Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Malam Syahdu


__ADS_3

Aisyah pun berbaring di atas kasur, dan beberapa menit kemudian Hassan ikut berbaring di samping tubuh Aisyah. Pria itu memeluk Aisyah dari belakang.


Deg!


Jantung Aisyah berdetak kencang, iramanya tak beraturan. Perlahan tangan Hassan menelusuri beberapa bagian sensitif pada tubuh Aisyah. Hingga akhirnya Hassan melucuti satu persatu pakaian yang melekat pada tubuh Aisyah dan membuangnya ke segala arah.


Hassan mulai memagut bibir Aisyah seraya tangannya memberikan sentuhan-sentuhan kenikmatan pada tubuh gadis itu.


"Ah ...."


Tanpa sadar Aisyah melenguh lirih, dan tangan Hassan kini meraba paha mulus yang sedari tadi terpampang di hadapannya. Mendadak saja milik pria itu tidak bisa menahan lagi, ingin mencetak gol. Setelah cukup melakukan pemanasan, Hassan pun memasukkan pusaka nya yang telah menegang.


"Mas, pelan-pelan ya, aku kan lagi hamil," bisik Aisyah sambil meringis.


"Tenanglah, aku akan melakukannya dengan sangat pelan," sahut Hassan lirih.


Hassan pun bergegas menyatukan tubuh keduanya. Dengan pelan namun pasti dia memasukkan pusakanya ke dalam sarang di hadapannya, dalam dan dalam.


Hassan menghujam milik Aisyah dan menghantamnya dengan lembut dan hati-hati, tanpa menyakiti gadis itu. Dan Aisyah pun mendesah, mengerang dan melenguh, semua menjadi satu bercampur aduk dia rasakan. Antara sakit dan nikmat, naluri Aisyah menuntun untuk menikmati dua rasa yang bertolak belakang.


Hassan terus bergoyang di bawah sana, bibirnya kembali mencumbui tengkuk leher Aisyah hingga tubuh gadis itu menggeliat kenikmatan. ******* demi ******* lolos dari bibir Aisyah terdengar di telinga Hassan membuat pria itu makin bergairah.


Hassan telah meninggalkan jejak merah di sekujur tubuh Aisyah, dia memainkan pucuk gunung dengan lidahnya bahkan menyesapnya dengan penuh nafsu.


Dan ... permainan pun selesai. Aisyah terlelap di pelukan Hassan. Memeluk erat tubuh pria itu setelah pergumulan panas yang terjadi barusan.


'Hem, benar kata temanku, berhubungan dengan orang hamil itu enak, barangnya hangat,' batin Hassan sambil tersenyum puas.


Keesokan hari Aisyah bangun dan beranjak dari tidurnya. Dia hendak berjalan mengambil handuk namun Hassan mencegahnya.


"Mau kemana kamu, Syah?" tanya Hassan sambil menyipitkan sebelah mata.


"Aku mau mandi, Mas, sudah pagi, memangnya anda tidak ke kantor?" ujar Aisyah.


Tanpa menjawab pertanyaan Aisyah, Hassan pun segera beranjak dari tidurnya dan menghampiri Aisyah.


"Kita mandi berdua saja, biar hemat waktu," lirih pria itu.


Aisyah terkesiap. "Ih, apaan sih, Mas, malu ah."

__ADS_1


"Untuk apa malu segala? Tidur saja berdua, masa mandi tidak boleh berdua juga," ujar Hassan sedikit memaksa.


"Ya sudah tapi jangan macam-macam, ingat hanya mandi saja," kata Aisyah ketus.


Hassan tak menanggapi ucapan Aisyah, pria itu justru langsung menarik tangan Aisyah menuju kamar mandi kemudian mengunci pintunya. Hassan mematikan lampu kamar mandi dan menyalakan air keran dengan sangat kencang.


"Hey, kenapa anda matikan lampunya, Mas?" tanya Aisyah penasaran.


"Sssttt ... kita main-main saja dulu," ujar Hassan setengah berbisik.


Apa yang Aisyah khawatirkan akhirnya terjadi juga. Hassan menggigit daun telinga Aisyah, lalu meraih dagunya dan membalikkan wajah gadis itu ke arahnya.


Spontan saja kedua buah bibir mereka saling menyatu, dan terjadilah adegan berkecup bibir, kedua lidah mereka bertarung di dalam sana hingga akhirnya terciptalah gejolak di alam lain.


Tubuh Aisyah gemetar, tangan Hassan mulai merambat kemana-mana membuat tubuh Aisyah menggeliat karena geli.


Kemudian Hassan menaikkan salah satu kaki Aisyah ke pinggiran bak mandi, lalu menyerang gadis itu dari belakang dengan posisi membentuk kuda.


'Ya Tuhan, kenapa Mas Hassan makin ganas saja?' gumam Aisyah dalam hati.


