Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Gairah Malam


__ADS_3

"Eh, tidak, Mas," bohong Aisyah.


Hassan merasa bersalah seketika. "Saya harap, kamu bisa memaklumi keadaan ini, dan saya minta maaf, karna saya kamu jadi menderita seperti ini. Tapi, semua sudah terjadi, kita jalani saja. Saya yakin sekali, suatu saat nanti, kebahagiaan pasti akan menyertaimu."


Aisyah pun mengusap pipinya yang basah, kemudian dian memakan kentang goreng yang tersedia di atas meja. Aisyah tersenyum melihat Aisyah mau mengisi perutnya.


Selesai makan, Hassan membayar makanan kemudian mengajak Aisyah masuk ke dalam mobil. Hassan mengendarai mobilnya perlahan. Kini mereka tiba di sebuah mall.


"Kita mau apa kesini, Mas?" heran Aisyah.


"Turunlah," titah Hassan tanpa menjelaskan apapun kepada Aisyah.


Hassan turun terlebih dahulu, diikuti Aisyah mengekor di belakang. Kini mereka memasuki mall tersebut.


"Silahkan kamu pilih baju-baju yang kamu suka, terus kebutuhan harian kamu, sabun, parfum, skincare, pokoknya apa saja yang kamu butuhkan," kata Hassan.


Aisyah mengerutkan keningnya, dia merasa heran dengan pria di sampingnya.


"Lho, kok malah diam? Ayo pilih, apa yang kamu inginkan, ambillah. Mumpung saya sedang berbaik hati," ujar Hassan.


"Tapi, Mas ...."


"Tidak pakai kata tapi," sela Hassan.


Aisyah pun berjalan menuju stand pakaian. Dia memilih beberapa pakaian yamg dia suka. Kemudian gadis itu memilih kosmetik, dengan merk mahal. Terakhir Aisyah memilih beberapa parfum yang sedang viral, serta snack untuk camilan di rumahnya.


Kemudian Aisyah menemui Hassan membawa nota belanjaan.


"Sudah?" tanya Hassan.


Aisyah mengangguk. "Sudah cukup, Mas."


"Sepertinya, kamu melupakan sesuatu," kata Hassan.


Kening Aisyah berkerut. 'Apa?' batinnya.


"Sekarang juga, kamu pilih ****** ***** yang bagus dan seksii. Pakailah celana itu, setiap kita bertemu ...." Hassan berbisik di telinga Aisyah.


Seketika wajah Aisyah merah padam, gadis itu tersipu.

__ADS_1


"Hey, ayolah," paksa Hassan.


Akhirnya Aisyah berjalan menuju tempat pakaian dalam. Dia memilih beberapa penutup kedua gunung kembarnya, dan beberapa penutup area miliknya, yang sensitif.


Setelah itu, dia memberikan nota kepada Hassan. Pria itu tersenyum puas, kemudian membayar seluruh belanjaan yang telah dipilih oleh Aisyah.


Tak terasa hari mulai petang, matahari telah kehilangan sinarnya. Hassan kembali melajukan mobilnya, menuju diskotik. Sesampainya, dia mengajak Aisyah turun, mereka masuk ke dalam.


Aisyah merasa dejavu dengan tempat itu. Seperti bar tempat dia bekerja, namun bukan. Tempat itu berbeda. Di kota itu, memang ada dua belas bar dan hotel dengan tampilan yang sama.


"Kita ngapain lagi kesini, Mas?" tanya Aisyah mengikuti langkah Hassan.


"Tentu saja mau senang-senang. Aku sangat pusing dengan urusan kantor," sahut Hassan.


Aisyah hanya diam mengikuti Hassan. Kini mereka tiba di sebuah ruangan.


"Maaf, saya minta ini." Hassan menghentikan seorang pelayan, yang tengah membawa nampan berisi dua gelas minuman.


"Tapi, Tuan, ini pesanan orang." Pelayan itu tampak keberatan.


Kemudian Hassan mengeluarkan lima lembar uang seratus ribu, dan meletakkan di atas nampan yang sedang dipegang oleh pelayan tersebut.


"Em, tidak, Tuan. Baiklah, ini untuk anda, saya akan membuatkan lagi untuk orang yang pesan," ujar pelayan itu.


Hassan pun mengambil dua gelas minuman, dan membawa ke tempat di mana Aisyah duduk. Aisyah yang menyadari kehadiran Hassan, pun menatap pria itu penuh waspada.


"Ayo kita minum," ajak Hassan kepada Aisyah.


Tapi, Mas, saya kan pernah bilang, kalau saya tidak minum," tolak Aisyah.


