Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Berbohong


__ADS_3

Selang beberapa menit setelah Hassan pulang, Aisyah keluar kamar dan segera menuju ke jalan besar. Dia menyetop taxi yang kebetulan lewat.


Aisyah menyuruh supir taxi untuk mengantarkan ke rumah sakit tempat ibunya dirawat.


****


Sementara itu Hassan telah tiba di rumahnya. Dia masuk ke dalam dan melihat Hanum sedang mencuci tangan. Hassan segera menghampiri, dan memeluk istrinya dari belakang.


Hanum terkesiap. "Kamu sudah pulang, Pah?"


"Iya, Mah, maaf ya aku pulang pagi lagi," ucap Hassan seolah merasa bersalah.


"Iya, Pah, tidak apa-apa," kata Hanum tenang.


Perlahan Hassan menyibak surai pendek Hanum, lalu mengecup tengkuk leher istrinya itu.


Deg!


Jantung Hanum berdetak kencang. Seketika adrenalinnya bermain. Kini tangan Hassan mulai bergerak meremas lembut kedua buah kembar Hanum yang berukuran kecil.


"Pah, masih pagi, nanti dilihat Bibi tidak enak," bisik Hanum walaupun dirinya pun sebenarnya merasa nafsu.


"Memangnya kenapa? Kita kan suami istri, dan lagian aku kan hanya melakukan pemanasan," sahut Hassan lirih.


Hanum pun mendadak tersipu, dia berpikir bahwa suaminya akan mengajaknya bergulat di atas ranjang.


Memang, Papah tidak ingin?" tanya Hanum mencoba memancing suaminya.


"Aku belum mandi, Mah. Kan aku baru saja pulang," seloroh Hassan.


"Huuu, Papah ini, sana mandi dulu," cibir Hanum.


"Ya sudah aku mau mandi dulu," kata Hassan sambil menahan tawa.


Hanum mengangguk. "Habis mandi, kita sarapan sama-sama."


"Oke, Mah," angguk Hassan kemudian segera bergegas menuju ke kamar mandi.


Selesai mandi dan berpakaian, Hassan dan istrinya kini duduk bersama dalam satu meja. Mereka menikmati sarapan pagi mereka.


Kriiing ....


Tiba-tiba ponsel Hassan berdering. Hasaan segera meraih benda pipih yang terletak di atas meja makan, kemudian menatap layar ponselnya. Kedua alisnya saling bertaut.

__ADS_1


"Momy?" lirih Hassan. Dia sudah dapat menebak tujuan sang ibundanya menelpon.


"Angkat dong, Pah," kata Hanum yang memperhatikan Hassan hanya memandangi ponselnya saja.


"Halo, Mom?" Panggilan pun tersambung ....


[Halo, Hassan. Aku nanti akan ke rumahmu.]


Hassan pun terbelalak mendengar rencana sang ibundanya. Dia segera melirik ke arah Hanum. Sementara Hanum hanya mengamati wajah Hassan tanpa tahu obrolan apa yang sedang mereka bicarakan.


"Em, tapi bukankah kemarin Momy bilang, Momy akan kesini kalau umur kandungan Hanum sudah menginjak delapan bulan?" ujar Hassan sedikit merasa cemas.


[Hassan, kamu itu lucu, aku itu kangen sama kamu sama istri kamu juga. Jadi aku ingin main kesana. Mau jenguk kalian sama calon cucuku juga.]


"Baiklah, Mom," pasrah Hassan.


Panggilan pun berakhir ....


"Momy kenapa, Pah?" tanya Hanum.


"Dia mau main kesini," jawab Hassan datar.


"Ya tidak apa-apa kan, Pah?" ujar Hanum merasa heran.


Hassan terdiam sejenak ....


"Eh, i-iya, Mah?" gagap Hassan.


"Kamu kok seperti orang bingung gitu?" Hanum mulai curiga dengan tingkah Hassan.


Hassan pun mengangkat cangkir berisi minuman hangat, kemudian menyesapnya perlahan.


"Mah, aku sudah bohong sama Momy. Aku bilang kalau Mamah sedang hamil satu bulan."


Hanum pun terbelalak mendengar pengakuan Hassan. "Kamu gila ya, Pah?"


"Aku tidak gila, aku terpaksa bilang begini supaya Momy tidak kepikiran terus. Jadi aku minta tolong kerja samanya ya Mamah," tutur Hassan.


"Kerja sama apa, Pah?" Hanum mengerutkan keningnya.


