
"Saya tidak gila, tapi memangnya kamu mau sampai perutmu besar, belum juga saya nikahi?" ujar Hassan menatap wajah Aisyah dengan lekat.
"Tapi perut saya masih kecil," bantah Aisyah.
"Terus, kamu mau menunggu sampai perut kamu itu membesar?" Hassan berbicara dengan nada tinggi.
Aisyah diam, dia pun menjadi bingung, rencana ingin membawa ibunya pulang pun belum terlaksana.
"Kalau menurut saya kamu sama ibu kamu pindah rumah saja, mulai hidup baru," usul Hassan.
"Tidak bisa, Mas, rumah itu adalah peninggalan ayahku dan beliau berpesan sebelum meninggal, aku harus merawat dan menjaga rumah itu. Jangan sampai dijual," tolak Aisyah tegas.
"Memang siapa yang menyuruhmu menjual rumahmu? Saya hanya menyuruhmu untuk beralih ke tempat lain saja sementara. Dan rumah itu tetap menjadi rumah kamu."
Aisyah terdiam, walaupun dia masih kesal dengan Hassan namun dia juga harus secepatnya beralih dari desa tempat tinggalnya sebelum para tetangga tahu, kalau Aisyah hamil di luar nikah, apalagi dia hanya dinikahi secara siri.
"Ya sudah sekarang tidurlah, besok kita jenguk ibu kamu," titah Hassan.
Aisyah pun merebahkan tubuhnya, kepalanya yang semula terasa pusing kini makin bertambah sakit. Sebenarnya Hassan ingin meminta Aisyah untuk melayani hasratnya, akan tetapi karena melihat kondisi Aisyah yang memprihatinkan itu, Hassan pun mengurungkan niatnya.
****
Keesokan hari Hassan membuka matanya, dia menoleh ke arah Aisyah yang masih tertidur pulas. Pria itupun membangunkan gadis tersebut.
"Hei, bangun sudah pagi."
Perlahan Aisyah membuka mata dan mengerjapkannya. Dia melihat jam pada ponselnya. "Jam tujuh," gumamnya.
"Ayo ke rumah sakit, setelah itu saya harus ke kantor, ada janji dengan klien jam sebelas nanti," ujar Hassan.
Aisyah segera beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu bergantian dengan Hassan.
Setelah keduanya siap Hassan segera mengajak Aisyah keluar hotel, memasuki mobil. Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengintai mereka dari kejauhan.
Adalah Hana yang tengah mengendarai sepeda motor matic, dan kebetulan sedang berhenti karena lampu traffic light sedang berwarna merah. Gadis berusia lebih tua satu tahun dari Aisyah, hendak berangkat kuliah. Kebetulan juga arah kampus Hana melewati hotel tersebut.
Tidak ingin menyiakan kesempatan emas, Hana segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, kemudian langsung mengambil gambar mereka melalui camera ponselnya. Setelah itu Hana memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Gadis itu tersenyum evil, dan bertepatan dengan itu warna lampu lalu lintas telah berubah menjadi hijau. Hana bergegas melajukan kembali sepeda motor yang dia kendarai.
__ADS_1
Sementara itu mobil Hassan mulai melaju perlahan, hingga tibalah mereka di sebuah rumah sakit tempat Bu Sri dirawat.
Mereka masuk ke dalam dan segera menuju ruangan tempat Bu Sri berada, atas ijin sang dokter. Sampai di dalam ruangan, Aisyah melihat ibunya tengah duduk di atas kasur. Wanita itu baru saja selesai disuapi oleh seorang suster.
"Silahkan, Nona, Tuan, saya permisi dulu," sambut suster itu ramah.
Aisyah mengangguk ramah, sedangkan Hassan hanya diam. Aisyah mendekati Bu Sri diikuti Hassan mengekor di belakang.
"Ibu," panggil Aisyah lirih.
Bu Sri menoleh kepada anak perempuannya. dia tersenyum ramah. "Kamu apa kabar?"
"Baik, Bu, Ibu sendiri gimana? Apa sudah sehat?" balas Aisyah dalam senyumnya.
Baru saja Bu Sri akan menjawab pertanyaan Aisyah, tanpa sengaja netranya menangkap sosok pria di belakang Aisyah. Wanita itu baru saja menyadari kehadiran pria tersebut.
