
"Gak tahu, Tin, akhir-akhir ini perutku sering mual," kata Aisyah dengan wajah pucat.
Tini mengerutkan keningnya. "Mungkin kamu kena maag. Inget, kamu kan kerja malem, jadi jaga kesehatan. Apa kamu sering telat makan?" ujar Tini.
"Gak juga sih," kata Aisyah.
"Ya udah, kamu duduk dulu, aku buatin jahe anget ya, biar perut kamu agak enakan," kata Tini.
"Makasih, Tin, sorry ya udah ngrepotin," ujar Aisyah.
"Ah, jangan suka bilang gitu. Suatu saat, kalo gantian aku yang butuh bantuan kamu, kan gak sungkan juga," ujar Tini.
Aisyah tersenyum, dia merasa beruntung memiliki teman sebaik Tini. Sementara Tini berjalan ke dapur, dan tak lama dia menghampiri Aisyah dengan dua cangkir minuman jahe hangat. Mereka pun bersenda gurau.
****
**Kediaman Rumah Bu Sri
"Aku dengar, bahwa Aisyah sekarang bekerja sebagai perempuan malam, di hotel melayani lelaki hidung belang."
"Benarkah begitu? Pantas saja, dia tiba-tiba banyak uang, bisa beli apa saja. Lihat saja rumahnya sekarang, sudah mewah. Coba pikir pakai akal sehat, mana ada kerja baru berapa bulan saja, langsung kaya mendadak. Pegawai kantoran saja, bisa kalah."
"Lihat dadanya yang besar, dia pasti sering dipegang oleh banyak pria, kan?"
"Ya! Kau benar! Pindah kerja bukannya ganti kerjaan yang lebih baik, malah menjadi wanita murahan. Kita tunggu saja, lama-lama dia pasti hamil di luar nikah."
Bu Sri yang kebetulan sedang menyapu halaman saat itu, mendengar cibiran demi cibiran dari para tetangganya.
'Apa benar, Aisyah bekerja melayani lelaki hidung belang?' Bu Sri bertanya-tanya dalam hati.
Hari menjelang sore, dan Aisyah telah tiba di rumahnya. Gadis itu langsung mendapat sambutan kurang mengenakan dari ibunya.
Aisyah heran, melihat ibunya berdiri sambil memasang wajah cemberut. "Ibu kenapa?"
Bu Sri pun duduk mendekati anaknya. "Ibu mau tanya, tolong kamu jawab jujur ya. Sebenarnya, apa pekerjaan kamu selama ini?"
Aisyah terkesiap mendengar pertanyaan ibunya. "Lho, bukankah aku sudah bilang, kalau aku kerja di kafe makanan, Bu, dan aku digaji harian."
"Tadi ibu tidak sengaja dengar dari beberapa tetangga. Kalau kamu bekerja melayani lelaki hidung belang!" Bu Sri meninggikan nada bicaranya.
Deg!
Bagai disambar petir, Aisyah merasa lemas seketika ....
"Ibu kenapa gampang sekali, percaya sama omongan orang, yang tidak tahu pasti tentang aktifitas ku yang sebenarnya? Apa mereka pernah melihat secara langsung, kalau aku bekerja sebagai pelayan lelaki hidung belang?" Aisyah berusaha membela diri.
__ADS_1
"Tolong, besok kalau kamu berangkat kerja, ibu ikut. Ibu ingin lihat dengan mata kepala ibu sendiri, kalau pekerjaanmu tidak seperti apa yang dikatakan para tetangga!" ucap Bu Sri sedikit ketus.
Deg!
Sekali lagi jantung Aisyah berdetak. 'Ya Tuhan, gimana ini,' batinnya.
"Ba-baiklah, silahkan besok malam, ibu ikut dengan saya," kata Aisyah merasa yakin.
Mariam merasa tenang saat itu, karena Aisyah mengijinkannya ikut ke tempat di mana anaknya bekerja. Wanita itu berpikir, bahwa anaknya memang tidak menyembunyikan apapun.
Namun tidak demikian dengan Aisyah. Gadis itu memutar otaknya, mencoba mencari bantuan. Seketika, Aisyah teringat dengan Hassan. 'Semoga Om Hassan bisa membantuku,' batinnya.
"Ya sudah, ibu mau tiduran dulu di kamar, kamu kalau mau makan, ambil saja di dapur," kata Bu Sri, kini nada bicaranya melembut.
"Baik, Bu," angguk Aisyah.
Bu Sri pun masuk ke dalam kamar, begitupun dengan Aisyah. Di dalam kamar, gadis itu cepat-cepat mengambil benda pipih, dan mengirim pesan kepada Hassan.
