Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Berkecil Hati


__ADS_3

"Syah! Kamu ingin meracuni saya, ya? Masakan apa ini? Asinnya minta ampun. Itu garam satu bungkus kamu tuang semua di wajan, iya? Apakah kamu memang baru pertama kali masak? Harusnya kamu cicipi dulu masakannya sebelum kamu hidangkan." Hassan benar-benar dibuat geram pagi itu.


Aisyah terkesiap, dia pun heran karena tidak biasanya masak terlalu asin. Dulu dia selalu memasak untuknya dan juga untuk ibu dan kakaknya, tapi rasanya selalu pas di lidah. Jujur Aisyah memang belum memakan masakannya sama sekali. Dan gadis itu baru sadar, kalau sewaktu memasak dia lupa mengoreksi rasa karena terlalu memikirkan ucapan Hana dan Reta.


"Astaga! Maaf, Mas, aku lupa mencicipi. Dan aku tadi tidak fokus juga," ucap Aisyah.


"Kamu itu mikir apa sih?" Hassan bertambah geram.


Aisyah akhirnya menceritakan mengenai cibiran kedua gadis yang dia temui sewaktu hendak ke pasar.


Hassan pun berdecak dan menggelengkan kepala, dia tak habis pikir dengan Aisyah. "Kamu itu sudah aku bilang kan, tidak perlu mendengarkan omongan orang yang tidak penting, stel saja mata buta dan kuping tuli. Kalau kamu terus-terusan seperti ini, yang ada kamu akan sama seperti ibu kamu, stress!" ketus Hassan.


"Tapi aku tidak bisa dengar omongan yang bikin hatiku sakit, Mas," ujar Aisyah.


"Tapi kamu sendiri yang rugi, atau kamu mau pindah rumah?" Kalau perlu aku belikan kamu rumah di kota, di sana kehidupannya masing-masing dan tidak mengenal satu sama lain, beda dengan hidup di desa, apa-apa serba diomong," usul Hassan.


"Aku tidak bisa meninggalkan rumah ini, karna ini rumah tinggalan almarhum ayahku. Mana mungkin aku pindah, apalagi menjualnya," tolak Aisyah.


"Aku tidak menyuruh kamu untuk menjual rumah ini. Kalau kamu memang masih ingin tetap tinggal di sini, jangan banyak mengeluh! Tapi kalau kamu sudah tidak tahan tinggal di sini, ayo kita pindah," ucap Hassan tegas.


Aisyah terdiam, dia benar-benar bingung. Di satu sisi dia tidak ingin beralih dari rumahnya sendiri, namun di sisi lain dia juga merasa lelah dengan ucapan orang-orang sekitar.


"Aku tidak mungkin pindah rumah, ini rumah ayahku juga ibuku. Tapi ...." Aisyah benar-benar sudah tak dapat berpikir saat itu. Pikirannya sudah kacau, dan dipenuhi banyak masalah.

__ADS_1


"Kamu sudah membuat selera makan ku hilang, ya sudah, aku pulang sekarang."


Hassan segera berlalu dari hadapan Aisyah. Kini Aisyah terduduk di lantai meratapi apa yang baru saja terjadi. Tangisnya mulai pecah. Dia menangis sejadinya tanpa peduli ada yang mendengarnya.


Tak terasa setengah jam Aisyah menangis hingga kedua matanya terlihat sembab. Dia pun berhenti menangis karena lelah. Perlahan Aisyah berdiri menghadap meja makan. Dia mengamati masakan yang sudah susah payah dia masak, namun akhirnya mubasir karena tidak termakan.


Aisyah pun mulai membuang semua masakan tersebut, kemudian dia membanting semua wadah bekas masakan itu, hingga pecah belah.


Kemudian Aisyah berjalan menuju ke kamar. "Sepertinya aku butuh hiburan. Oke, nanti siang aku akan ke mall untuk shopping dan juga kuliner," gumamnya.


Tanpa sadar gadis itu memejamkan matanya di atas kasur hingga terlelap.


Pukul dua belas siang, suara adzan luhur berkumandang di masjid dekat rumah Aisyah, membuat gadis itu membuka matanya. Dia pun terduduk mengumpulkan nyawa. "Sebaiknya aku ajak Tini saja, biar aku ada teman ngobrol," pikirnya.


