Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Nikah Siri


__ADS_3

Sore hari, Hassan pulang ke rumah lebih awal. Hanum menyambut dengan heran, sambil mengerutkan keningnya.


"Lho, Papah tumben pulang cepat?"


Kini giliran Hassan yang merasa heran .....


"Memang kenapa? Apa Mamah tidak suka, kalau aku pulang cepat?"


Hanum tersenyum. "Ya suka, Pah, hanya saja aku heran, biasanya kamu selalu pulang pagi, itu hampir tiap hari, lho."


Hassan pun ikut tersenyum. "Tadi kerjaan kantor hanya sedikit, jadi aku pulang cepat, dan tidak ada urusan apapun dengan klien hari ini."


"Oh, okelah kalau begitu," angguk Hanum.


"Tapi, besok sepertinya aku pulang pagi lagi, karna ada jadwal mengecek proyek di Kota A." Hassan menambahkan.


Hanum pun menggelengkan kepala, dia benar-benar geregetan dengan suaminya. "Terserah kamu deh, Pah, sekarang kita makan yuk, bibi sudah masak untuk kita, aku lapar sekali."


Hassan mengangguk, kemudian berjalan mengikuti Hanum ke ruang makan. Kini mereka duduk bersama, Hanum mengambilkan piring untuk Hassan.


Mendadak Hassan merasa ada yang kurang. "Mommy mana?"


"Dia pulang mendadak tadi siang, karna dapat telpon. Aku tidak tahu pasti, mungkin dia ada urusan penting," jelas Hanum.


'Huft, bagus deh Mommy sudah pulang, jadi aku aman dari interogasinya. Tinggal memikirkan ide lagi, beberapa bulan kemudian,' batin Hassan.


"Pah, kamu kenapa sih, harus membohongi Mommy? Kenapa tidak bilang apa adanya saja, kalau aku memang belum bisa hamil," kata Hanum.


"Sudahlah, kamu turuti saja apa yang aku mau," sahut Hassan.


"Tapi, besok kalau sudah sembilan bulan, Mommy pasti kesini lagi, karna mengira kalau aku sudah atau akan melahirkan. Terus, kita dapat bayi dari mana?" tanya Hanum sedikit memakai logika.


"Pokoknya, tugas kamu hanya mengikuti perintahku, dan satu lagi, kamu harus tetap tenang dan tidak boleh panik," tutur Hassan.


"Apa kamu berubah pikiran?" tanya Hanum.


"Maksud kamu, berubah pikiran gimana?" heran Hassan.


"Ya kan kamu pernah bilang, Pah, kalau kamu tidak mau adopsi anak. Siapa tahu kamu berubah pikiran, dan akan mengadopsi anak," tutur Hanum.

__ADS_1


"Ya, bisa jadi," kata Hassan seraya tersenyum penuh arti.


"Baguslah kalau Papah melakukan itu. Lagian kata orang-orang, kalau kita mengadopsi anak, itu bisa memancing kita biar bisa punya momongan," ujar Hanum.


Hassan mengangguk, dalam hati dia merasa prihatin terhadap istrinya yang tidak dapat mengandung dan melahirkan anak, layaknya wanita pada umumnya.


"Ya sudah habiskan makannya, setelah ini aku akan mandi dan istirahat," kata Hassan.


"Baik, Pah," angguk Hanum.


Selesai makan, Hassan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu dia memakai pakaian santai, dan duduk di teras depan rumah dengan sebatang rokok di tangan.


Hassan menerawang ke depan. Dia berkhayal apabila Aisyah yang menjadi istri sahnya, pasti rumah tangganya akan sempurna dengan kehadiran sang buah hati.


Namun Hassan segera menampik semuanya. 'Ah, kenapa aku jadi memikirkan hal itu? Kenyataannya istriku adalah Hanum, dan bukan Aisyah. Yang penting aku akan mempunyai anak darah dagingku sendiri,' batinnya.


****


"Saya terima nikahnya, Aisyah binti Sri dengan mahar dibayar tunai!"


Aisyah kini sudah menjadi istri siri dari Hassan, atau lebih tepatnya terpaksa menjadi istri kedua.


Pernikahan siri dengan saksi beberapa tetangga saja, Aldi yang merupakan rekan Hassan, seorang pengacara, dan juga Tini, teman setia Aisyah tanpa ada pihak keluarga Hassan.


