
Sampai di kosan Tini, Aisyah segera mengetuk pintu dan tak lama keluarlah Tini masih berpakaian santai. Dia tampak seperti baru bangun tidur.
"Syah? Kamu dari mana?" tanya Tini menyambut temannya.
Tanpa basa-basi, Aisyah segera memeluk erat tubuh Tini. Sedangkan Tini merasa heran dengan tingkah temannya itu.
"Syah, kamu kenapa? Masuk, yuk." Tini mengajak temannya ke dalam.
Kini mereka duduk bersama, Tini memberikan tissue kepada Aisyah, dan gadis itupun segera mengusap pipinya yang basah.
"Ada masalah apa, Syah? Kenapa kamu sedih gitu? Oh iya, kamu kenapa sekarang gak pernah berangkat lagi?" Tini menghujani Aisyah dengan berbagai pertanyaan.
Aisyah pun menghembuskan napas kasarnya. Perlahan, dia menceritakan keluh kesahnya kepada temannya.
Tini pun terbelalak. "Jadi, kamu hamil sama Tuan Hassan? Dan kamu udah pamit sama madam Jeni, kalo kamu berhenti kerja? Dan, Tuan Hassan mau nikahin kamu, tapi secara siri, hanya karna dia menginginkan anak yang kamu kandung itu?"
Tini mengulang semua kalimat yang Aisyah lontarkan. Sementara Aisyah hanya mengangguk lemas.
"Iya, Tin, Istri Om Hassan itu gak bisa hamil, sudah sepuluh tahun."
"Ya ampun, Syah. Kenapa jadi gini? Apa kamu nggak pernah pakai pengaman, kalo melayani Tuan Hassan?" ujar Tini.
Pengaman?" Aisyah yang memang masih lugu itupun baru kali ini mendengar kata 'pengaman'. "Apa itu pengaman?" lanjutnya.
"Ya ampun, kamu gak tau apa itu pengaman?" kata Tini dijawab dengan gelengan kepala Aisyah.
"Pengaman itu, dipake di alat kelamin si cowok, biar yang cewek gak hamil," jelas Tini.
"Hem, udahlah, semua udah terjadi, pake pengaman pun, aku udah hamil gini. Dan aku juga udah gak kerja lagi," keluh Aisyah.
Tini pun menjadi prihatin terhadap Aisyah "Terus, kalau anak kamu lahir, harus dikasihkan sama Tuan Angga, dan kamu gak boleh ngakuin?"
"Iya, Tin, menurut kamu gimana? Apa ada solusi?" ujar Aisyah.
"Em ... gimana ya? Aku juga bingung sama permasalahan yang kamu hadapi. Kalo misal kamu rawat anak itu, kamu juga repot, dan anak itu kasihan. Karna dia pasti gak punya ayah, secara Tuan Hassan gak mau nikahin kamu secara sah, dan dia juga gak mau ninggalin istrinya. Belum lagi cibiran-cibiran dari tetangga kamu," tutur Tini.
__ADS_1
"Itu juga yang aku pikirin, Tin. Lagian, setelah anak ini lahir, aku juga bakal dicere," kata Aisyah.
"Keterlaluan banget Tuan Hassan. Mentang-mentang orang kaya, jadi seenaknya sendiri. Kok aku jadi ikut sebel sama dia," gerutu Tini.
"Udahlah, Tin. Mau gimana lagi," gumam Aisyah.
"Maaf ya, Tin. Gara-gara kamu ikut aku kerja, kamu malah jadi begini," sesal Tini.
"Lho, kenapa jadi nyalahin diri kamu? Kamu gak salah kok, kan aku sendiri yang mau ikut kamu kerja, bukan kamu yang ajak aku," tutur Aisyah.
Tini pun tersenyum. "Ya udah, kamu yang sabar ya menghadapi hidup ini, semoga masalah kamu cepet selesai, maaf aku gak bisa bantu apa-apa. Tapi, kalo kamu jenuh di rumah, pengin ngobrol sama aku, kapan pun, dateng aja kesini. Aku selalu ada di kos, kecuali malem," kata Tini.
"Ya udah, sekarang kita jalan-jalan aja yuk, kita makan-makan, shopping, terus duduk-duduk di mana gitu, ntar sore baru pulang. Ya seenggaknya bisa menghibur hati kamu," usul Tini.
"Boleh juga," kata Aisyah.
"Naik motorku aja, ya," kata Tini.