"Nanti kalau Momy kesini, kamu bilang saja kalau kamu sedang angkatan hamil. Sudah pokoknya kamu nurut sama aku," tegas Hassan.


"Terus, kalau sudah sembilan bulan gimana, Pah? Kan Momy pasti tetap mengira kalau aku akan melahirkan?" Hanum benar-benar tak habis pikir dengan rencana suaminya.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, Mah. Dan aku minta kalau Momy di sini, kamu harus bersikap seperti orang hamil pada umumnya. Kamu pura-pura muntah-muntah, pura-pura ingin makan apa gitu, supaya Momy percaya kalau kamu sedang hamil," tekan Hassan santai.


"Tapi kalau besok waktunya melahirkan, apa yang akan kita lakukan, Pah? Momy pasti kesini lagi dan dia tentu akan menanyakan bayi kita. Kamu mau bilang, kalau bayinya meninggal? Tetap saja ditanya jenazahnya," cemas Hanum sedikit memakai logika.


"Kamu itu belum-belum sudah sok tahu. Aku sudah bilang, kamu turuti saja apa yang aku perintahkan. Semua sudah aku atur. Dan yang paling penting, Mamah pasti senang kalau punya bayi besok," kata Hassan.


Hanum pun diam sejenak, dia sudah paham akan watak Hassan. Kalau pria itu sudah bertindak, tidak ada yang berani menentangnya.


Iya, Pah," angguk Hanum kemudian.


Selesai sarapan, Hassan berpamitan kepada Hanum untuk berangkat ke kantor.


"Papah nanti pulang besok lagi?" tanya Hanum seakan sudah dapat menebak apa yang terjadi.


"Belum tahu, Mah. Semoga saja urusannya cepat kelar hari ini, jadi aku bisa pulang lebih awal. Memang kenapa, Mah?" ujar Hassan.


Hanum pun tersenyum penuh arti. "Aku ingin bercinta," bisiknya.


Seketika wajah Hassan merah padam. Sebagai pria normal, dia juga senang diajak bercinta oleh istrinya.


Hassan pun menatap Hanum dalam-dalam. "Mah, kita bisa bercinta kapan saja, tidak harus nanti malam. Sekarang pun bisa, tapi aku sudah kesiangan, tidak enak sama karyawan kantor lain. Nanti mereka mencontoh tingkah burukku."


"Iya, Pah, aku ngerti kok," pasrah Hanum.


Hassan pun mendekatkan wajahnya ke wajah Hanum dan perlahan dia menempelkan bibirnya di bibir Hanum, membuat Hanum terkesiap. Namun wanita itu seketika paham dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya. Hanum pun segera membalasnya. Dalam sekejap saja, mereka kini saling berpagutan mesra.


Tak lama Hassan melepaskan pagutannya. "Ya sudah, aku berangkat dulu, Mah."


Hanum pun mengangguk dan setelah Hassan berangkat, Hanum masuk ke kamar, dia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Entah mengapa wanita itu sedang ingin bermalas-malasan saat itu.


Sherly menatap langit-langit kamar. 'Apa yang Papah rencanakan? Apa dia ingin mengadopsi anak? Tapi, kemarin aku kasih usul begitu dia tidak mau, katanya tidak suka anak adopsi. Atau mungkin dia sudah berubah pikiran? Mungkin dia ingin mengadopsi anak dan aku suruh berpura-pura di depan Momy, kalau aku sedang hamil. Tapi ... gimana kalau sudah enam sampai sembilan bulan, Momy datang lagi kesini? Dia pasti heran kalau perutku masih rata.'


Hanum membatin sambil terus menebak-nebak mengenai rencana Hassan.


'Ah tidak tahu deh, besok lihat saja apa maunya Papah sampai dia bersandiwara di depan Momy. Ngapain juga aku ikut pusing,' lanjut Hanum dalam hati.


****


Sementara itu, Aisyah baru saja tiba di rumah sakit, dia segera masuk ke dalam dan langsung menuju kamar rawat Bu Sri.


Sampai di dalam, Aisyah menghampiri ibunya. Seketika gadis itu tersentak dengan pemandangan di hadapannya.


"Ibu?"

__ADS_1


Aisyah melihat Bu Sri diam tak bergerak namun kedua matanya terbuka lebar, hanya berkedip pelan saja. Aisyah mencoba mengajak bicara sang ibu namun wanita paruh baya itu tetap diam tanpa menoleh pun.


"Ibu kenapa, ya?" tanya Aisyah pada diri sendiri.


__ADS_2