Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Ngidam Rujak Buah


__ADS_3

"Bu, apa Ibu gak curiga, dia itu kerja apa? Masa berangkat malem pulang pagi. Dan gajinya gede lagi, coba aja bayangin, baru kerja berapa bulan udah bisa renovasi rumah," tutur Zaenal sambil menunjuk ke arah Aisyah.


"Zae, kamu jangan suka berburuk sangka, tidak baik," kata Bu Sri berusaha melerai.


"Tapi kan ...."


"Sudah sudah, aku mau berangkat kerja, sudah telat ini. Kalau mau bahas masalah kerja apa, besok saja." Aisyah menyela ucapan kakaknya. Dia pun segera berlalu dari hadapan ibu dan kakaknya.


Zaenal mengepalkan tangannya, merasa geram atas sikap adiknya itu, 'awas kamu,' batinnya.


Bu Sri hanya menggeleng pasrah melihat sikap anak laki-lakinya itu. Wanita itu segera berjalan masuk ke kamarnya.


****


Di tengah perjalanan, Aisyah bertemu dengan Tini yang juga mengendarai sepeda motor. "Halo, Syah," sapa Tini kemudian menghentikan sepeda motornya.


Aisyah menoleh ke arah sepeda motor Tini. "Eh, kamu, Tin."


"Syah, berhenti sebentar," titah Tini.


Aisyah pun menghentikan sepeda motornya. "Kenapa, Tin?"


"Kita mampir kafe dulu, yuk. Temenin aku makan, laper nih," ajak Tini memohon.


"Tapi ... aku udah makan, Tin," kata Aisyah.


"Yah, masa aku makan sendiri," keluh Tini.


"Ya udah, aku temenin, tapi aku gak ikut makan, ya," ujar Aisyah.


"Ya udah, kamu pesen minum aja," usul Tini melebarkan senyumnya.


"Oke deh," angguk Aisyah.


Kedua gadis itu kini tiba di sebuah Cafe Gaul, tempat singgah anak-anak muda. Di tempat tersebut, menyediakan berbagai macam menu nasi dan juga berbagai macam jajanan kekinian.


Aisyah dan Tini masuk ke dalam Cafe tersebut. Seorang pelayan langsung menghampiri mereka, menyapa serta memberikan buku menu kepada mereka.


"Kamu mau minum apa, Syah?" tanya Tini sambil melihat-lihat buku daftar menu.


"Jus mangga boleh, deh," jawab Aisyah.


Tini pun memesan satu porsi seblak dan dua gelas jus mangga. Tak lama, pesanan mereka datang.


"Oh iya, ibuku udah sembuh, Tin. Dia udah pulang kemarin," kata Aisyah sambil menyedot jus pesanannya.


"Oh ya? Wah, syukur deh kalo ibu kamu udah sehat," ujar Tini.


Aisyah mengangguk ....


"Eh, ternyata enak juga seblaknya," kata Tini sambil melahap makanannya.


"Ya, semua makanan selera sih, kalo suka ya pasti enak, kalo gak suka ya pasti bilangnya gak enak," seloroh Aisyah.

__ADS_1


"Hehe, iya juga ya Syah," kekeh Tini.


"Hueeeekkk!"


Tiba-tiba Aisyah merasakan mual pada perutnya.


"Kamu kenapa, Syah?" tanya Tini dengan raut wajah cemas.


"Gak apa-apa, Tin, gak tau nih akhir-akhir ini aku kalo makan pasti mual-mual, perutku gak enak gitu," sahut Aisyah sambil meringis.


"Apa kamu masih gak enak badan?" tanya Tini.


"Gak juga sih, biasa," jawab Aisyah.


Tini pun segera menghabiskan makanan serta minumannya. Selesai makan, Tini membayar semua pesanannya.


"Kok kamu yang bayarin, Tin? Baru aja aku mau bayar," kata Aisyah ketika sampai di depan Cafe.


"Udah, gak apa-apa," kata Tini di sela senyumnya.


"Kemarin juga kamu yang bayarin makan, sekarang bayarin lagi." Aisyah merasa tak enak hati.


"Slow aja lagi, kayak sama siapa aja," kata Tini.


"Hem, makasih ya, Tin."


"Sama-sama, Syah."


"Siap, Bos," kelakar Tini.


"Ah apaan sih kamu, Tin ...."


Tini terkekeh dan berjalan keluar, diikuti Aisyah mengekor di belakang. Mereka pun mengemudikan kendaraannya masing-masing.


