Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Siuman


__ADS_3

"Makasih ya, Tin. Aku turun dulu," kata Aisyah.


Tini mengangguk, dan Aisyah pun turun dari mobil, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


Dia segera disambut oleh sang dokter. "Nona, dari tadi saya menghubungi anda, tapi nomer anda selalu berada di luar jangkauan."


Aisyah mengerutkan keningnya, dia pun mengeluarkan benda pipih dari dalam tasnya. Gadis itu menghidupkan layar ponselnya, namun layar pada ponsel Aisyah tetap gelap.


"Kok hapeku mati, ya?" gumam Aisyah.


Seketika dia teringat, bahwa sedari kemarin, dia lupa mencharger ponselnya.


"Ya ampun maaf, Dok, hape saya mati lupa saya cas," kata Aisyah kepada sang dokter.


Sang dokter pun menghembuskan napas kasarnya.


"Oh iya, Dok. Bagaimana kondisi ibu saya? Apa dia sudah sadar?" tanya Aisyah kemudian.


Dokter tersebut menggeleng pelan. "Dengan berat hati, saya sampaikan bahwa kondisi ibu anda semakin drop. Dan saya tidak yakin apakah ibu anda bisa ...."


"Bisa apa, Dok?" tanya Aisyah ketika sang dokter menghentikan ucapannya.


'Astaga, kenapa juga aku kelepasan, tapi, tidak baik juga kalau aku merahasiakan kondisi Ibu Sri kepada anaknya,' batin dokter.


"Dok?" Aisyah membuyarkan lamunan dokter.


"Em, maaf, Nona ... saya terpaksa mengatakan hal ini. Ibu anda mengalami depresi dengan tingkat keparahan tinggi. Semoga saja ada keajaiban, dan ibu anda bisa segera sembuh." Dokter pun meralat ucapan sebelumnya.


Seketika itu juga, tubuh Aisyah gemetar, lututnya terasa lemas. "Dok, apa saya boleh melihat ibu saya?"


"Silahkan, Nona." Dokter pun mengantar Aisyah ke dalam ruangan, tempat di mana Bu Sri dirawat.


"Saya tinggal dulu, Nona. Banyak pasien mengantri," kata dokter.


Aisyah mengangguk, dan sang dokter pun segera meninggalkan ruangan tersebut.


Tangan Aisyah yang masih gemetar itu, perlahan bergerak membuka pintu ruangan. Dia melangkahkan kakinya semakin dekat dengan ibunya yang sampai saat ini, masih saja terbaring tak berdaya.


"Bu, cepatlah sembuh, kita kumpul sama-sama lagi seperti kemarin. Maafin aku, Bu. Sudah membuat Ibu jadi begini," lirih Aisyah dan seketika netranya basah.


Perlahan, tangan Aisyah mengusap kening ibunya. Bulir bening menetes pelan di pipinya. Ingin sekali gadis itu menangis, namun dia tahan.


Tanpa disengaja, netra Aisyah mengarah pada jari jemari Bu Sri yang reflek bergerak. "Ibu ...."


Aisyah segera berlari keluar menuju ruangan dokter. Gadis itupun berteriak memanggil dokter. Dengan tergopoh-gopoh, dokter pun keluar dari ruangan.


Ada apa, Nona?"

__ADS_1


"Dokter, saya lihat tangan ibu bergerak tadi," ujar Aisyah antusias.


Dokter tertegun, dia pun bergegas menuju ruang rawat Bu Sri diikuti Aisyah.


Sampai di dalam ruangan, dokter dan Aisyah sama-sama melihat Bu Sri membuka matanya.


"Maaf, Nona, mohon anda keluar dulu. Saya akan memeriksa ibu anda," titah dokter kepada Aisyah.


"Baik, Dok ...." Aisyah pun menuruti perintah sang dokter, gadis itu melangkah keluar dan menunggu di depan pintu ruangan dengan harap cemas.


'Ya Tuhan, sembuhkan lah ibu,' batin Aisyah penuh harap.


Tak lama pintu terbuka, dokter keluar. Dan Aisyah pun segera menghampiri sang dokter.


"Dok, bagaimana?"


Dokter tersenyum ramah. "Ternyata ada keajaiban untuk ibu anda, Nona. Beliau sudah sadar, tapi masih harus dirawat di sini untuk batas waktu yang belum bisa ditentukan."


"Jadi, ibu saya belum boleh pulang, Dok?" lirih Aisyah seakan merasa kecewa.


