Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Sebuah Rencana


__ADS_3

"Ibu masih di rumah sakit, Pak. Kondisinya masih belum memungkinkan untuk pulang, sedangkan saya harus segera menikah mengingat kondisi saya saat ini, untuk menghindari zinah," ujar Aisyah. Gadis itu sengaja tidak memberitahukan kondisi Bu Sri yang sebenarnya kepada bapak ketua desa, karena dia tidak ingin disuguhi dengan bermacam pertanyaan.


Bapak ketua desa mengangguk tanda mengerti. "Ya, ya, ya, saya paham. Ya sudah, besok kalian bisa kesini jam sepuluh ke atas, dan saya akan membantu menyiapkan semuanya."


"Ya sudah, kalau begitu kami permisi," kata Hassan menutup pembicaraan.


Bapak ketua desa mengangguk, kemudian Aisyah dan Hassan beranjak dan keluar. Mereka menuju ke rumah Aisyah.


"Kamu sudah siap, kan?" tanya Aisyah ketika telah berada di dalam rumah.


"Iya, Mas." Aisyah menjawab terpaksa.


"Ya sudah, saya pulang dulu, ya. Ibu saya sedang ada di rumah, kemungkinan sampai beberapa hari," pamit Hassan.


Aisyah hanya mengangguk, kemudian Hassan mengecup kening Aisyah, dan segera berlalu dari hadapan gadis itu.


Aisyah bergegas masuk ke dalam kamarnya, dia membanting tubuhnya di atas kasur. Gadis itu mulai terisak kembali.


'Ya Tuhan, aku suka sama Mas Hassan, aku tidak bisa jauh dari dia. Tapi, semua tidak mungkin, Mas Hassan sudah punya istri, jadi kita tidak mungkin bisa hidup bersatu.' Aisyah meracau dalam hati hingga akhirnya dia terlelap dalam tidurnya.


Sore hari, Aisyah membuka mata, dia mendudukkan tubuhnya di atas kasur.


"Astaga! Aku ketiduran, aku harus ke rumah sakit, minta restu sama ibu, kalau besok aku akan nikah, meski cuma nikah siri.


Gadis itu segera membersihkan diri, kemudian memakai kaos lengan panjang berwarna biru laut, dipadukan dengan celana jeans hitam.


Setelah siap, Aisyah berjalan ke dapur, dia melihat beberapa telur di sana. Aisyah pun merebus dua butir telur, untuk dia makan. Karena gadis itu masih saja bermusuhan dengan nasi.


Setelah telur matang, Aisyah mematikan kompor, dan mengeluarkan telur yang sudah dia rebus dari dalam panci. Tak lupa, dia pun menyeduh teh ke dalam cangkir. Setelah telur rebus hangat, Aisyah segera melahapnya, kemudian menyesap teh manis perlahan sampai habis.


Setelah itu Aisyah mengendarai sepeda motornya menuju ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, Aisyah segera masuk ke dalam menuju ruangan Bu Sri atas ijin sang dokter.


Di dalam ruangan, Aisyah melihat ibunya masih terbaring lemah dengan kedua bola mata terbuka. Wanita itu tidak tidur, namun tidak sadar pula. Layaknya sebuah boneka yang tidak bergerak dan tidak merespon ucapan siapa pun.


Aisyah menatap sedih wajah Bu Sri, perlahan dia menggenggam tangan sang ibu. Dan, tumpahlah air mata yang selalu dia tahan.


"Ibu, cepat sembuh, Bu. Aku selalu menunggu Ibu, kita kumpul sama-sama lagi. Oh iya, Bu, besok aku mau nikah sama Mas Hassan. Aku minta doa restunya ya, Bu. Walaupun hanya nikah siri, tapi aku berharap suatu saat nanti, aku bisa jadi istri Mas Hassan seutuhnya."


Aisyah terus mengajak bicara ibunya, tidak peduli bagaimana kondisi ibunya saat itu.

__ADS_1


Ceklek ....


Pintu terbuka, seorang suster masuk ke dalam. "Permisi, Nona, maaf saya akan mengganti infus Ibu Sri."


"Oh iya, Sus, ya sudah saya mau sekalian pulang, tolong rawat ibu saya dengan baik, Sus," ujar Aisyah.


"Pasti, Nona, karna ini memang sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kami," kata suster itu.


Setelah mengucapkan terimakasih, Aisyah keluar dari ruangan. Dia mengendarai sepeda motornya, kini dia menuju ke rumah Tini. Gadis itu hendak meminta maaf atas kejadian semalam.


Ting ... tong ....


Kini Aisyah sampai di rumah Tini, dia menekan bel rumah. Tanpa menunggu lama, pintu pun terbuka, keluarlah Tini masih berpakaian piyama tidur.