Namun, baru saja Aisyah mengetik sepatah kata, dia mendadak teringat pesan Hassan, yang mana Aisyah tidak boleh menghubungi pria itu terlebih dahulu, sebelum Hassan lah yang yang lebih dulu menghubungi Aisyah.
"Duh, gimana nih?" lirihnya.
Setelah lama berpikir, bibir gadis itupun melengkung membentuk sebuah senyuman. "Aku miss call saja, Om Hassan pasti akan telpon balik."
Aisyah pun mencari nomor kontak Hassan kemudian dia memanggil sebentar, dan mematikan kembali.
Aisyah segera menerima panggilan tersebut. "Halo, Mas?"
[Ada apa, kok miss call?]
Hassan bertanya dari seberang sana.
"Mas, sebelumnya saya minta maaf, kalau saya sudah mengusik ketenangan Mas. Tapi saat ini saya butuh bantuan Mas, bisakah kita bertemu sebentar saja?" kata Aisyah memohon.
[Baiklah, saya tunggu di alun-alun saja, dan sekarang juga, kamu kesana.]
Tut ....
Hassan langsung memutus sambungan secara sepihak.
Sementara Aisyah segera memakai jaket, kemudian keluar dari kamar. Dia berjalan menuju ke kamar Bu Sri.
Tok ... tok ... tok ....
Tak lama, pintu terbuka, Bu Sri kini telah berdiri di hadapan Aisyah. "Ada apa, Syah?"
__ADS_1
"Bu, aku ingin beli martabak, apakah Ibu mau titip sesuatu? Barangkali saja, Ibu ingin makan apa," kata Aisyah bersandiwara.
"Oh ... em, sepertinya ibu tidak ingin makan apa-apa lagi, karna ibu sudah kenyang, ibu mau tidur saja, badan ibu lemas," ujar Bu Sri.
Aisyah pun mengerutkan keningnya. "Ibu sakit?"
"Tidak kok, maksudnya kalau jam segini, ibu pasti ngantuk sekali," jawab Bu Sri.
Aisyah pun menghembuskan napas lega. "Ya sudah, Ibu istirahat deh, aku keluar dulu ya."
"Kamu hati-hati, kalau sudah dapat martabaknya, langsung pulang, jangan malam-malam, tidak baik buat anak gadis," pesan Bu Sri.
"Baik, Bu," angguk Aisyah kemudian berlalu dari hadapan Bu Sri.
Bu Sri memperhatikan Aisyah dengan seksama ....
'Maafkan ibu, Syah. Ibu tidak bisa membahagiakan kamu. Gara-gara ibu, kamu jadi kena dampaknya. Sampai kamu harus kerja malam, untuk menanggung semuanya,' batin wanita itu.
****
Aisyah telah tiba di sebuah lapangan alun-alun. Dia memarkirkan sepeda motornya, kemudian berjalan perlahan. Netranya menyapu kegelapan lapangan alun-alun, karena hari telah berganti malam.
Aisyah melihat seorang pria bertubuh tinggi, berwajah tampan sedang duduk sendiri, hanya dikelilingi asap rokok yang dia hisap.
"Itu pasti Om Hassan," yakin Aisyah mempercepat langkahnya.
"Mas," panggil Aisyah lirih ketika dirinya telah berada di samping Hassan.
Merasa dipanggil namanya, Hassan pun menoleh ke asal suara. Dan, pria itu melihat Aisyah berdiri di sampingnya.
"Duduklah," titah Hassan.
Aisyah pun duduk di samping Hassan, dengan jarak yang tidak terlalu dekat.
"Sepertinya, kamu ada masalah serius?" Hassan mencoba menebak apa yang tengah Aisyah rasakan.
Aisyah pun menceritakan perkara pekerjaannya, yang mana ibunya ingin menyelidiki pekerjaannya, lantaran desas desus dari mulut para tetangga.
"Tapi, memang benar kan, kamu itu bekerja sebagai wanita malam?" seloroh Hassan menahan tawa.
"Ya tapi tidak harus jujur juga, kan? Saya sudah bilang, kalau ibu saya kondisinya masih lemah, dan kesehatannya belum sepenuhnya pulih. Kalau ibu sampai tahu pekerjaan saya yang sebenarnya, dia pasti syok berat, saya tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaannya," tutur Aisyah sedih.
"Tapi, para tetangga kamu saja, sudah tahu pekerjaan kamu, bukankah tidak menutup kemungkinan, kalau lama-kelamaan ibu kamu akan tahu juga?" ujar Hassan sedikit memakai logika.
"Tapi setidaknya, saya bisa membuat ibu berpikir, kalau omongan para tetangga tidak benar adanya." Aisyah bersikeras.
__ADS_1
Hassan pun mengesah. "Jadi, kamu ingin bantuan dari saya, yang seperti apa?"