Setelah itu Aisyah berjalan ke dapur. Dia melihat pecahan wadah yang masih berserakan di lantai. Aisyah pun berinisiatif untuk membersihkannya, karena sejatinya gadis itu adalah gadis yang rajin dan tidak suka melihat rumah kotor dan berantakan. Dan apa yang dia lakukan tadi pagi hanya wujud dari rasa kesalnya saja.


Setelah menyapu pecahan-pecahan itu, Aisyah mengendarai sepeda motornya menuju rumah Tini. Kini dia telah berada di rumah Tini. Kedua gadis itu asik mengobrol.


"Jadi, kamu masak keasinan, gitu?" beo Tini setelah mendengar cerita dari temannya itu.


"Iya, Tin, gara-gara omongan tetanggaku," lirih Aisyah.


"Hem, lagian pada usil banget sih mereka. Ya wajar juga sih kalo kamu jadi kepikiran akhirnya gak fokus masak," ujar Tini merasa prihatin kepada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Eh, Tin, kamu pernah gak diomong sama tetangga kamu, tentang kerjaan kamu kayak yang aku alamin?" tanya Aisyah tiba-tiba.


"Pernah sih satu kali, tapi aku prinsipnya kalo dibully atau dighibah aku masa bodo, malah aku sengaja sekalian," sahut Tini.


"Sengaja gimana maksud kamu?" Aisyah mengerutkan keningnya.


"Misal ya, aku dibilang cari uang gak halal, ya aku sengaja belanja banyak, terus aku pamerin di depan orang yang suka nyinyir itu. Misal lagi nih, ada yang bilang, bajunya seksii pamer aurat. Besoknya aku pake baju yang lebih seksii dari yang sebelumnya. Nah, dengan cara itu mereka jadi tambah panas emosi dan akhirnya mereka sendiri yang stress. Kalau aku sih tetep happy. Dan sejak itu, mereka jadi capek sendiri, sekarang udah gak ada lagi orang yang suka nyinyir. Paling kalau ketemu ya mereka cuma liatin aku terus tatapannya gak suka gitu, tanpa ngomong apa-apa. Tapi gak aku pikir juga sih," papar Tini.


Aisyah benar-benar kagum dengan Tini yang berhati tebal. Tidak mudah terpengaruh ucapan-ucapan yang tidak enak didengar. Andai Aisyah sepemikiran dengan Tini, pasti dia tidak terlalu tertekan. Namun sayangnya jiwa masing-masing orang tentunya berbeda. Aisyah sangat mudah berkecil hati.


"Apa kamu gak kesepian, Tin, tinggal sendiri?" tanya Aisyah lagi.


"Awalnya sih ya kesepian, tapi lama-lama udah biasa mau gimana lagi, orang tuaku meninggal karna kecelakaan, kita gak bisa ngelawan takdir," tutur Tini.


"Maaf ya, Tin, aku jadi ngingetin kamu sama orang tua kamu," sesal Aisyah.


"Eh, gak masalah kok, namanya juga temen ya wajar kan kalo berbagi cerita," kata Tini tenang.


Aisyah semakin kagum dengan ketegaran hati Tini yang telah ditinggal kedua orang tuanya sejak lahir. Ibunya meninggal ketika melahirkan Tini. Dan sejak kecil Tini dirawat oleh ayahnya. Hingga saat Tini duduk di bangku kelas enam Sekolah Dasar, ayahnya meninggal dunia lantaran sering sakit-sakitan, tubuhnya lemah karena merawat Tini seorang diri ditambah bekerja sebagai kuli bangunan.


Dan sejak itu pula Tini dirawat oleh tetangga sebelah yang dekat dengan almarhum kedua orang tua Tini. Hingga akhirnya orang tersebut pun meninggal dunia karena usia yang sudah tua renta, tepat disaat Tini beranjak dewasa. Dan Tini berhenti sekolah karena sudah tidak ada yang membiayai. Dia pun mulai mencari pekerjaan sebagai buruh cuci di sebuah rumah, hingga akhirnya menjadi wanita malam seperti sekarang ini.


"Oh iya, Tin, aku mau ajak kamu jalan. Kita shopping, kuliner, sama kemana gitu. Jarang-jarang kan kita pergi bareng. Kali ini, aku yang traktir. Gimana, kamu mau gak?" ujar Aisyah antusias.

__ADS_1


__ADS_2