Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Demam


__ADS_3

Pagi hari, Aisyah merasa tidak baik-baik saja. Tubuhnya menggigil dengan hebat. Sesekali, terdengar suara bersin yang juga menimpali. Suhu tubuhnya sangat panas, sedangkan ia merasa kedinginan.


Bu Sri yang kebetulan mendengar Aisyah bersin-bersin, langsung berlari menuju kamar gadis itu. Tidak biasanya Aisyah menggigil seperti itu.


"Syah ...." Bu Sri memanggil lembut di telinga anaknya.


Aisyah berusaha membuka matanya, tetapi dia terlalu lelah dan juga lemah.


"Kamu sakit?" tanya Bu Sri.


Aisyah hanya bisa mengangguk, sulit sekali bibirnya untuk berkata-kata.


"Ya sudah, kamu istirahat saja. Dan kamu tidak usah masuk kerja dulu," ujar ibunya.


Bu Sri pun membiarkan Aisyah beristirahat. Wanita itu berjalan ke dapur, membuatkan sarapan untuk anaknya.


Bu Sri menggoreng telur untuk lauk sarapan, karena hanya itu yang dia dapati di dapur, lantaran dirinya belum berbelanja sayuran.


Setelah itu, Bu Sri masuk ke kamar Aisyah membawa piring berisi nasi dan telur dadar, lalu menyuruh Aisyah duduk. Wanita paruh baya itu mulai menyuapi Aisyah dengan penuh perhatian.


Aisyah pun makan dengan perlahan ....


'Maafkan ibu, Syah. Gara-gara ibu, kamu jadi ikut kena dampaknya,' batin Bu Sri.


"Setelah sarapan, kita ke dokter ya. Biar kamu diperiksa dan dikasih obat," tutur Bu Sri.


"Eh, tidak usah, Bu. Aku hanya masuk angin biasa, belikan saja obat warung," tolak Aisyah.


"Tapi ...."


"Bu, aku tidak apa-apa, cuma kecapek'an saja," kata Aisyah bersikeras.


"Ya sudah, nanti ibu belikan obat di warung, sekarang kamu habiskan makannya," pasrah bu Sri.


"Iya, Bu," angguk Aisyah sambil mengunyah makanannya.


"Hueeeekkkk ...."


Tiba-tiba Aisyah memuntahkan makanan, yang berada di dalam mulutnya. Kemudian, gadis itu kembali memuntahkan isi perutnya, membuat Bu Sri panik.


"Syah, kita ke dokter saja ya? Sepertinya kamu butuh perawatan dokter, daripada obat warung."

__ADS_1


Aisyah menggeleng pelan. "Tidak, Bu, aku tidak apa-apa. Belikan obat warung saja, pasti sembuh kok."


"Syah, kamu itu pasti terlalu capek bekerja, apalagi selalu berangkat malam. Angin malam tidak bagus untuk kesehatan, Nak," ujar Bu Sri merasa bersalah seketika.


"Bu, tolong belikan obat warung saja ya ...." Aisyah masih bersikukuh.


Bu Sri menghembuskan napas kasar, "hem, baiklah, tapi kalau sampai tiga hari tidak ada perubahan, kamu harus ke dokter."


"Iya, Bu," angguk Aisyah pelan.


Bu Sri pun segera berjalan ke dapur mengambil lap, dan segera mengelap muntahan Aisyah di lantai. Setelah itu, Bu Sri pergi ke warung. Tak lama, dia kembali ke dalam kamar Aisyah.


"Syah, minumlah obat ini, terus kamu istirahat."


Aisyah pun bangun dan duduk di kasur. Dia meminum obat dari ibunya, kemudian kembali merebahkan tubuhnya.


Bu Sri menatap anak gadisnya sesaat, kemudian menyelimuti tubuh anak itu dan keluar dari kamar. Wanita itu duduk di ruang tengah sambil termenung ....


"Kasihan sekali Aisyah, demi kesembuhan ku, dia sampai rela mengorbankan kesehatannya," gumamnya lirih.


Malam telah larut, saat itu Bu Sri berasa ingin buang air. Wanita paruh baya itu pun keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar mandi.


'itu pasti Zae,' batinnya seraya berjalan ke depan.


Bu Sri melihat Zaenal berjalan sempoyongan, dan lalu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Aroma alkohol menguar seketika.


Bu Sri mendekati Zaenal. "Zae, kamu dari mana saja? Sekarang kok jarang di rumah. Terus, kamu minum minuman keras ya?"


Zaenal tidak menggubris pertanyaan ibunya, dia memejamkan netranya.