Kini acara telah selesai, semua saksi pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan Tini. Dia merasa tidak enak hati, kalau harus berlama-lama berada di sana. Kini hanya tersisa kedua mempelai, dan juga pengacara pribadi Hassan saja.


Kemudian Hassan menyuruh sang pengacara untuk memberikan dokumen, yang sudah dia siapkan untuk ditandatangani oleh Aisyah.


"Ini apa, Mas?" tanya Aisyah merasa heran.


"Itu surat perjanjian kita, kamu baca ya," sahut Hassan dengan nada datar.


Aisyah pun mengangguk, seraya membuka dokumen tersebut. Ada hal tertulis, jika seluruh hidupnya dan kebutuhannya akan ditanggung oleh Hassan. Dan Hassan memastikan bahwa hidup Aisyah akan terjamin.


Namun, seketika ekspresi wajahnya berubah, ketika membaca tulisan di bawahnya. Bahwa Aisyah tidak memiliki hak apapun terhadap anaknya nanti. Jangankan untuk bertemu, merasa bahwa dirinya telah melahirkan anak pun, Hassan melarangnya.


"Bagaimana? Apa masih ada yang perlu ditambahkan?" tanya Hassan menatap intens ke


arah Aisyah yang masih tertunduk dengan dokumen di tangannya.

__ADS_1


"Tidak, Mas, ini sudah cukup," kata Aisyah terpaksa.


"Ya sudah, cepat tandatangani," titah Hassan.


Aisyah pun segera menandatangani dokumen tersebut, lalu memberikannya kepada sang pengacara. Setelah semua dirasa beres, sang pengacara pun berpamitan pulang.


Aisyah duduk di atas sofa dengan air mata yang terus menemaninya tanpa bisa berbicara. Hassan yang sedari tadi memperhatikan Aisyah, pun menghampirinya.


"Kamu kenapa? Saya sudah menikahimu, tapi kamu bukannya bahagia, malah sedih. Sudah, jangan mikir macam-macam, jalani saja semuanya, saya akan tanggung jawab sama kamu, semua kebutuhanmu juga apa yang kamu mau, pasti aku penuhi," ujar Hassan.


Tidak mengangguk, tidak menggeleng, apa lagi bersuara. Aisyah hanya terdiam mencari kekuatan agar tetap bertahan hidup demi nyawa yang tumbuh di rahimnya.


Sampai akhirnya, malam semakin larut dan ponsel Hassan terus berdering karena seorang istri tengah merindukan suaminya yang belum kembali sampai saat itu.


Hassan memilih mendiamkan. Dia tidak menjawab karena menjaga perasaan Aisyah, yang tengah berada di sampingnya.


"Kenapa tidak diangkat?" tanya Aisyah.


"Tidak apa-apa, malam ini aku bersamamu, jadi aku tidak ingin ada yang mengganggu," tutur Hassan kemudian menon-aktifkan ponselnya.


Aisyah mencoba untuk berdamai dengan suasana. Dia pun mengajak Hassan mengobrol.


"Oh iya, besok aku akan mengajakmu bulan madu. Kamu mau kemana?" tanya Hassan


Aisyah terkesiap tak percaya. "Em, terserah anda saja, Mas."


"Kok terserah saya, apa kamu tidak punya pilihan?" heran Hassan.


Aisyah hanya meringis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, membuat Hassan menggelengkan kepalanya.


"Oh iya, apa kamu bisa masak?" tanya Hassan lagi.


"Bisa, setiap harinya, aku selalu masak waktu masih sama ibu. Dan karna ibu sekarang sedang sakit, aku jarang masak, lagian masak kalau tidak kemakan sayang juga," papar Aisyah.


"Kalau begitu, mulai besok kamu masak ya, aku ingin mencicipi masakan kamu," pinta Aisyah.


"Baiklah," angguk Aisyah.


"Dan, mulai besok mungkin aku jarang kesini, tidak bisa setiap hari seperti kemarin-kemarin, jadi aku harap kamu bisa menjaga kandungan kamu. Dan, aku tidak mau mendengar lagi, kamu ke diskotik!" kata Hassan ketus.

__ADS_1


Aisyah menatap Hassan. "Tapi, kenapa jarang kesini?"


__ADS_2