
Aisyah terus mengendarai sepeda motornya, kini dia tiba di alun-alun. Setelah memarkirkan sepeda motornya, Aisyah duduk di sebuah tempat yang telah tersedia.
Tempat Aisyah duduk terletak di sudut alun-alun di bawah pohon. Dia merenungi apa yang baru saja terjadi. Kembali terngiang di telinga Aisyah, ucapan sang dokter yang mengatakan bahwa dua orang tetangga mereka menjenguk Bu Sri.
"Siapa ya, yang ke rumah sakit tadi malam? Kok perasaanku mengatakan, ada yang nggak beres. Pasti mereka ngomong macam-macam sama ibu, sampai ibu jadi seperti itu. Kemarin saja dokter bilang kalau ibuku sudah sehat, dan dua hari lagi sudah boleh pulang. Terus kenapa sekarang jadi koma?' Soraya bertanya-tanya dalam hati.
Dia benar-benar frustasi saat itu ....
***Kediaman Rumah Hassan
Kini Hassan telah rapi dengan pakaian kantornya. Dia sedang sarapan bersama sang istri tercinta.
"Mah, nanti sepertinya aku pulang malam. Urusan kantor kemarin belum selesai. Jadi hari ini aku akan menyelesaikan bersama klienku. Aku juga akan memeriksa laporan-laporan masuk di ruangan ku, yang sudah menumpuk belum sempat aku periksa," kata Hassan kemudian menggigit roti tawar perlahan.
"Iya, Pah," sahut Hanum singkat.
Beberapa saat kemudian Hanum beranjak dari tempat duduknya. "Duh, aku mau buang air."
"Hem ... kamu ini, Mah, kebiasaan sekali kalau sedang makan sama-sama pasti ada saja iklannya," cibir Hassan.
Hanum hanya meringis kemudian berjalan menuju ke toilet. Sebenarnya saat itu Hanum tidak berasa ingin buang air, hanya saja dia tengah berpura-pura di hadapan suaminya itu.
Di dalam toilet, Hanum mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya kemudian mengirim pesan kepada Iwan, pria yang kemarin datang ke rumahnya.
Setelah itu Hanum keluar dari toilet, dan kembali menghampiri suaminya yang masih menikmati setangkup roti tawar dengan toping coklat buatan Bi Iyem.
"Kok cepat?" heran Hassan.
"Aku cuma buang air kecil saja, Pah," kata Hanum.
Hassan hanya mengangguk sambil mengunyah roti dalam mulutnya.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, Iwan membaca pesan dari Hanum.
"Kamu ke rumah saya sekarang, tapi pastikan kalau suami saya tidak melihatmu, dan kamu tunggu saja dari jauh. Nanti kalau suami saya berangkat pakai mobil warna hitam kamu ikuti dia pelan-pelan, jangan sampai ketahuan. Pokoknya kamu ikuti terus dia kemana dan ngapain saja. Setelah itu kamu hubungi saya, dan tunggu perintah saya selanjutnya. Kamu tenang saja, saya akan bayar kamu dengan jumlah lumayan, kalau kerja kamu bagus."
Iwan pun membalas pesan Hanum yang isinya menyanggupi perintah wanita itu. Kemudian pria itu segera mengendarai sepeda motornya setelah berpamitan kepada istrinya.
'Perasaan Nyonya Hanum kemarin pasang iklan di sosmed, katanya butuh orang untuk memasang AC di rumahnya. Kenapa sekarang jadi nyuruh ngikutin orang? Dan yang harus aku ikutin, ternyata suaminya sendiri. Sebenarnya apa sih maksud nyonya Hanum? Ah sudahlah, yang penting aku dapat uang hari ini dan bisa buat jajan anakku,' batin Iwan.
Kini Iwan telah sampai di sebuah jalan tak jauh dari rumah Hassan. Pria itu menunggu di sana. Sedangkan Hassan telah menghabiskan setangkup roti, kini dia meneguk satu gelas jus jeruk.
"Mah, aku berangkat dulu ya," pamit Hassan kepada sherly.
"Iya, Pah, hati-hati ya," balas Hanun.
Kemudian Hassan mengecup kening Hanun, dan berlalu dari hadapan istrinya. Setelah Hassan keluar rumah Hanum segera mengirim pesan kepada Iwan.
"Suamiku sudah naik mobil, kamu ikuti pelan-pelan, ingat ... jangan sampai suamiku curiga."
