Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Kebetulan


__ADS_3

Aisyah tersenyum dalam anggukannya. "Boleh deh."


Mereka pun masuk ke dalam. Tak lama seorang pelayan datang menghampiri.


"Selamat siang Nona-Nona, mau pesan apa? Ini ada daftarnya, kalian bisa pilih sendiri," ucap pelayan itu sambil tersenyum ramah.


Tini mengambil buku menu tersebut, dan membuka halaman demi halaman. Pilihannya jatuh pada roti cannai khas negeri jiran. Dan satu gelas jus strawberry sebagai pelepas dahaga di tengah teriknya panas mentari siang itu.


"Nih, Syah, sekarang kamu pilih." Tini menyodorkan buku menu kepada Aisyah.


Dan Aisyah pun meraih buku menu tersebut dan melihat daftar makanan yang tertera. Dia segera menulis pada sebuah nota yang sudah disediakan. Aisyah memilih satu porsi sate odeng, dua buah corn dog, dan satu paket pizza moza, beserta satu gelas besar es mojito.


"Nih, Tin, udah aku tulis." Aisyah menyerahkan kertas nota kepada Tini.


Tini pun menerima, dan sempat membacanya. Matanya terbelalak dengan apa yang Aisyah pesan, seketika dia pun terkekeh.


"Kamu kenapa, Tin? Kok ketawa gak jelas gitu?" Aisyah mengerutkan keningnya.


"Kamu itu pesan makanan sebanyak ini, apa bisa abis?" tanya Tini merasa tidak yakin.


"Ya aku juga gak tau, abis apa gak, yang penting aku seneng aja, jadi asal pesan," sahut Aisyah ikut meringis.


Tini pun menggelengkan kepala. "Dasar bawaan bayi."


Pelayan yang sedari tadi berdiri di dekat kedua gadis itupun ikut tersenyum mendengar perbincangan kedua gadis tersebut.


"Oh iya ini, Mas, pesanan kita sudah ditulis." Aisyah memberikan kertas nota kepada pelayan.


"Baik, Nona, tapi agak antri, mungkin juga agak lama, karna pesanan sangat banyak, inipun ada yang sudah satu jam menunggu," papar pelayan itu sambil menerima kertas nota dari tangan Tini.


"Iya, nggak masalah kok, kita juga nggak keburu. Lagian kita sedang main saja terus iseng mampir kesini, dan belum terlalu lapar juga." Tini berusaha supaya pelayan itu tidak panik dalam menghadapi pelanggan.


Dan lagi Tini memperhatikan keadaan sekitar, memang benar, rumah makan itu sangat ramai pengunjung. Konon menurut kabar, makanan di tempat itu memang rasanya menggoyang lidah. Di samping pelayanan yang ramah dan penyajian makanannya yang higienis, tempat itu juga terjaga kebersihannya, membuat para pelanggan betah untuk sering-sering singgah di tempat itu.

__ADS_1


Sedangkan Aisyah mengangguk, ikut mengiyakan ucapan Tini.


"Baiklah saya permisi dulu, pesanan akan kami proses semaksimal mungkin," kata pelayan itu kemudian segera berlalu dari hadapan kedua gadis itu.


Kamu gak buru-buru kan, Syah?" tanya Tini kepada Aisyah.


"Gak kok, Tin, santai aja lagi," sahut Aisyah tenang.


"Oke deh kalo gitu," angguk Tini.


****


Dan di tempat lain ....


Hanum terus mengemudikan mobilnya, tanpa sengaja netranya mengarah pada sebuah Restauran Family. Wanita itu pun menepikan mobilnya di pinggir jalan seberang rumah makan tersebut.


'Aku makan di sana saja deh. Dulu aku pernah makan sama Papah, di sana masakannya benar-benar enak, jadi aku pun tidak rugi membayar mahal untuk satu porsi makanan,' batin Hanum kemudian turun dari mobil dan berjalan menyeberangi jalan.


Tak lama seorang pelayan datang menghampiri Hanum. Dia menanyakan apa yang akan dimakan oleh Hanum, dan menyuruh wanita itu untuk memilih dan menulisnya. Setelah memilah dan menulis apa yang ingin dimakan, Hanum menyerahkan kertas nota kepada pelayan. Kemudian pelayan itu tersenyum dan segera berlalu dari hadapan Hanum.


"Jadi sekarang suami kamu bakal jarang datang menemui kamu dong, Syah?" tanya Tini.


"Iya, Tin, Mas Hassan bilang gak bisa sering-sering lagi datang. Dan aku bakal kesepian," sahut Aisyah berbicara lepas.