"Kamu sama siapa, Syah?" tanya Bu Sri terus menatap Hassan.
"Bu, maaf kedatangan saya kesini saya ingin me ...."
Belum sempat Hassan melanjutkan ucapannya, Aisyah langsung menginjak kaki Hassan. Gadis itu memberi kode supaya Hassan menghentikan ucapannya.
"Ada apa, Tuan?" heran Bu Sri.
"Em begini, Aisyah ingin mengajak anda pulang dan merawat anda di rumah saja." Hassan akhirnya mencari alasan.
Bu Sri pun tersenyum. "Iya, saya sudah agak baikan, mungkin besok atau lusa saya sudah boleh pulang," sahut Bu Sri kepada Hassan.
"Kenapa tidak sekarang saja, Bu?" rengek Aisyah.
"Syah, ibu juga sebenarnya sudah tidak betah di sini, tapi tadi dokter baru saja bilang kalau darah ibu masih rendah, jadi biar dirawat di sini dulu. Daripada ibu pulang terus kenapa-napa, dan akhirnya balik kesini lagi malah capek," papar Bu Sri.
Aisyah menghela napas, dia membenarkan ucapan ibunya.
"Ya sudah," pasrah Aisyah.
Hassan pun melirik jam tangannya, kemudian berbicara kepada Aisyah dan juga Bu Sri.
__ADS_1
"Maaf, saya harus ke kantor sekarang."
"Oh iya, Tuan, maaf sudah merepotkan," kata Aisyah. Gadis itu sengaja bersikap sopan, supaya ibunya tidak curiga.
Hassan hanya mengangguk kemudian segera berlalu dari ruangan itu, tanpa ba-bi-bu. Pria itu benar-benar terkesan arogan.
Kini tinggallah Aisyah bersama ibunya.
"Syah, siapa laki-laki tadi? Kelihatannya umurnya jauh lebih tua dari kamu," tanya Bu Sri penuh selidik.
Aisyah pun terkesiap dengan pertanyaan ibunya. Namun dia berusaha untuk tetap tenang.
"Em, tadi aku ketemu di jalan, Bu. Terus dia tanya mau kemana. Waktu tahu kalau aku mau kesini, dia mengantar ku karna yang dia tahu aku naik kendaraan umum," dalih Aisyah.
"Baik juga dia," ujar Aisyah.
Tak terasa hari menjelang sore ....
"Ya sudah, Bu, aku pulang dulu ya, besok aku kesini lagi," pamit Aisyah.
"Iya, kamu hati-hati ya, kalau capek tidak kesini dulu juga tidak apa-apa, besok kalau ibu sudah boleh pulang biar dokter telpon kamu," ujar Bu Sri.
"Baiklah, Bu." Aisyah mengecup punggung tangan Bu Sri kemudian segera keluar dari ruangan.
Kini Aisyah berada di sebuah jalan besar, dia menunggu taxi. Namun sudah hampir satu jam gadis itu menunggu taxi, kendaraan tersebut belum ada yang melintas satupun.
"Apa supirnya lagi pada istirahat, ini kan sudah siang. Ya sudah deh, aku tunggu saja, siapa tahu sebentar lagi datang, mau naik ojek online, tapi aku belum punya aplikasinya, mau download juga males kalau mendadak," lirih Aisyah.
Tanpa disadari, sepasang mata mengawasinya dari kejauhan. Seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun bernama Reta, yang merupakan tetangga Aisyah sedang berada di sebuah kedai, dia sedang menikmati makan siang.
Rumah Reta bersebelahan dengan Hana. Dia bekerja di sebuah toko listrik. Dan saat itu adalah waktu istirahat baginya. Reta terbilang gadis yang kuper, dan jarang keluar rumah.
Akhirnya sebuah taxi melintas di hadapan Aisyah. Gadis itupun menyetopnya. Setelah taxi berhenti Aisyah segera masuk ke dalam.
Kendaraan roda empat itupun berlalu ....
Dari kejauhan, Reta memperhatikan gerak-gerik Aisyah ....
__ADS_1
'Aisyah dari mana, ya? Kok dia seperti keluar dari rumah sakit?' tanya Reta dalam hati sambil mengunyah makanannya.