
"Em, boleh deh, tapi aku mandi dulu ya," kata Tini.
"Okey," angguk Aisyah.
Tini pun berjalan menuju kamar mandi, dia segera melaksanakan ritual mandinya. Tak lama, Tini keluar dari kamar mandi dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Setengah jam kemudian, Tini menghampiri Aisyah dengan pakaian santainya. Aroma parfum vanila menyeruak di seluruh ruangan.
"Kita naik motorku saja, Syah," usul Tini.
"Siap," sahut Aisyah antusias.
Kedua gadis itupun segera keluar kos, tak lupa mengunci pintu. Pada saat kedua gadis itu berboncengan, dua orang wanita dengan usia kisaran dua puluh sembilan tahun, lewat di depan kedua gadis tersebut.
"Kasihan ya ditinggal orang tuanya, malah hidupnya berantakan tidak jelas. Bukannya jadi lebih baik, tapi malah semakin liar."
"Betul, sekarang hidupnya mewah tapi tidak berkah, secara kerjanya nggak benar."
"Namanya jual diri itu, bukan kerjaan yang benar."
Begitulah ucapan yang kedua gadis itu dengar. Aisyah dan Tini pun saling terdiam.
"Udah, gak perlu didengerin, ayo kita berangkat," kata Tini langsung menstarter sepeda motornya dan motor pun melaju perlahan.
"Heran deh sama orang-orang, gak di sana, gak di sini, mulut mereka selalu usil, ikut campur urusan orang selalu aja komentar jelek. Padahal kita kan gak merugikan mereka, dan kita mau kerja apapun, resikonya juga kita sendiri kan yang nanggung. Kita juga gak berbagi resiko sama mereka," tutur Aisyah.
"Ya begitulah mereka, namanya juga orang desa, kita bertingkah dikit langsung jadi omongan. Bener aja diomongin, apalagi salah," sahut Tini.
Aisyah menghela napas kasar ....
"Udah gak perlu dipikir pusing, katanya kita mau happy," kata Tini mencairkan suasana.
Aisyah pun mengangguk. Mobil terus melaju, hingga tiba di sebuah mall besar. Kedua gadis itu turun, setelah mobil terparkir pada tempatnya. Dan hanya beberapa langkah saja mereka berdua sudah berada di dalam mall.
"Tin, kamu ambil apa aja yang kamu suka. Baju, boneka, kosmetik, parfum, apa aja deh pokoknya. Hari ini, aku yang bayar semua, dan kamu gak perlu ngeluarin uang. Satu lagi, kamu dilarang menolak!" kelakar Aisyah namun tegas.
Tini pun terkekeh .... "Okelah."
Kedua gadis itu berpencar, dan memilih barang-barang yang mereka inginkan. Setelah mendapatkan apa yang mereka mau, Aisyah segera membayar semua barang itu di kasir.
Kemudian mereka berjalan keluar mall, membawa barang belanjaan mereka masing-masing. Pada saat yang bersamaan seorang wanita berpawakan tinggi dan berisi, berkulit kuning dan berpakaian elegan, berjalan terburu-buru masuk ke dalam mall, sambil membuka tasnya hendak mengeluarkan sesuatu.
Dan saat itu pula, Aisyah dan Tini sedang asik bersenda gurau tanpa mengamati jalan. Hingga akhirnya ....
__ADS_1
Brukkk!
Kedua gadis itu bertabrakan dengan wanita yang sedang berjalan masuk. Semua belanjaan di tangan kedua gadis itupun jatuh berserakan.
"Aduh maaf, saya sedang terburu-buru, jadi tidak memperhatikan jalan," ucap wanita itu sambil membantu mengambil barang-barang yang terjatuh.
Aisyah dan Tini menerima barang dari tangan wanita itu, mereka menatap wajah wanita itu.
Deg!
Soraya terkesiap seketika, ternyata wanita itu adalah Hanum istri Hassan. Hanum berniat membeli gaun untuk acara nanti sore. Dan dia tidak memperhatikan jalan karena saat itu ponselnya berdering, maka dari itu dia berjalan sambil membuka tasnya hendak mengambil ponselnya yang terus berdering, hingga terjadilah tabrakan itu.
'Dia kan istrinya Mas Hassan,' batin Aisyah masih terus mengamati wajah Hanum.
Sedangkan Hanum yang merasa ditatap seperti itu oleh Aisyah, merasa heran.
"Eh tidak masalah, kita juga minta maaf karna malah bercanda, tidak lihat-lihat jalan," kata Tini yang merasa suasana berubah tegang.
"Oh okelah. Ya sudah, saya permisi dulu," kata Hanum dengan senyum ramah.
