Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Cibiran Sadis


__ADS_3

"Syah, dengar ya ... kerjaan saya bukan hanya mengurusi kamu, ataupun istriku. Tapi saya punya pekerjaan yang harus saya kerjakan. Sebenarnya, saya tidak perlu memberitahu kamu tentang ini, tapi asal kamu tahu ya, pekerjaan saya hampir saja terbengkalai, karna akhir-akhir ini saya mulai lengah dalam pengawasan. Dan itu semua demi kamu, iya ... kamu! Jadi, tolong mengertilah," ketus Hassan.


Aisyah terdiam ....


"Kamu jalani dan nikmati saja hidup ini, kamu boleh main ke rumah teman kamu, shopping, atau kemana terserah kamu. Tapi ingat, jangan macam-macam dengan laki-laki lain, apalagi ke diskotik minum-minum tidak jelas! Bukan saya melarang, tapi saya sangat mengkhawatirkan bayi yang sedang kamu kandung," lanjut Hassan.


Aisyah masih diam, hatinya merasa kesal, namun berdebat pun percuma. Hassan selalu saja pandai menyangkal.


Hassan mengesah kasar, dia memaklumi sikap Aisyah saat itu.


"Apa uang kamu masih? Kalau sudah habis, saya akan transfer sekarang juga, belum habis pun tetap akan saya transfer," ujar Hassan.


"Uang yang kamu kasih setiap minggu, tidak akan habis, karna sebelum habis kamu selalu transfer lagi, dan lagi," sahut Aisyah datar.


"Baguslah, kalau perlu habiskan, kamu belilah barang-barang mewah yang kamu suka, atau memanjakan diri. Ke salon atau perawatan, atau apalah yang membuat kamu rileks dan senang," usul Hassan.


"Iya," sahut Aisyah dengan nada malas.


"Ya sudah istirahatlah, ini sudah malam. Atau mau saya makan kamu?" kelakar Hassan mencoba mencairkan suasana.


"Masa bodo!" Hanya itulah kata yang terucap dari bibir Aisyah, kemudian gadis itu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu setengah dibanting.


Hassan hanya menggelengkan kepala menghadapi tingkah istri sirinya itu. Dia pun menyusul masuk ke dalam kamar, menghabiskan malam yang masih tersisa.


Pagi hari, Aisyah bangun lebih awal. Dia segera membasuh wajahnya dan menyikat gigi. Kemudian mengambil dompet di dalam kamar. Tak lama, Aisyah mengeluarkan sepeda motornya hendak menuju pasar terdekat, untuk berbelanja bahan makanan untuk stok beberapa hari.


Baru saja Aisyah selesai menstarter sepeda motor, dia melihat Hana sedang berjalan bersama Reta. Mereka berdua hendak membeli bubur untuk sarapan pagi. Bubur sayur yang dijual oleh salah satu warga di desa itu, letaknya tak jauh dari rumah Aisyah.

__ADS_1


Aisyah hendak menyapa kedua gadis itu, namun ....


"Eh, ternyata cowok yang suka datang ke rumah itu suaminya, haha ... tapi cuma nikah siri, nggak ada pesta meriah. Dia kan sekarang banyak uang, kenapa pelit untuk mengadakan pesta besar-besaran dan mengundang banyak orang? Aneh sekali," celetuk Hana.


"Iya, Na, Jangan-jangan cowoknya sudah punya istri, dan dia cuma istri simpanan saja makannya nggak berani nikah secara negara, apalagi pesta besar-besaran dengan mengundang banyak orang," sahut Reta.


"Oh iya, kenapa aku baru kepikiran ya, berarti dia itu pelakor alias perebut laki orang, sama dengan perusak rumah tangga orang," kata Hana.


Dan, mereka berdua pun tertawa sambil terus berlalu dari hadapan Aisyah. Hati Aisyah semakin teriris perih, mendengar apa yang baru saja terlontar dari bibir kedua gadis tersebut.


'Ya Tuhan, tega sekali mereka ... tapi, memang benar, aku memang sudah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Mas Hassan Tapi aku nggak merasa jadi pelakor, karna aku sama sekali nggak pernah merebut Mas Hassan dari istrinya. Awalnya pun aku nggak tahu, kalau Mas Hassan sudah beristri, karna Mas Hassan nggak pernah bilang juga, dia bilang setelah aku hamil,' batinnya.