Begitulah isi pesan dari Hanum.
Hassan terus fokus mengendarai mobilnya melewati tikungan, berbelok kiri dan juga kanan. Seketika dia curiga dengan sepeda motor yang sedari tadi mengikutinya dari belakang. Hassan mengamati plat motor tersebut dari spion mobilnya, dia merasa tak mengenalinya.
'Siapa dia? Kenapa dia mengikutiku? Apa hanya perasaanku saja, ya? Banyak kendaraan yang satu arah ... tapi perasaanku kok tidak enak gini,' batin Hassan sambil terus menggerakkan stang bundarnya.
Akhirnya Hassan mendapat ide, untuk memastikan kendaraan yang dia maksud memang mengikutinya atau tidak.
Hassan memutar balikkan mobilnya, dia melajukan mobilnya berlawanan arah. Dan ternyata pengendara sepeda motor itupun ikut berputar arah mengikuti mobil Hassan.
Hassan masih mencoba bersikap tenang. Kali ini berbelok kanan pada sebuah perempatan, dan lagi-lagi pengendara sepeda motor itu ikut berbelok kanan. Hassan mulai geram.
'Sudah jelas kalau dia memang mengikutiku, tidak mungkin sekali kalau hanya kebetulan. Hassan pun mencoba memancing pengendara motor itu dengan berhenti di sebuah kedai kopi yang kebetulan dia lewati.
__ADS_1
Hassan masuk ke dalam. Dia sengaja memesan satu gelas kopi susu kepada pelayan kedai tersebut. Tak lama kopi sudah terhidang di hadapan Hassan.
Hasaan meniup asap kopi itu kemudian menyesapnya perlahan, sambil melirik ke arah pengendara sepeda motor yang mengikutinya. Dan si pengendara sepeda motor itu sedang berhenti di suatu tempat. Dia terlihat sedang bertelpon-ria dengan seseorang.
Hassan hanya menghabiskan separuh kopinya karena dia sudah kenyang sarapan di rumah tadi. Setelah membayar kopi tersebut, Hassan kembali melajukan mobilnya perlahan. Dan si pengendara sepeda motor kembali mengikutinya.
'Tuh kan, dugaan ku tidak salah lagi, memang dia itu sedang mengikutiku. Tapi apa tujuan dia mengikutiku? Dan siapa juga yang menyuruh dia?' gumam Hassan dalam hati.
Hassan pun terus mengendarai mobilnya, dia sengaja memilih jalan yang agak sepi. Dan seperti biasa si pengendara sepeda motor tetap mengikutinya.
Akhirnya tanpa ba-bi-bu, Hassan mencegat dan mengklakson sepeda motor milik Iwan si pengendara motor yang mengikutinya.
Kini mobil Hassan melintang di depan sepeda motor iwan. Sontak saja Iwan ikut berhenti. Tak lama Hassan turun dan menghampiri Iwan.
"Hei katakan, siapa yang menyuruhmu untuk mengikuti saya?" tanya Hassan tanpa berbasa-basi lebih dahulu.
Iwan terkesiap, dia merasa bingung hendak beralasan apa kepada Hassan karena Iwan sendiri pun tidak menyangka jika aksinya akan ketahuan.
'Duh ketahuan deh, pasti aku dimarahi sama Nyonya Hanum. Kenapa juga aku tidak kepikiran untuk menyiapkan jawaban dan alasan yang tepat kalau ketahuan,' batin Iwan.
"Hei! Kenapa diam saja? Cepat jawab pertanyaan saya! Kamu sudah membuang waktu saya," hardik Hassan makin geram.
Sekujur tubuh Iwan tampak gemetar. "Maaf, Tu-tuan, saya tidak mengikuti anda, saya me ...."
"Jangan bohong! Jawab, atau saya akan memanggil seseorang untuk menghabisimu," ancam Hassan menyela pembicaraan Iwan.
'Ya Tuhan, kalau aku sampai disiksa sama orang, bagaimana nasib anak dan istriku?' batin Iwan.
"Sekarang kamu ikut saya, dan jangan coba-coba untuk kabur," titah Hassan.
"Ikut kemana, Tuan?" tanya Iwan lirih.
__ADS_1
"Masuk ke mobil saya," kata Hassan ketus.
Iwan pun mengikuti Hassan, dan kini mereka sudah berada dalam mobil. Hassan meminggirkan mobilnya ke tepi.