Tak lama kedua gadis itu tiba di Night Club, tempat mereka bekerja. Setelah memarkirkan kendaraannya, Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam.


"Ehem ... anak emas baru datang," celetuk sebuah suara.


Aisyah menoleh ke arah suara. Ternyata Ina sudah berdiri di samping Aisyah.


'Hem, dia lagi,' batin Aisyah.


Aisyah pun tak menanggapi ucapan Ina, dia tidak ingin berdebat dengan temannya itu. Dia segera duduk di dekat Tini.


****


Sementara itu di tempat lain, Hassan sedang mengendarai mobilnya. Dia ingin menemui Aisyah. Jujur, pria itu memiliki rasa rindu kepada gadis yang selalu melayaninya.


"Kok tiba-tiba aku ingin sekali makan rujak buah, yang kecut-kecut ya? Ah aku cari saja deh, siapa tahu ada yang jual," gumam Hassan lirih.


Pria itu berkeliling sepanjang jalan, namun dia tak menjumpai penjual rujak.


"Sial, tidak ada yang jual lagi, sudah malam juga sih, padahal aku ingin sekali. Kalau siang sih banyak yang jual, tapi aku harus menunggu besok siang, kelamaan," lirihnya lagi.

__ADS_1


Akhirnya Hassan menahan keinginannya, dia memutuskan untuk menemui Aisyah. Sebelum kembali melajukan mobilnya, Hassan menyalakan rokok kemudian menghisapnya, namun segera dia buang.


"Lho, kenapa mulutku ikutan eror? Merokok juga tidak enak begini sih, sebenernya aku kenapa, ya? Huft ...."


Tanpa sadar, Hassan kini telah tiba di Night Club. Pria itu turun dari mobil dan melangkahkan kaki panjangnya, masuk ke dalam tempat yang selalu dia singgahi.


"Selamat malam, Tuan."


Sebuah suara tak asing menyapa. Di hadapan Hassan kini telah berdiri seorang wanita paruh baya. Siapa lagi kalau bukan Madam Jeni!


"Malam, Madam, saya ingin langsung ke kamar saja. Tolong, suruh Aisyah segera ke kamar," ujar Hassan.


"Baik, Tuan," kata Madam Jeni sopan.


Hassan segera masuk ke kamar, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Mendadak dia teringat akan rujak buah. Dia harus menemukan dan memakan rujak buah saat itu juga.


"Tapi mana mungkin? Malam-malam begini tidak ada yang berjualan rujak," lirih Hassan.


Tok ... tok ... tok ....


Terdengar suara pintu diketuk lirih.


"Masuk," titah Hassan dari dalam kamar.


Pintu pun terbuka, dan Aisyah masuk ke dalam. Dia tersenyum kepada Hassan, kemudian duduk di samping tubuh Hassan yang sedang rebahan.


"Apa kamu tahu, malam-malam begini yang jualan rujak buah?" Pertanyaan tersebut langsung terlontar dari bibir Hassan.


Aisyah mengerutkan keningnya, "rujak buah? Malam-malam mana ada?"


"Justru saya tanya sama kamu," ujar Hassan.


"Sepertinya, tidak ada, Mas. Atau besok saya buatkan, itupun kalau anda mau," tutur Aisyah.


Hassan menghela napas. "Baiklah ... sebenarnya, saya ingin sekarang, tapi ya sudah besok juga bolehlah, daripada tidak sama sekali."


"Memangnya rujak buah itu, untuk siapa, Mas?" heran Aisyah.


"Buat saya, tidak biasanya juga, saya tiba-tiba sangat ingin makan rujak buah," sahut Hassan.


"Ya sudah, besok saya buatkan." lirih Aisyah.


"Oke, besok saya ambil di dekat rumah kamu," kata Hassan.


"Em, jangan, Mas. Ibu saya sudah pulang, nanti dia curiga," cegah Hassan.


Hassan terbelalak, "lho, ibu kamu kapan pulang?"


"Sekitar lima hari yang lalu, Mas. Dia sudah sehat sekarang, saya senang sekali. Terimakasih juga, Mas, atas uang yang selalu anda berikan. Uang itu aku pakai untuk pengobatan ibu saya," ujar Aisyah.


"Okey, apakah ibu kamu tahu, pekerjaan kamu?" tanya Hassan.


"Tidak, Mas, saya bilang kerja di kafe makanan, kalau ibu saya tahu saya kerja di sini, saya takut ibu saya akan syok," sahut Aisyah.

__ADS_1


__ADS_2