Namun Aisyah tak mempedulikan ucapan kedua gadis itu, seolah masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Dia sudah berkali-kali mendapat cacian dan cemoohan seperti itu. Aisyah pun mulai mengendarai sepeda motornya, hingga tiba di sebuah pasar.


Gadis itu membeli beberapa macam lauk, sayuran mentah beserta bumbunya, untuk dia simpan di dalam kulkas, bekal masak setiap hari. Dengan begitu, Aisyah tidak perlu repot-repot pergi ke pasar setiap hari. Tak lupa juga Aisyah membeli beberapa buah setengah matang. Dia berniat membuat rujak buah untuk dimakan dirinya dan juga Hassan.


Hari itu Aisyah berniat hendak memasak opor ayam, beserta tumis kangkung. Saat mulai memasak, Aisysah kembali teringat ucapan kedua gadis yang dia temui tadi. Yang mana menyebutkan bahwa dirinya adalah seorang 'PELAKOR' ... hatinya kembali teriris walaupun berulang kali dia berusaha untuk tidak memikirkan hal itu. Namun tetap saja kata-kata ’PELAKOR’ terus terngiang di telinga.


Alhasil Aisyah menjadi tidak fokus memasak. Namun Aisyah tetap mengolah makanan sampai matang. Setelah semua makanan matang, kini Aisyah mulai memotong buah-buah yang dia beli tadi, menjadi bagian kecil. Dia juga membuat sambal rujak sebagai cocolannya.


Sementara di dalam kamar, Hassan membuka matanya, dia pun terduduk. Indera penciuumannya mengendus aroma sedap. 'Apa Aisyah sudah masak? Baunya nikmat sekali,' batinnya.


Pria itupun beranjak dan keluar dari kamar, dia berjalan menuju aroma sedap itu berasal. Langkah kakinya terhenti di dapur. Dan benar saja, Hassan melihat Aisyah sedang menata makanan di atas meja, namun dengan raut wajah tidak ceria.


'Ini anak murung terus,' batin Hassan lagi seraya berjalan menghampiri istri barunya itu.


"Wah, kamu sudah selesai masak, sayang?" sapa Hassan ramah.

__ADS_1


Deg!


Panggilan 'sayang' sempat membuat Aisyah hanyut, jantungnya serasa akan lepas dari sarangnya. Namun segera dia tampik perasaan itu.


"Iya, Mas, biar kamu bisa sarapan, dan pulang menemui istri resmi kamu," kata Aisyah menekan kata-kata 'istri resmi'.


Hassan mengerutkan keningnya. "Kamu ini ngomong apa sih?"


"Cuci muka sama gosok gigi dulu, sana. Terus kita sarapan sama-sama. Atau mau mandi sekalian juga tidak apa-apa," titah Aisyah.


Tanpa berkata-kata lagi, Hassan segera melangkahkan kaki panjangnya, menuju kamar mandi. Beberapa saat kemudian, Hassan kembali menghampiri Aisyah, dia menarik kursi dan duduk di dekat istrinya itu.


Hassan mengamati satu wadah sedang berisi opor ayam dengan taburan bawang goreng di atasnya. Kemudian tumis kangkung yang masih hijau segar, terlihat sangat menggiurkan lidah. Dan, yang membuat mata pria itu berbinar, dia melihat rujak buah di samping masakan.


'Ternyata Aisyah masih ingat kesukaanku, dan sepertinya masakannya juga enak ini,' gumam Hassan dalam hati.


"Kamu benar-benar istri idaman," puji Hassan dengan senyum sumringah.


Aisyah tak menyahut ucapan pria tersebut, dia mengambil piring dua buah, satu dia berikan kepada Hassan.


Hassan mengisi nasi pada piringnya, kemudian mengambil satu potongan ayam dalam kuah opor, beserta sebagian sayur kangkung dia letakkan pada piring sejajar dengan nasi.


Sementara Aisyah hanya mengambil sedikit nasi. Sebenarnya gadis itu belum berselera makan, namun dia tak ingin adu mulut dengan Hassan. Karena sudah pasti pria itu akan mempermasalahkan dirinya yang tidak ikut makan.


Hassan mulai menyantap makanan buatan Aisyah.


"Cuih ..."

__ADS_1


Tiba-tiba saja Hassan memuntahkan makanan yang sudah dia kunyah.


__ADS_2