
Aisyah pun segera masuk ke dalam kamarnya, dia berdiri di depan cermin. Gadis itu meraba-raba perutnya yang masih datar. Seketika perasaan bimbang menghampirinya.
'Gimana ini, aku kok jadi deg-degan gini ya,' batinnya.
Aisyah terus mengusap perut datarnya ....
'apa aku periksa ke dokter kandungan saja ya, biar jelas, kenapa aku suka mual-mual,' pikirnya.
Gadis itu pun menyambar tas mungilnya yang tergantung di dinding kamar, beserta kontak motornya. Namun sampai di luar kamar, langkahnya terhenti. Gadis itu mendadak teringat sesuatu.
'Tunggu-tunggu ... sepertinya, aku nggak mungkin periksa ke dokter kandungan, karna aku ini berstatus singel. Dan, orang yang datang ke dokter kandungan itu, hanya para perempuan yang sedang hamil dan sudah menikah punya suami, gitu kan ya?' Aisyah mulai meracau dalam hati.
Gadis itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Seketika dia menjadi bingung, karena terus merasakan mual pada perutnya, dan bertepatan dengan hal itu, Aisyah terlambat datang bulan!
'Testpack!' seru Aisyah dalam hati. Dia mendadak teringat dengan sebuah alat tes kehamilan yang praktis.
'iya, pakai testpack saja, kan praktis, dan yang pasti tidak ada orang tahu,' batinnya lagi.
Aisyah pun bergegas mengendarai sepeda motornya menuju Apotek terdekat. Sesampainya, gadis itu melangkah masuk ke dalam dengan perasaan tak menentu. Keringat dingin mulai bercucuran, tubuhnya pun lemas dan sedikit gemetar.
"Selamat siang, Nona, mau cari obat apa?" tanya seorang petugas berjenis kelamin pria menyambut kedatangan Aisyah.
"Em ...." Aisyah mendadak menjadi ragu, entah mengapa, dia merasa malu untuk mengutarakan niatnya itu.
Petugas Apotek itu menatap heran kepada Aisyah, sembari menunggu jawaban dari gadis tersebut.
"Nona? Anda butuh obat apa?" tanya petugas itu lagi karena Aisyah sudah cukup lama terdiam.
Akhirnya, Aisyah memiliki sebuah jawaban beserta alasannya. "Eh, i-itu, saya ... saya ... disuruh ta-tante saya, untuk membeli alat tes ... apa, ya? Duh, saya lupa, Om. Tapi kata tante saya, dia telat, makannya dia menyuruh saya membeli alat itu." Aisyah berpura-pura terbata, padahal wajahnya merona menahan malu.
"Oh, itu," sahut pria itu, seraya mengambilkan benda yang dimaksud oleh Aisyah, lalu memberikan kepada gadis itu.
"Terimakasih, Om," ucap Aisyah malu-malu.
Setelah melakukan pembayaran, Aisyah bergegas pulang. Sampai di rumah, gadis itu berjalan mengendap-endap, dan segera masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Hatinya masih was-was.
'huft, untung ibu dan kak Zae nggak lihat aku. Tapi kayaknya kak Zae nggak ada deh. Itu orang jarang sekali di rumah. Tapi bodo amat deh, kakak di rumah juga cuma bikin kesal terus,' batinnya.
__ADS_1
Aisyah mulai mengamati alat yang baru saja dibelinya dengan seksama. Seketika tubuhnya gemetar, pikirannya pun berubah menjadi kacau.
"Ya Tuhan, kalau hasilnya positif, bagaimana dong," keluhnya dalam hati. Gadis itu tak dapat membayangkan kemungkinan yang akan terjadi.
Akhirnya Aisyah memutuskan untuk ke kamar mandi, membawa alat itu. Beberapa saat kemudian, Aisyah keluar dari kamar mandi, dia menggenggam alat itu, tak berani melihatnya.
Setelah masuk kembali ke dalam kamar, Aisyah mengunci pintu kamar. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. Netranya melirik ke alat tersebut.
Bagai disambar petir, tubuh Aisyah mendadak lemas, lututnya gemetar, melihat dua garis merah yang menandakan bahwa dirinya positif hamil!
Bugh!
Tubuh Aisyah jatuh ke kasur, perlahan bulir bening mulai menetes di kedua pipinya, Dia terisak.