"Bisa pulang, tapi beliau belum boleh banyak gerak, kalaupun anda bersikeras membawa pulang, ibu anda harus memakai kursi roda," papar sang dokter.


Aisyah tampak berpikir sejenak ....


'Nggak apa-apa deh pakai kursi roda, yang penting aku bisa kumpul sama ibu,' batin Aisyah.


Kemudian Aisyah menatap sang dokter. "Dok, sepertinya saya akan tetap membawa pulang ibu saya. Biar dirawat jalan saja."


"Saya akan merawat ibu saya sebaik mungkin, Dok," kata Aisyah merasa begitu yakin.


Dokter pun tampak sedang mempertimbangkan ucapan Aisyah. Dia tidak yakin bahwa gadis itu bisa menjaga ibunya dengan baik.


"Ya sudah, tapi satu minggu sekali, ibu anda harus kontrol, dan obatnya diminum teratur habis makan. Dan kalau bisa makannya jangan yang kasar-kasar dulu. Jadi anda bisa memberikan makanan berupa bubur, buah pepaya, dan roti tawar saja," pasrah sang dokter.


"Baik, Dok. Oh iya, untuk masalah biaya, bagaimana?" kata Aisyah.


"Anda tidak perlu memikirkan masalah biaya. Semua biaya penanganan ibu anda sudah dilunasi oleh Tuan Hassan," sahut sang dokter.


Deg!


Jantung Aisyah mendadak berdetak kencang. Entah mengapa mendengar nama Hassan membuat hatinya berbunga seketika.


'Mas Hassan,' batin Aisyah.


"Nona?"


Panggilan dokter membuat Aisyah terkesiap.

__ADS_1


"Eh, i-iya, Dok?"


"Jadi, anda tetap akan membawa pulang ibu anda?" tanya dokter sekali lagi.


"Iya, Dok, saya akan merawat ibu saya di rumah saja," sahut Aisyah dalam anggukannya.


"Baiklah, tapi kemungkinan besok anda baru bisa membawa pulang ibu anda," tutur sang dokter.


"Baiklah, Dok, besok saya akan kesini lagi, tapi ... apakah sekarang saya bisa melihat ibu saya lagi?" mohon Aisyah.


"Silahkan, Nona, saya permisi dulu." Dokter pun segera berlalu dari hadapan Aisyah.


Sementara Aisyah masuk ke dalam ruangan. Dia menghampiri ibunya yang tengah menatap langit-langit kamar.


"Ibu?" panggil Aisyah lirih.


Merasa dipanggil namanya, Bu Sri pun menoleh. "Syah?"


Aisyah tersenyum hangat ke arah sang ibu. "Ibu sudah baikan?"


"Iya, Nak," angguk Bu Sri.


"Bu, aku minta maaf, gara-gara aku, Ibu jadi seperti ini," kata Aisyah penuh sesal.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Syah," ujar Bu Sri.


"Bu, besok Ibu sudah bisa pulang, kita kumpul sama-sama lagi, Bu. Aku janji akan merawat Ibu sebaik mungkin," tutur Aisyah dengan senyum sumringah.


Bu Sri menghela napas. "Syah, sepertinya ibu lebih nyaman tinggal di tempat ini. Jadi, ibu akan tinggal di sini terus."


Kedua alis Aisyah bertaut, dia merasa aneh dengan ucapan ibunya, yang menolak ajakannya.


"Maksud Ibu apa? Ibu masih marah kan sama aku? Kenapa Ibu tidak mau aku ajak pulang?"


"Syah, tolong jawab jujur siapa ayah dari anak yang kamu kandung itu?" Bu Sri bertanya kepada Aisyah tanpa menjawab pertanyaan Aisyah terlebih dahulu.


Deg!


Jantung Aisyah kembali berdebar, dia ragu untuk memberitahukan ibunya soal anak yang dimaksud.


Lama Aisyah termenung ....


"Syah ... jawab pertanyaan ibu," kata Bu Sri lagi.


Aisyah pun menggaruk tengkuk lehernya, yang tak gatal itu.


"Bu, Ibu tenang dulu, ya? Jangan mikir yang macam-macam. Besok kalau Ibu sudah pulang ke rumah, aku akan kasih tahu siapa ayah dari bayi ini," tutut Aisyah berusaha mencairkan suasana.

__ADS_1


Hening, tak ada jawaban ....


"Bu ....?"


__ADS_2