Bu Sri hanga menggelengkan kepalanya, kemudian masuk ke kamarnya.


****


Dua hari berlalu ....


Aisyah kini telah merasa sehat. Malam hari, gadis itu bersiap akan berangkat kerja. Karena sudah dua kali gadis itu absen. Dan Hassan pun sudah menghubunginya berkali-kali.


Aisyah pun duduk di depan meja rias. Dia mulai bersolek perlahan, namun pandangan matanya tidak fokus. Aisyah memoles make-up ke wajahnya dengan pandangan kosong ke depan.


Selang beberapa menit, Bu Sri masuk dan menghampiri putrinya. Kamu sudah cantik dan rapi."

__ADS_1


"Iya, Bu, aku akan mulai bekerja lagi," ujar Aisyah.


Bu Sri menatap putrinya, kemudian mengusap surai hitamnya. "Kamu benar-benar pekerja keras, kamu mengganti jadwal tidurmu menjadi pagi, dan bekerja di malam hari. Maaf ya, kalau selama ini ibu sudah menjadi beban kamu."


"Ibu bicara apa, sih? Justru aku senang, Ibu sudah sehat, dan kita bisa kumpul sama-sama lagi, jadi kerja kerasku selama ini, tidak sia-sia. Aku juga senang, karna aku bisa membalas budi Ibu, yang sudah membesarkan aku," tutur Aisyah sambil tersenyum.


Bu Sri pun tersenyum. "Tapi, kamu jaga kesehatan ya."


"Iya, Buk. Oh ya, Buk ... mulai sekarang, Ibu tidak perlu capek kerja lagi. Ibu di rumah saja, masak nonton tivi, sama santai-santai menikmati hidup. Aku saja yang cari uang," tutur Aisyah membuat Bu Sri membelalakkan matanya.


"Lho, kenapa ibu harus berhenti kerja? Ibu tidak mungkin membiarkan kamu kerja sendiri."


"Tidak apa-apa, Bu. Biar aku saja yang kerja. Aku masih kuat, kok. Pokoknya Ibu harus istirahat total, aku tidak mau Ibu sakit lagi," ujar Aisyah.


Bu Sri pun mengangguk pasrah. Kemudian Aisyah berjalan ke depan.


"Aisyah!" Sebuah suara membuat Aisyah menoleh.


"Ada apa, Kak?" tanya Aisyah melihat Zaenal telah berdiri di hadapannya.


"Kamu itu, sebenarnya kerja apa? Kok berangkat malam, pagi baru pulang?" tanya Zaenal penuh selidik.


Aisyah pun gelagapan, 'duh, gawat. Aku harus bilang apa, ya?' batinnya.


"Kenapa Kakak begitu peduli dengan kerjaan ku? Bukankah Kakak tidak peduli, aku mau kerja apa, yang penting aku bisa kasih kakak uang," ucap Aisyah kemudian.


"Kamu itu, ditanya selalu gitu. Aku curiga, kamu pasti kerja gak bener, kan? Masa iya, kerja baru berapa bulan sudah bisa bangun rumah. Aku tau, kamu udah gak kerja di kantin lagi, kan?" tutur Zaenal.


"Memangnya, apa peduli Kakak dengan ku?" balas Aisyah.


Zaenal menatap adiknya dari ujung rambut, hingga ujung kaki. "Kayaknya kerjaan kamu yang sekarang, gajinya gede. Besok aku minta lima juta, aku mau kencan sama pacar ku."


Aisyah mengerutkan keningnya. "Kakak ini apa-apaan sih. Dikira cari duit gampang, gak ada uang segitu. Kalo seratus, sekarang juga ada."


"Seratus? Heh! Hari gini duit seratus buat apaan? Buat beli bakso udah ludes. Pokoknya, besok aku minta lima juta. Kalo gak, tau sendiri akibatnya," ancam Zaenal.


"Gak ada, Kak. Kakak mau ngancem aku? Silahkan. Kakak benar-benar tidak tahu terimakasih. Apa Kakak tahu, waktu Kakak pecahin kaca rumah Mas Ali. Dia minta ganti rugi dua juta lima ratus ribu. Siapa yang bayarin, kalo bukan aku?" papar Aisyah.


"Nah, berarti kan kamu banyak uang. Dua juta lebih aja, kamu bisa. Jadi besok aku minta lima juta. Udah, gak pake ngebantah!" ketus Zaenal.


"Ini ada apa, kenapa kalian selalu ribut? Kapan kalian akur? Kalau tetangga sampai dengar, tidak enak." Bu Sri kini berdiri di hadapan kakak beradik yang tengah berdebat itu.

__ADS_1


__ADS_2