Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Anak Siapa?


__ADS_3

"Kan ibu saya ingin ikut ke tempat kerja saya. Dan tidak mungkin juga, kalau saya ajak ke tempat Madam Yura," papar Aisyah.


Hassan tampak sedang berpikir ....


Tiba-tiba pria itu ingin memakan makanan yang terasa segar. Makanan yang panas, pedas, dan juga berkuah.


"Kita cari makan dulu, yuk. Tiba-tiba, saya ingin makan yang berkuah," ajak Hassan kepada Aisyah.


"Tapi, saya tidak berasa ingin makan, Mas." Aisyah menolak halus.


"Ya kamu kan bisa pesan minum, atau temani saya makan, sambil ngobrol, aku akan pikirkan sesuatu untuk masalah kamu," tutur Hassan seolah memaksa Aisyah untuk ikut dengannya.


"Ya sudah," pasrah Aisyah seraya berjalan masuk ke dalam mobil mengikuti Hassan.


Mobil melaju perlahan, dan tiba di sebuah rumah makan seafood. Hassan mengajak Aisyah masuk ke dalam.


"Yakin, kamu tidak mau makan? Ini enak, lho. Ada sup udang, kepiting asam manis, atau cumi mentega dan masih banyak lagi," ujar Hassan.


Mendadak, cacing dalam perut Aisyah berdemo mendengar makanan yang baru saja diucapkan oleh Hassan.


"Em, boleh deh. Saya mau kepiting saus padang saja, dengan pedas sedang, sama jus jeruk," kata Aisyah sambil menelan saliva.


Hassan pun segera menghampiri pelayan, dan memesan makanan yang akan dimakan. Tak lama, pesanan datang.


Ayo dimakan, keburu dingin tidak enak," kata Hassan.


Aisyah meminum jus jeruk terlebih dahulu. Seketika tenggorokan yang terasa panas, pun menjadi dingin.


Dan beberapa saat kemudian, Hassan mendapat sebuah ide. "Apa kamu tahu, Ekspres Cafe?"


Aisyah menatap intens ke arah Hassan. "Itu bukannya kafe yang ada di sebelah hotel tempat kerja ku? Tempat yang sering aku datangi bersama temanku, makanannya enak. Kalau pulang kerja, aku dan teman ku kadang singgah kesana."


Aisyah berbicara sambil mengaduk makanannya, dan terciuum aroma sedap, yang berasal dari mangkuk berisi kepiting yang sudah diolah.


"Nah, bagus kalau kamu tahu. Besok malam kamu ajak ibu kamu kesana, itu kafe punya teman karibku. Nanti aku akan kesana, dan berbicara dengan ...."


"Hueeekkk ....!"


Belum selesai Hassan berbicara, tiba-tiba Aisyah memuntahkan cairan bening. Tubuh gadis itu mendadak lemas, matanya pun berkunang-kunang akibat kepalanya yang terasa pusing.

__ADS_1


"Syah? Kamu kenapa?" Hassan mendadak menjadi panik.


Tangan kiri Aisyah memegangi kepalanya yang terasa pusing, sementara tangan kanannya, memegangi perutnya yang terasa mual.


"Tidak tahu, Mas, tiba-tiba perut saya mual, dan kepala saya pusing," sahut Aisyah lemas.


"Apa mungkin kamu kena maag, karna suka telat makan?" Hassan berusaha menyelidiki Aisyah.


"Tidak, Mas. Saya makan teratur, kalau saya lapar saya langsung makan, dan tidak pernah menunda-nunda," tutur Aisyah.


"Apa kamu sering muntah-muntah, seperti ini?" Hassan ingin segera mendapatkan jawaban karena sejak tadi belum ada jawaban yang pasti.


"Iya, Mas. Dari kemarin juga begitu," ucap Aisyah.


Blush!


Seketika wajah Hassan memerah, dia berusaha menebak-nebak, apa yang terjadi dengan Aisyah. Jantungnya mulai berdetak kencang, karena takut apa yang dia pikirkan benar adanya.


Dan mendadak saja, tubuh Aisyah limbung, gadis itupun pingsan dengan tubuh bersandar di sebuah kursi.


"Syah!" Hassan berseru sambil menepuk pipi Aisyah hingga berulangkali. Perempuan itu diam tak bergeming, dengan tubuh lemah dan wajah pucat masih belum sadarkan diri.


'Ada apa dengannya?' gumam Hassan dalam hati. Pria itu bahkan semakin aneh saat melihat keadaan Aisyah.


