernikahan kita akan berangsung pada 2 lagi?” tanya Ansel memastikan
“ aku tak keberatan.” Ucap Nara
“ tanggal pernikahan sudah di tentukan sekarang kita pilih pilih kartu undangan dulu kalau gitu” ucap mama Anita “ ini mama udah ada beberapa reperensi, coba kalian lihat ada gak yang cocok” tambah mama Anita menunjukkan hp miliknya
“ ini bagus ma, nara suka dia simpel tapi berkelas sangat elegan” ucap Nara menunjuk salah satu contoh kartu undangan di galeri hp mama Anita
“ Ansel juga setuju ma” tambah Ansel menimpali
“ ya udah karena kalian sudah setuju biar ini menjadi urusan mama untuk mengurusnya. Tugas kalian hanya perlu besok pergi kebutik tante Maya untuk fiting baju pengantin” ucap mama Anita sembari menyimpan hpnya
Mereka pun berbincang bincang banyak hal untuk persiapan pernikahan Ansel dan Nara. Naya dan David juga banyak memberikan saran saran yang bagus untuk keberhasilan pesta pernikahan itu.
__ADS_1