Gadis itu semakin panas saat tangan Hassan menyentuh mahkotanya yang paling berharga. Akhirnya Aisyah pun pasrah dengan apa yang dilakukan Hassan.


Sebentar lagi, sayang, satu ronde lagi," bisik Hassan.


"Dasar mesuum, kamu ingin membunuhku?" ujar Aisyah mulai kesal.


Namun Hassan tak menghiraukan ucapan Aisyah, pria itu tetap memasukkan pusakanya ke dalam milik Aisyah. Dan beberapa saat kemudian, sesuatu yang hangat membasahi kaki Aisyah. Kemudian mereka berdua segera mandi bersamaan.


Selesai mandi Aisyah segera berpakaian dan duduk di bibir ranjang. Tak lama menyusul Hassan yang telah terlihat segar. Pria itu menghampiri Aisyah dan duduk di sebelahnya.


"Kamu mau sarapan apa?" tanya Hassan lembut.


"Aku ingin sekali bubur ayam, Mas," sahut Aisyah dengan nada manjanya.


"Hem, cari di mana? Kelamaan. Pesan di sini saja, paling adanya nasi goreng, mie goreng," ujar Hassan.


Aisyah menatap sengit ke arah Hassan. "Anda ini aneh, Mas. Tadi tanya aku mau makan apa, giliran dijawab malah suruh makan lainnya."


Hassan menghela napas .... "Bubur ayam adanya di alun-alun, di dekat sini jarang, itu akan memakan waktu sedangkan aku harus ke pulang dulu karna istriku pasti sudah menunggu.

__ADS_1


"Memang tidak langsung ke kantor saja?" tanya Aisyah.


"Apa kamu tidak lihat, bajuku ini? Mana mungkin aku ke kantor tanpa ganti baju dulu," tutur Hassan.


Aisyah hanya melirik pakaian yang melekat di tubuh Hassan tanpa berkata apapun.


"Aku tahu kamu pasti tidak suka kalau aku ketemu sama istriku. Tapi bagaimanapun, dia tetap istriku. Dan aku sudah semalaman bersama kamu. Kamu pikir saja, aku sama istriku jarang ketemu, pagi sampai sore aku di kantor, dan itupun tidak langsung pulang tapi aku menemui kamu dulu, bahkan sampai malam sampai pagi lagi. Jadi tolong kamu mengerti posisiku sekarang ini." Hassan berbicara panjang kali lebar.


Aisyah masih diam ....


"Dan apa kamu tahu, kemarin aku sampai ribut sama istriku, dia mencurigai ku karna aku selalu pulang pagi. Tapi aku tidak perlu juga kan cerita sama kamu sampai detail. Aku hanya berusaha membagi waktuku untuk kamu dan istriku," lanjut Hassan bijak.


"Ya sudah kita pulang saja," kata Aisyah singkat.


"Kita makan dulu," kata Hassan.


"Aku tidak lapar, aku mau pulang saja titik." Aisyah bersikeras.


Hassan pun pasrah. "Ya sudah kalau itu memang mau kamu. Aku sudah transfer uang ke kamu. Nanti kamu beli sendiri saja bubur ayamnya."


Aisyah diam tak menyahut ucapan Hassan, hatinya merasa kesal dan merasa bahwa dirinya hanya dijadikan tempat pelampiasan nafsu pria itu.


Sejak hamil muda Aisyah menjadi sangat sensitif. Dia ingin sekali mendapatkan perhatian, dan juga kasih sayang yang utuh dari Hassan. Gadis itu ingin sekali diprioritaskan walaupun dia menyadari pada kenyataannya dirinya bukan siapa-siapa dalam hidup Hassan.


"Aku naik taxi saja." Kata-kata tersebut spontan terucap dari bibir Aisyah.


"Aku antar saja," cegah Hassan.


"Naik taxi saja, kamu pulanglah nanti istrimu khawatir menunggu kelamaan," ketus Aisyah.


Hassan benar-benar dibuat bingung dengan tingkah Aisyah. "Ya sudah kalau kamu memaksa. Tapi aku pesan, kamu harus tetap makan biar calon bayiku sehat terus."


"Bayimu? Ini calon bayiku juga!" Aisyah tidak mau kalah.


"Tapi sebentar lagi, itu akan jadi bayiku." Hassan tersenyum smirk.


"Sebentar lagi apanya? Baru saja satu bulan aku mengandung bayi ini. Masih ada delapan bulan lagi, dan itu juga masih lama," tegas Aisyah.


"Sudah jangan ajak aku debat lagi, pokoknya pesanku hanya satu. Jaga bayi itu baik-baik, kalau sampai kenapa-napa sama bayi itu, itu artinya hidupmu dalam masalah besar," ancam Hassan.

__ADS_1


Dalam hati Aisyah merasa kesal, dia benar-benar terhina saat itu. 'Iiih ... Menyebalkan sekali dia,' batinnya.


__ADS_2