Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Sebuah Keputusan


__ADS_3

Aisyah terus terdiam, dia sama sekali tidak menduga, bahwa pria yang sedang bersamanya, ternyata telah memberikan keputusan yang terasa berat bagi dirinya.


'Tuhan, aku harus gimana? Haruskah aku menerima tawaran Mas Hassan, itu artinya aku akan jadi istri kedua,' batin Aisyah.


"Kalau ayahmu sudah meninggal, kita bisa pakai wali hakim, walaupun hanya nikah siri. Sekarang aku akan ke rumah mu menemui ibu kamu. Aku akan berbicara dengan beliau," kata Hassan yang masih menunggu jawaban dari Aisyah.


Lamunan Aisyah buyar, dia akhirnya pasrah, saat itu dia hanya ingin ibunya sehat terus. Dia juga berharap ibunya bisa menerima dirinya yang hamil di luar nikah, dan kini harus dinikahi secara siri.


"Baiklah," lirih Aisyah, entah ke depannya akan seperti apa, asal Aisyah bisa bernapas lega karena setidaknya anaknya memiliki seorang ayah.


"Dan, mulai sekarang kamu tidak perlu bekerja lagi, kamu tinggallah di rumah kamu, setiap minggu aku pasti datang dan memberikan uang untuk kebutuhan kamu dan ibumu," lanjut Hassan.


Aisyah hanya mengangguk, dia sudah tidak mampu lagi berkata-kata. Sungguh tak pernah terpikirkan, nasib Aisyah akan menjadi seperti itu.


"Ya sudah, karna ini sudah malam, aku akan mengantarmu pulang," kata Hassan.


Lagi-lagi Aisyah hanya mengangguk.


****


Sementara di rumahnya, Bu Sri baru saja keluar dari kamar mandi, menuntaskan hajatnya. Saat melewati kamar Aisyah, wanita itu seketika teringat akan putrinya.


'apa Aisyah sudah pulang? Dia bilang, mau beli martabak,' batinnya.


Wanita paruh baya itupun iseng-iseng membuka pintu kamar Aisyah 'Lho, tidak dikunci?'


Bu Sri melangkahkan kakinya, masuk ke dalam. Netranya mengarah pada tempat tidur milik Aisyah yang kosong. 'Hem, itu anak belum pulang juga?'


Pada saat Bu Sri hendak keluar dari kamar Aisyah, netranya mengarah ke sebuah benda kecil yang terletak di lantai, tepatnya di dekat pintu kamar.


"Apa itu?"


Aisyah memungutnya, dan menatap lekat-lekat ke arah benda itu, seketika dia terbelalak, melihat dua garis merah yang terpampang jelas pada benda tersebut. Ternyata Aisyah lupa membuang testpack yang dia beli tempo hari, yang kemudian dia jatuhkan di dekat pintu kamar.


"Ya Tuhan, ini kan test pack? Garis dua? Itu artinya ...."


Bu Sri tak melanjutkan ucapannya, dia mendadak lemas seketika, tubuhnya pun limbung ....

__ADS_1


****


Sementara itu, Hassan masih menggerakkan stang bundarnya, menuju ke rumah Aisyah.


Sedangkan Aisyah, sedari tadi hanya diam. Sulit bagi gadis itu untuk menikah dengan Hassan mengingat pria itu sudah memiliki istri. Apalagi, Bu Sri pasti sangat kecewa jika tahu anaknya menjadi orang ketiga bagi rumah tangga Hassan.


Namun, Aisyah juga tidak ingin egois dengan janin yang kini bersemayam di dalam perutnya. Setiap kali ia menolak pernikahan, Hassan selalu meyakinkannya kembali.


Sebuah rumah yang cukup mewah, dengan penerangan lampu yang cukup terang sudah terlihat jelas. Hassan turun dari mobil terlebih dahulu, dan membukakan pintu untuk Aisyah. Pria itu mengangguk dengan raut wajah memohon. Setelah itu, barulah Aisyah bersedia untuk ikut turun.


Aisyah melangkahkan kakinya hingga tiba tepat di depan pintu rumahnya, diikuti Hassan. Aisyah mengetuk pintu sebanyak tiga kali, namun tidak ada jawaban.


Gadis itupun mengerutkan keningnya. Kemudian dia menekan handle pintu, dan pintu pun terbuka. Aisyah baru teringat, sewaktu dia berpamitan kepada ibunya hendak membeli martabak, dia memang tidak mengunci pintu tersebut, dan dia berpikir bahwa ibunya pasti akan mengunci pintunya. Ternyata dugaan Aisyah salah. Pintu tersebut tidak terkunci, hanya tertutup saja.


