Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Danau Rasa Pantai


__ADS_3

Aisyah menghela napas, dia menurunkan pandangannya menatap perutnya yang masih datar kemudian mengusapnya.


"Aku gak seberuntung yang kamu bayangin, Tin. Aku dinikahin siri, dan setelah anak ini lahir aku akan diceraikan tanpa boleh mengakui anak ini apalagi menjenguknya. Jadi, bab mana yang kamu maksud beruntung? Dikasih uang banyak? Ggak, Tin, aku gak bisa bahagia cuma dikasih uang banyak. Aku pengin kayak orang pada umumnya, punya suami resmi. Semua orang tau, tanpa ada orang ketiga dalam rumah tangga kita. Punya anak dirawat bareng." Tanpa sadar, netra Aisyah basah.


"Sssttt, Syah ... maafin aku, ya. Aku udah bikin kamu sedih, gak seharusnya aku bahas tentang Tuan Hassan." Tini merasa bersalah seketika.


Aisyah pun berhasil menahan air matanya yang hampir menetes, kemudian tersenyum.


"Gak apa-apa, Tin. Ya udah kita ke pantai yuk."


Tini mengangguk, dan mobil terus melaju.


Sudah satu jam Tini mengendarai sepeda motornya, seketika Aisyah merasa aneh dengan jalan yang dilewati.


"Lho, kok lewat sini, Tin? Memang, kita mau kemana? Setahuku, jalan arah pantai bukan jalan ini."


Tini tersenyum penuh arti. Sorry, Syah, aku baru ingat ada danau bagus, aku pernah diajak ke sana satu kali."


"Siapa yang mengajak kamu?" heran Aisyah.


"Ada deh." Tini mengerlingkan matanya."


Aisyah menggelengkan kepala. "Pasti pacar kamu, ya?" telaahnya.


"Eh, bukan, kalo aku punya pasti aku bakal sering pergi sama pacarku. Dan mungkin gak pernah ada waktu buat kamu," kelakar Tini.


"Terus, siapa dong? Sama teman sendiri main rahasia-rahasiaan nih, huh?" cibir Aisyah.


"Teman deket, cowok ... tapi bukan pacar," ungkap Tini akhirnya.


"Oh ...." Aisyah mengangguk pertanda paham.


"Gimana? Mau gak, kita ke danau?" tanya Tini.


Aisyah pun menghembuskan napasnya. "Oke deh, terserah kamu aja, yang penting kamu juga senang."


Tini pun tersenyum sambil terus mengendarai sepeda motor maticnya.


Kini kedua gadis itu telah berada di Danau Pelangi. Tempatnya sangat sejuk dan nyaman layaknya pedesaan, berbeda dengan suasana kota yang penuh dengan polusi kendaraan.


Aisyah dan Tini duduk di pinggir danau dengan kaki dicelupkan ke dalam air.


"Gimana, Syah? Enaknkan tempatnya?" tanya Tini sambil memandangi pemandangan sekitarnya.


Iya Tin, udaranya sejuk," angguk Aisyah.


Seketika, terbesitlah ide nakal dalam benak Tini. Dia menceburkan diri ke dalam danau itu dan berenang ke tengah-tengah, seketika air sejuk dari danau pun menyentuh tubuhnya.


"Gila kamu, Tin. Kamu kan gak bawa baju ganti?" ujar Aisyah.


"Gak papa, Syah, malah asik lagi," kata Tini dengan santainya.


Aisyah pun merasa gemas dengan tingkah sahabatnya itu.


"Ayo, Syah, turun sini kita renang berdua!" seru Tini.


Aisyah menggeleng. "Gak ah, Tin."


Tini memutar bola matanya malas, kemudian dia berenang ke tepi mendekati Aisyah.


"Ayolah kita bersenang-senang, besok katanya kamu mau bulan madu sama Tuan Hassan. Nah, sekarang senang-senang dulu sama aku," rayu Tini setengah memaksa.


Aisyah terus menggelengkan kepala, pertanda bahwa gadis itu menolak ajakan temannya.


Namun dengan sekali tarikan, Tini berhasil menarik tubuh Aisyah hingga tercebur ke dalam danau. Aisyah pun tersentak.


"Ah, jahat kamu, Tin!" seru Aisyah sambil tertawa. Sebenarnya Aisyah merasa sedikit terhibur, dia hanya berpura-pura marah kepada Tini.


Tini pun meringis. "Kalau mau seneng-seneng tuh jangan nanggung, Syah."

__ADS_1


Tini mencipratkan air ke wajah Aisyah. Awalnya Aisyah berpura-pura terlihat kesal, namun lama kelamaan dia ikut mencipratkan air ke wajah Tini. Mereka berdua tertawa membahana mirip anak kecil yang sedang bermain air dengan riangnya.