"Tenang, ini soft drink, bukan minuman keras." Hassan terpaksa berbohong, supaya Aisyah mau meminumnya.


Aisyah masih ragu memperhatikan minuman di hadapannya.


"Hei, itu minuman, Syah. Bukan pajangan," tegur Hassan.


"Eh, i-iya, Mas."


Aisyah pun meneguk minuman tersebut secara perlahan. Memang rasanya enak, dan seumur hidup, gadis itu belum pernah merasakan minuman seenak itu.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Hassan dengan senyum smirknya.


"Ini minuman apa, Tuan? Kok enak sekali," ujar Aisyah.


"Kalau enak, habiskan," kata Hassan.


Aisyah pun segera meneguk habis minuman itu. Entah mengapa, tenggorokannya terasa sejuk seketika. Aisyah pun mengamati gelas yang sudah kosong, dia pun bergerak gelisah, dan rasa gerah menghampiri tubuhnya.


Mata Aisyah mulai berair, karena sudah meminum minuman terlarang itu. Mendadak Aisyah menjadi pusing. Erlangga cepat-cepat memapah tubuh Aisyah, dan membawanya ke sebuah kamar hotel yang telah dia pesan sebelumnya. Kamar itu terletak di lantai bawah.


Sampai di kamar, Hassan membaringkan tubuh Aisyah yang setengah sadar itu, di atas kasur. Kemudian Hassan menon-aktifkan ponselnya. Setelah itu, dia mulai mengecupi leher gadis tersebut, dengan penuh nafsuu.


Sentuhan lembut Hassan, membuat jiwa Aisyah seolah melayang. Mata gadis itu terpejam, menikmati sensasi kenikmatan yang diberikan oleh Hassan.


Kini, Hassan menyingkap rambut Aisyah, dan memberikan tanda kepemilikan di belakang leher gadis itu. Kemudian Hassan memagut bibir ranum Aisyah. Lama mereka saling berpagutan, kini Hassan kembali mengecupi seluruh bagian tubuh Aisyah, tanpa terlewatkan sedikit pun.


Hassan begitu mendominasi, karena dia sadar, gadis yang dia anggap istri mudanya itu, memang belum berpengalaman.


Dan ... pusaka Hassan pun mengeras, pria itu memasukkan miliknya ke dalam milik Aisyah. Tampak berbeda sekali, dari sebelumnya. Pusaka Hassan merasa hangat berada di dalam sana.


'Apa karna dia sedang hamil? Jadi terasa begitu hangat,' batin Hassan.


Permainan pun dimulai, dan berakhir dengan kenikmatan yang luar biasa. Hassan benar-benar puas saat itu. Dia pun segera menarik tubuh Aisyah yang terasa lemas, ke dalam kamar mandi.


Kini kedua insan itu, telah berada dalam sebuah kamar mandi. Hassan mengambil shower yang tergantung, dia membersihkan area sensitif milik Aisyah. Kemudian mengguyur tubuh gadis itu dengan air hangat yang mengalir melalui shower.


Walaupun setengah sadar, namun Aisyah dapat merasakan perhatian dari Hassan.


Setelah lama berkutat di dalam kamar mandi, Aisyah pun keluar bersama Hassan. Pria itu mengeringkan tubuh Aisyah dan membaringkannya di atas ranjang, tanpa memakaikan kembali pakaian gadis itu.


Setelah tubuhnya bersih, Aisyah langsung memejamkan matanya, dia merasa lelah sekali saat itu. Hassan pun segera berbaring di samping Aisyah, tanpa pakaian pula.


Kini keduanya berada di dalam sebuah selimut, yang menutupi tubuh mereka.


Perlahan, Hassan menoleh ke arah Aisyah. Pria itu mengamati wajah gadis yang tertidur pulas, dengan seksama.


'Cantik juga, sayang sekali aku sudah mempunyai istri, dan aku juga sangat mencintai istriku. Kalau aku masih lajang, sudah aku nikahi dia hari ini juga.' Hassan mulai meracau dalam hati.


Pria itu mendadak teringat akan pertemuannya dengan Hanum, yang kini telah menjadi istrinya. Banyak sekali perjuangan untuk mendapatkan Hanum. Kala itu, perusahaan ayah Hassan di ambang kehancuran, dan ayah Hanum lah, yang menolong ayah Hassan, hingga perusahaannya jaya kembali. Singkat cerita, orang tua Hanum meninggal dunia akibat kecelakaan. Karena itu, Hanun kini tinggal bersama Hassan. Dan Hassan pun sudah berjanji, akan menyayangi istrinya sampai maut memisahkan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2