
"Maaf, Syah, mendadak tubuh saya lemas sekali," lirih Hassan.
"Kok bisa?" Aisyah mengerutkan keningnya.
"Akhir-akhir ini, aku capek sekali, beberapa hari kemarin aku mengurusi tender," ucap Hassan.
"Ih, Mas kok mau enaknya sendiri," ujar Aisyah sambil memonyongkan bibirnya.
"Lho, lho, kok bisa begitu? Bukankah kita sama-sama merasakan enak?" kata Hassan tenang.
"Bukan itu maksudku," balas Aisyah.
"Lantas, apa yang kamu inginkan?" tanya Hassan.
"Kalau boleh jujur, sebenarnya aku suka dengan Mas, aku ingin Mas jadi milikku," tutur Aisyah.
Hassan terkesiap mendengar ucapan Aisyah, 'duh, gawat ... dia ada rasa denganku. Sepertinya sudah saatnya aku harus jujur tentang identitas ku yang sebenarnya,' batinnya.
"Syah, aku minta maaf kalau aku sudah berhasil bikin kamu nyaman dengan ku. Tapi ada hal yang harus aku bicarakan. Tolong dengarkan ya. Sebenarnya, aku sudah punya istri," tutur Hassan membuat Aisyah terperanjat.
"Apa? Jadi, Mas sudah punya istri? Tapi, kenapa Mas suka beli perempuan?"
Hassan mengesah pelan. "Kami menikah sudah hampir empat tahun, tapi istri ku tidak bisa memberikan keturunan. Untuk itu sebagai pelampiasan frustasi ku, aku suka jajan perempuan hanya untuk hiburan semata."
Aisyah terdiam untuk beberapa saat, dia merasa cintanya bertepuk sebelah tangan. Kemudian dia menatap Hassan ....
"Mas, aku mau kok dimadu," ucap Aisyah spontan.
Hassan balas menatap Aisyah. "Gila kamu, Syah. Maaf aku tidak bisa. Kalau kantor sampai tahu, aku akan diturunkan jabatan, dan aku tidak punya penghasilan lebih lagi. Itu artinya, aku tidak bisa memberimu uang. Tolong berpikir jernih."
Aisyah merasa kecewa, namun dia tidak dapat mengungkapkannya.
"Ya sudah, kita bermalam, besok Mas baru pulang."
"Apa kamu sudah gila?" ujar Hassan.
"Ya, aku memang sudah gila akan cintamu!" kata Aisyah dengan lantang.
"Syah, aku ini punya istri, dia di rumah pasti menungguku, tolong kamu mengerti aku sedikit saja," mohon Hassan.
__ADS_1
"Tapi, kamu sudah menikmati tubuhku, Mas. Dan aku sudah ternoda! Hanya Mas satu-satunya orang yang menodai ku, laki-laki lain belum tentu mau menerimaku dengan tulus, kalau tahu bahwa aku sudah tidak suci lagi," ujar Aisyah, tanpa sadar netranya basah.
Hassan benar-benar tak menyangka, Aisyah yang awalnya lugu dan pendiam, sekarang sudah berani bersikap tegas terhadap dirinya.
Dalam hati, Pria itupun menyadari bahwa dirinya memang berada di posisi yang salah. Dia merasa sudah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Namun apalah daya, nasi susah menjadi bubur dan semua sudah terjadi begitu saja. Saat itu, Hassan seperti memakan buah simalakama. Dia benar-benar dihadapkan pada pilihan yang sulit.
Hendak meninggalkan Aisyah, namun sungguh berat. Meninggalkan istrinya pun, sangatlah tidak mungkin, karena Hanum adalah penyelamat hidupnya. Hassan bisa bertahan hingga saat itu berkat orang tua Hanum. Terlebih orang tua Hanum meninggal karena mementingkan nyawa Hassan. Hal itulah yang membuat Hassan berhutang nyawa terhadap orang tua Hanum. Untuk itulah Hassan sudah bersumpah tidak akan meninggalkan Hanum apapun yang terjadi, dan bagaimanapun kondisi wanita itu.
"Mas, kenapa diam?" Aisyah membuyarkan lamunan Hassan.
Hassan pun terkesiap. "Em, ya sudah aku akan pulang besok."
Sontak saja Aisyah merasa senang ....
"Hape kamu matikan saja, Mas, nanti istri kamu telpon terus," titah Aisyah.
"Iya, tapi aku mau kirim pesan dulu, kalau aku menginap di rumah klien," ujar Hassan.
Setelah mengirim pesan, Hassan merebahkan tubuhnya di samping Aisyah. Mereka berdua kembali larut dalam percintaan.
****
Semua tetangga membenci Aisyah, namun gadis itu tak mempedulikan hal tersebut, dia terus menggeluti pekerjaannya.
Suatu pagi, Aisyah mendapat telpon dari dokter Sonny, memberitahukan bahwa Bu Sri sudah boleh pulang hari itu. Aisyah segera menuju rumah sakit untuk menjemput sang ibu.
Sampai di rumah sakit, Aisyah segera berlari menuju ruangan di mana ibunya dirawat. Dia melihat Bu Sri sudah tampak sehat, dan wajahnya terlihat ceria.