Tak terasa waktu terus berputar, dan hari makin petang. Aisyah mengajak Tini untuk pulang.


"Kita kemah aja yuk, Syah, pulang besok pagi, lagian sekarang udah mau malam, gelap jalannya," tolak Tini.


"Tapi aku harus pulang Tin, nanti Mas Hassan bisa marah. Dia itu setiap jam pasti selalu menelponku," cemas Aisyah.


"Ah, hanya satu malam kok, besok jam tujuh langsung pulang deh." Tini berusaha merayu temannya itu.


"Berkemah kan butuh tenda, dan kita gak bawa tenda, kita mau mati kedinginan di sini?" kata Aisyah sedikit memakai logika.


"Iya juga, ya," gumam Tini sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Udahlah kita pulang aja, yuk ... dingin banget nih, mana gak bawa baju ganti," rengek Aisyah.


Pakaian kedua gadis itu basah kuyup. Namun Tini berusaha mencari akal supaya Aisyah berhenti merengek minta pulang.


"Nanti dululah, Syah, kita kan jarang ketemu."


Aisyah pun merasa tak enak hati dengan temannya itu. Memang benar apa yang dikatakan oleh Tini, kalau mau happy jangan nanggung.


"Ya udah aku telpon Mas Hassan dulu, biar dia gak nyariin aku," pasrah Aisyah.


Tini pun mengangguk senang. Dan Aisyah mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana jeans yang dia pakai. Betapa terkejutnya dia, karena layar ponselnya mati, dia lupa sewaktu berenang di danau ponselnya ikut terbawa.


"Duh, hapeku mati," keluh Aisyah.


Tini yang menyaksikan hal itu, segera menghampiri Aisyah. "Kenapa, Syah?" tanyanya.


"Ini, Tin, hapeku mati tadi kena air," jawab Aisyah.


"Duh, sorry ya, Syah, aku gak tau kalo kamu bawa hape. Gara-gara aku hape kamu jadi mati deh," sesal Tini.


"Gak papa kok, Tin," kata Aisyah pasrah.


Aisyah menggeleng lemah. "Enggak, Tin."


Tini pun mengesah sembari mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana yang dia kenakan. Tini menekan tombol di samping ponsel, supaya layarnya hidup. Namun ponsel Tini pun mati pula.


"Yah, punyaku mati juga, Syah."


"Udah, Tin, nggak gak papa, kok. Lagian aku juga gak inget nomer Mas Hassan," kata Aisyah berusaha mencairkan suasana.


Tini pun mengangguk kemudian dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, seketika netranya mengarah pada sebuah benda kecil yang tergeletak di tanah.


Tini mengambil benda itu, dia memperhatikannya dengan seksama sambil mengerutkan keningnya. Ternyata Tini menemukan korek api, dia berpikir bahwa malam sebelumnya ada sekelompok orang yang berkemah.


"Apa itu, Tin?" tanya Aisyah yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik temannya.


"Korek, Syah," jawab Tini.


"Huh? Korek aja kamu ambil, emangnya mau buat apa?" heran Aisyah.


"Eh, aku ada ide, Syah," kata Tini spontan.


Aisyah mengerutkan keningnya. "Ide apa, Tin?"


Tini mencari kayu bakar di sekitar tempat itu, dan mengumpulkannya sedikit demi sedikit. Setelah mendapat kayu cukup banyak, Tini membuat tumpukan kayu. Kemudian dia menyalakan korek api yang dia temukan tadi, dan membuat api unggun. Gadis itu tak merasa kesulitan dalam membuat api unggun, karena dia masih ingat teknik pembuatan api unggun sewaktu berkemah di sekolahnya dulu.


Tak lama api unggun pun menyala, Tini menyuruh Aisyah untuk mendekat. "Sini, Syah, kita duduk, nanti juga baju kita kering sendiri."


Aisyah pun menuruti kemauan Tini, mereka duduk di dekat api unggun buatan laras, sambil mengobrol. Tanpa disadari baju yang dikenakan mereka berdua perlahan mengering. Suasana malam itu sangat sepi, tak seorangpun berada di tempat itu.


****


Di tempat lain, Hassan merasa cemas, lantaran berkali-kali gagal menghubungi Aisyah. Pria itu mencoba menghubungi Aisyah kembali, namun tetap tak dapat tersambung.


'Aisyah kemana, ya? Kok dihubungi susah sekali. Apa dia sudah tidur? Tapi ... nomernya tidak aktif. Apa dia sengaja menon-aktifkannya? Mungkin dia masih marah, karna aku tegur masalah masakan tadi pagi,' batinnya.