Aisyah pun mengangguk, kini kedua gadis itu telah berada di atas sepeda motor. Tini menggerakkan stangnya perlahan. Mereka berdua bersenda gurau, dan seketika lenyaplah kesedihan Aisyah untuk sesaat.
Kini mereka tiba di sebuah mall mewah. Mereka pun turun dan masuk ke dalam.
Aisyah menggeleng. "Aku gak butuh apa-apa, Tin. Kemarin Om Hassan beliin aku baju, kosmetik, pakaian dalam, banyak deh."
"Wah, ternyata Tuan Hassan baik juga, ya. Tapi sayang dia udah punya istri," kata Tini.
"Iya, Tin, ya udah kamu aja yang belanja, aku tunggu di sana ya," ujar Aisyah sambil menunjuk sebuah kursi besi dekat pintu masuk mall.
"Em, gak seru kalo belanja sendiri, kan aku ajak kamu biar kita bisa belanja bareng," keluh Tini.
"Yah, gimana ya, bukannya nolak rejeki, tapi aku juga gak butuh apa-apa, semua kebutuhanku udah cukup, Tin," tutur Aisyah.
"Ya udah kalo gitu, kita kuliner aja yuk, cari makanan yang enak-enak. Dan kali ini kamu gak boleh nolak," kata Tini.
"Okelah kalo makan sih, ya biarpun aku akhir-akhir ini gak kuat makan banyak, tapi aku akan makan dikit-dikit. Tapi aku haus banget, pengin es krim," ujar Aisyah.
__ADS_1
Tini tampak berpikir sejenak. "Aha! Aku tahu, tempat kuliner yang enak nikmat, gak bikin bosan. Juga ada berbagai macam varian es krim, kamu pasti suka," kata Tini dengan sangat antusias.
"Ya udah, ayo kita kesana," angguk Aisyah.
Kedua gadis itu kembali menuju ke mobilnya, hanya beberapa menit perjalanan, mereka sampai di Top Cafe.
Ayo, Syah, kita turun. Kita cari tempat duduk di atas aja." Tini mengajak Aisyah turun, dia sudah tidak sabar, karena cacing dalam perutnya sudah berdemo.
Kedua gadis itu, berjalan beriringan dan langsung menuju ke lantai atas. Seorang pelayan menghampiri mereka memberikan buku menu.
Tini membuka buku menu halaman demi halaman. "Kamu mau makan apa, Syah?"
"Aku mau es krim aja, Tin, sepertinya aku gak selera makan. Daripada nanti aku muntah-muntah, nanti kamu jadi gak doyan makan lagi," tutur Aisyah.
"Okey deh," sahut Tini seraya menulis pesanan yang akan dia dan Aisyah makan, kemudian memberikan catatan pesanan kepada pelayan.
Beberapa menit kemudian, pesanan datang. Di atas meja di hadapan Aisyah dan Tini, kini telah tertata berbagai makanan.
Aisyah mengerutkan keningnya. "Gila, Tin, gak salah tuh? Kamu makan banyak sekali."
"Sssttt ...." Tini menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.
"Aku gejala datang bulan, jadi makannya banyak. Kamu pasti pernah ngalamin kan, kalau mau didatengin tamu bulanan, pasti maunya makan terus, bentar-bentar laper," papar Tini.
Aisyah menggelengkan kepala. "Iya sih, tapi gak segitunya juga kali, Tin."
"Udah, masa bodo deh, ayo kita nikmati kuliner yang enak ini," kata Tini membuat Aisyah tertawa terkekeh.
Tini segera melahap corn dog yang dia pesan, gadis itu tidak memesan nasi, melainkan hanya makanan ringan sebagai camilan. Karena Tini pun sedang tidak ingin makan nasi.
Sementara Aisyah menyendok ice cream sedikit demi sedikit, dan memasukkan ke dalam mulutnya.
"Wah, enak sekali es krim ini, aku belum pernah makan es krim yang kayak ini," kata Aisyah.
Ice cream tersebut terdiri dari susu, caramel, dan irisan berbagai macam buah-buahan, membuat rasa es itu terasa segar di lidah, di antaranya terdapat juga irisan nangka menjadikan es itu wangi.
__ADS_1
Aisyah terus melahap ice cream itu hingga habis, hanya tersisa cup nya saja.
"Syah, kamu beneran haus, atau doyan?" seloroh Tini menahan tawa.