Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Tetangga Nyinyir


__ADS_3

Keesokan hari, Aisyah pergi ke rumah sakit mengunjungi ibunya, namun dokter memberitahukan, bahwa tubuh Bu Sri masih lemah, dia belum sadarkan diri. Dokter pun menyarankan Aisyah untuk pulang terlebih dahulu.


Aisyah pun pulang ke rumahnya. Dia duduk termenung di atas sofa. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang ....


Tin ....


Aisyah tersentak mendengar sebuah klakson mobil. Dia pun beranjak dari duduknya, dan berjalan keluar rumah. Hassan sudah berdiri di ambang pintu.


"Mas?" sambut Aisyah.


Hassan tersenyum, dan segera melangkah masuk tanpa dipersilahkan terlebih dahulu.


"Bagaimana kondisi ibu kamu?" tanya Hassan seraya duduk di sofa.


Aisyah ikut duduk tak jauh dari Hassan. "Masih lemah, Mas. Dia belum sadarkan diri."


"Ya sudah, kamu yang sabar ya, semoga ibu kamu cepat sehat," kata Hassan berusaha menenangkan Aisyah.


"Iya, Mas. Em ... apakah anda tetap ingin menikahi saya secara siri?" tanya Aisyah takut-takut.


"Kenapa tidak? Saya sangat menginginkan anak itu. Dan saya tidak mungkin menikahi kamu secara sah, karna saya sudah punya istri, dan saya sangat mencintai istri saya."


Kata-kata Hassan yang terang-terangan, membuat hati Aisyah semakin teriris. Namun gadis itu tidak mampu berbuat apa-apa, selain hanya menangis dan bersedih.


"Kamu sudah makan?" tanya Hassan.


"Saya tidak doyan makan, selalu muntah kalau perut diisi," sahut Aisyah.


"Terus, kamu makan apa setiap harinya?" Hassan mengerutkan keningnya.


"Paling ngemil saja, sama minum jus," tutur Aisyah.


"Ya sudah, yang penting kamu jaga baik-baik kandungan kamu. Kalau sampai ada apa-apa, kamu harus mengganti rugi semuanya," ancam Hassan.


Aisyah menghela napas. "Baik, Mas, jangan khawatir."


"Besok minggu, dan setiap minggu, saya akan transfer kamu uang, untuk kebutuhan satu minggu. Tolong, nanti kamu kirimkan nomor rekening kamu," kata Hassan.


Aisyah pun mengangguk. "Apa Mas tidak kerja?"


"Saya minta ijin libur dengan alasan ada kepentingan keluarga, demi menyempatkan diri bertemu kamu," sahut Hassan.


Aisyah hanya mengangguk, dan tak banyak bicara.


Sekarang, temani saya sampai nanti malam. Saya sedang ingin berduaan denganmu," pinta Hassan.

__ADS_1


Aisyah menatap lekat wajah Hassan. "Kemana, Mas?"


"Ikutlah saja," kata Hassan.


'Huft, sebenarnya aku malas sekali, aku ingin ke rumah Tini. Tapi, kalau aku menolak, tahu sendiri akibatnya,' keluh Aisyah dalam hati.


Kemudian Aisyah dan Hassan berjalan keluar rumah.


"Oh, jadi itu, laki-laki hidung belang yang memberikan kekayaan sama Aisyah."


"Pastinya nggak gratis, dong. Dia harus tidur melayani laki-laki itu."


"Wah, harga dirinya rendah sekali."


"Jelas saja, secara dia memang sudah menjual harga dirinya."


"Aku sudah melarang anakku, untuk bergaul dengan Aisyah. Aku nggak mau, dia bawa dampak buruk buat anakku."


"Iya benar, aku nggak heran kalau Aisyah sekarang jadi kaya, punya uang banyak. Karna, uang yang dia dapat itu uang haram."


Begitulah suara-suara para tetangga, yang terdengar di telinga Aisyah dan Hassan. Mereka berdua saling berpandangan, kemudian Aisyah mengangkat kedua bahunya.


"Kamu tunggu sini, ya," kata Hassan kepada Aisyah kemudian pria itu berjalan menghampiri asal suara.


Namun Hassan terus saja berjalan, tidak menghiraukan ucapan Aisyah. Hassan melihat tiga orang wanita dengan usia masih terbilang muda sedang duduk bersama di depan sebuah rumah.


