Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Entah ...


__ADS_3

(Hay para readers tercinta,, maaf ya author update santai sehari 1 bab, karna kesibukan di dunia nyata. Jadi harap maklum, tapi diusahain bisa lebih dari 1 bab sehari.)


"Om ...." Lirih Aisyah memanggil Hassan.


Perlahan, Hassan membuka matanya mendengar panggilan Aisyah. Tubuhnya menggeliat, dan kembali menarik selimut yang bergeser dari tubuhnya.


"Ada apa?" tanya pria itu.


"Ini sudah pagi, Om," cemas Aisyah.


"Kamu ingin pulang ke rumah?" tanya Hassan santai.


Aisyah mengangguk ....


"Tidak perlu panik begitu. Kamu di rumah tidak ada kegiatan, kan? Juga tidak sedang kuliah?" ujar Hassan.


Aisyah masih diam, entah apa yang ada dalam pikiran gadis tersebut.


Setelah membersihkan diri masing-masing, kedua insan itupun kini sudah berada di dalam mobil. Hassan menatap ke arah jendela mobil yang mengembun. Bayangan wajah Hanum juga tiba-tiba melintas dengan begitu saja. Hassan bukan hanya menyakiti satu wanita, tetapi dua wanita dalam waktu yang sama. Hanya saja bedanya, Hanum tidak tahu akan semua ini, dan Hassan pun telah membayar mahal kepada Aisyah, atas apa yang dia lakukan.


Hassan kembali fokus ke kemudi mobilnya tanpa satu patah kata pun. Sampai di dekat rumah Aisyah, Hassan menepikan mobilnya, lalu menatap Aisyah yang hanya diam sambil menatap ke depan. Tampaknya, Aisyah belum tersadar jika mobil Hassan sudah terparkir di dekat rumahnya.


"Syah," panggil Hassan.


Aisyah masih diam. Tidak ada rasa dingin ataupun rasa kantuk. Yang ada hanya perasaan yang tidak menentu.


"Syah .…" Hassan menepuk pundak Aisyah.


Seketika itu pula, Aisyah tersadar dari lamunannya. Dia mulai melihat sekelilingnya dan perlahan turun dari mobil Hassan, tanpa satu patah kata pun.


Hassan menatap Aisyah dari dalam mobil, hingga gadis itu menghilang dari pandangan.


'Kenapa akhir-akhir ini, aku selalu memikirkan dia?' batin Hassan.


Pria itu berusaha menepis perasaannya, dia pun menggerakkan stang bundarnya perlahan. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.


****


Sampai di rumah, Aisyah segera masuk ke kamarnya, gadis itu merasakan seluruh tubuhnya sakit dan pegal. Dia pun merebahkan tubuhnya di atas kasur. Hari itu, Aisyah ingin bermalas-malasan.


Gadis itu menatap langit-langit kamar ....


'Kenapa aku jadi memikirkan Om Hassan, ya? Apa aku ... ah, nggak mungkin. Mana mungkin aku jatuh cinta dengan orang setampan dan sekaya dia, benar-benar mustahil. Dih, Aisyah, kamu mimpi apa sih? Jangan tinggi-tinggi kalau mimpi, nanti jatuh, sakit deh.' Aisyah meracau dalam hati.


Kilasan adegan semalam, membuat pipinya memerah.


****


Waktu telah menujukkan pukul lima sore, di dalam kamarnya, Aisyah menggeliat. Perlahan dia mengerjapkan matanya. Kemudian gadis itu bangun, dan duduk di bibir ranjang.

__ADS_1


Tiba-tiba ponselnya berdering, Aisyah pun mengambil benda pipih tersebut, untuk melihat siapa yang sudah mengusik waktu santainya.


"Nomer siapa ini?" Aisyah mengerutkan keningnya, kemudian menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Halo, selamat sore ... maaf, ini dengan siapa, ya?" Aisyah memulai pembicaraannya.


[Selamat Sore, apa benar ini dengan Nona Aisyah?]


Terdengar sebuah suara di seberang sana.


"Benar sekali," sahut Aisyah.


[Maaf, saya Sonny, dokter yang menangani operasi ibu Sri.]


Deg!


Mendadak, perasaan Aisyah menjadi tidak menentu.


"Oh, dokter Sonny ... ada apa ya, Dok?" tanya Aisyah berusaha untuk tenang.


[Begini, Nona ... kondisi ibu Sri sudah membaik, dia sudah melewati masa kritisnya. Dan beliau juga sudah sadar.]


Aisyah merasa lega, ketika dokter itu memaparkan kondisi ibunya saat itu.


"Benarkah, dok?" Aisyah seakan tak percaya.


