
Sore hari tiba, Reta baru saja pulang dari tempat kerja. Dia berniat ingin membersihkan diri. Namun ketika dia masuk ke dalam kamar mandi, Reta melihat sabun mandi yang terdapat di dalam kamar mandi itu telah mengecil.
"Duh aku lupa beli sabun, sudah kecil pasti nggak berbusa, aku beli dulu deh,' batin Reta kemudian masuk ke dalam kamar untuk mengambil uang.
Reta berjalan ke warung terdekat. Setelah mendapatkan sabun yang diinginkan, Reta pun berjalan pulang. Dalam perjalanan, Reta berpapasan dengan Hana yang baru saja pulang kuliah.
"Dari mana, Ret?" tanya Hana dengan senyum khasnya.
"Eh, kamu, Na? Ini habis beli sabun, mau mandi malah sabunnya habis," sahut Reta sambil menunjukkan plastik yang dibawanya kepada Hana.
"Oh ... eh, aku ada berita bagus," gumam Hana antusias.
Reta mengerutkan keningnya. "Berita apa, Na?"
Hana pun mendekatkan wajahnya ke telinga Reta, dan berbisik pelan.
"Tadi pagi waktu aku mau ke kampus, aku nggak sengaja lihat si Aisyah sama cowok yang suka ke rumahnya, di depan hotel."
Reta terbelalak. "Huh? Masa sih?"
"Beneran, buat apa juga aku bohong? Nih, aku kasih lihat buktinya." Hana mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan membuka galeri, kemudian menunjukkan foto Aisyah sedang bersama Hassan di depan hotel. Mereka dalam posisi hendak masuk ke dalam mobil.
"Wah, nekat benar dia," gumam Reta.
"Dan ngapain juga mereka di depan hotel, kalau bukan habis check-in tadi malam," kata Hana kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.
"Iya juga, dia kan memang kerja jadi ... sudah tahu kan kamu?"
"Semua orang di lingkungan kita sudah pada tahu, dong."
"Hem, kerja apa lagi coba yang gajinya gede tiap minggu bisa beli barang mewah, dipikir saja pakai akal sehat."
"Iya lah, nggak ada orang sukses di atas kasur, kecuali ...."
"Kupu-kupu malam."
"Hahaha ....!"
"Oh iya, tadi siang waktu aku sedang makan di warung, aku juga lihat Aisyah di depan rumah sakit."
"Kalau itu sih, dia pasti sedang menjenguk ibunya. Kan ibunya masuk rumah sakit. Pasti gara-gara ulah anaknya juga."
"Dan sepertinya Bu Sri belum tahu, kalau anaknya kerja begituan. Soalnya aku pernah nggak sengaja dengar waktu Bu Sri sedang ngobrol sama ibuku, katanya Aisyah kerja di kafe makanan shift malam."
__ADS_1
"Ini nggak bisa dibiarkan. Desa kita jadi tercemar karna ada kupu-kupu malam seperti Aisyah."
"Benar, dia harus diusir dari desa ini karna pekerjaan dia hina sekali, dan uang yang dia dapatkan pastilah uang haram."
"Haha, bisa saja kamu, Na. Memangnya ada ya uang haram? Apa bedanya dengan uang halal? Menurutku sih bentuk, gambar, dan warnanya sama."
"Maksudnya, si Aisyah mendapatkan uang dengan cara nggak halal."
Kedua gadis itupun tertawa terkekeh. Begitulah percakapan antara Reta dan Hana. Mereka berdua adalah sebagian warga yang membenci Aisyah
"Ekhem! Kalian berdua ini, sedang apa di jalan?"
Sebuah suara mengejutkan kedua gadis tersebut. Mereka menoleh ... dan ternyata Bapak ketua desa sudah berdiri di hadapan mereka.
"Eh, Pak RT," sapa Hana sopan disertai senyuman ramah Reta.
"Kalian sedang apa?" Bapak ketua desa mengulangi pertanyaannya.
"Ini, Pak, kita sedang membahas Aisyah. Dia itu selalu pergi malam dan pulang pagi, terus setiap minggu bisa beli barang-barang mahal. Nah wajar kalau kita curiga, dia itu kerja apa dan dapat uang sebanyak itu dari mana setiap harinya," tutur Hana disertai anggukan kepala Reta.
"Ck, ck, ck, kalian ini, tidak baik mencampuri urusan orang lain. Biarkan saja si Aisyah mau gimana, selama dia tidak merugikan kalian," tegas bapak ketua desa sambil menggelengkan kepalanya.
Hana dan Reta pun langsung bungkam, mereka berdua saling melirik.