"Selamat siang, mbak-mbak. Maaf ya, saya bukan ingin membela Aisyah. Tapi, kehidupan dia itu bukan urusan kalian, kan dia tidak minta makan sama kalian, dia mau berbuat apapun, tidak merugikan kalian juga, kan? Kalau memang kalian tidak suka dengan keberadaannya, saya bisa membawa dia untuk meninggalkan tempat ini, dan saya akan mencarikan tempat tinggal untuk dia," tegas Hassan.


Ketiga wanita itu terdiam, tidak ada lagi yang berbicara sepatah katapun. Dan Hassan pun segera berlalu dari hadapan mereka.


Diam-diam, Aisyah mengagumi ketegasan Hassan. 'Andai dia suamiku, aku pasti sangat bahagia, mempunyai suami yang melindungi, tapi sayang ....'


Belum selesai Aisyah membatin, Hassan sudah berada di hadapan gadis itu. Pria itu merangkul pundak Aisyah, dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.


Deg!


Entah mengapa, tercipta gairah dalam diri Aisyah. Gadis itu seolah merasa nyaman berada di dekat Hassan, walaupun kenyataan mengatakan, bahwa Hassan adalah milik wanita lain.


Kini, keduanya sudah berada di dalam mobil. Hassan mengemudikan mobilnya perlahan. Namun kendaraan itu mendadak berhenti, karena ponsel Hassan berdering. Ada panggilan masuk dari sang ibu.


Hassan mengambil benda pipih yang dia taruh di jok mobil. Sebelum menerima panggilan, pria itu menyuruh Aisyah untuk tidak bersuara. Kemudian dia menerima panggilan tersebut.


"Halo, Mom," sapa Hassan.


[San, kapan kau akan memberiku cucu?]

__ADS_1


Balas suara di seberang sana yang merupakan ibunda dari Hassan.


"Sabar, Mom. Tunggulah beberapa bulan, Hanum sedang hamil saat ini." Hassan terpaksa berbohong.


[Benarkah? Ya sudah, satu minggu lagi, aku akan ke rumah mu, aku ingin ikut menjaga Hanum.]


Deg!


Hassan mendadak lemas, mendengar rencana sang ibu.


"Mom, tidak perlulah, kita kan sudah ada pembantu, dia bisa menjaga Hanum."


"Ya sudah, kalau usia kandungan Hanum sudah enam bulan, aku akan tinggal dengan kalian, dan kamu tidak bisa membantah lagi."


Tut ....


Magda, wanita yang merupakan ibunda Hassan memutuskan panggilan secara sepihak.


Hassan mengesah kasar .... "Huff, kenapa sih, harus ada Momy?"


"Kenapa, Mas?" Aisyah memberanikan diri untuk bertanya.


"Em, tidak ada apa-apa, ya sudah ayo kita lanjut lagi." Hassan enggan menceritakan masalahnya.


Aisyah pun diam, sedangkan Hassan kembali melajukan mobilnya. Kini mereka tiba di sebuah kafe.


"Ayo turun, kita makan dulu," ajak Hassan.


Pria itu berencana mengajak Aisyah ke sebuah diskotik. Hassan ingin agar Aisyah menemani dirinya minum. Namun karena seluruh diskotik masih tutup, Hassan mengajak gadis itu untuk makan terlebih dahulu, sambil mengulur waktu.


Aisyah duduk di tempat yang telah tersedia. Kemudian, Hassan memesan makanan tanpa menanyakan kepada Aisyah terlebih dahulu, apa yang akan dimakannya.


Tak lama, seorang pelayan datang membawa beberapa makanan junk food, dan meletakkan di atas meja.


"Ayo dimakan, ini ada kentang goreng, burger, sosis dan nugget. Saya semalam search google, makanan ini sangat bagus untuk perempuan yang sedang mengandung di usia awal," tutur Hassan.


"Anda baik sekali, tapi sayang, anda bukan suami saya sungguhan." Akhirnya Aisyah memberanikan diri untuk meluapkan isi hatinya.


Hassan menatap lekat wajah cantik Aisyah. "Ya, saya juga merasakan itu, kita bertemu di saat yang tidak tepat. Kamu kenal saya dengan status sudah beristri.


Tanpa sadar, netra Aisyah basah ....


Hassan yang tidak sengaja memperhatikan hal itu, pun mengerutkan keningnya.


"Hei, kamu menangis?"

__ADS_1


__ADS_2