
Gemerlap lampu diskotik yang remang-remang, membuat suasana makin terbuai. Lantaran lelah berjoget, Tini pun duduk mendekati Aisyah.
"Halo, para nona manis, kalian hanya berdua saja? Boleh saya ikut gabung?"
Sebuah suara terdengar samar lantaran kerasnya musik yang menggema di tempat itu, namun masih dapat didengar oleh Aisyah dan Tini. Kedua gadis itupun menoleh, dan ....
Kedua bola mata Aisyah membulat seketika, kini di hadapan mereka telah berdiri seorang Hassan. Aisyah yang setengah sadar itu pun menjadi sadar, dia terkesiap.
'Mas Hassan?' Aisyah membatin.
'Tuan Hassan?' Begitupun dengan Tini ikut membatin.
Braaakkk!
Spontan saja Hassan menggebrak meja. Raut wajahnya memancarkan kemarahan.
"Pulang!" titah Hassan kepada Aisyah.
"Tuan, tolong jangan ribut di sini," mohon Tini kepada Hassan dengan raut wajah cemas.
"Karna itu, dia saya suruh pulang," sahut Hassan kepada Tini.
Tini pun menatap Aisyah dengan tatapan iba. Sedangkan Aisyah balas menatap Tini. Mereka berdua saling tatap. Kemudian Tini mengangguk, memberi kode kepada temannya itu supaya dia menyelesaikan masalahnya hanya berdua saja dengan Hassan.
Namun Aisyah bersikeras, dia tidak ingin pergi dari tempat itu. Dia masih ingin menghabiskan malamnya di tempat tersebut.
"Syah! Pulang!" seru Hassan.
"Tidak, Mas, tolong ijinkan saya kali ini saja, saya ingin bersenang-senang tanpa gangguan siapapun!" ujar Aisyah dengan nada tingginya.
Plakkk!
Sebuah tamparan dari tangan besar Hassan sukses mendarat di pipi kanan Aisyah.
"Auuu!"
Aisyah berteriak sambil memegangi pipinya yang mendadak terasa panas akibat tamparan tadi.
Tini pun mengusap punggung Aisyah. "Udah, Syah, kamu ikut aja sama Tuan Hassan, daripada dia makin marah sama kamu, aku gak tega liat kamu diperlakukan kayak gini," bisiknya.
Dengan langkah gontai, Aisyah pun berlalu meninggalkan Hassan dan Tini. Dan selang beberapa menit, Hassan berjalan menyusul Aisyah.
Sampai di depan diskotik, Hassan mencengkeram tangan Aisyah. Dan gadis itupun memberontak.
"Lepasin!" ketus Aisyah.
"Kamu naik apa?" tanya Hassan datar.
"Saya boncengan sama Tini," jawab Aisyah tanpa menatap wajah Hassan.
__ADS_1
"Sekarang masuk mobil, kalau tidak kamu akan menyesal," perintah Hassan geram.
Aisyah segera menuruti apa yang Hassan perintahkan. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Hassan mengemudikan mobilnya perlahan. Tak lama mereka sampai di sebuah hotel terdekat. Hassan mengajak Aisyah untuk turun.
****
Sementara di dalam diskotik, Tini membayar minuman yang sudah dia minum bersama Aisyah. Tini benar-benar tidak menyangka jika akan bertemu dengan Hassan di tempat itu. Tini justru merasa kasihan terhadap Aisyah, karena baginya Aisyah sudah berada dalam kuasa Hassan.
Setelah membayar, Tini memesan kamar hotel untuk dia bermalam karena kepalanya terasa pusing. Dia khawatir jika nekat pulang, tidak bisa mengendarai sepeda motornya dengan baik.
****
Kini Aisyah dan Hassan telah berada di dalam sebuah kamar. Terjadilah perdebatan seru antara dua insan itu.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini terus? Apa kamu sudah bosan hidup? Dan apa masih kurang semua enak-enak yang saya kasih? Kalau orang lain yang berada di posisimu, pasti mereka akan bersyukur." Hassan mengawali pembicaraannya.
"Saya stress Mas," sahut Aisyah singkat.
"Stress kenapa lagi?" Hassan menatap intens ke arah Aisyah.
"Ibu saya depresi."
Kalimat terakhir Aisyah membuat Hassan tersentak. "Depresi?" tanyanya menekankan kata depresi.
"Ya ...."
Aisyah pun menceritakan semuanya tentang kondisi ibunya saat itu.
"Ini semua pasti gara-gara dua orang tetangga saya yang menjenguk ibu. Saya curiga, mereka berbicara yang aneh-aneh sama ibu. Atau, bisa jadi juga mereka memberitahukan pekerjaan saya yang sebenarnya," telaah Aisyah.
"Apa kamu tahu, siapa orang itu?" tanya Hassan.
Aisyah menggeleng ....
Kalau tahu sekarang pun, percuma! Memangnya kita bisa apa sama mereka? Kita mau maki mereka? Kita mau marah-marah sama mereka? Percuma saja, ibu sudah seperti itu," ketus Aisyah.