"Ya sudah, sebaiknya kalian pulang dan jangan seperti ini lagi. Bayangkan kalau orang yang mereka bicarakan mendengar langsung. Pasti dia jadi kecil hati. Dan seumpama dibalik, kalian di posisi Aisyah terus diomongin sama orang satu kampung, gimana perasaan kalian?" lanjut bapak ketua desa.
"Hehe, kami minta maaf, Pak," ujar Hana sambil meringis.
"Ya sudah jangan diulangi lagi, kasihan Aisyah kalau sampai dia tahu hal ini. Mungkin saja dia seperti itu, karna ada sebab dan alasan tertentu. Kita kan tidak tahu bagaimana yang sebenarnya," tegas bapak ketua desa.
"Iya, Pak," sahut Hana dan Reta secara bersamaan.
Kemudian bapak ketua desa itupun berlalu meninggalkan kedua gadis itu.
"Sepertinya demo kita nantinya nggak bakal berhasil deh, Ret," lirih Hana setelah bapak ketua desa sudah menjauh.
"Demo apaan, Na?" heran Reta menatap Hana.
"Kan kita mau demo bareng sama warga lain, supaya si Aisyah diusir dari desa ini."
"Oh iya, benar juga kamu, Na."
"Eh, aku ada ide," celetuk Hana.
__ADS_1
"Apa, Na?" tanya Reta antusias.
"Sini aku bisikin." Hana pun kembali berbisik di telinga Reta.
Tak lama Reta tersenyum evil kepada Hana. "Boleh juga tuh, ide kamu."
"Ya sudah nanti kabar-kabar lagi, aku pulang dulu ya mau mandi," pamit Reta.
"Okey," angguk Hana.
Kedua gadis itupun berpisah arah.
****
Sementara itu Aisyah sedang berada di tempat Tini. Gadis itu merasa suntuk berada di rumah terus.
"Jadi, kapan kamu nikah sama Tuan Hassan?" tanya Tini.
"Nunggu ibuku pulang dari rumah sakit, Tin. Kondisinya masih belum memungkinkan, tapi katanya sih lusa atau kapan sudah boleh pulang. Sebenarnya ibuku sudah agak sehat, cuma darahnya rendah," papar Aisyah.
Tini pun mengangguk. "Tapi aku salut sama kamu, Syah. Kamu bener-bener kuat ... kalau aku berada di posisi kamu, aku pasti udah bunuh diri."
"Tin, akupun sebenernya gak sanggup lagi menerima semua kenyataan ini. Mana aku cuma dinikah siri, dan kalo anak ini lahir, aku harus kasih ke Tuan Hassan dan aku juga sama sekali gak boleh ngakuin anakku sendiri. Terus, aku bakal dicere langsung. Om Hassan nyuruh aku buat lupain anakku dan juga hubunganku sama dia," jelas Aisyah.
"Ya ampun, kejem banget. Aku baru tau kalo Tuan Hassan kayak gitu. Kenapa juga dia gak ngadopsi anak di panti asuhan? Kan banyak bayi-bayi yang terlantar, ibunya gak mau ngakuin," ujar Tini ikut merasa geram.
"Om Hassan pernah bilang, katanya dia gak mau ngambil anak dari panti asuhan, dia maunya anak dari darah daging dia sendiri," kata Aisyah.
"Kalo gitu, kenapa gak dari dulu dia bayar perempuan yang mau dihamilin, terus anaknya dia minta. Perempuannya dibayar, beres deh. Lagian, jaman sekarang banyak tuh, perempuan yang pada hamil di luar nikah, dan abis lahir, anaknya malah dijual," ujar Tini.
Jleb!
Mendengar kata 'hamil di luar nikah' Aisyah mendadak merasa seperti apa yang Tini bicarakan. Namun Aisyah berusaha tenang, dia tidak ingin dianggap sensitif oleh Tini walaupun kenyataannya orang hamil memang sangat sensitif. Lagipula Aisyah yakin bahwa ucapan Tini bukan ditujukan untuk dirinya.
"Kalo kayak gitu caranya, Tuan Hassan gak bakal punya anak selamanya, kalo dia gak mau anak adopsi," lanjut Tini lagi.
"Entahlah, Tin, aku juga gak ngerti apa isi kepala Om Hassan.
"Isi kepalanya pasti otak sama darah," kelakar Tini.
Kedua gadis itupun tertawa terpingkal.
"Semoga saja ibu kamu cepat sehat, Syah," ujar Tini.
__ADS_1
"Harus dong, masa iya mau sakit terus," seloroh Aisyah.
Tini pun tersenyum. Kedua gadis itupun asik bersenda gurau ....