"Enggak, aku nggak mungkin hamil," lirih Aisyah di sela isak tangisnya, sambil memegangi perutnya yang masih datar itu.
"Kenapa aku harus ngalamin hal ini? Aku benar-benar belum siap," lanjutnya.
Aisyah menangis dalam diam, dia tak mau ibu dan kakaknya mengetahui hal itu. Aisyah tak mampu menerima takdirnya sekarang, mimpi yang telah dia rancang selama ini hancur seketika.
'Aku pasti mimpi,' batin Aisyah kemudian menampar pipinya, namun terasa sakit. Aisyah pun meringis.
"Semua sudah nggak ada gunanya lagi, hidupku sudah hancur," sesal Aisyah.
Tanpa sengaja, pandangan netranya mengarah pada sebuah gunting yang terletak di atas meja, Aisyah pun cepat-cepat meraih gunting itu, dan mengarahkannya ke urat nadi pergelangan tangannya.
Tinggal beberapa senti lagi, aksi Aisyah sukses. Namun dia dikejutkan oleh suara ketukan pintu yang diiringi oleh suara lembut ibunya. Akhirnya, Aisyah mengurungkan niatnya.
"Syah, sudah sore, nak. Kamu sudah mandi atau belum?"
"Sudah, Bu, barusan. Aku mau tiduran, hari ini aku sedang malas sekali," sahut Aisyah dari dalam.
"Ya sudah, nanti kalau lapar makan ya," kata Bu Sri santai.
"Iya, Bu ...."
Bu Sri pun meninggalkan kamar Soraya.
__ADS_1
"Hueeeekkkk!"
Perut Aisyah bertambah mual, dia pun keluar kamar menuju ke kamar mandi, dan memuntahkan cairan bening. Kemudian dia kembali lagi ke dalam kamarnya.
'Duh, aku harus gimana nih? Nggak mungkin juga, aku bilang sama ibu, kalau aku hamil. Bisa-bisa, ibu syok,' batin Aisyah sambil terus berpikir mencari jalan keluar.
Tak terasa, malam pun merayap datang. Aisyah masih gelisah tak dapat memejamkan matanya.
****
Pagi hari tiba, Aisyah bangun dari tidurnya. Dia segera menuju ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. Lagi-lagi perutnya terasa mual. Namun Aisyah segera menutup mulutnya, takut ibu dan kakaknya mengetahuinya.
Selesai mandi, Bu Sri mengajak putrinya untuk sarapan. Aisyah duduk di samping ibunya.
"Kak Zae kemana, Bu? Dia kok tidak pernah di rumah," tanya Aisyah.
"Sudah, tidak usah memikirkan kakakmu. Ibu juga tidak tahu lagi harus gimana. Sejak nganggur, kakak mu itu memang hampir tidak pernah pulang ke rumah," ujar Bu Sri.
Soraya hanya mengangguk, dia mengambil piring berisi nasi goreng, dan memakannya.
Namun hanya tiga suapan, perut Aisyah sudah terasa penuh, dia pun tak menghabiskan makanannya. Aisyah segera berlalu dari hadapan Bu Sri. Sementara itu, Bu Sri merasa heran dengan perubahan sikap putri semata wayangnya itu.
'Aisyah kenapa ya? Dari kemarin makannya sedikit sekali, apa dia sedang diet?' batinnya sambil mengerutkan keningnya.
Di tempat lain ....
Aisyah kini berada di depan kos Tini. Dia mengetuk pintu kos. Tak lama pintu terbuka.
"Lho, Syah? Tumben pagi-pagi sudah kesini, ada apa? Oh iya, ayo masuk dulu," ujar Tini setengah heran.
"Emang gak boleh ya, aku kesini pagi-pagi? Atau aku ganggu kamu, mungkin sekarang ini kamu masih jam istirahat?" Aisyah mendadak merasa tak enak hati.
"Eh, gak kok, aku kan cuma tanya," ujar Tini seketika ikut merasa tak enak hati.
Aisyah tersenyum sumringah, kemudian dia duduk di tempat duduk yang tersedia.
"Hueeeekkk!"
__ADS_1
Tiba-tiba Aisyah kembali merasakan mual pada perutnya. Dia meringis sambil memegang perutnya.
"Kamu kenapa, Syah?" tanya Tini panik.