Ceklek ....
Aisyah membuka pintu ruangan, dia berlari kecil menghampiri Bu Sri. "Ibu ....?"
"Aisyah," sahut Bu Sri.
"Ibu sudah sehat?" tanya Aisyah dengan wajah berbinar.
Aisyah mengangguk lemah, wanita itu sebenarnya masih lemas, hanya saja setelah dia sadar, dia tidak ingin berlama-lama berada di rumah sakit, karena ingin sekali berkumpul dengan kedua anaknya.
__ADS_1
Setelah mengemasi segala sesuatunya, Aisyah memapah tubuh ibunya, dan berjalan perlahan keluar dari ruangan. Dia berpamitan kepada dokter Sonny.
Kemudian Aisyah memesan taxi online lewat ponselnya. Gadis itu berniat hendak pulang naik taxi bersama ibunya, karena Aisyah tidak ingin ibunya terkena angin-anginan jikalau naik sepeda motor.
Sampai di depan rumah, Aisyah mengajak ibunya turun setelah membayar ongkos taxi. Dia memapah ibunya masuk ke dalam rumah. Betapa tercengangnya Bu Sri, melihat rumah beserta isinya yang kini telah berubah. Benar-benar mewah!
"Aisyah, apa benar ini rumah kita?"
Pertanyaan Bu Sri membuat Aisyah bingung seketika. "Em, Ibu duduk dulu ya."
Kini, Aisyah dan Bu Sri duduk bersebelahan di sebuah sofa. "Syah, tolong jelaskan semua sama ibu, kenapa rumah kita jadi bagus begini, dan ... barang-barang yang ada di rumah ini, mewah semua. Dan satu lagi, ibu dirawat di rumah sakit itu, siapa yang membayar semua biayanya?" ujar Bu Sri penuh selidik.
Aisyah terdiam sejenak, dia tampak sedang berpikir. Gadis itu tidak ingin ibunya tahu, bahwa dirinya bekerja menjadi kupu-kupu malam. Dia tidak ingin ibunya syok berat.
"Bu, bukankah ibu sudah tahu pekerjaanku, berangkat malam dan pagi baru pulang," lirih Aisyah.
Bu Sri menatap lekat anak gadisnya itu. "Memang gaji kamu berapa, dan sepertinya kamu belum lama pindah kerjaan dari kantin sekolah. Tapi sudah bisa membuat rumah jadi mewah bersama isinya."
Soraya pun segera menepuk lembut pundak ibunya. "Bu, aku tidak ingin kehilangan Ibu. Aku ingin, Ibu cepat sehat, dan kita kumpul sama-sama tiap hari. Jadi, apapun aku lakukan asal Ibu sehat. Sebenarnya, aku pinjam di koperasi desa. Aku pinjam dua puluh juta, tapi bunganya ringan kok setiap bulannya. Uang itu untuk membayar biaya rumah sakit, dan sisanya buat renovasi rumah biar kita nyaman tinggalnya. Sudah ya, ibu jangan mikir macam-macam, yang penting ibu sudah sehat."
Aisyah terpaksa berbohong ....
Tanpa sadar, Netra Bu Sri basah, perlahan meneteslah butiran bening membasahi pipi keriputnya. "Aku sungguh ibu yang tidak berguna. Aku telah gagal mendidik anak-anakku. Harapanku selama ini, supaya anakku bisa hidup bahagia. Tapi justru harus menanggung beban ku."
"Ibu ngomong apa? Sudahlah, Bu, Ibu jangan punya pikiran macam-macam lagi. Aku tidak mau, Ibu kenapa-napa," ujar Aisyah.
"Maafkan Ibu, Syah ...." Bu Sri pun terisak.
"Bu, sudah jangan sedih lagi ya. Ibu sudah makan, atau belum? Aku akan pesan makanan buat Ibu," ujar Aisyah dalam senyumnya.
Bu Sri hanya mengangguk pasrah. Wanita itu sebenarnya merasa sangat berdosa, dengan apa yang dilakukan Aisyah selama ini.
Aisyah pun segera memesan makanan online. Tak lama, seorang kurir datang mengantarkan beberapa makanan.
"Ayo, Bu, kita makan. Aku belikan sup buat Ibu, biar badan Ibu segar," ajak Aisyah.
Gadis itu segera menyuapi sang ibu, dengan penuh kelembutan. Bu Sri benar-benar merasa terharu, kristal bening kembali berjatuhan, namun segera dihapusnya. Selesai makan, Aisyah mengajak ibunya mengobrol dan bersenda gurau, hingga tak terasa malam pun tiba.
"Zae kemana, Syah? Kok dari tadi ibu tidak lihat dia?" tanya Bu Sri.
__ADS_1
"Tidak tahu, Bu. Kakak memang jarang di rumah. Sudah biarkan saja, dia sudah bukan anak kecil lagi, pasti bisa jaga diri," ucap Aisyah.
Bu Sri pun mengangguk pasrah. Aisyah menemani ibunya beristirahat. Setelah Bu Sri pulas, Aisyah masuk ke dalam kamarnya.