"Tapi setidaknya kita bisa memberi mereka pelajaran, supaya lain kali mereka jera sama perbuatannya," tegas Hassan.
"Pelajaran apa? Percuma kasih pelajaran sama tetangga saya. Mereka tidak akan jera, pasti suatu saat tetap akan mengulangi lagi," kata Aisyah yakin.
"Kamu ini seperti tidak tahu hukum yang berlaku saja. Kita bisa laporkan tetangga kamu itu, karna secara tidak langsung dia sudah mencelakai ibu kamu," ucap Hassan.
"Memang bisa ya seperti itu?" Aisyah mulai bimbang.
"Bisa saja," kata Hassan.
"Tapi, gimana caranya? Kita saja tidak tahu siapa mereka," kata Aisyah sedikit memakai logika.
"Kamu itu sekolah tinggi walaupun tidak selesai, tapi kenapa tidak tahu tentang kecanggihan jaman sekarang," ujar Hassan setengah mengejek.
__ADS_1
Aisyah mengerutkan keningnya, dia masih belum paham dengan maksud ucapan Hassan. "Maksud anda apa, Mas?"
"Semua rumah sakit pasti ada CCTV-nya, kita bisa menyuruh petugas di sana untuk memutar ulang rekaman CCTV sesuai dengan hari dan waktu kejadian," tutur Hassan.
"Sudahlah, buat apa juga. Saya sudah tidak peduli sama tetangga yang menjenguk ibu. Saya hanya ingin ibu sembuh secepatnya," kata Aisyah yang sudah merasa putus asa.
"Syah, bukannya saya ingin menakutimu. Tapi, penyakit depresi bukanlah penyakit yang gampang disembuhkan. Itu sama seperti penyakit jiwa dan pikiran. Dan saya juga yakin, pasti ibu kamu syok berat mendengar pengakuan dari tetangga kamu tentang pekerjaan kamu setiap malamnya. Akhirnya ibu kamu jadi seperti itu," ujar Hassan.
Aisyah pun terduduk di lantai, dia sudah kehilangan semangat untuk hidup.
"Kalau gitu lebih baik saya mati saja, hidup pun saya tidak pernah bahagia."
Plakkk!
Satu tamparan kembali mendarat di pipi Aisyah yang belum mendapat tamparan, jadi kini kedua pipi Aisyah telah merasakan tamparan dari tangan yang sama.
Aisyah memegangi pipinya, dia menatap sinis ke arah Hassan. "Kenapa anda tidak bunuh saja sekalian? Buat apa hanya ditampar?"
"Syah! Kamu pikir membunuh orang itu gampang?" ketus Hassan.
"Kenapa? Anda takut masuk penjara?" balas Aisyah. Tanpa sadar satu buliran bening menetes pelan di pipi gadis itu.
"Hahaha!" Hassan tertawa jahat.
"Jelas saja, semua orang tidak mau masuk penjara. Apalagi saya memiliki ibu dan istri yang sayang dengan saya. Jadi, saya tidak akan mengotori tangan saya hanya untuk membunuh orang sepertimu."
Aisyah diam, namun dalam hatinya menangis. Dia tidak mau lagi menghiraukan ucapan Hassan. Karena baginya percuma saja berdebat dengan pria itu.
Tak lama Hassan mengulurkan tangannya ke arah Aisyah. "Bangunlah."
Aisyah masih diam. Akhirnya Hassan membopong tubuh Aisyah dan membaringkannya di atas kasur.
"Saya sedang tidak ingin bercinta!" ketus Aisyah yang mengira Hassan akan mengajaknya berhubungan badan.
Hassan kembali tertawa kecil. "Saya juga tidak ingin bercinta sama orang yang sedang tidak fokus, mana nikmat?"
Aisyah diam ....
"Tidurlah, saya juga capek. Dan saya akan tidur menemanimu," kata Hassan.
Aisyah menoleh ke arah Hassan. "Dari mana anda bisa tahu, kalau saya ada di diskotik?"
Pertanyaan Aisyah membuat Hassan yang sudah memejamkan matanya, kini membuka kembali matanya. Dia tersenyum tenang kepada Aisyah.
Tadi malam saya telpon kamu tapi nomer kamu tidak aktif, dan tiba-tiba saja perasaan saya tidak enak. Sebelumnya saya pernah memergokimu di diskotik, jadi saya pikir kamu sedang ada di diskotik. Dan ternyata benar dugaan saya," tutur Hassan.
"Tapi diskotik kan banyak, kenapa anda bisa langsung tahu kalau saya ada di sana?" Aisyah masih merasa heran.
"Hei, apa kamu lupa? Sebelum kenal kamu, tempat singgah saya memang di diskotik. Saya memasuki semua diskotik yang ada di kota ini. Dan itu adalah diskotik ke empat yang saya datangi sebelum akhirnya ketemu kamu. Terlalu mudah untuk mencari keberadaan kamu," ungkap Hassan.
__ADS_1
Aisyah kembali diam, dia sudah merasa kalah berdebat dengan Hassan.