Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Sebuah Drama


__ADS_3

"Sudah ayo," Tini menarik tangan Aisyah kemudian membawanya masuk ke dalam mobil maticnya.


Tini mengendarai sepeda motornya perlahan. Sementara Aisyah sedang bergulat dalam pikirannya sendiri. Tanpa sengaja, Tini melirik ke arah Aisyah melalui spion motornya. Gadis itu seolah ikut merasakan apa yang tengah dirasakan sahabatnya itu.


"Kamu kenapa sih, kok sedih gitu?" heran Tini sambil terus mengendarai sepeda motornya.


"Aku bener-bener stress sama keadaan, Tin," lirih Aisyah tanpa menatap ke arah Tini.


"Syah, dibikin happy aja dong. Jangan sedih terus-terusan, kasihan ibu kamu nanti gak sembuh-sembuh." Tini mencoba semampunya menghibur Aisyah.


"Iya, Tin ... em, apa kamu mau membantuku?" ujar Aisyah ragu.


"Apa itu, Syah?" Tini mengerutkan keningnya.


"Aku beneran bete banget, apa kamu mau nemenin aku minum nanti malam?" tutur Aisyah.


"Kamu serius, Syah?" Tini mencoba memastikan.


"Serius lah, masa dua rius," seloroh Aisyah.


"Tapi, kasihan bayi kamu," kata Tini.


"Aku gak peduli, Tin. Lagian aku gak bakal ada saat bayi ini lahir, aku gak akan pernah bisa lihat apalagi ngerawat dia," kata Aisyah meninggikan nada bicaranya. Namun dia menahan air matanya yang hampir tumpah.


Tini menghirup napas dalam-dalam, kemudian menghembuskan perlahan. "Oke, Syah, aku paham apa yang kamu rasain sekarang. Ya udah nanti malem aku ambil libur gak kerja, aku temenin deh kamu minum, tapi jangan di tempat kerjaku."


Aisyah tersenyum lega. "Ya enggaklah, aku juga males di tempat kamu, aku gak mau ketemu sama orang-orang yang kenal sama aku juga."


"Oke, sekarang kita makan dulu, ya? Biar ada tenaga. Kalau kamu gak mau aku juga gak akan nemenin kamu nanti malem," ancam Tini dengan nada santai.


Aisyah pun berdecak dan menggelengkan kepalanya. Tini terus mengendarai sepeda motornya hingga tiba di alun-alun. Mereka berdua turun dan berjalan beriringan ke tengah lapangan, kemudian duduk di salah satu tempat yang tersedia.


Seketika netra Aisyah mengarah kepada seorang pria tua penjual rujak buah. 'Rujak? Kok tiba-tiba aku ingin sekali makan itu,' batinnya.


"Buburnya habis, Syah," kata Tini mengedarkan pandangannya ke sekeliling lapangan alun-alun.


"Gak papa, kita makan yang lain, eh ... tapi aku mau beli itu dulu." Aisyah menunjuk ke arah yang dimaksud.


Pandangan netra Tini mengikuti arah tangan Aisyah dan berhenti tepat pada penjual rujak buah. Tini pun tersenyum geli.


"Kamu masih ngidam, Syah?"

__ADS_1


"Aku belum pernah ngidam sejak pertama hamil, gak pernah pangin apapun juga. Tapi sekarang ini liat tukang buah, tiba-tiba pengin banget makan rujak buah," ujar Aisyah sambil menelan salivanya.


"Ya udah yuk kita beli," ajak Tini. Kedua gadis itu menghampiri Bapak penjual buah.


"Pak, rujak buahnya berapaan, ya?" tanya Tini ramah.


"Sepuluh ribu saja, Non," jawab bapak penjual buah dengan senyum bersahabat.


Tini pun mengambil dua buah lalu membayarnya, kemudian duduk lagi di tempat semula.


"Nih, Syah." Tini memberikan satu bungkus rujak buah kepada Aisyah.


Aisyah langsung memakan rujak buah itu hingga habis. Kini netra Tini ganti melihat penjual siomay.


"Eh Syah, kita makan siomay aja, yuk," usul Tini.


Aisyah menggeleng. "Aku makan ini aja."


Tini pun pasrah dan mereka berdua asik mengobrol.


****


Kediaman Rumah Hassan ....


Suara bel rumah berbunyi, saat itu Hanum sedang bersantai sambil menonton televisi di ruang tengah.