__ADS_1


Hassan berjalan hilir mudik di sebuah jalan. Akhirnya pria itu memutuskan untuk mendatangi rumah Aisyah. Sesampainya, Hassan segera mengetuk pintu rumah gadis itu. Namun tak kunjung terbuka.


'Mungkin dia memang sudah tidur, dan masih marah denganku,' pikirnya dalam hati.


Hassan kembali melajukan mobilnya. Satu persatu diskotik dia datangi, berpikir kalau Aisyah pergi ke tempat itu lagi.


Namun, lagi-lagi Hassan tidak menemukan sosok yang dia cari. Hassan pun pulang ke rumah. Sampai di rumah dia masuk ke dalam kamar, dan merebahkan tubuhnya di sebelah Hanum yang sudah tertidur pulas. Hassan menatap langit-langit kamar, perasaannya tak tenang.


****


Danau Pelangi ....


Pagi hari tiba, Aisyah dan Tini masih terjaga menghadap api unggun yang perlahan mulai redup. Mata mereka terlihat sayu akibat tidak tidur semalaman, dan pakaian yang melekat pada tubuh mereka pun mengering dengan sendirinya, namun masih sedikit lembab.


"Pulang yuk, Tin, gila ... kita di sini semalaman gak tidur sama sekali," tutur Aisyah sedikit kesal namun dia tahan.


Tini tersenyum kecut. "Ayo deh, aku juga ngantuk sekali."


"Kamu sih, gak jelas, pake acara kesini segala, coba kemaren kita jadi ke pantai, kita malah bisa tidur, kan ada penginapannya," gerutu Aisyah.


"Ya udahlah, Syah, udah terlanjur juga. Aku minta maaf, ya," kata Tini yang diam-diam merasa bersalah.


"Terus, mana yang kamu bilang asik?" kelakar Aisyah.


"Hehe, ya ini, Syah." Tini terkekeh.


"Oh ... basah-basahan begini, terus begadang semalaman ... ini yang kamu bilang asik?" Aisyah seolah sedang memojokkan temannya itu.


Tini tak menghiraukan ucapan Aisyah, dia segera menaiki sepeda motornya dengan terpaksa diikuti Aisyah. Tini mengendarai kendaraannya perlahan, dia tidak berani mengebut, karena tubuhnya masih terasa lemas.


Satu jam kemudian, sampailah Tini di rumahnya, dia mengajak Aisyah masuk.


"Tin, aku boleh numpang tidur bentar, gak? Ngantuk banget nih," mohon Aisyah.


"Ya udah, ayo," angguk Tini.


Kedua gadis itu masuk ke dalam kamar. Tini tak menghiraukan bajunya yang masih lembab, begitupun dengan Aisyah. Mereka sudah terlalu mengantuk.


Pukul dua belas siang, Aisyah membuka matanya, dia melirik ke arah Tini kemudian mengguncang tubuhnya. "Tin, bangun sudah siang nih, makan yuk tiba-tiba aku laper."


Tini menggeliat, perlahan dia membuka matanya dan mendudukkan tubuhnya di atas kasur.


"Kamu mau makan di mana lagi, Syah?" tanya Tini.


"Ah, di sini aja, kita masak mie instan yuk. Terus, aku mau langsung pulang."


"Ih, jorok kamu, Syah," ledek Tini.


"Jorok? Emangnya kenapa?" Aisyah mengerutkan keningnya.


"Gak mandi, hahaha!" Tini mentertawakan temannya itu.


"Ah, aku mandi di rumah aja, aku gak biasa kalau mandi di tempat orang," kata Aisyah.


Tini menggeleng, gemas dengan tingkah Aisyah. "Ya udah kayaknya aku ada stok mie, aku masakin dulu buat makan kita berdua."


Aisyah pun duduk di ruang depan. Dan tak lama Tini datang membawa dua piring mie goreng, dan memberikan salah satu piring itu kepada Aisyah. Aisyah segera melahap habis mie goreng itu. Selesai makan mereka kembali mengobrol.


"Mandi sono, Syah," titah Tini.


"Nanti aja ah, kalo udah pulang baru aku mandi," sahut Aisyah acuh.


"Ya ampun, Syah, emangnya kamu gak risih?" heran Tini.


"Ya risih, tapi mau gimana lagi, aku gak biasa mandi di rumah orang. Ya udah aku pulang dulu, Tin," ujar Aisyah.


"Oke, Syah, hati-hati ya," kata Tini.


Aisyah mengangguk, kemudian dia membalikkan tubuhnya berjalan keluar. Dia mengendarai sepeda motornya perlahan meninggalkan rumah Tini.

__ADS_1


__ADS_2