["Maaf, sebaiknya Nona datang kesini sekarang. Nanti saya jelaskan kondisi ibu Sri, karna kalau lewat telpon, sangat terbatas pembicaraan kita.]


Tut ....


Panggilan pun berakhir. Raut wajah Aisyah berubah menjadi sumringah. Dia bergegas menuju ke kamar mandi, untuk menjalankan ritual mandinya. Tak lama, Aisyah telah berpenampilan rapi. Dia segera mengendarai sepeda motornya.


Di sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya gadis itu tersenyum. Dia sudah tidak sabar, ingin bertemu dengan ibunya.


Sampai di Rumah Sakit, Aisyah segera melangkah masuk, dan langsung menemui dokter Sonny. Melihat kedatangan Aisyah, dokter Sonny tersenyum, kemudian menyuruh Aisyah duduk di tempat yang telah tersedia.


"Dok, bagaimana keadaan ibu saya?" Aisyah bertanya sekali lagi, tampaknya gadis itu sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar mengenai ibunya.


"Begini, Nona ... kondisi ibu anda sudah membaik, tapi beberapa anggota tubuhnya, sepertinya tidak bisa digerakkan. Mungkin karna lama sekali ibu anda tidak aktif bergerak."


Wajah Aisyah menegang seketika, mendengar penuturan dari dokter itu.


"Tapi tenang saja, nanti saya akan berusaha supaya kondisi ibu Sri kembali pulih seperti semula," lanjut dokter Sonny.


"Tapi, beneran tidak ada masalah serius mengenai anggota tubuh ibu saya, Dok?" Aisyah mendadak cemas.


"Nona tenang saja, makannya saya suruh anda datang, supaya saya bisa menjelaskan secara detail," kata dokter Sonny.


"Terimakasih, Dok, tolong lakukan yang terbaik," ujar Aisyah.

__ADS_1


"Baik, Nona, dan saya minta maaf, sudah mengganggu waktu anda. Tapi, untuk sementara ibu Sri masih di ruang ICU, jadi anda belum bisa menjenguk. Besok, saya kabarin lagi," tutur dokter Sonny.


"Tidak apa-apa, Dok. Oh iya, Dokter tahu nomer saya dari mana?" ujar Aisyah.


Dokter Sonny pun tersenyum, "bukankah Nona pernah mengisi data rumah sakit, beserta nomor telpon Nona."


Aisyah mengingat kembali, mengenai data rumah sakit yang dia isi sewaktu mendaftarkan ibunya sebagai pasien. Gadis itu pun tersenyum kepada sang dokter.


"Ya sudah, Dok, saya permisi dulu," pamit Aisyah.


"Baik, besok saya hubungi lagi, mengenai perkembangan kondisi ibu Sri," ujar dokter Sonny.


Aisyah tersenyum dalam anggukannya, kemudian berlalu dari hadapan sang dokter. Dia melajukan sepeda motor maticnya perlahan.


'Syukur deh, ibu sudah sadar, semoga saja cepat membaik, dan segera pulang,' batin Aisyah sambil mengendarai sepeda motornya perlahan.


Sampai di rumah, saat Aisyah melangkah masuk, dia terkesiap melihat Zaenal bersama seorang wanita sedang duduk di ruang depan.


'siapa perempuan itu?' Aisyah bertanya dalam hati.


"Kakak?" panggil Aisyah ketika sudah berada di hadapan Zaenal.


"Zaenal pun menoleh ke arah Aisyah. "Ada apa?"


"Em, tidak apa-apa, Kak," ujar Aisyah.


"Kamu baru pulang kerja?" tanya Zaenal.


"Iya," dalih Aisyah.


"Oh iya, kenalin ini pacarku, Vina." Zaenal memperkenalkan wanita di sampingnya.


'pacar? Hem ... masih nganggur juga, sudah pacaran segala. Memang Kakak nggak tahu akibatnya, kalau pacarnya tahu dia nganggur,' batin Aisyah.


"Hei, malah bengong. Salaman!" ketus Zaenal.


"Eh, i-iya, Kak." Aisyah pun segera menyalami Vina.


Vina membalas jabat tangan Aisyah sambil tersenyum ramah.


"Ya sudah, kalian ngobrol saja dulu, aku ke kamar dulu," kata Aisyah.


"Eh, buatin minum," titah Zaenal.


"Iya," jawab Aisyah malas.


Aisyah pun berjalan ke dapur dan tak lama dia kembali lagi dengan segelas teh manis, dan meletakkannya di meja.


Zaenal menatap sinis ke arah gelas teh itu, kemudian dia beralih menatap Aisyah ....

__ADS_1


"Kok cuma satu? Buat aku mana?"


__ADS_2