"Bi, coba lihat siapa yang datang!" seru Hanum.


Tak lama Bi Iyem datang dan berjalan tergopoh-gopoh ke depan, untuk membukakan pintu.


Pintu terbuka dan seorang wanita hampir tua namun masih terlihat berkharisma berusia lima puluh tahun, berdiri di ambang pintu. Dia adalah Magda, ibunda Hassan.


"Lho, selamat siang, Nyonya besar." Bi Iyem memberi hormat dan mempersilahkan masuk.


Magda tersenyum dalam anggukannya kemudian melangkah masuk, dia disambut oleh Hanum.


"Lho, Mommy sudah sampai?"


Magda tersenyum, dia pun segera meraba perut Hanum yang masih datar membuat wanita itu tersentak.


"Maaf kamu kaget ya, saya sudah tidak sabar ingin menimang cucu," kata Magda sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


Hanum pun menjadi salah tingkah, dia khawatir sandiwaranya akan ketahuan oleh sang mertua. Namun Hanum berusaha untuk tenang, dia teringat pesan Hassan.


"Ah Mommy ini, kan masih angkatan satu bulan, jelas belum kelihatan," ujar Hanum dengan senyum tenangnya. Padahal sebenarnya dia sangat cemas saat itu.


"Tidak apa-apa yang penting kamu sudah hamil, saya sangat senang sekali. Oh iya tolong dijaga baik-baik kandungan kamu, jangan lupa kontrol rutin, dan vitaminnya diminum sampai habis biar bayi kamu sehat," tutur Magda.


"I-iya, Mom, pasti itu," kata Hanum.


Saat kedua wanita itu duduk bersama ....


"Hueeekkk!"


Hanum mulai berakting, dia segera berlari menuju ke kamar mandi seolah merasakan mual pada perutnya.


Magda hanya tersenyum, dia merasa bahagia saat itu. Tak lama Hanum keluar dari kamar mandi, dia duduk di dekat Magda.


"Oh iya saya lupa. Tadi saya beli ini buat kamu, ini manisan buah, cocok untuk orang hamil muda. Bisa juga buat menghilangkan mual." Magda menyodorkan bungkusan plastik kepada Hanum.


"Makasih, Mom." Hanum menerima bungkusan tersebut.


Tak lama, datanglah Bi Iyem menghampiri. Dia meletakkan dua buah cangkir berisi teh manis di atas meja.


"Silahkan, Nyonya, Nyonya besar."


"Makasih, Bi," kata Hanum disertai anggukan kepala Magda.


"Kamu sudah makan?" tanya Magda lagi.


"Sudah dong, Mom. Tapi makannya sedikit, perut sudah berasa penuh jadi tidak bisa makan banyak," bohong Hanum.


"Tidak apa-apa, yang penting perut kamu diisi. Sering-sering makan camilan, seperti biskuit biar perut kamu tidak sebah," ujar Magda ramah.


Hanum tersenyum, dalam hati dia merasa tidak enak karena sudah membohongi ibu mertuanya.


'Duh, semoga saja Mommy tidak lama di sini, bisa mati kutu aku kalau diajak ngomong masalah kehamilan terus. Dan repotnya lagi, kalau sampai aku ketahuan bohong. Lagian papah ada-ada saja sih, pakai sandiwara segala. Kenapa juga tidak bilang apa adanya saja,' batin Hanum.


"Saya capek sekali, saya mau istirahat dulu ya, kamu tidak apa-apa kan nonton tivi sendiri? Nanti kalau Hassan pulang kita ngobrol lagi. Rencana saya mau di sini hanya tiga hari, kok. Karna minggu depan saya ada acara penting di rumah," kata Magda kemudian langsung masuk ke dalam kamar tamu.


Hanum pun bernapas lega. 'Untung hanya tiga hari, kalau seterusnya aku bisa gila,' batinnya.


Hanum pun kembali menonton televisi, tak terasa hari sudah sore. Dia merebahkan tubuhnya di atas sofa.

__ADS_1


'Ngapain juga sih, papah bohong sama ibunya? Apa tujuannya?' Hanum terus bertanya-tanya dalam hati.


Sementara Bi Iyem sibuk memasak di dapur. Dia akan masak besar menyambut kepulangan majikan sepuhnya. Untuk itu, dia tidak ingin masakannya terasa kurang enak.


__ADS_2