Deg!


Tanpa sengaja Hanum mendengar pembicaraan kedua gadis tersebut. Perlahan, wanita itu menoleh ke belakang di mana suara yang didengarnya itu berasal.


Hanum mengerutkan keningnya, merasa tak asing dengan kedua gadis tersebut. 'Lho, itu kan dua anak yang tabrakan denganku tadi di mall. Tapi ... tunggu deh, tadi aku dengar salah satu dari anak itu menyebut nama Hassan? Siapa yang dimaksud? Ah, mungkin aku terlalu berlebihan, nama orang kan banyak yang sama. Tetangga sebelah juga namanya Hassan,' batin Hanum berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruknya.


Namun, entah apa yang membuat Hanum tetap penasaran dengan ucapan kedua gadis itu, yang menyebutkan sebuah nama yang sama dengan suaminya. Hanum masih memperhatikan kedua gadis itu dengan kepala menoleh ke arah mereka.


Dan pada saat yang bersamaan, Aisyah secara tak sengaja melihat Hanum. Dia pun terbelalak. Namun dengan cepat Aisyah langsung menatap Tini seolah tidak melihat Hanum. Dan Hanum pun tidak menyadari, kalau keberadaannya diketahui oleh Aisyah.

__ADS_1


"Tapi, kalau dipikir-pikir, Mas Hassan itu sayang sama aku, dia benar-benar perhatian sama aku. Terbukti dia kan kerja di Singapur, tapi selalu menyempatkan diri untuk pulang setiap tiga hari sekali, hanya untuk menemui ku. Dan dia bilang bakal jarang pulang, mungkin dia capek. Karna dia bilang, kalau toko rotinya mengalami penurunan. Dengar-dengar ada salah satu karyawan yang berbuat curang di toko Mas Hassan." Aisyah sengaja mengalihkan pembicaraan dan mengeraskan volume suaranya.


Tini merasa heran dengan arah pembicaraan Aisyah yang mulai tidak jelas. Namun Tini berusaha tenang. Dia menatap Aisyah sambil mengerutkan keningnya. Dan saat itu juga, Aisyah memberi kode kepada Tini. Aisyah seolah menyuruh Tini untuk melihat ke belakang.


Tini pun berpura-pura berdiri seolah dia sedang mencari pelayan dia menoleh ke kiri dan ke kanan, namun manik matanya diam-diam melirik ke arah yang dimaksud oleh Aisyah.


Dan Tini hampir saja terkejut melihat Hanum sedang duduk menunggu pesanan, namun Hanum sudah tidak lagi menatap kedua gadis itu.


Tini pun duduk lagi. Akhirnya dia paham maksud pembicaraan Aisyah yang menyimpang dari jalur sebenarnya. Rupanya Aisyah berusaha mengecoh Hanum.


Tini pun tersenyum. "Ya sudah kamu yang sabar saja, nggak apa-apa suami kamu jarang pulang, yang penting uangnya nggak pernah telat."


"Iya, Tin, tapi aku juga sedang membujuk suamiku, supaya dia mau pindah usaha," kata Aisyah.


"Pindah? Pindah kemana, Syah?" heran Tini.


"Ya ke Indonesia lah, memang kemana lagi, kalau perlu di samping rumahku biar dibangun toko roti," ujar Aisyah sambil menahan tawa.


"Oh iya iya aku paham, ya sudah terserah kamu saja, yang penting kamu bahagia," ujar Tini menutup pembicaraan.


Diam-diam Hanum bernapas lega, dia merasa sudah salah duga. 'Huft, ternyata benar, aku saja yang berlebihan. Hassan suamiku kan kerja di kantor dan bukan di toko roti, apalagi di luar negri. Ya maklum juga sih, aku punya pikiran yang tidak-tidak, karna Papah kan sering pulang pagi,' batinnya.


Kini Hanum pun tidak lagi menghiraukan obrolan kedua gadis itu. Dia memainkan ponselnya sambil menunggu pesanan.


Kriiing ....


Tiba-tiba ponsel Aisyah berdering. Aisyah meraih ponsel yang terletak di atas meja, dan melihat pada layar ponsel. Kedua bola matanya membulat seketika. 'Mas Hassan,' batinnya.


"Siapa, Syah?" tanya Tini yang merasa heran karena Aisyah hanya mengamati ponselnya tanpa mengangkat panggilan tersebut.


"Suamiku," sahut Aisyah singkat.


"Kok gak diangkat?" tanya Tini berpura-pura penasaran.

__ADS_1


__ADS_2