"Eh, kamu, Syah?"


"Tin, boleh aku masuk?" mohon Aisyah.


"Emangnya, kamu mau di luar terus?" kelakar Tini.


Aisyah pun masuk sambil tersenyum lega, awalnya dia mengira kalau Tini akan kesal terhadapnya.


"Kamu dari mana, Syah?" tanya Tini menelisik penampilan temannya itu.


"Oh, terus gimana keadaan ibu kamu?" tanya Tini lagi sambil menyingkap poninya.


"Masih seperti kemarin," sahut Aisyah datar.


"Kamu yang sabar ya, Syah. Terus berdoa, aku yakin ibu kamu pasti bisa sembuh." Tini berusaha menenangkan Aisyah.


"Iya, Tin makasih ya. Oh iya, aku minta maaf ya buat kejadian semalem, aku jadi gak enak sama kamu," tutur Aisyah.


"Ah gak apa-apa, kok. Justru aku yang kasihan sama kamu. Tuan Hassan ngapain kamu?" ujar Tini.


"Ya biasalah, dia kan orang kaya, jadi ya seenaknya sendiri. Oh iya, Tin, besok aku mau nikah, kamu datang sebagai saksi ya, tapi cuma nikah siri," tutur Aisyah.


"Jadi, besok kamu nikah?" Tini terbelalak seolah tak percaya.


"Iya tapi gak apa-apaan sih, gak ada pesta juga," kata Aisyah.

__ADS_1


"Gak apa-apa, yang penting kamu ada status, daripada jadi zina. Sudah, kamu jangan mikir macam-macam, nanti kamu malah seperti ibu kamu. Yang penting Tuan Hassan mau tanggung jawab nafkahi kamu, masalah lainnya, pikir belakangan," kata Tini bijak.


"Iya, Tin. Pokoknya kamu besok harus datang, dandan yang cantik," seloroh Aisyah.


"Iya, aku pasti datang," kata Tini.


Kedua gadis itupun asik mengobrol dan bersenda gurau.


****


Sementara di sebuah ruangan pribadi ....


Hassan segera memanggil salah satu orang kepercayaannya, ke dalam ruangan. Dia adalah Jeko.


"Jek, tolong siapkan dokumen perjanjian, antara saya dan Aisyah. Berikan uang dan semua yang dia inginkan selain hak terhadap anaknya itu. Surat perjanjian itu harus kuat secara hukum, dan tidak bisa diganggu gugat selain saya sendiri yang membatalkannya."


Jeko menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia sama sekali tidak mengerti, dengan apa yang diucapkan oleh Hassan.


"Maaf, Tuan, maksud anda bagaimana?"


"Baik, saya akan memberitahu suatu hal kepadamu, tapi pastikan kalau kamu tidak akan bocor ke istri saya," ucap Hassan lantang.


"Mana berani saya mengadu, tentang apa yang Tuan lakukan," kata Jeko.


Hassan pun akhirnya menceritakan asal mula sebab musabab duduk perkara, mengenai Aisyah.


"Intinya, saya sekarang ini sedang menjalin hubungan dengan anak Bu Sri, namanya Aisyah dan dia sedang hamil anak saya. Kamu tahu kan, sudah lama saya dan istri saya mendambakan kehadiran seorang anak? Apalagi ibu saya, beliau yang paling berambisi supaya kami segera memberikan momongan kepadanya," papar Hassan.


Jeko mendengarkan penjelasan Hassan dengan seksama.


"Nah, rencana saya, setelah anak itu lahir, akan saya rawat bersama istri saya, dan tentunya Aisyah harus menyerahkan anaknya kepada saya, karna saya sudah memberikan banyak untuk dia, dan saya tidak mungkin juga menikahi Aisyah secara resmi."


Jeko pun mengangguk, dia kini paham dengan maksud dan tujuan Hassan.


"Lalu, apa rencana Tuan setelah ini?" tanya Jeko yang merasa kurang jelas dengan apa yang sudah Hassan perintahkan kepadanya.


"Siapkan pengacara pribadi untuk menghadiri acara pernikahan saya besok. Aku ingin, besok semuanya sudah harus siap," ujar Hassan.


"Baiklah, saya akan menyiapkan apa yang anda minta, hari ini juga, Tuan jangan khawatir, saya pastikan besok semua sudah siap," kata Jeko bijak.

__ADS_1


"Bagus," ucap Hassan.


'Semoga saja, ini pilihan yang tepat untukku. Dan, semoga saja Aisyah bisa tegar, saat harus berpisah dengan anaknya. Kalau dia sampai berbuat ulah atau ingkar janji, tahu sendiri akibatnya,' batin Hassan di sela senyum evilnya.


__ADS_2