Tini mengangguk, sedangkan Aisyah terus memperhatikan wajah dan penampilan Hanum. Kini kedua gadis itu telah berada di atas sepeda motor.
"Ra, kamu familiar gak sih, sama tante-tante tadi?" tanya Aisyah kepada Tini.
"Dia itu istrinya Mas Hassan," kata Aisyah.
"Huh? Istrinya Tuan Hassan?" Tini terbelalak.
"Iya, Tin, aku masih inget banget sama mukanya," angguk Aisyah.
Tini pun terdiam, dia mencoba mengingat sesuatu ....
"Oh iya, aku inget sekarang, kita pernah liat dia sedang makan sama Tuan Hassan di rumah makan, kan?" telaah Tini.
"Nah, bener," kata Aisyah.
"Cantik juga, tapi udah keliatan tua, hehe," seloroh Tini sambil meringis memamerkan gigi mentimunnya yang tersusun rapi.
Aisyah diam tak berkomentar, dan seketika itu juga Tini paham dengan perasaan temannya.
"Udah, Syah, gak perlu kamu pikir. Lagian dia gak ngapa-ngapain kamu, kan?" ujar Tini.
"Itu karna dia belum tau aja, kalo aku istri keduanya Mas Hassan," kata Aisyah.
__ADS_1
"Ya udahlah biarin, masa bodo aja kayak aku. Inget lho, kita ini mau happy-happy, jadi aku gak mau liat kamu sedih. Kalo kamu sedih terus, aku mau pulang saja," ancam Tini.
"Iya, iya," kata Aisyah dengan nada terpaksa.
"Nah, gitu dong ... em, sekarang kita kemana lagi? Aku siap jadi supir pribadi kamu," seloroh Tini.
Aisyah akhirnya terkekeh, walaupun terpaksa. "Kita kuliner dong, aku lapar dari pagi belum makan, gara-gara masakan ku asin banget."
"Ya udah, kita mau kuliner di mana?" tanya Tini.
"Terserah, asal bukan di warung nasi, aku gak mau makan nasi. Aku mau makan makanan kayak camilan gitu, misal seafood roti bakar, atau corn dog atau apalah yang penting kenyang," ujar Aisyah.
"Apa kamu selama hamil, belum pernah makan nasi sama sekali?" tanya Tini penuh selidik.
Aisyah menggeleng pelan. "Gak tahu nih, Tin, bahkan aku jarang makan juga. Makannya cuma buah asam, ngemil jajan, itu aja. Susu pun aku gak doyan."
"Gitu ya? Tapi dengar-dengar emang orang hamil itu mayoritas nggak doyan nasi, mereka makan yang asem-asem kalo pas angkatan. Tapi kalo udah lima bulan ke atas, mereka udah doyan nasi lagi, ya kembali normal lagi gitu. Mungkin bawaan bayi juga," tutur Tini sambil terus mengendarai sepeda motornya.
"Ya bisa jadi," kata Aisyah.
"Emang kamu hamil berapa bulan?" tanya Tini merasa ingin tahu.
"Satu bulan aja belum ada, mungkin sekitar tiga mingguan," jawab Aisyah.
"Tapi kata tetanggaku dulu, perhitungan kita bisa salah, misal kita mengira kalau kita hamil enam bulan, eh ternyata udah tujuh bulan," tutur Tini.
"Gitu, ya? Gak tahulah, aku juga gak terlalu mikirin berapa bulan, lagian kalo anak ini lahir, aku gak bisa rawat dia," lirih Aisyah.
"Kamu yang sabar ya, Syah. Sorry ya, aku jadi bikin kamu sedih lagi," sesal Tini.
"Ih, kamu itu ngomong apa, sih?" tampik Aisyah.
Tini pun terkekeh. Motor masih terus melaju melintasi jalanan besar.
****
Di tempat lain, Hanum baru saja keluar dari mall membawa paper bag. Dia masuk ke dalam mobil. Hassan dan Hanum memiliki mobil masing-masing hingga ketika bepergian sendiri, Hanum tidak perlu naik kendaraan umum.
Saat itu juga Hanum merasa lapar, dia ingin mencari tempat kuliner yang enak. Mobil yang dikendarai Hanum pun melaju perlahan.
Sedangkan Aisyah dan Tini tiba di sebuah Restauran Family. Sebuah rumah makan yang bukan hanya menyajikan nasi dan lauk, namun juga menyediakan berbagai makanan ringan sebagai camilan.
"Nah tempatnya cocok nih, ada cemilannya juga, gimana? Kamu mau kan kuliner di sini?" tanya Tini kepada Aisyah.
__ADS_1