'Apa iya, hanya masuk angin sampai pingsan begini?' lanjut Hassan dalam hati.


Hassan pun segera membayar makanan yang dia pesan, kemudian dengan cepat tubuh Aisyah diangkat menuju ke mobil. Hassan melajukan mobilnya menuju ke klinik terdekat.


Sesampainya, Hassan membopong Aisyah masuk ke dalam klinik. Dokter yang menyambut, pun segera menerima tubuh Aisyah, dan membawa masuk ke ruangan untuk diperiksa.


Hassan terdiam, menurut hasil pemeriksaan, Aisyah tengah mengandung ....


Lama Hassan termenung, hingga akhirnya dia sadar seketika. Berulang kali dirinya hanya bisa meneguk saliva yang terasa pahit.


'Apa itu anak ku? Bagaimana ini?' Kepala Hassan penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.


Mata Aisyah mulai bergerak. Sesaat kemudian, mata itu terbuka Setelah tersadar dari pingsannya, gadis itu terduduk di atas kasur di dalam ruangan. Sesekali, tangannya memijat kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.


Mengetahui bahwa Aisyah telah sadar, dokter segera mempersilahkan Hassan untuk masuk ke dalam ruangan. Kini, seorang pria dengan tubuh tinggi tegap tiba-tiba telah berdiri di samping Aisyah.

__ADS_1


"Itu anak siapa?" Suara serak dan tertahan itu terdengar begitu dingin.


Aisyah terdiam. Tampaknya, gadis itu berpikir bahwa Hassan sudah tahu tentang kehamilan yang sengaja ditutupi begitu rapat.


Aisyah juga begitu shock, saat teringat dengan dua garis meras yang muncul ketika mencoba alat uji kehamilan beberapa hari yang lalu. Akan tetapi, saat ini Aisyah bagai ditikam ribuan belati. Tubuhnya pun semakin lemah.


"Saya tidak semurahan itu, Mas. Dan anda tahu sendiri, bahwa saya hanya melayani anda seorang, tidak dengan tamu lain," tutur Aisyah.


"Iya, saya paham itu. Makannya saya tanya sama kamu, untuk memastikan lagi," kata Hassan.


Karena merasa tidak leluasa, Hassan segera memberikan uang kepada dokter yang telah memeriksa Aisyah, dan mengajak gadis itu masuk ke dalam mobilnya.


Aisyah hanya diam, dia tidak mampu lagi berpikir ....


"Aku akan menikahi mu ...."


Deg!


Ucapan Hassan membuat Aisyah nervous seketika. "Be-benarkah, Mas?"


"Benar, tapi hanya nikah siri ...."


Aisyah mendadak lemas mendengar ucapan Hassan kemudian.


"Nikah siri?" gadis itu membeo.


"Ya, karna saya sudah mempunyai istri, dan saya sangat mencintai istri saya. Tidak mungkin juga, saya meninggalkan istri saya. Kita sudah sepuluh tahun menikah, tapi belum juga dikasih keturunan. Dan kita akan bercerai, setelah anak itu lahir. Kamu harus menyerahkan anak itu kepada saya. Dan saya minta, kamu melupakan apa yang terjadi di antara kita. Saya sudah banyak mengeluarkan uang buat kamu, jadi saya harap pengertian dari kamu." Hassan berbicara dengan lantang.


Aisyah mulai terisak, pertemuannya dengan Hassan adalah suatu musibah yang membuat hidupnya hancur tanpa sisa.


"Di mana Ayahmu? Saya akan menemuinya dan meminta dia untuk menikahkan kita?" tanya Hassan tanpa merasa berdosa sedikitpun.


Keputusan Hassan yang paling tepat saat ini adalah menikahi Aisyah, walaupun hanya menikah siri dan juga menutupi dari keluarga besarnya, terutama dari Hanum istrinya.


Aisyah menggeleng lemah. "Ayahku sudah lama meninggal."


Hassan pun terdiam. Pikirannya juga sedang kacau, tetapi pria itu tidak ingin egois kepada janin tidak berdosa yang dikandung Aisyah.


Walaupun terasa sulit dan egois, tetapi Hassan juga tidak bisa jika meninggalkan Hanum demi Aisyah. Pria itu hanya menginginkan anak yang berada di rahim Aisyah. Karena sudah sepuluh tahun lamanya, Hassan dan istrinya mendambakan sang buah hati.

__ADS_1


Kemudian, Hassan menatap Aisyah sekali lagi.


"Bagaimana?"


__ADS_2