Setelah pintu terbuka, Aisyah masuk ke dalam. Tak lupa gadis itupun mempersilahkan Hassan masuk. Kini Aisyah berjalan menuju kamarnya. Saat masuk ke dalam kamar, Aisyah terbelalak melihat Bu Sri tergeletak di lantai kamarnya.


"Ibuuu ....!"


Aisyah berteriak sekuat mungkin, membuat Hassan menoleh ke kamar Aisyah. Pria itupun segera berlari kecil menuju asal suara. Kemudian pria itu masuk ke kamar Aisyah, dan sama terkejutnya dengan Aisyah. Dia melihat tubuh Bu Sri yang tergeletak di lantai.


"Kenapa dia?" tanya Hassan kepada Aisyah


Dan seketika, pandangan Aisyah mengarah pada tangan Bu Sri, di sebelah tangan wanita itu, Aisyah melihat test pack tergeletak.


Kedua mata Aisyah pun membulat seketika, dia segera mengambil benda tersebut, dan menatap ke arah Hassan.


Hassan pun terlihat heran, "apa itu?"


"Ini alat tes kehamilan, Mas," sahut Aisyah lirih.


"Mungkin, ibu kamu pingsan gara-gara melihat alat itu. Apa dia belum tahu, kalau kamu hamil?" ujar Hassan.


Aisyah hanya menggeleng, membuat Hassan mengesah kasar.


"Ya sudah, kita bawa ibu kamu ke rumah sakit," ujar Hassan.


"Saya saja yang bawa ibu saya ke rumah sakit, naik taxi, Mas," kata Aisyah.

__ADS_1


Hassan pun mendadak geram. "Kamu ini, jangan menyiksa diri kamu."


Hassan segera mengangkat tubuh Bu Sri, dan membawanya ke dalam mobil, dia juga menyuruh Aisyah ikut serta masuk ke dalam mobil.


Kini mereka telah berada di dalam sebuah ruangan, di rumah sakit. Di hadapan Aisyah dan Hassan, Bu Sri terbaring lemah di atas sebuah kasur.


Tangis Aisyah pun pecah. "Ibu ...."


Perlahan, Hassan mengusap lembut bahu Aisyah dia mendadak merasa iba terhadap gadis itu. "Kamu yang sabar."


Kemudian, Hassan memberikan Aisyah sejumlah uang. "Maaf, aku harus pulang, nanti kamu bisa naik taxi. Semoga ibu kamu cepat sehat, dan biaya rumah sakit akan segera aku lunasi."


Setelah berkata demikian, Hassan segera keluar ruangan, tanpa menunggu jawaban dari Aisyah terlebih dahulu.


Sementara Aisyah terus terisak, menatap sang ibu. "Maafkan aku, Bu."


Tak lama, dokter yang pernah menangani Bu Sri pun masuk ke dalam. Sontak saja membuat Aisyah terkesiap.


"Selamat malam, Nona, ada apa lagi dengan ibu anda?" tanya sang dokter ramah.


Aisyah segera mengusap pipinya yang basah, dia tidak ingin dokter mengetahui masalahnya. "Saya tidak tahu, Dok. Tiba-tiba ibu saya pingsan," bohong gadis itu.


"Ya sudah, saya akan memeriksa kondisi ibu anda, karna ini sudah malam, jadi ibu anda harus dirawat inap. Dan, anda bisa datang lagi besok, Nona," tutur dokter tersebut.


"Baiklah, Dok," kata Aisyah kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu.


Aisyah berjalan keluar rumah sakit, hingga tiba di jalan besar, dia menyetop taxi yang kemudian melintas.


Aisyah pun akhirnya sampai di rumah. Dia segera meraih ponselnya, hendak menelpon Tini, namun segera dia urungkan niatnya.


'Tini pasti sedang kerja, dia kan jarang libur,' batin Aisyah yang awalnya ingin ke rumah Tini, ingin mengeluarkan curahan hatinya kepada sahabatnya itu.


"Besok pagi saja, deh," lirih Aisyah kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. Netranya mengarah ke langit-langit kamar.


'Ya Tuhan, apakah ini hukuman untukku, karna telah menjual diri?' Aisyah meracau dalam hati.


Pipinya kembali basah, dia tidak dapat membayangkan akan menjadi istri kedua di tengah-tengah rumah tangga orang lain.

__ADS_1


"Apakah aku hanya akan menjadi istri simpanan dari Mas Hassan? Terus, kalau anak ini lahir, aku akan diceraikan?"


__ADS_2